Category Archives: Yahoo! Travel

All articles here are written by me and have been published by Yahoo! Indonesia Travel

Traveling ke Luar Negeri Tidak Nasionalis?


Terlalu sering saya dicurhati oleh teman-teman sesama traveller yang mengatakan bahwa mereka dicela oleh teman-teman mereka sendiri karena sering jalan-jalan ke luar negeri. Dibilang tidak nasionalis lah, tidak cinta Indonesia, dan sebagainya. Terus terang saja, saya sering menulis cerita perjalanan luar negeri untuk Yahoo dan media lain. Saya cermati, sering ada komentar yang mengatakan “Indonesia punya pantai yang lebih bagus dari itu, ngapain jauh-jauh ke luar negeri,” dan semacamnya. Seolah-olah kalau kita tinggal di negeri yang indah, terus kita tidak punya hak untuk berkunjung ke tempat lain yang dianggap “kurang indah”.

Di Indonesia, apa ada kubah yang sedemikan fenomenal?
Di Indonesia, apa ada kubah yang sedemikan fenomenal?

Continue reading Traveling ke Luar Negeri Tidak Nasionalis?

Advertisements

Tak Perlu Uji Nyali di Lawang Sewu


“Waktu zaman Belanda ini kantor kereta api, Mbak. Tapi yang bikin seram adalah waktu penjajahan Jepang, ruang bawah tanah dijadikan penjara,” kata Widi, pemandu wisata saya saat mengunjungi Lawang Sewu di Semarang belum lama ini.


Lawang Sewu sebenarnya sudah dikenal sejak lama, namun baru benar-benar naik daun setelah dijadikan lokasi uji nyali acara televisi beberapa tahun silam. Kini, bangunan yang terletak di dekat Tugu Muda Semarang itu menjadi objek wisata utama bagi wisatawan yang datang ke kota ini.

Seperti kata Widi, gedung dengan arsitektur benar-benar cantik ini dulunya dibangun sebagai kantor jawatan kereta api. Tepatnya pada tahun 1904, dibangunlah gedung ini untuk kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS dan baru selesai tiga tahun kemudian.

Lalu mengapa dinamakan Lawang Sewu (Seribu Pintu)? Kabarnya jumlah pintu sebenarnya tidak sampai seribu namun masyarakat menganggap jendela-jendela yang besar dan tinggi sebagai pintu sehingga dinamakan demikian. “Kalau dihitung semua daun pintu dan jendela, jumlahnya sekitar tiga ribu lembar,” Widi menjelaskan sambil membawa saya menuju bagian depan gedung.

Sesuai dengan peruntukkannya pada masa Belanda, di bagian depan terdapat lokomotif kereta uap yang dipamerkan. Warnanya hitam, terlihat gagah, walau sudah tidak beroperasi lagi.


Orkes keroncong di tengah kompleks Lawang Sewu. (Olenka Priyadarsani)

Saya kemudian diajak menuju ke bagian tengah kompleks di mana terdapat sebuah pohon besar. Bagian tersebut seperti sebuah lapangan yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan Lawang Sewu. Di bawah pohon terdapat sebuah band keroncong yang tengah memainkan lagu Bengawan Solo. “Cocok sekali dengan suasananya,” pikir saya.

Widi kemudian mengajak saya berkeliling Gedung B. Saat itu tengah ada pameran kereta api yang menyajikan gambar-gambar serta miniatur kereta api kuno. Sambil berjalan ia menjelaskan bahwa gedung tertua di Lawang Sewu masih dibangun dengan metode lama tanpa semen.


Lorong gelap di bangunan-bangunan Lawang Sewu. (Olenka Priyadarsani)
Lorong-lorong gedung lebar dengan daun pintu dan jendela yang memang banyak sekali. Saya bisa membayangkan kalau malam hari pasti terasa menyeramkan. Namun siang seperti itu, ketika pencahayaan baik dan sirkulasi udara cukup, tidak terlalu mengerikan. Apalagi dari luar terdengar riuh rendah suara pengunjung lain.

Widi lalu membawa saya menaiki tangga ulir ke lantai atas. Tangganya sempit dan sedikit memutar jadi perlu hati-hati. Di lantai atas terdapat ruangan-ruangan besar dan kosong. Lantai atas ini memiliki balkon panjang dengan pagar dinding setinggi pinggang orang dewasa. Dari sini bisa terlihat Bundaran Tugu Muda dan keramaian di sekitarnya.

Di bagian bawah terdapat sebuah parit sempit dengan air dangkal. Widi mengatakan bahwa dulunya parit tersebut adalah sungai yang cukup besar dan dalam. Dulu dikenal dengan nama Sungai Merah, merujuk pada warna darah karena sungai ini dahulu digunakan sebagai lokasi pembuangan mayat para tahanan.

Tiba saatnya kami menuju ke ruang bawah tanah yang pernah dijadikan penjara oleh Jepang pada tahun 1942. Untuk masuk ke ruang bawah tanah pengunjung diharuskan menyewa sepatu boot seharga Rp10 ribu sepasang. Ruang bawah tanah memang selalu becek dengan air setinggi mata kaki. Sejak awal, ruang bawah tanah didesain untuk dapat menyimpan air dengan fungsi mendinginkan lantai di atasnya. “Oh, jadi semacam AC alami,” kata saya.


Masing-masing sel kecil ini dulu bisa berisi hingga 6 tahanan. (Olenka Priyadarsani)

Tangga menuju ke ruang bawah tanah juga sempit dan berulir. Ruangan ini gelap sehingga pengunjung harus membawa senter. Seperti beberapa bekas penjara lama yang pernah saya kunjungi sebelumnya, sel-sel di sini sangat sempit. Beda lho dengan penjara-penjara zaman sekarang yang biasa kita lihat di film-film seri Amerika.

Sel yang berukuran 1,5 x 1 m dulu bisa ditempati hingga enam orang tahanan. Lalu ada pula sel pendek setinggi lutut. Di sini tahanan hanya bisa jongkok atau duduk. Satu sel juga berisi banyak orang. Kejam sekali penjajah Jepang kala itu!

Tempat inilah yang dianggap seram oleh masyarakat sekitar. Maklum saja, penjara selalu jadi tempat penyiksaan dan entah berapa orang sudah mati disiksa di sini.

Kompleks Lawang Sewu sudah direnovasi, bahkan pernah ada wacana untuk menjadikannya tempat komersial dan hotel. Namun, banyak kalangan yang menentang rencana tersebut karena mengganggap proyek seperti itu akan merusak keaslian saksi sejarah ini.

Saya pribadi sebagai penikmat sejarah akan merasa sedih bila sampai bangunan bersejarah seperti ini dimodernisasi secara brutal. Perlu diingat, Lawang Sewu adalah saksi perjuangan para pendahulu republik ini. Di sinilah dulu terjadi Pertempuran Lima Hari antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai Jepang.

Renovasi untuk merawat dan melestarikan bangunan bersejarah tentu wajib hukumnya, demikian juga sebagai sumber pendapatan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Namun, tentu tidak bila dilakukan hanya demi kepentingan bisnis semata yang hanya akan menguntungkan segelintir orang.

Baca juga cerita perjalanan Olenka yang lain di http://backpackology.me

Berapa Kali Liburan dalam Setahun?


Banyak kawan yang menanyakan hal ini kepada saya. Yang tahu jawabannya tentu anda sendiri. Setiap orang memiliki pertimbangan yang berbeda-beda dalam memutuskan untuk berlibur, kapan harus berlibur, ke mana, dan berapa anggaran yang dikeluarkan.  Sebelum itu mari kita sepakati bersama bahwa berlibur adalah pergi ke luar kota dan menginap paling sedikit satu malam.

Seberapa sering Anda liburan?
Seberapa sering Anda liburan?

Saya menyempatkan bertanya kepada beberapa teman, dan jawabannya bervariasi mulai dari tidak berlibur satu kali pun dalam setahun terakhir hingga lebih dari 10 kali dalam waktu setahun. Tentu saja tempat berliburnya pun bermacam-macam, mulai dari keluar kota yang hanya menempuh waktu 2 jam hingga ke daratan Eropa. Namun rata-rata akan menyebutkan 1-2 kali dalam setahun.

Ada beberapa pertimbangan dalam memutuskan rencana liburan, yang setiap orang mungkin berbeda:

Cuti

Setiap karyawan memiliki jumlah cuti tahunan yang berbeda-beda. Saya dan suami cukup beruntung karena kami memiliki cuti lebih dari 24 hari setahun di samping liburan nasional dan beberapa libur tambahan lainnya.  Sementara itu kawan lain yang memiliki usaha sendiri lebih fleksibel dalam merencanakan liburan. Saya yakin banyak juga dari anda yang berprofesi sebagai pegawai negeri, hanya dengan 12 hari cuti selama setahun, itupun masih dipotong cuti bersama. Dan kemungkinan besar sebagian cuti itu akan dimanfaatkan untuk mudik pada saat Hari Raya.

Oleh karena itu memanfaatkan akhir pekan dan tanggal merah. Anda bisa saja berlibur ke luar negeri, misalnya ke Malaysia, Singapura, atau Thailand bahkan tanpa mengambil cuti. Saat ini sudah banyak penerbangan yang menawarkan rute langsung sehingga anda dapat menghemat waktu. Ambil penerbangan Jumat malam untuk berangkat dan Minggu malam atau Senin pagi untuk kembali. Konsekuensinya adalah anda harus berangkat ke bandara langsung dari kantor, dan kembali pun harus langsung ke kantor. Tapi sepenglihatan saya, sekarang banyak karyawan yang tidak sungkan-sungkan untuk  melakukan hal itu. Mereka menyimpan baju dan sepatu kantoran di laci meja dan membawa ransel ke kantor.

Memanfaatkan hari kejepit juga harus dilakukan untuk membuat liburan anda menjadi maksimal. Konsekuensi dari ini adalah anda mendapat tiket yang lebih mahal. Karena itu, lebih baik rencanakan liburan anda jauh-jauh  hari sebelumnya sehingga masih bisa mendapatkan tiket murah.

Dana

Di Indonesia, walau budaya berlibur sudah mulai merakyat, namun tentu belum seperti di Barat. Dapat dimengerti bahwa masih banyak yang lebih mementingkan kebutuhan lain daripada liburan. Anggaran untuk berlibur pun berbeda-beda. Tentu hal ini juga harus mempertimbangkan pendapatan dan pengeluaran bulanan.

Saran saya adalah dengan menyisihkan uang tiap bulan. Banyak yang sudah mempraktekkan tabungan rencana, yaitu menabung dalam jumlah yang sama setiap bulan dan diambil dalam jangka waktu tertentu, misalnya setelah 6 bulan atau 12 bulan. Dan dana ini memang khusus diperuntukkan untuk berlibur, jangan gunakan untuk keperluan lainnya.

Ada orang yang memilih untuk sering berlibur namun degan cara backpacking sehingga menghemat biaya. Sementara itu, ada yang lebih memilih berlibur sekali dalam setahun namun selalu memilih penerbangan dan akomodasi yang terbaik. Itu semua terserah anda.

Bila dana anda belum mencukupi untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh atau ke luar negeri, jangan khawatir, banyak tempat wisata yang di sekitar anda yang tidak kalah indahnya. Gunakan internet atau rekomendasi dari teman untuk mencari tempat liburan yang sesuai dengan dana anda.

Kiat lain adalah mencari tiket promo sehingga dana liburan bisa sangat dihemat. Hal ini biasanya bisa dilakukan bila anda rela memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya, biasanya antara 6 bulan hingga 1 tahun sebelum tanggal keberangkatan. Sebelum memesan tiket, pastikan rencana liburan tersebut tidak berbarengan dengan acara lain yang lebih penting karena  tiket promo tidak dapat diuangkan kembali, dan bila diganti waktu anda akan dikenai biaya yang cukup mahal.

Anak

Bila anda sudah memiliki anak, tentu ada hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam memilih kapan dan ke mana anda berlibur. Jika anak anda masih kecil, mungkin ada baiknya anda mempertimbangkan tempat-tempat liburan yang tidak terlalu jauh dan ekstrim. Sementara itu bila anak anda sudah bersekolah, anda juga harus menyesuaikan rencana liburan dengan jadwal liburan sekolah. Tentu konsekuensinya adalah biaya yang membengkak, namun tentu anda tidak ingin anak anda bolos sekolah, bukan?

Bila menyesuaikan dengan liburan sekolah mungkin anda hanya dapat berlibur 1-2 kali dalam waktu setahun. Namun jangan khawatir, bila itu masih kurang, anda bisa menggunakan waktu akhir pekan untuk melarikan diri dari kejenuhan pekerjaan. Pilihlah tempat yang segar, bebas polusi, dan juga bermanfaat bagi pertumbuhan anak.

Hobi

Beberapa kawan melontarkan bahwa liburan adalah hobi mereka. Biasanya acara jalan-jalan ini juga berkaitan dengan hobi lain, misalnya menyelam, fotografi, maupun berbelanja! Orang-orang yang seperti ini akan cenderung berlibur lebih sering daripada mereka yang mungkin memiliki hobi lain. Dana yang dianggarkan pun pasti akan lebih besar.

Berapa seringnya Anda berlibur, atau ke mana anda berlibur, jangan lupa bahwa inti liburan adalah untuk melepaskan diri dari kejemuan rutinitas sehari-hari. Jadi mau di dalam maupun luar negeri, nikmati saja!

Taman bergaya Muromachi di Kuil KInkakuji, Kyoto
Taman bergaya Muromachi di Kuil KInkakuji, Kyoto

 

Versi yang sudah diedit pernah dimuat dalam Yahoo Travel sekitar dua tahun yang lalu.

Jalan Berliku ke Ujung Genteng


Sebenarnya sudah lama saya punya niat berkunjung ke Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi, namun baru terwujud beberapa waktu lalu. Jalanan yang buruk dan macet selalu menjadi dalih untuk menunda pejalanan. Tapi ternyata, sembilan jam perjalanan pun sepadan dengan hasilnya. Pantai indah, sepi, dengan pemandangan matahari tenggelam yang menakjubkan!

Pemandangan matahari tenggelam di Ujung Genteng. (Olenka Priyadarsani)
Saya dan keluarga sengaja berangkat pagi-pagi demi menghindari macet. Jalan tol Jakarta-Ciawi masih lancar, namun mulai tersendat selepas tol. Di sini kombinasi antara pasar tumpah, truk, dan angkot berdesak-desakan di jalan raya. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan dan lubang-lubang yang banyak terdapat di tengah jalan hingga ke Sukabumi.

Ada dua alternatif untuk menuju ke Ujung Genteng. Yang pertama adalah melalui Pelabuhan Ratu, dan yang kedua melalui Kota Sukabumi. Kami memilih yang terakhir karena kabarnya kondisi jalan lebih baik. Butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk mencapai Kota Sukabumi sebelum akhirnya kami mulai membelok meninggalkan kota menuju ke selatan.

Konservasi penyu Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)
Setelah 5,5 jam kemudian, tibalah kami di pintu gerbang lokasi wisata, tempat membayar retribusi masuk. Dari sini jalanan berubah menjadi bebatuan besar sekitar satu kilometer hingga mencapai penginapan yang kami pesan. Di kanan-kiri terdapat pondok-pondok wisata yang disewakan. Entah kenapa saat itu pengunjung tidak terlalu banyak.

Senja di Pantai Pangumbahan. (Olenka Priyadarsani)

Salah satu lokasi utama di Ujung Genteng adalah pusat konservasi penyu. Di sini bayi-bayi penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Pangumbahan. Sayangnya ketika ke sini, tidak ada tukik yang dilepaskan karena beberapa hari sebelumnya hujan terus-menerus turun sehingga telur tidak menetas.

Mencari ikan merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat. (Olenka Priyadarsani)
Selain Pantai Pangumbahan, ada beberapa pantai lain yang saya kunjungi. Uniknya, tekstur pasir di pantai yang jaraknya relatif tidak terlalu jauh ini berbeda-beda.

Pagi-pagi kami menuju ke tempat pelelangan ikan tempat banyak kapal nelayan bersandar. Ada bagian pantai yang berpasir halus, ada juga yang berpasir kasar, sementara bagian lainnya bercampur dengan pecahan cangkang kerang.

Pantai Cibuaya terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk desa. Kebanyakan pondok-pondok wisata berdiri di seberang pantai ini. Tidak terlalu istimewa, menurut saya, karena terlalu dekat dengan pemukiman penduduk sehingga terlalu ramai.

Pantai Cipanarikan bak surga tersembunyi. (Olenka Priyadarsani)
Bagi saya primadona Ujung Genteng adalah Pantai Cipanarikan, yang terletak sekitar 6 km dari pusat desa. Kami meninggalkan mobil di penginapan dan menyewa ojek untuk menuju ke Cipanarikan atau sering disebut Pantai Pasir Putih oleh masyarakat setempat. Karena beberapa hari sebelumnya hujan, jalanan menuju Cipanarikan merupakan kombinasi antara kubangan dan lumpur. Saya hanya bisa pasrah berpegangan erat-erat ke tukang ojek.

Sampai di dekat pantai, badan kami sudah basah terkena cipratan air di sepanjang jalan. Sepeda motor pun sulit untuk masuk hingga ke bibir pantai. Saya harus berjalan menuju pantai (yang merupakan muara Sungai Cipanarikan) melalui pematang sawah dan ilalang yang sangat tinggi hingga bagai kanopi.

Ternyata pantainya sangat lebar dan luas. Pasirnya putih halus, nyaris tidak ada sampah. Ketika berada di sana, hanya ada saya sekeluarga bersama beberapa pengunjung lain. Sebenarnya pantai ini juga cocok sebagai lokasi memotret matahari terbenam, namun karena kondisi jalanan yang sangat buruk untuk ditempuh malam hari, kami memutuskan menunggu matahari terbenam di lokasi lain.

Batu Besar terletak di sebelah Pantai Pangumbahan. Saya cukup terkejut karena melihat beberapa turis asing sedang berselancar. Dengan ombaknya yang besar, lokasinya memang cocok sekali untuk olahraga selancar.

Semakin mendekati waktu terbenamnya matahari, semakin banyak pengunjung. Semuanya siap dengan kamera, saya tentu sudah cari posisi yang pas. Harap-harap cemas karena terlihat awan di dekat cakrawala. Awalnya menduga hanya akan mendapat semburat jingga, namun semakin turun awan bergerak menghilang sehingga kami mendapat pemandangan matahari tenggelam yang bisa dibilang sempurna. Terbayar sudah perjalanan panjang berliku yang kami alami sehari sebelumnya.

Andaikata ada iktikad baik dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan dan infrastruktur lainnya, pastilah sektor pariwisata di wilayah ini akan semakin maju dan taraf hidup masyarakat pun meningkat.

8 Tempat Wisata Gratis di Melbourne


Majalah The Economist menobatkan kota Melbourne di Australia sebagai kota ternyaman di dunia tahun 2011. Bisa dibayangkan, kota ternyaman pasti juga menuntut standar hidup yang tinggi. Imbasnya bagi wisatawan dari Indonesia adalah anggaran yang membengkak — baik untuk akomodasi, makan, maupun transportasi.

Namun, jangan sampai keinginan kita berkunjung ke sana sampai surut. Di bawah ini 8 objek wisata gratis di Melbourne yang dapat dikunjungi.


Trem City Circle. Foto: Olenka Priyadarsani

1. Trem City Circle

Trem adalah salah satu transportasi andalan kota ini, terutama di sekitar pusat kota. Untuk melayani wisatawan, pemerintah negara bagian Victoria telah menyediakan trem melingkari kota (city circle) gratis yang mengelilingi pusat bisnis dan pusat kota.

Rute trem ini adalah Flinders Street > Harbour Esplanade > Docklands Drive > La Trobe Street > Victoria Street > Nicholson Street > Spring Street > Flinders Street dan arah kebalikannya. Di dalam trem diberikan informasi objek-objek wisata yang dilewati. Saya merekomendasikan Anda yang baru pertama kali ke Melbourne untuk naik trem gratisan ini. Anda dapat menaiki trem di tempat-tempat yang bertanda “city circle”. Sangat mudah.

2. Shrine of Remembrance

Monumen ini didirikan untuk menghormati prajurit yang bertempur di Perang Dunia I. Monumen ini dikelilingi oleh taman berumput dan pohon-pohon rindang. Letaknya tidak jauh dari pusat kota dan mudah dicapai dengan trem. Lokasinya yang bagai taman terbuka membuat pengunjung dengan bebas keluar-masuk tempat ini.

3. Royal Botanic Gardens

Kebun Raya Melbourne ini terletak bersebelahan dengan Shrine of Remembrance dengan luas 36 hektare. Di sini ada lebih dari 50 ribu tanaman, dan banyak yang merupakan tanaman khas Australia. Di sini ada juga Children’s Garden yang dibuat secara khusus agar anak-anak dapat bebas bermain dan belajar.

4. Parliament House

Gedung parlemen secara resmi digunakan oleh Dewan Negara Bagian Victoria. Terletak di pusat kota, tepatnya di Spring Street, sangat mudah untuk mencapainya dengan trem atau kereta api. Selama anggota dewan tidak sedang bersidang, Anda dapat mengikuti tur ke dalam gedung yang menjadi cagar budaya ini.

5. Southbank

Tidak mungkin Anda pergi ke Melbourne tanpa berjalan-jalan menyusuri Sungai Yarra. Seperti namanya, Southbank terletak di tepi sebelah selatan sungai, di mana kafe-kafe berjajar di sepanjang trotoar. Kalau Anda merasa harga makanan dan minuman di kafe-kafe tersebut terlalu mahal, jangan berkecil hati! Anda dapat membeli kopi dari kedai-kedai yang lebih murah dan menikmatinya di kursi-kursi taman yang banyak tersedia di sini.

6. Queen Victoria Market

Tidak ada tempat lain di Melbourne yang dapat menandingi Queen Victoria Market atau sering disebut VicMart untuk urusan berbelanja. Kalau Anda sedang tidak ingin berbelanja, jalan-jalan di pasar ini juga cukup menyenangkan, kok. VicMart menjual cenderamata, baju, sayur, buah-buahan dan sebagainya. Jangan heran kalau Anda bertemu penjual dari Indonesia, sebab mahasiswa yang bekerja paruh-waktu di pasar. Pasar ini tutup pada hari Senin dan Rabu.

7. Flinders Street Station

Stasiun kereta api ini adalah salah satu ikon budaya kota Melbourne. Stasiun yang dibangun pada tahun 1854 ini adalah stasiun yang paling banyak digunakan di kota ini. Terletak di sudut Flinders Street dan Swanston Street, stasiun ini melayani para komuter yang tinggal di pinggir kota yang bekerja di pusat kota.

8. Pantai St Kilda

Pantai ini juga salah satu ikon kota ternyaman di dunia ini. Pantai St Kilda hanya terletak sekitar 6 km dari pusat kota. Salah satu keunggulan dari pantai ini adalah taman-taman berumput dan pohon-pohon palem di sekitar pantai, jadi bila matahari terlalu terik Anda tinggal berteduh di bawah pohon sambil duduk di rerumputan.