Category Archives: Malaysia

Memilih Sekolah Anak di Malaysia


Mencari sekolah anak saja sudah tricky, apalagi di luar negeri, di mana kurikulum, biaya, dan budaya berbeda dengan yang biasa kita terima. Eh, enggak dink, saya bohong. Hahahah sebenarnya lebih gampang karena pilihannya juga lebih sedikit.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi pengalaman mencari sekolah anak, menuliskan rekomendasi beberapa sekolah, dan gambaran biayanya.

Oliq di hari pertama sekolah

*** Continue reading Memilih Sekolah Anak di Malaysia

Advertisements

Down To Pulau Pangkor


I hate planning weekend getaways. Always detest it. When we were living in Jakarta – where there are interesting places around the region – it was the traffic that stalled the excitement. It can be traumatic, at times, when you have children in tow.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Pasir Bogak Beach

Now that we live in Kuala Lumpur, for the second time in the last 5 years, road trips are more enjoyable. Expressway is available from Johor Bahru on the southernmost up to Alor Setar on the north. It is the backbone of the Peninsular Malaysia, as well as the backbone of our road trips hahaha.

The problem is there are less interesting places around Kuala Lumpur for weekend compared to exotic beaches in Banten, lively Kepulauan Seribu off Jakarta, hills and mountains and lakes in West Java Indonesia. We have been to Penang, Cameron Highlands, Genting, and Malacca few times. We have been to Johor, Kuantan, Ipoh, Kuala Terengganu, in other occasions.

I wish I had the power to book tickets and fly us somewhere rather far. Instead I had to find options around KL. Puput had been to Lumut, in Perak, for business meetings few times. We had had plan to visit Pangkor Island, just 10 minutes ferry ride from Marina Island Jetty – a port sits on reclaimed island. Continue reading Down To Pulau Pangkor

Family Trip To Malaysia On A Budget


My friends always ask us how we manage travelling up to 20 countries as a family. That would cost a fortune. Let me tell you how we do it. We don’t splurge. We don’t buy unnecessary things. We hardly eat out (in some very expensive countries like Australia and Japan). We don’t buy souvenirs.

And we managed to do it with kids in tow. Do you know what, one of the main reasons why we travel with our babies is because we don’t have to pay their seats! So, do some family travelling while your kids are under 2 years old. That would save a lot of money.

The main thing to save money during your family trip is to choose the right destination. For us, and for millions other travellers, Southeast Asia has a lot to offer and can be done on the cheap. Like, very cheap for Western standard.

in the middle of tea plantation in Cameron Highlands
in the middle of tea plantation in Cameron Highlands

Today, I will give you some tricks on how to explore Malaysia on the cheap with your family. Wait, wait, why Malaysia? Continue reading Family Trip To Malaysia On A Budget

Mbah Kakung Goes To Malacca


“Nok, kok ketoke Kuala Lumpur luwih maju timbang Jogja Jakarta, yo?”

“Jelas no. Opo meneh nek dibandingke Jombang.”

Setelah acara ketinggalan pesawat yang marai ati slenit-slenit dan sirah cekot-cekot, Mbah Kakung dan Uti sukses sampai di KLIA2 dua hari kemudian. Setelah itu kami pusing-pusing kat KL.

Tulisan ngehits di pinggir sungai itu
Tulisan ngehits di pinggir sungai itu

Nah, untuk akhir pekan kami memutuskan pergi ke Melaka. Kebetulan Ola juga belum pernah ke sana, sementara Oliq sudah dua kali dan tetap excited membayangkan mau naik Menara Taming Sari.

Mbah Kakung sebenarnya sudah cukup sering perga-pergi waktu beliau masih jadi wartawan. Tapi itu pada waktu Soeharto masih jaya. Waktu belum ada model low cost carriers. Waktu Simbok masih pakai miniset.

Kami berangkat naik mobil ke Melaka sekitar 2 jam perjalanan. Mbah Kakung gumun karena kok nggak nemu desa-desa di pinggir jalan. Terus saya bilang kalau di Indonesia kebanyakan orang, makane mbok yo ojo monak-manak wae (jangan pada beranak terus). Terus Simbok diploroki Puput dari depan. Ya kali Indonesia itu udah overpopulated. Ya karena semuanya ngumpul di kota besar, jadi daya dukungnya lemot.

Kapal besar
Kapal besar

Kembali ke Melaka, saya booking hotel via Agoda, yaitu Novotel Melaka. Entah gimana kok weekend bisa dapat harga murah Rp 650.000 sekamar. Yay bukan? Sayangnya, kami belum bisa check in karena tiba pada jam 11.00.

Tuh kan ada yang nebeng foto
Tuh kan ada yang nebeng foto

Kami langsung cusss ke River Cruise. Ya lumayang banget dapat diskon buat Uti dan Mbah Kakung yang termasuk warga emas. Kapalnya isinya rombongan turis dari Indonesia yang dresscodenya merah. Duduuuu, berasa menyusuri Kali Code wekekek.

Habis itu kami ke Menara Taming Sari yang tinggak duduk manis dan observation deck-nya naik sendiri. Oliq dan Mbah Kakung udah gaya banget pakai keker (teropong).

“Weh aku mau wedi nek mlorot dewe je,” kata Mbah Kakung.

Waktu di hotel ada kejadian lucu. Kamar kami berhadapan.

Uti: Iki piye lemarine malah ora iso dibuka. Klambine Papa ning kono. (Ini gimana, lemarinya nggak bisa dibuka, baju Papa di situ)

Mbah Kakung: Mau iso dibuka. Takdelehke kono. Saiki malah raiso dibuka. (Tadi bisa dibuka. Aku taruh di situ. Sekarang malah nggak bisa dibuka).

Uti: Iki aku narike nganti tanganku lara. (Ini nariknya sampai tanganku sakit)

Simbok: Endi? Yo ra mungkin ning kene. Wong iki dudu lemari. Iki dinding kayu. (Ya nggak mungkin di sini, Ini bukan lemari. Ini dinding kayu).

Mbok ditarik nganti taun dal yo ra bakal mbukak. Dan baju yang diari ditemukan di sebelahnya.

Wakakkaka, Simbok langsung ngerti soalnya di kamar tadi juga pernah kejebak. Lha dinding kayunya dikasih semacam pegangan buat buka, jadi dikira pintu lemari. Padahal, lemari yang ada di sebelahnya. Waktu cerita sama Puput, ternyata sama juga dia juga sempat kejebak.

Eaaaaaa.

Malamnya kami ke Jonker Walk, duduk-duduk manis di Taman Jonker sambil makan es cendul, ngemil kentang dan nastar. Mbah Kakung ketagihan cendul dan ice kacang.

Jonker Walk ramai banget malam itu. Berdesak-desakan pol.

Mbah Kakung: Iki sak dalan isine wong kabeh koyo ngene? (Ini satu jalan isinya orang semua kaya gini?)

Simbok: Yo iyo. Nek isine genderuwo kabeh teneh medeni. (Iya. Kalau isinya genderuwo semua seram dong)

Sekarang banyak tulisan dan street art yang narsisable
Sekarang banyak tulisan dan street art yang narsisable

Paginya kami foto-foto cantik di depan tulisan World Heritage, di pinggir sungai, di depan kincir angin, Christ Church dan sebagainya.

Mbah Kakung have been to Malacca, have you?

Chin Swee Temple, Genting dari Sisi Lain


Genting Highlands selalu identik dengan kasino, cable car, dan wahana-wahana pemacu adrenalin. Orang datang ke Genting untuk berhura-hura membelanjakan ringgit mereka. Tahun depan, mungkin, Genting telah selesai bersolek dengan wahana-wahana barunya setelah bertahun-tahun mengalami renovasi yang tak kunjung usai.

Bagi orang Indonesia, terutama yang bar pertama kali ke Kuala Lumpur, agenda ke Genting seolah-olah menjadi sesuatu yang wajib – sama wajibnya dengan Colmar Tropicale di Berjaya Hills yang menurut saya overestimated.

Chin Swee Temple letaknya sangat scenic
Chin Swee Temple letaknya sangat scenic

Baiklah, naik skycab Genting memang selalu jadi pesona tersendiri, termasuk bagi kami yang mungkin sudah 5 kali melakukannya. Tapi, ternyata di Genting ada sebuah kuil cantik dan besar yang justru kebanyakan dilewatkan.

Chin Swee Temple, terletak sekitar 10 menit perjalanan dari resor Genting, dibangun pada tahun 1976 di atas tanah yang diwakafkan oleh Dato’ Seri Lim Goh Tong. Lokasi kuil sangat fotogenik karena berada di atas bukit berbatu. Continue reading Chin Swee Temple, Genting dari Sisi Lain