Category Archives: Rambling (waton nggambleh)

Lahiran Oliq dan Mati Listrik Saat Operasi


Nganu….karena permintaan penggemar (tsaaah), akhirnya saya tuliskan kisah yang sudah terlambat 7 tahun ini.

Jadi dulu, setelah menikah, saya masih bekerja di sebuah institusi bernama Yu En di Jakarta. Itu semacam kancane Yu Djum karo Yu Mar. Jadi DINK itu enak banget ya. Apa itu DINK? Double Income No Kids. Duite akeh, pengeluaran sedikit. Karena dari dulu saya dan Puput memang tidak pernah punya gaya hidup mewah. Pengeluaran terbesar hanya untuk sewa apartemen, karena bagi kami itu adalah investasi untuk menyewa apartemen tidak terlalu jauh dari kantor. Puput biasa naik Kopaja untuk berangkat ke kantor. Saya pun naik metromini ke kantor. Hanya ketika hamil sudah sangat besar, saja terpaksa naik taksi, karena tarif ojek pangkalan dari apartemen saya ke kantor itu nggilani. Sering lebih mahal dari Blue Bird.

Minggu-minggu terakhir saya kerja, kebetulan kantor lagi heboh karena kedatangan big boss. Kadang saya pulang malam. Alhamdulillah kehamilan saya waktu itu setrong koyo jaran, sama sekali tidak ada keluhan. Sepanjang hamil, kami biasa banget liburan ke mana-mana, ke luar negeri masih dengan style backpacker atau road trip bawa mobil sendiri. Kami sempat ke India, Malaysia, Thailand selama hamil. Semua biasa saja. Kaki saya tidak bengkak, napas saya tidak pendek, tidak ada gatal seperti pas hamil Ola. Hanya sering kegerahan sehingga aktivitas favorit saya adalah wudo di depan AC.

???????????????????????????????
Backpacking pertama Oliq waktu umur 6 bulan

Bahkan ketika kami ditangkap polisi lalu terdampar di India – yang mungkin salah satu kisah terngenes perjalanan kami – saya tetap tegar. Kalau kalian belum pernah baca, ya wajib klik ke sini: https://backpackology.me/2015/07/31/perjuangan-berat-demi-taj-mahal/ niscaya kuota Anda tidak akan sia-sia wakakak.

Saya berhenti bekerja 2 minggu sebelum HPL (tapi masih gajian hingga 5 bulan ke depan huhuuu). Saya glundang-glundung di depan AC sambil nonton TV selama Puput kerja. Pokmen koyo ndoro pol. Paling masak sama cuci piring doang. Laundry tinggal pakai kiloan. Continue reading Lahiran Oliq dan Mati Listrik Saat Operasi

Advertisements

12 Pengalaman Sial Saat Travelling


Kalau plesir nggak ada pengalaman sial kan ga seru ya? Hooh to? Nek nggak nemu wong sing nggapleki kan hidup hambar to? Ini adalah 12 pengalaman sial kami saat travelling yang merupakan tulisa update dari 7 pengalaman sial sebelumnya. Sumpah lho ini belum semua.

  1. Tas kamera hilang kereta Thalys jurusan Paris – Amsterdam

Kalau tas kameranya doang nggak apa-apa kali ya? Ini ada isinya berupa Handycam Sony (ga apal specsnya) dan kamera pocket Canon SX 230. Plus batere-batere cadangannya. Selain itu ada juga charger kamera pocket Canon S90 yang (untungnya) posisi ada di saku celana Puput. Karena sibuk bawa barang (1 koper besar, 1 stroller, 2 ransel, dan 1 bayi), kami kelupaan ambil tas kamera yang ditaruh di kabin atas. Turun melenggang begitu aja di Amsterdam Centraal. Baru sadar pas mau check in apartemen. Panik? Iya. Sedih? Iya. Untungnya (cieeh Jawa banget sial juga masih dicari untungnya) video saya melahirkan yang ada di Handycam udah dihapus. Eh bener udah dihapus kan, Cup? Pokoknya kalau kejadian seperti ini menimpa kalian, jangan berlarut-larut dalam penyesalan. Yang kami lakukan pertama adalah balik ke Centraal dan lapor di Lost and Found. Sampai beberapa hari berikutnya pun kami tetap balik ke sana tanya apa ada yang nemu, walaupun tetap hilang. Beberapa bulan berikutnya kantor Centraal mengirimkan surat ke rumah kami di Jakarta menyatakan menyesal mereka nggak bisa menemukan barang kami yang hilang. Walaupun tetap tidak ketemu, kami akui itikad baik tersebut. Yang juga tidak kalah penting adalah solusi. Setelah lapor, kami buru-buru ke Nieuwmarkt untuk beli batere cadangan dan charger kamera S90 yang masih ada. Hilang ya hilang, tapi jangan sampai merusak seluruh perjalanan. Life and fun must go on! Continue reading 12 Pengalaman Sial Saat Travelling

Tentang Pernikahan


Beberapa hari yang lalu saya nonton acara TV judulnya “Say Yes To The Dress”, reality show tentang para calon pengantin yang mencari gaun pernikahannya di Amerika sono. Ya Tuhan ribet ya. Ribuan dolar dihabiskan untuk gaun pernikahan yang paling dipakai beberapa jam, setelah itu disobek-sobek. Ada calon pengantin yang memaksa tokonya menemukan gaun yang pernah dia lihat di subah acara. Harus sama persis plek ketiplek. Dan ternyata gaun itu harganya lebih dari dua kali lipat anggarannya, dan akhirnya dia rela demi si gaun.

Kebayang ga sih kalau saya minta baju pengantin seharga 50 juta? Modyar nan. Dulu, syarat baju pengantin Puput cuma satu: tidak boleh lebih dari 500 ribu rupiah *nari gambyong muter Pasaraya Blok M*

Tapi namanya acara pernikahan memang penting nggak penting. Prioritas bagi sebagian orang, nggak penting banget bagi sebagian orang lain — dalam hal ini saya dan Puput sepaham. Dulu, kami hanya mengundang teman kami via medsos, karena buat kami memang itu lebih kepada acara orangtua. Tanpa terlalu ramai-ramai.

Tentu, selalu ada yang mencurigai hamil duluan HAHAHA. Yakin, pasti ada yang ngitung mundur kelahiran Oliq. Continue reading Tentang Pernikahan

Suamimu Pria Paling Romantis


Kalau definisi romantis itu contohnya memberi bunga, mungkin Puput mungkin orang paling tidak romantis di dunia. Lha bayangkan, sakuwen-uwen kami pacaran dan menikah hanya sekali kasih bunga. Bunga tapak dara. Waktu kami kelas 2 SD. Dan sebungkus kacang bawang rego selawe alias 25 perak.

Gembus, to?

Eh kalau dipikir-pikir mungkin dia pernah kasih bunga lagi. Suatu hari entah di mana, ketika kami lagi di taman dan ada bunga yang gogrok. Bunga Kamboja. Padakke raiku koyo juru kunci kuburan.mawun-gendongan

Kalau romantis itu misalnya suka memberi cokelat. Nggak pernah juga, wong Puput lebih doyan cokelat ketimbang saya. Lagian kasih cokelat menurut saya juga nggak romantis-romantis amat — apalagi yang dibentuk hati pakai warna pink segede bagong kaya yang diterima Delin dari cowok yang naksir dia jaman SMP. Kayanya buat Simbok lebih romantis kalau dibawain martabak. Sekalian sama terang bulan isi cokelat keju, dan oh please mesesnya yang Ceres dan kejunya Kraft, kalau bisa. Ga perlu isi neko-neko kaya Ovomaltine atau Toblerone. Larang. Continue reading Suamimu Pria Paling Romantis

Berprasangka Baik Pada Suami


“Entar kamu ditindas lho sama suamimu!”
“Kalau ada apa-apa sama suamimu gimana?”

Ibu-ibu yang dulu bekerja dan kemudian memutuskan menjadi ibu rumah tangga seperti saya pasti pernah mendengar kalimat-kalimat di atas. Pernah, atau mungkin malah sering, bahkan dari keluarga dekat. Sebagian (kecil) mungkin peduli, sebagian lain hanya bilang demikian sebagai bentuk ketidaksetujuan atas pilihan kita. Padahal, makani wae ora ndadak melu protes barang gyaaa gyaaa…

“Apa-apa” di sini adalah eufemisme dari suamimu: di-PHK, sakit, meninggal, poligami sementara kamu ga rela berbagi suami karena imanmu ga sekuat istri Nabi dan Teh Ninih😇, dan selingkuh. Pokoke segala macam hal yang kalau orang Jawa jaman dulu bilang amit-amit jabang bayi. Continue reading Berprasangka Baik Pada Suami