Category Archives: Parenting

Pengalaman Sunat Metode Cauter


“Mama, Papa, Aik mau sunat sekarang. Pokoknya hari ini. Harus hari ini,” katanya suatu Sabtu pagi, bangun tidur. Entah mimpi apa semalam. Mungkin mimpi nonton Ipin Upin episode Mail sunat.

Kami masih berpikir bahwa dia tidak serius. Jadi santai saja. Kebetulan hari itu kami memang sudah berencana membawa Ola imuniasi MMR, jadi cuma bilang, “Yan anti tanya dulu ya.”

“Pokoknya maunya hari ini tok!”

Kami sebenarnya merencanakan akan menyunat Oliq pada kenaikan kelas 2, waktu dia berumur 7 tahun. Agak ngeri juga sih buat saya. Oliq ini tipe anak yang tidak tahan sakit. Drama queen habis deh. Dulu kalau jatuh, tidak apa-apa. Begitu melihat lukanya yang hanya memerah sedikit langsung jerit, “Babaaaaaaaak.” Dan nangis mbeker-mbeker. Harus pakai celana yang nutupin lukanya. Sok-sokan ga bisa jalan, dan sebagainya.

Utinya sampai bilang, “Lha piye kuwi menko nek sunat?!”

LHA MBUH YO.

Kami berangkat ke Klinik Naluri di Wangsa Maju, sebuah rumah sakit ibu dan anak tidak jauh dari condo tempat kami tinggal. Sebenarnya banyak klinik lain yang lebih dekat (di KL yang namanya klinik, klinik pergigian, rumah sakit itu ada di mana-mana), namun sekalian ke sana karena dekat dengan supermarket favorit kami. Yoi, yang namanya simbok-simbok, Sabtu itu hari belanja wajib. Bukan karena ada suami yang akan menggotongkan belanjaan. Tapi lebih karena ada kartu debitnya. Syukran.

Di klinik, langsung mendaftarkan Ola untuk imunisasi. Bertanya ulang pada Oliq apa dia yakin mau sunat? Yakin. Langsung tanya dengan resepsionisnya. Ternyata sunat hanya bisa dilaksanakan pada Senin-Jumat dengan perjanjian lebih dahulu. Biaya untuk anak umur 3-8 tahun adalah RM 350, sekitar Rp 1 juta lebih sedikit. Sunat di situ dengan metode cauter (yang baik di Malaysia maupun di Indonesia disalahkaprahkan dengan istilah laser).

Tanya sama Oliq lagi, yakin mau sunat, tapi bisanya Senin. Ya, katanya mantap. Simboknya yang ketar-ketir. Akhirnya mendaftar untuk Senin pagi.

Siap-siap disunat

Boro-boro riset dulu metode sunat, tempat sunat, pokoke langsung ora nganggo mikir.

Karena dadakan, Puput ada meeting, tidak bisa cuti. Minggu malam saya tidak bisa tidur. Udah kebayang Oliq kabur dari meja tindakan wakakakaka. Anak yang lebay lahir dari Simbok yang lebay pula.

Senin pagi, saya naik taksi ke klinik, nggendong Ola, nggandeng Oliq. Bawa stroller juga, takutnya nanti ga bisa (or ga mau) jalan. Karena sarung kecil ketinggalan di Jogja, cuma bawa baju gamis Oliq yang biasa dia pakai ke surau. Deg-degan setengah mampus. Daftar ulang di klinik Oliq dan Ola santai saja mainan sambil makan Milo nugget. Jam 10.20 dipanggil untuk naik ke ruang tindakan di lantai atas. Continue reading Pengalaman Sunat Metode Cauter

Advertisements

Me-Time di Luar Rumah?


Malam ini saya iseng, menggabungkan antara frasa “me time” dan “Islam” dalam kolom pencarian di Google. Hasilnya, dua temuan teratas menyebutkan bahwa me time adalah produk liberal. Temuan teratas terang-terangan menyatakan bahwa me time itu sebuah konsep hasil konspirasi musuh Islam, untuk menciptakan istri-istri yang kufur pada suami. Sebaik-baiknya seorang istri adalah berada di rumah.

Ehem *tarik napas panjang dulu*

Me-time ya sendirian...
Me-time ya sendirian…

Continue reading Me-Time di Luar Rumah?

Selamat Datang Ola dan Operasi Cesar Nomor Dua


Hamil itu perjuangan, melahirkan juga perjuangan. Walau – menurut saya – perjuangan hamil dan melahirkan itu masih tetap kalah epik dengan perjuangan membesarkan anak. Well, that’s another story.

Ola lahir pada tanggal 7 Juni 2015 melalui operasi cesar. Saya selalu menggunakan istilah cesar, bukan caesar apalagi kaisar, karena sependek pengetahuan saya berasal dari kata Cesarean section atau dikenal C-section (Ya ampun Simbok rempong banget kaya ginian aja dibahas :D).

Ini adalah operasi cesar saya yang ke dua, tapi yang pertama di rumah sakit karena Oliq lahir di rumah. Dan muncullah berbagai pertanyaan berikut:

  • Sengaja mau cesar ya?

Enggak. Tapi gimana lagi nggak ada bukaan.

  • Sakit nggak?

Pas operasinya cuma geli-geli gimana gitu. Tapi habis operasi SAKIT BANGET.

  • Takut nggak dioperasi?

Nggak. Udah pernah. Lagian Puput ada di ruangan, kok. Videoin.

  • Ada bekasnya nggak?

Nggak. Ketutupan gelambir perut. Continue reading Selamat Datang Ola dan Operasi Cesar Nomor Dua

Nasib Blogger Nyonya-Nyonya


Sebaris…dua baris….ngeeeeeek bayi nangis. Sekata…dua kata…”Mamaaaa!”

Bubar kabeh!

Nggak dink 😌sebagai blogger nggak profesional tapi serius, saya sih tetap berkomitmen buat konsisten ngeblog, walau agak seret publishnya, agak pendek postingannya, dan itu-itu aja fotonya. Huahaha maklum, suka-suka ngeblog cuma modal hape aja jadi susye cari foto baru yang kebanyakan tersimpan manis di hard disk, di negeri tetangga sono *mewek*

image

Continue reading Nasib Blogger Nyonya-Nyonya

The Battle of New Moms


Dunia maya itu hanyalah kiasan. Ibaratnya pepes pindang, dunia maya itu hanya daun pisang dan bitingnya. Dalamnya? Siapa yang tahu itu pindang beneran atau ternyata isinya tempe, jamur. Siapa yang tahu itu pedas atau tidak.

Kata survei yang pernah beredar, salah satu orang paling menyebalkan di Facebook adalah para ibu baru yang tak bosan-bosannya mengunggah foto bayinya. Bayi tidur, bayi ketawa, bayi dimandiin, bayi digendong tiap tamu yang jenguk. Bayiiii wae! #hakjleb *Simbok ngaca*

Kayanya kok bahagia banget ya punya bayi! Ya iyalah, tidak bisa dipungkiri anak adalah anugerah yang luar biasa, tidak terwakili oleh uploadan apapun. Udah meteng 9 bulan bawa gembolan ke mana-mana, mosok lahiran ga seneng?

Don’t you know that the battle behind that is life-threateningly horrifying #halah. Saya tetap tidak bisa membayangkan para ibu yang berjuang melahirkan secara normal, bahkan tanpa epidural. Sakitnya kaya apa, coba! Anu yang sekecil itu buat ngeluarin bayi sebegono!

Siap-siap masuk kamar operasi...
Siap-siap masuk kamar operasi…


Kebetulan saya melahirkan Oliq dan Ola secara cesar. Bukan disengaja, melainkan memang sampai lewat waktu tidak ada kontraksi. Waktu Oliq, blas tidak ada rasa mulas. Kalem aja spa siang hari padahal sorenya udah dijadwalkan c-section. Waktu Ola saya “dianugerahi” kesempatan untuk merasakan kontraksi. Dua hari dua malam pasca ujian SIM di Polres, saya nggak bisa tidur karena kontraksi tiap 10 menit. Nyatanya sudah ditunggu, dirogoh, tetap tidak ada bukaan. Jadinya kembali cesar bersama simbah.

Cesar mah enak, nggak sakit! Gundulmu mencelat! Bayangkan saja harus dikelilingi banyak dokter, disuntik sana-sini, dan sadar selama proses melahirkan. Nggak sakit sih waktu dibeleh. Tapi habis itu….

Saya beruntung langsung bisa melakukan IMD di kamar operasi, kurang sukses. Di kamar pemulihan Ola langsung bisa menyusu. Saya menghabiskan semalaman di rumah sakit. Another battle starts now.

Wahai para manusia yang durhaka pada ibunya, hanya neraka balasannya. Baik yang melahirkan normal, cesar, water birth, hypno birth entah apalagi, semuanya akan merasakan hal yang sama. Ketika jahitan dan obrasan belum sembuh, sudah harus ngopeni bayi yang baru lahir.


Countless of sleepless nights. Mulai dari gantiin popok, nyusuin. Perjuangan lain juga bagi para ibu yang kesulitan mengeluarkan ASI. Perjuangan juga bagi kami yang ASInya berlimpah sehingga tiap 2-3 jam sekali harus memompa. Baju sehari bisa ganti 5-6x karena bocoran susu. Bau ASI sampai bikin mual sendiri.

Belum lagi yang mengalami baby blues. Ah itu cuma ibu-ibu manja! Takuncali munthu kalau bilang gitu! Baby blues bukan mitos, ada beneran walau saya tidak mengalami. Bayangkan saja, kita bawa manusia di perut 9 bulan, terus dikeluarkan. Jelas hormon jungkir jempalik. Belum juga karena kelelahan fisik dan psikis. Duh.
Betapa kejam suami yang tidak mau berjuang bergandengan tangan dengan istrinya.

“Kalau bisa sih kugantiin lahirannya!” Woh mbahmu kiper tenan, sunatan wae semaput, arep lahiran.

Beruntung saya punya support system yang memadai. Sehari setelah Ola lahir, Puput harus kembali ke KL, jadi saya harus berjuang sendiri selama minggu pertama. Untungnya, ada bidan bapak mertua yang menginap tiap malam. Jadi kalau saya capek Ola bisa diurus bidan semalaman dengan bekal ASI Perah.

Mengurus bayi dengan kondisi jahitan masih sakit itu perjuangan. Lha wong miring saja susah, apalagi harus gantiin popok tiap 1-2 jam. Tengah malam, baru saja diganti, lagi nyelehke bokong, wis mak “Prooot prooooot!”. Duh biyung.

Menyusui masalah lain lagi. Hal paling sakit dari punya anak adalah menyusui di hari-hari pertama. Lidah dan langit-langit mulut bayi kasar jadi puting berasa seperti diparut. Nangis-nangis beneran deh. Coba deh tanyakan pada ibu-ibu kalian.

Hari ini saya demam, pompa ASI saya rusak dan karena mengurus servis saya terlambat memompa. Akibatnya payudara kanan membengkak dan disentuh pakai ujung jari saja sakitnya luar biasa. Nah, para suami, di sini peran kalian. Ringankan derita istri dengan memijat secara rutin. Jangan berpikir porno, pijat susu, it is what it is. Masa mau minta dipijat suami orang lain?

Sejak lahiran Oliq, sebenarnya Puput lebih “fasih” memegang bayi baru ceprol dibanding saya. Dia lebih mahir mengganti popok juga. Tapi dulu, tiap malam saya rela begadang mengganti popok semalaman dan malah membiarkan Puput ngorok sepuasnya. Kali ini lain, kalau tahu popok Ola basah saya bangunkan Puput toh saya masih harus menyusui setelah itu. Bagi tugas lebih baik daripada memforsir diri demi titel Super Mom? Yang ada malah tumbang.

Kehidupan ibu baru tidak secerah apa yang terlihat di Facebook. Punya dedek-dedek unyu yang bikin gemetz! Behind that there is a prolonged battle.

Setelah melahirkan anak pertama itu perjuangan karena sebagian besar dari kita sama sekali belum tahu apa-apa. Boleh deh Anda sampai menelan berbagai buku parenting, ikut berbagai komunitas, join forum-forum di FB. Prakteknya? Nggak segampang itu masdab!

Melahirkan anak ke 2, ke 3, dan seterusnya juga tetap perjuangan karena sambil mengurus bayi, ada “beban” tambahan, yaitu tetap ngopeni kakaknya, juga memastikan dia nggak cemburu sama adiknya.



Bisa diperhatikan kalau saya hanya mengunggah foto Ola, Oliq, dan Puput (kecualo foto melet euforia pasca operasi itu!) karena muka ibu baru nggak layak tampil. Yah, kecuali Anda Kate Middleton. Muka zombie saya mending tetap berada di belakang layar, bergelut bersama pompa ASI, popok, dan minyak telon. Takutnya nanti kalau saya unggah foto malah kalian beramai-ramai gilo dan meng-unfriend saya.

Sudahkah kalian berkabar dengan ibu kalian hari ini?

Ya, gitu aja deh.
Tertanda,
Simbok yang lagi ngrangkaki

Baca kisah kelahiran Ola di sini

*Update terbaru: susu sudah tidak ngrangkaki setelah rutin pijat susu oleh suami