Category Archives: Parenting

Tips Asyik Menikmati Piknik


“Alaaah, ternyata cuma gini doang.”
“Bagusan juga pantai di Indonesia.”
“Ngapain sih kamu ke negara X, kan ga ada apa-apa di sana?”

Pernah denger seperti ini? Pasti pernah ya. Pernah mengucapkan? Mungkin pernah juga.

Kami termasuk keluarga penyuka travelling, tidak pernah menyesal pergi ke suatu tempat. Padahal, mungkin oleh orang lain di tempat itu dianggap ga ada apa-apa, ga bagus, ga worth it, dan lain sebagainya.

Lihat anak-anak seneng aja kami udah seneng

Bagi kami, tiap tempat selalu ada sesuatu. Lagipula, yang paling kami nikmati adalah pengalaman, bukan tujuan.

Travelling is not about destination. It is all about experience. Continue reading Tips Asyik Menikmati Piknik

Advertisements

Pengalaman Sunat Metode Cauter


“Mama, Papa, Aik mau sunat sekarang. Pokoknya hari ini. Harus hari ini,” katanya suatu Sabtu pagi, bangun tidur. Entah mimpi apa semalam. Mungkin mimpi nonton Ipin Upin episode Mail sunat.

Kami masih berpikir bahwa dia tidak serius. Jadi santai saja. Kebetulan hari itu kami memang sudah berencana membawa Ola imuniasi MMR, jadi cuma bilang, “Yan anti tanya dulu ya.”

“Pokoknya maunya hari ini tok!”

Kami sebenarnya merencanakan akan menyunat Oliq pada kenaikan kelas 2, waktu dia berumur 7 tahun. Agak ngeri juga sih buat saya. Oliq ini tipe anak yang tidak tahan sakit. Drama queen habis deh. Dulu kalau jatuh, tidak apa-apa. Begitu melihat lukanya yang hanya memerah sedikit langsung jerit, “Babaaaaaaaak.” Dan nangis mbeker-mbeker. Harus pakai celana yang nutupin lukanya. Sok-sokan ga bisa jalan, dan sebagainya.

Utinya sampai bilang, “Lha piye kuwi menko nek sunat?!”

LHA MBUH YO.

Kami berangkat ke Klinik Naluri di Wangsa Maju, sebuah rumah sakit ibu dan anak tidak jauh dari condo tempat kami tinggal. Sebenarnya banyak klinik lain yang lebih dekat (di KL yang namanya klinik, klinik pergigian, rumah sakit itu ada di mana-mana), namun sekalian ke sana karena dekat dengan supermarket favorit kami. Yoi, yang namanya simbok-simbok, Sabtu itu hari belanja wajib. Bukan karena ada suami yang akan menggotongkan belanjaan. Tapi lebih karena ada kartu debitnya. Syukran.

Di klinik, langsung mendaftarkan Ola untuk imunisasi. Bertanya ulang pada Oliq apa dia yakin mau sunat? Yakin. Langsung tanya dengan resepsionisnya. Ternyata sunat hanya bisa dilaksanakan pada Senin-Jumat dengan perjanjian lebih dahulu. Biaya untuk anak umur 3-8 tahun adalah RM 350, sekitar Rp 1 juta lebih sedikit. Sunat di situ dengan metode cauter (yang baik di Malaysia maupun di Indonesia disalahkaprahkan dengan istilah laser).

Tanya sama Oliq lagi, yakin mau sunat, tapi bisanya Senin. Ya, katanya mantap. Simboknya yang ketar-ketir. Akhirnya mendaftar untuk Senin pagi.

Siap-siap disunat

Boro-boro riset dulu metode sunat, tempat sunat, pokoke langsung ora nganggo mikir.

Karena dadakan, Puput ada meeting, tidak bisa cuti. Minggu malam saya tidak bisa tidur. Udah kebayang Oliq kabur dari meja tindakan wakakakaka. Anak yang lebay lahir dari Simbok yang lebay pula.

Senin pagi, saya naik taksi ke klinik, nggendong Ola, nggandeng Oliq. Bawa stroller juga, takutnya nanti ga bisa (or ga mau) jalan. Karena sarung kecil ketinggalan di Jogja, cuma bawa baju gamis Oliq yang biasa dia pakai ke surau. Deg-degan setengah mampus. Daftar ulang di klinik Oliq dan Ola santai saja mainan sambil makan Milo nugget. Jam 10.20 dipanggil untuk naik ke ruang tindakan di lantai atas. Continue reading Pengalaman Sunat Metode Cauter

Me-Time di Luar Rumah?


Malam ini saya iseng, menggabungkan antara frasa “me time” dan “Islam” dalam kolom pencarian di Google. Hasilnya, dua temuan teratas menyebutkan bahwa me time adalah produk liberal. Temuan teratas terang-terangan menyatakan bahwa me time itu sebuah konsep hasil konspirasi musuh Islam, untuk menciptakan istri-istri yang kufur pada suami. Sebaik-baiknya seorang istri adalah berada di rumah.

Ehem *tarik napas panjang dulu*

Me-time ya sendirian...
Me-time ya sendirian…

Continue reading Me-Time di Luar Rumah?

Selamat Datang Ola dan Operasi Cesar Nomor Dua


Hamil itu perjuangan, melahirkan juga perjuangan. Walau – menurut saya – perjuangan hamil dan melahirkan itu masih tetap kalah epik dengan perjuangan membesarkan anak. Well, that’s another story.

Ola lahir pada tanggal 7 Juni 2015 melalui operasi cesar. Saya selalu menggunakan istilah cesar, bukan caesar apalagi kaisar, karena sependek pengetahuan saya berasal dari kata Cesarean section atau dikenal C-section (Ya ampun Simbok rempong banget kaya ginian aja dibahas :D).

Ini adalah operasi cesar saya yang ke dua, tapi yang pertama di rumah sakit karena Oliq lahir di rumah. Dan muncullah berbagai pertanyaan berikut:

  • Sengaja mau cesar ya?

Enggak. Tapi gimana lagi nggak ada bukaan.

  • Sakit nggak?

Pas operasinya cuma geli-geli gimana gitu. Tapi habis operasi SAKIT BANGET.

  • Takut nggak dioperasi?

Nggak. Udah pernah. Lagian Puput ada di ruangan, kok. Videoin.

  • Ada bekasnya nggak?

Nggak. Ketutupan gelambir perut. Continue reading Selamat Datang Ola dan Operasi Cesar Nomor Dua

Nasib Blogger Nyonya-Nyonya


Sebaris…dua baris….ngeeeeeek bayi nangis. Sekata…dua kata…”Mamaaaa!”

Bubar kabeh!

Nggak dink 😌sebagai blogger nggak profesional tapi serius, saya sih tetap berkomitmen buat konsisten ngeblog, walau agak seret publishnya, agak pendek postingannya, dan itu-itu aja fotonya. Huahaha maklum, suka-suka ngeblog cuma modal hape aja jadi susye cari foto baru yang kebanyakan tersimpan manis di hard disk, di negeri tetangga sono *mewek*

image

Continue reading Nasib Blogger Nyonya-Nyonya