Category Archives: Java

Ngeteh Sore di Rumah Teh Ndoro Donker Kemuning


Rumah Teh Ndoro Donker, di tepi perkebunan teh Kemuning, di Karanganyar, Jawa Tengah, adalah salah satu restoran yang seolah wajib dikunjungi bila berada di daerah ini. Rumah Teh Ndoro Donker memang spesial, bukan hanya karena lokasinya, melainkan juga karena sejarahnya.

Rumah Teh Ndoro Donker

Ndoro Donker adalah seorang ahli tanaman Belanda, ditempatkan di Kemuning untuk membangun perkebunan. Ia sangat dekat dengan masyarakat sekitar sehingga memutuskan alih-alih tinggal di rumah dinas, ia memilih hidup berbaur dengan warga desa. Berada di Kemuding, Ndoro Donker sangat dicintai warga karena selalu berbagi pengetahuan tentang tanaman. Karena itu ia dipanggil “Ndoro” yang artinya “Tuan”. Saya tidak menemukan nama depan Tuan Donker ini. Continue reading Ngeteh Sore di Rumah Teh Ndoro Donker Kemuning

Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali


Saya hanya bisa menatap ngeri kabut tebal yang mengelilingi, berharap dalam gelap. Mobil menanjak tajam, melemparkan kerikil-kerikil ke pinggir jalan. Saat itu masih siang, mungkin baru tengah hari. Kanan kiri adalah kebun teh tersusun rapi menunggu pucuk-pucuk mudanya dipetik paa ibu pembawa bakul. Naik sedikit, terintip dari sela kabut tebal kebun daun bawang berjajar rapi di punggung bukit.

Kami sedang berada di sekitar Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam sebuah misi mengunjungi dua buah candi yag sudah kami idamkan. Di puncak bukit itu berdirilah sebuah candi megah. Candi Ceto. Atau Candi Cetho. Sebuah candi Hindu dengan struktur punden berundak yang memiliki arsitektur nyaris identik dengan pura.

Candi Ceto yang sangat mirip pura di Bali

Continue reading Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali

Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup


Seorang ibu berusaha mengendalikan mobilnya, menuju ke parkiran. Juru parkir heboh mengganjal ban belakang mobil dengan batu besar. Maklum saja, tanjakannya terjal, sementara mobil mengantre masuk ke lokasi parkir. Sepanjang jalan pun berjajar mobil parkir, semua diganjal batu.

Dulu Candi Ijo tak begini. Empat tahun silam kami datang ke candi ini. Sepi, hanya sekelompok (yang sepertinya) mahasiswa dan sepasang muda-mudi yang bergaya pre-wed. Waktu itu masuknya gratis, ada box donasi, hanya wajib lapor penjaganya dan menulis buku tamu.

Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus
Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus

Syahdu. Hening. Sepi. Hanya kicau burung dan sesekali suara pesawat terbang dari dan ke Adisutjipto.

Baca: Terminal B Bandara Adisutjipto Continue reading Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup

Malapetaka di Bukit Panguk


In the far away land, the mountains were overarching. The hills started shutting us in, the trees and rocks about us seemed shadowy and dim. Mordor was in sight, beware! Rupamu, Mbok, ndadak macak JRR Tolkien barang. Mordar-mordor. nDlingo kaliii!

Ini cerita kesialan kami seharian ini menambah daftar kesialan saat traveling, melibatkan wafer, ban pecah, kunci mobil yang terjebak di bagasi, dan  kepala dinosaurus. Entah mana yang lebih sial, yang ini atau saat Oliq midak telek kirik di Paris.panguk4

***

Alkisah ketika Puput datang kemarin dia bercerita, “Besok kita ke Bukit Panguk yuk, kemarin aku lihat di Lion Mag, bagus.” Iya, maskapai kesayangan Puput adalah Lion Air. Dia mah anaknya gitu, antimainstream. *istrinya minta diendorse*

Awalnya kami berangkat menuju Bukit Panguk kemarin, tapi karena ini, anu, dan itu, baru keluar rumah selepas asar, nyaris jam 4 sore. Jogja itu, saudara sebangsa dan setanah air, kalau malam Minggu, byuuuuuh macetnya kaya Ragunan-Mampang jam 7 pagi. Gencet-gencetan. Alhasil kami baru sampai di Ring Road Timur hampir jam 5-an. Karena sungguh sangat mustahil, kami ambil alternatif yang lebih feasible: Hutan Pinus Mangunan. Continue reading Malapetaka di Bukit Panguk

Si Tebing Breksi yang Makin Seksi


Bagaimana tidak makin seksi, dinding-dinding tebing kelabu pucat itu kini dipercantik dengan ukiran-ukiran. Relief-relief kisah pewayangan. Sementara itu, Sang Merah Putih berkibar di setiap sisi. Nasionalis tradisionalis. Modern dan masa lampu. Kekinian dan kekunoan.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih menulis untuk Yahoo Indonesia, saya pergi menyambangi Candi Ijo. Candi ini berada di Bukit Ijo, merupakan wilayah cagar budaya. Keberadaan Bukit Ijo, yang berada di ujung timur Kabupaten Sleman ini konon menjadi (salah satu) alasan mengapa landas pacu Bandara Adisutjipto tidak dapat diperpanjang. Hence, bandara pun menjadi tidak dapat diperbesar karena ada sungai di sisi barat.

Taman Tebing Breksi
Taman Tebing Breksi

Kala itu, dalam perjalanan saya melewati sebuah bukit batu besar. Truk-truk keluar masuk sekitar bukit membawa bongkahan-bongkahan batu besar. “Woh, ada tambang batu, pantes jalannya jelek. Nggak kaya jalan di Jogja,” kata Puput pada saya. Memang, bila dibandingkan jalan lain di sekitar Sleman — bahkan di sekitar Bukit Ijo sendiri — jalan menuju Candi Ijo terbilang buruk. Berlubang di sana-sini, walau mungkin hanya 1-2 kilometer saja. Continue reading Si Tebing Breksi yang Makin Seksi