Category Archives: Java

Oemah Bamboo New Selo di Suatu Pagi


Selo Boyolali berada di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. It sits right on the cleavage. Dulunya Selo hanya menarik perhatian bagi mereka yang hendak mendaki Merapi. Sekarang, makin banyak objek wisata baru yang menarik kunjungan wisatawan lokal. Ya, sayangnya, objek wisata artifisial yang dibuat “instagrammable” dan “selfie-friendly” memang tidak akan sanggup untuk menarik pasar yang lebih luas.

New Selo di lereng timur Merapi

Padahal, tentu, Selo menawarkan lebih banyak daripada itu. Kontur area yang berbukit-bukit dan berada di antara dua gunung besar sebenarnya memang asli cantik, namun ke sana juga tidak sangat mudah. Kami berangkat dari Jogja menyusur hingga Muntilan. Niat hati mau mampir di Ketep Pass mengenang masa muda kami, apa daya kesasar hingga Ketep terlewat huhuuu. Tiba-tiba saja, setelah melalui jalan berliku, sempit, dan pating gronjal, kami sudah masuk wilayah Boyolali. Mau memutar ke Ketep, rasanya kok ngalang kakehan, hingga akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Selo. Continue reading Oemah Bamboo New Selo di Suatu Pagi

Advertisements

Ngeteh Sore di Rumah Teh Ndoro Donker Kemuning


Rumah Teh Ndoro Donker, di tepi perkebunan teh Kemuning, di Karanganyar, Jawa Tengah, adalah salah satu restoran yang seolah wajib dikunjungi bila berada di daerah ini. Rumah Teh Ndoro Donker memang spesial, bukan hanya karena lokasinya, melainkan juga karena sejarahnya.

Rumah Teh Ndoro Donker

Ndoro Donker adalah seorang ahli tanaman Belanda, ditempatkan di Kemuning untuk membangun perkebunan. Ia sangat dekat dengan masyarakat sekitar sehingga memutuskan alih-alih tinggal di rumah dinas, ia memilih hidup berbaur dengan warga desa. Berada di Kemuding, Ndoro Donker sangat dicintai warga karena selalu berbagi pengetahuan tentang tanaman. Karena itu ia dipanggil “Ndoro” yang artinya “Tuan”. Saya tidak menemukan nama depan Tuan Donker ini. Continue reading Ngeteh Sore di Rumah Teh Ndoro Donker Kemuning

Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali


Saya hanya bisa menatap ngeri kabut tebal yang mengelilingi, berharap dalam gelap. Mobil menanjak tajam, melemparkan kerikil-kerikil ke pinggir jalan. Saat itu masih siang, mungkin baru tengah hari. Kanan kiri adalah kebun teh tersusun rapi menunggu pucuk-pucuk mudanya dipetik paa ibu pembawa bakul. Naik sedikit, terintip dari sela kabut tebal kebun daun bawang berjajar rapi di punggung bukit.

Kami sedang berada di sekitar Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam sebuah misi mengunjungi dua buah candi yag sudah kami idamkan. Di puncak bukit itu berdirilah sebuah candi megah. Candi Ceto. Atau Candi Cetho. Sebuah candi Hindu dengan struktur punden berundak yang memiliki arsitektur nyaris identik dengan pura.

Candi Ceto yang sangat mirip pura di Bali

Continue reading Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali

Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup


Seorang ibu berusaha mengendalikan mobilnya, menuju ke parkiran. Juru parkir heboh mengganjal ban belakang mobil dengan batu besar. Maklum saja, tanjakannya terjal, sementara mobil mengantre masuk ke lokasi parkir. Sepanjang jalan pun berjajar mobil parkir, semua diganjal batu.

Dulu Candi Ijo tak begini. Empat tahun silam kami datang ke candi ini. Sepi, hanya sekelompok (yang sepertinya) mahasiswa dan sepasang muda-mudi yang bergaya pre-wed. Waktu itu masuknya gratis, ada box donasi, hanya wajib lapor penjaganya dan menulis buku tamu.

Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus
Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus

Syahdu. Hening. Sepi. Hanya kicau burung dan sesekali suara pesawat terbang dari dan ke Adisutjipto.

Baca: Terminal B Bandara Adisutjipto Continue reading Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup

Malapetaka di Bukit Panguk


In the far away land, the mountains were overarching. The hills started shutting us in, the trees and rocks about us seemed shadowy and dim. Mordor was in sight, beware! Rupamu, Mbok, ndadak macak JRR Tolkien barang. Mordar-mordor. nDlingo kaliii!

Ini cerita kesialan kami seharian ini menambah daftar kesialan saat traveling, melibatkan wafer, ban pecah, kunci mobil yang terjebak di bagasi, dan  kepala dinosaurus. Entah mana yang lebih sial, yang ini atau saat Oliq midak telek kirik di Paris.panguk4

***

Alkisah ketika Puput datang kemarin dia bercerita, “Besok kita ke Bukit Panguk yuk, kemarin aku lihat di Lion Mag, bagus.” Iya, maskapai kesayangan Puput adalah Lion Air. Dia mah anaknya gitu, antimainstream. *istrinya minta diendorse*

Awalnya kami berangkat menuju Bukit Panguk kemarin, tapi karena ini, anu, dan itu, baru keluar rumah selepas asar, nyaris jam 4 sore. Jogja itu, saudara sebangsa dan setanah air, kalau malam Minggu, byuuuuuh macetnya kaya Ragunan-Mampang jam 7 pagi. Gencet-gencetan. Alhasil kami baru sampai di Ring Road Timur hampir jam 5-an. Karena sungguh sangat mustahil, kami ambil alternatif yang lebih feasible: Hutan Pinus Mangunan. Continue reading Malapetaka di Bukit Panguk