Category Archives: Australia and the Pacific

How To Survive Sydney on A Budget


I’ve visited Sydney — the biggest city in the southern hemisphere — for three times. Coming from a developing country, I found Sydney very expensive. Even, it was more expensive than another Australian city I’m more familiar with — Melbourne. Though, the comparison somehow is not apple to apple because I lived in suburban Melbourne while visited the Sydney CBD.

Sidney, 2012
Sidney, 2012

Still, I managed to save money during my three times visits. Here is how.
Continue reading How To Survive Sydney on A Budget

Advertisements

Kuliah di Luar Negeri, Perpustakaan, dan Bikini


Dalam postingan sebelumnya saya sempat sekilas menceritakan tentang teman yang mendadak buka baju di tengah acara kuliah. Well, sebenarnya masih banyak cerita absurd tentang perkuliahan di Australia.

monash
Ini waktu Oliq napak tilas perjalanan Simbok 5 tahun sesudahnya

Ingat, sistem perkuliahan di luar negeri tidak selalu serupa, tergantung universitas, jurusan, dan dosennya.

Continue reading Kuliah di Luar Negeri, Perpustakaan, dan Bikini

Pengalaman Kerja Part Time di Australia


Kandidat PhD jadi sopir taksi, dosen universitas terkemuka di Indonesia rela bangun tengah malam buat jadi cleaning service di kampus, calon diplomat jadi pengantar junk mail naik sepeda? Biasa banget di Australia.

IMG_0435 Continue reading Pengalaman Kerja Part Time di Australia

Review: Pieces of Melbourne (Free E-Book)


Melbourne selalu dekat dengan hati saya, kebetulan dulu pernah tinggal di kota cantik nan nyaman ini selama 1,5 tahun. Ketika Tesya dari Tesyasblog mengatakan akan melaunching e-book tentang Melbourne, saya jadi ikut-ikutan excited!

tesyasblog pieces of melbourne cover

Walaupun pernah tinggal di Melbourne, saya sempat kembali ke sana pada Tahun Baru 2012 bersama Puput dan Oliq. Kalau dulu merasa sebagai orang yang tinggal di sana, kali itu kami adalah wisatawan.

Nah, kenapa memilih Melbourne? Australia adalah negara yang sangat menarik untuk dikunjungi dengan berbagai landmarknya. Selain itu jarak yang tidak terlalu jauh dari Indonesia pun membuat akses ke sana tidak terlalu sulit, minimal tiketnya tidak akan semahal ke Eropa atau ke Amerika Serikat. Dan selain Sydney, Melbourne adalah kota ‘wajib kunjung’.

Tesya dalam e-book ini fasih menjelaskan perjalanan yang ia lakoni bersama Rene, suaminya. Bertolak dari bandara Tullamarine, mereka pun menjelajah kota Melbourne dan sekitarnya. Perasaan saya sampai haru biru melihat foto-foto yang ditampilkan dalam e-book ini. Saya akrab betul dengan lorong-lorong Flinders Station (yang kadang-kadang pesing), sisi-sisi Yarra River, gang-gang kecil di CBD.

E-book ini juga mengilustrasikan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata yang berada di negara bagian Victoria, seperti Great Ocean Road dan Phillip Island. Selain ada penjelasan tentang cara paling mudah ke sana (Anda tidak perlu browsing, Tesya sudah melakukannya untuk Anda!), ada juga rincian biaya. Hebat sekali, saya saja tidak pernah ingat harga-harga tiket yang dibayarkan.

Penggambaran tentang kota Melbourne (City) sendiri juga mendetail, membuat kita seolah-olah dibawa ke sana. Ada banyak rekomendasi tempat wisata yang bisa dikunjungi.

Tesya juga memberikan reviewnya tentang Greenhouse Backpacker, sebuah hostel yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan bagi wisatawan dengan anggaran yang mepet. Maklum saja Australia sangat mahal, terutama kini ketika AUD mampu melebihi USD. Mewek deh kalau ingat uang kerja keras saya jadi pelayan waktu itu ditukar dengan kurs 1AUD = 7000 rupiah.

Lebih kerennya lagi, e-book ini juga memberikan ilustrasi tentang biaya tiket pesawat dari Indonesia ke Australia – dan itu penting karena ada banyak jalan menuju ke Oz. Ada pula proses dan tata cara pengajuan visa Australia.

Intinya, kalau punya rencana ke Melbourne, silakan download dan baca e-book Tesyasblog ini. GRATIS. Nah, bagi yang belum punya rencana ke sana, silakan baca juga, karena seperti kata Tesya “awalnya kami hanya mimpi mengunjungi Melbourne”.

Kunjungi Tesyasblog atau kontak Tesya di @tesyasblog

 

Restoran Halal di Melbourne dan Sydney


Mau jalan-jalan ke Australia dan bingung mau makan apa di sana? Biasanya pertanyaan berkisar pada: apa ada restoran halal? Selain itu, standar perut orang Indonesia kebanyakan harus diisi nasi. Walaupun kuatlah satu dua hari makan roti, ujung-ujungnya cari nasi plus tahu tempe.

Ini bukan list lengkap restoran halal. Daftar yang lumayan lengkap bisa dilihat di http://www.halalsquare.com.au.

Ini hanya beberapa rekomendasi dari saya:

Sydney

1. Nando’s

Waralaba asal Portugal ini sering menjadi andalan kami saat “butuh nasi tapi nggak mau bayar mahal”. Tidak semua outlet Nando’s mencantumkan label halal, walau sebagian besar secara jelas menempelkan tanda halal. Setahu saya salah satu gerai Nando’s halal di Sydney adalah di Glebe Park, dekat UNSW. Dulu kami menginap di Shelley St (dekat Wynyard), jadi Nando’s paling dekat adalah di Kent St (halal). Ayam panggangnya enak dan empuk, tentu tidak segurih Ayam Goreng Suharti, tapi cukup bisa mengobati kekangenan setelah terlalu sering makan roti tawar celup susu saja. Sambalnya pilih yang paling pedas, buat perut kita cuma anget saja. Nasinya paella, nasi Portugis. Harganya tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan restoran-restoran bukan waralaba.

We love Nando's!!!
We love Nando’s!!!

Nando’s Halal: Kent St, Pitt St, George St, Glebe, Bondi, dan masih banyak lagi. Hampir semuanya halal.

2. Indo Rasa

Ada di Ultimo dan Kingsford. Saya dulu pernah coba yang di Kingsford tapi bertahun-tahun silam ketika masih sekolah di sana. Menunya standar menu restoran Indonesia, yang pasti ada nasi goreng dan gado-gado.

3. It’s Time for Thai

Restoran Thailand yang menyajikan masakan halal. Dalam menunya ada juga menu makanan Malaysia. Ini tidak jauh dari Indo Rasa Kingsford tapi saya tidak yakin masih ada sampai sekarang.

4. KFC dengan sertifikat halal di Sydney ada di Bankstown and Punchbowl.

5. Outlet McDonald’s Sydney dengan sertifikat halal ada di Auburn, Lidcombe, Greenacre, dan beberapa lainnya

6. Hungry Jacks di King George Rd. Sebagian besar tidak memiliki sertifikat halal. Tapi burger Hungry Jacks memang lebih enak daripada McDonalds. Ada petisi dari banyak warga muslim Sydney yang meminta HJ menyuplai daging halal untuk outlet-outletnya.

Melbourne

1. Nelayan

Andalan warga NKRI di Melbourne
Andalan warga NKRI di Melbourne

Andalan dari seluruh warga Indonesia di Melbourne adalah Restoran Nelayan di Swanston St. Nelayan bukan restoran a la carte, melainkan pelanggan bisa langsungmain tunjuk saja dari yang disediakan. Seperti warteg dalam bentuk yang lebih keren. Di sini menunya tradisional, biasanya sedia tahu tempe, oseng-oseng, pokoknya Indonesia banget lah! Jangan heran kalau pas makan siang banyak juga bule kantoran yang sedang makan siang di sini. Kebetulan memang lokasinya tepat di tengah CBD, jadi sempatkan mampir ke sini bila sedang jelajah kota Melbourne. (Keluar dari Flinders Station ke kiri, menyusuri Swanston St 100-200 meter).

2. Es Teler 77

Letaknya hanya beberapa toko dari Nelayan. Menunya mirip Es Teler 77 di Indonesia, tapi ada juga pecel, gado-gado. Selaiin tentunya nasi goreng, mie goreng, siomay. Dulu sih satu main course kira-kira AUD 6-8.

3. Warung Gudeg

Di tempat yang sama dulunya sebuah restoran bernama Java Cafe, tapi tutup dan berganti pemilik menjadi Warung Gudeg. Letaknya di Clayton, dekat dengan kampus Monash Clayton (naik bus dulu sih, ga ada ojek). Dulu sih saya dengan teman-teman sempet berburuk sangka ini warung bakal segera tutup, ternyata sampai sekarang masih eksis.

4. Kedai Satay

Ini salah satu yang paling eksis saat ini di Melbourne, letaknya di King St CBD. Tidak terlalu jauh dari Vic Mart. Sepertinya mereka juga punya di Toorak, tapi saya kurang tahu tepatnya. Menu favorit di sini adalah iga bakar.

5. Bali Bagus

Restoran ini juga berada di dekat CBD, tepatnya di Franklin St. Menu makanannya juga Indonesia banget dengan interior bergaya Bali.

6. Seperti juga di Sydney, kebanyakan Nando’s di Melbourne menyertakan sertifikat halal, tapi tidak semua. Saya paling sering makan di Nando’s Swanston St. Nando’s yang di dekat Keday Satay tidak halal.

7. Salah satu dari sedikit McDonald’s halal di Melbourne ada di Albion. Waktu ke sana ada rombongan Fadli Padi, tapi saya nggak tau Fadlinya yang mana wong saya bukan pemerhati musik. Di Albion ini beberapa pelayannya juga mengenakan hijab.

McOz, cuma ada di Oz!
McOz, cuma ada di Oz!

Sebenarnya masih ada banyak lagi restoran halal, terutama restoran Malaysia, India, Pakistan, dan Timur Tengah lainnya. Salah satu yang jadi favorit saya adalah Sarawan, restoran Pakistan di Clayton. Sarawan juga punya toko daging (butcher) halal. Briyani di sini enak dengan porsi kuli. Saya jadi kangen sama teman-teman Bangladesh, Khalid dan Rashed, yang dulu sering jadi teman makan di sini.

Bon appetite!