Category Archives: Arab states

Karena Waktumu Cuma Sebentar, Berangkatlah Umrah Kawan


Harapan hidup orang Indonesia menurut data tahun 2014 hanya 68,89 tahun. Jauh lebih rendah daripada harapan hidup orang Jepang, Singapura, dan Australia yang mencapai di atas 80 tahun. Kira-kira hingga usia 22 tahun hanya akan fokus pada pendidikan. Sebagian besar masih menopangkan hidup pada orang tua, hanya punya “uang saku” — kebanyakan tidak seberapa, kecuali para pemuda-pemudi dengan trust fund miliaran rupiah. Masih ngedot tabungannya sudah ratusan juta. 90 persen pemuda Indonesia jelas tidak demikian beruntungnya.

Umrah pada saat umur Oliq 11 bulan, walaupun bukan backpacking tapi ikut rombongan umrah seperti biasa…

Setelah itu kalian akan bekerja, punya uang sendiri, tabungan mulai membumbung. Mulai mencicil masa depan, mencicil impian. Selain tentunya , bagi kebanyakan orang, mencicil rumah. Dan menyusun rumah tangga. Zaman sekarang, usia pernikahan berkisar di atas 25 tahun bagi kaum urban. Anggap saja 30 tahun usia menikah. Dari titik itu hanya ada 38,89 tahun waktu untuk menunaikan ibadah sunnah umrah. Continue reading Karena Waktumu Cuma Sebentar, Berangkatlah Umrah Kawan

Advertisements

Kembalikan Ka’bah Kami, Ya Allah


Sekitar dua tahun yang silam, muncul sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh media Inggris The Independent berjudul Mecca for the rich: Islam’s holiest site ‘turning into Vegas’. Tulisan tersebut mungkin bukan yang pertama, namun cukup mencengangkan sekaligus menusuk ulu hati kaum muslim. Mungkin. Yang jelas saya pun jujur merasakannya.

Mekkah memang tidak punya kasino seperti di Las Vegas. Apalagi bar yang yang menyediakan free-flow beer #apasih. Tetapi dalam tulisan tersebut, dikupas betapa Mekkah – dan Madinah – mengalami overdevelopment. Pembangunan besar-besaran yang banyak didominasi oleh hotel berbintang 4 dan 5.

kabah-blog

Wajar memang apabila Pemerintah Saudi melalukan pembangunan hotel dan infrastruktur di kedua kota suci ini. Bagaimana tidak, tiap tahun jutaan jamaah berbondong-bondong datang untuk beribadah haji. Belum lagi saat ini ibadah umrah adalah sesuatu yang sangat umum. Dulu mungkin hanya bulan-bulan tertentu Arab ramai dengan jamaah umrah. Kini tidak lagi. All year round, kalau kata orang Amerika.

Masalahnya adalah pembangunan tersebut mengancam berbagai situs sejarah yang seharusnya dilestarikan.

Mari kita tinggalkan tulisan di The Independent dan kembali ke pengalaman saya.

Tahun 2012 saya berkesempatan menunaikan ibadah umrah bersama Puput dan Oliq. Waktu itu usia Oliq 11 bulan dan cerita lengkapnya ada di sini.

Bagi saya, Madinah itu bersih, rapi, dan indah. Well, bersih di sini mohon jangan bandingkan dengan kota-kota di Jepang atau di negara Skandinavia, ya! Lumayan bersih, lah. Maklum saja, namanya kota yang didatangi oleh berbagai bangsa dari berbagai latar belakang dan kebiasaan, mau bersih banget juga tidak bakalan.

Mekkah lain sekali. Berantakan. Semrawut dengan pembangunan di mana-mana. Oke lah, Pemerintah Saudi memang sengan memperluas Masjidil Haram agar dapat menampung jamaah lebih banyak lagi. Banyak bangunan dihancurkan demi perluasan tersebut. Kata pemandu umrah kami, “Pemerintah mengganti kerugian pemilik bangunan luar biasa banyaknya, bisa dibilang harga tanah termahal sedunia ada di sini.”

Yang sungguh membuat saya terhenyak adalah begitu banyaknya bangunan pencakar langit yang berada di dekat Masjidil Haram. Bukan masalah banyaknya – wong banyak juga penuh terus kok! Tapi apa pihak yang berwenang itu tidak memikirkan perimeternya?!!!  Bangunan-bangunan tinggi besar itu berdiri sangat dekat dengan tempat tersuci bagi umat islam ini.

Saya malah merasa kehilangan momentum di sini. Kekhusyukan pun berkurang. Mungkin sebagian juga karena saya harus melaksanakan ibadah sembari menggendong bayi. Kadang harus nyambi nyusuin juga.

Tapi sebagian lagi jelas salah Pemerintah Saudi. Lha mosok di hadapan Ka’bah, begitu mendongakkan kepala ke atas sedikit saja, yang terlihat adalah jajaran chain hotels bintang 5. Ada Makkah Clock Royal Tower milik Fairmont dengan jam raksasanya, ada Movenpick, ada Pullman. Bagi saya yang paling ngeselin itu – tepat di hadapan Ka’bah dan sedang mau khusyuk-khusyuknya ini – melihat Hilton Hotel. Langsung kebayang Paris Hilton dan video seksnya yang nggak terlalu menarik itu.

Astagfirullah.

Saya bukan orang alim. Saya hanya menulis apa adanya.

Tanpa mengurangi arti Mekkah dan Madinah sebagai dua kota terpenting umat Islam, sebelum tiba di sana ekspektasi saya lebih tinggi. Bayangan saya, Mekkah lebih suci dengan suasana yang lebih khusyuk. Lebih Islami. Nyatanya tidak demikian.

Gerai-gerai brand internasional pun bertebaran di mall-mall – dikunjungi oleh para jamaah mulai dari yang pakai burqa hingga yang masih memakai mukena sepulang menunaikan shalat di Al Haram.

Ada beberapa gerai ayam goreng yang bahkan tidak menyediakan tempat duduk bagi pelanggannya. Ya, makannya harus sambil berdiri. Padahal katanya sesuai hadits Nabi SAW, kalau makan harus sambil duduk. Terlihat banyak yang berdiri santai sambil makan. Kalau saya mungkin sudah ndeprok karena kalau berdiri bisa dijewer Puput. Ah sudahlah, malah menjalar ke tema lain “Arab Saudi Tidak Islami”.

Karena tanggung topiknya udah nyerempet, sekalian saja saya ceritakan pengalaman terakhir di imigrasi Jeddah.

Saya akan bilang terus terang Bandara King Abdul Aziz di Jeddah itu bandara dengan proses imigrasi dan custom paling brengsek se-dunia. Untuk melalui proses ini jamaah harus antri berdasarkan jenis kelamin. Loket hanya dua yang dibuka, sementara antrian sangat panjang, padahal banyak di antara jamaah yang merupakan orang berusia lanjut.

Setelah antri hampir tidak bergerak selama 30 menit, Oliq rewel minta menyusu. Saya cuek saja duduk ndeprok di lantai untuk menyusui, dan beringsut maju ketika antrian juga maju. Mungkin karena melihat inilah, seorang petugas akhirnya menyuruh saya dan beberapa jamaah berusia sangat lanjut untuk diprioritaskan.

Bahkan setelah pemeriksaan dengan metal detector, kami masih harus masuk ke dalam sebuah bilik untuk digeledah manual oleh petugas perempuan. Masya Allah, galaknya minta ampun. Ia memarahi seorang jamaah Indonesia berusia lanjut, karena tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh si petugas. Bagaimana bisa paham, ia berbicara dalam Bahasa Arab dengan nada yang membentak-bentak? Sambil digeledah saya semprot dia pakai bahasa Inggris, jadi kami berdua seperti dua orang gila berteriak-teriak dalam dua bahasa yang berbeda. Biarlah, mungkin pekerjaannya membosankan tapi tidak seharusnya dia memperlakukan orang-orang tua sedemikian kasarnya.

Karena calon penumpang yang banyak sementara pintu hanya sedikit, lebih dari satu jam saya dan Oliq menunggu sampai akhirnya Puput muncul. Bahkan keberangkatan pesawat Garuda yang membawa kami ke Jakarta pun harus terlambat karena calon penumpang yang tak kunjung siap masuk pesawat.

Seharusnya saya beri judul Kembalikan Ka’bah Kami ya Pemerintah Saudi. Perbaiki layananmu kepada orang-orang yang datang ke Baitullah. Kau sudah sangat beruntung diberi amanah menjaga tempat yang begitu suci. Tempat yang menjadi tujuan bagi ratusan juta hamba-Nya.

Pokoknya saya ingin lain kali ke sana, semuanya sudah harus diperbaiki, hai Raja Abdullah!

*kowe sopo to nduk, bengi-bengi ngomyang*

Traveling dengan Anak-Anak Part 20: Ngajak Anak ke Museum? Boleh, asal…


Alangkah baiknya bila orangtua sudah mulai mengajak anaknya mencintai sejarah dan budaya sejak dini. Saya pun berusaha demikian, walaupun tidak selalu sukses. Tidak semua museum ramah anak. Kebanyakan – jujur saja – membosankan terutama bagi anak-anak.

Di Indonesia, Oliq baru belum banyak berkunjung ke Museum. Maklum saja bapak dan simboknya lebih senang ngajak dia liburan ke lokasi-lokasi yang berdekatan dengan alam, misalnya pantai, gunung, selain juga telusur candi.

Salah satu museum yang pernah kami kunjungi adalah Museum Gunung Merapi di Jogja, yang sayangnya pada saat itu hampir tutup. Jadilah Puput saja yang masuk dan mengambil foto. Saya dan Oliq menunggu di mobil karena anaknya juga sedang tidur.

Di Museum Satria Mandala Jakarta
Di Museum Satria Mandala Jakarta

Nah, museum berikutnya, sejauh ini adalah museum terkecil yang pernah ia kunjungi – namun favoritnya – adalah Museum Satria Mandala di Jl Gatot Subroto, Jakarta. Bagaimana tidak menjadi favorit, belum masuk juga sudah disuguhi beberapa pesawat terbang. Oliq terobsesi dengan pesawat terbang sejak usia belum genap 1 tahun (dia punya mainan dan miniatur pesawat terbang lebih dari 50 buah, mulai dari yang harganya 2.000 rupiah sampai 24 euro.

Di museum ini anak-anak memang bisa berlarian di halaman rumputnya. Sayangnya, pesawat terbang yang dipajang tidak bisa dinaiki. Sebenarnya kami sudah beberapa kali mau ke Museum Dirgantara Adisutjipto yang sangat lengkap, sayangnya belum juga kelakon. Padahal itu tempat studi ekskursi saya ketika TK.

Museum lain yang kami kunjungi adalah Museum Tsunami di Aceh. Bagian luarnya luas jadi cocok juga untuk membawa anak-anak, ada beberapa fitur yang interaktif.

Waktu umrah, kami juga dibawa ke Museum Makkah tapi tidak lama. Hanya putar-putar, foto-foto. Oliq juga belum bisa jalan jadi adem ayem digendong saja.

Oliq dan Puput di Museum Makkah
Oliq dan Puput di Museum Makkah

Terjadi kecelik yang sangat besar waktu mau ke Museum Anime Suginami di Ogikubo, Tokyo. Kami dengan pedenya ke sana tanpa memperhatikan brosur. Senin tutup! Untungnya cukup terhibur dengan sebuah kuil kecil di seberangnya. Setelah itu mengalami nggonduk lagi karena kesasar waktu menuju ke apartemen sewaan di Nishi-Ogikubo. Kaki saya sampai hampir prothol.

Perasaan bercampur-baur (maksudnya mixed feeling) saya mengenai membawa anak ke museum terjadi di Belanda. Saat itu kami berada di Rijksmuseum yang memamerkan berbagai lukisan karya pelukis ternama. Alkisah, Oliq tiba-tiba lari menuju ke salah satu lukisan mahakarya Rembrandt (yang kebetulan dipasang cukup pendek). Tangannya yang berbalur remah-remah keripik kentang terjulur. Saya dan seorang petugas museum lari mengejar. Kalau di film-film pasti sudah dibikin adegan slow motion. Oliq mbrobos pagar sebelum akhirnya petugas berhasil menangkapnya beberapa centimeter sebelum menyentuh lukisan. Saya deg-degan setengah modyar! Langsung saya cangking anaknya. Setelah itu Continue reading Traveling dengan Anak-Anak Part 20: Ngajak Anak ke Museum? Boleh, asal…

Asyiknya Wisata Pasar


Saya sudah sering sekali menulis tentang pasar-pasar yang saya kunjungi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Bagi saya, pasar adalah tempat yang paling tepat untuk mengenal budaya setempat serta lokasi yang paling cocok untuk mengamati interaksi penduduk lokal.

Setiap kali pergi ke negara tertentu, saya usahakan untuk mengunjungi paling tidak salah satu pasarnya. Ada beberapa keuntungan melakukan wisata pasar, antara lain yang sudah saya sebutkan di atas, untuk wisata kuliner, serta sekaligus belanja oleh-oleh – yang terakhir ini sangat tergantung kocek, harap maklum cuma traveler kere.

Di bawah ini rangkuman pasar-pasar yang menurut saya menarik – beberapa pasar sudah ada tulisan yang lebih mendetail dalam blog ini:

1. Tsukiji Market (Tokyo)

Pasar ikan terbesar di dunia ini berada di Tokyo Jepang. Tidak seperti pasar ikan lain yang berbau amis dan jorok, pasar ini bersih dan tidak berbau. Setap kali pasar tutup, selalu ada pembersihan besar-besaran, dengan lokasi lapak disiram air menggunakan truk tangki. Yang paling menarik di sini adalah pelelangan tuna, sayangnya sekarang acara ini ditutup bagi wisatawan demi menjaga higienitas ikan-ikan tersebut. Yang paling menyenangkan di sini adalah makan ikan bakar segar yang sangat lezat.

2. Pasar Tomohon (Manado)

Salah satu pasar terunik yang pernah saya kunjungi ini berada di Kabupaten Minahasa. Sebenarnya Pasar Beriman Tomohon ini pasar biasa saja, menjual berbagai kebutuhan sehari-hari penduduk setempat. Namun, banyak barang dagangan di sini yang tidak umum dijual di pasar lain, misalnya babi, anjing bakar, kucing bakar, tikus bakar, dan sebagainya yang menjadi konsumsi penduduk lokal.

Anjing panggang a la Tomohon
Anjing panggang a la Tomohon

Continue reading Asyiknya Wisata Pasar

Transit di Abu Dhabi International Airport


Saat ini kami (saya si Simbok Galau, Papa Krewel, dan Si Bocah Ngglidik) sedang dengan terpaksa cengoh 6 jam di Bandara Internasional Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Penerbangan lanjutan kami dari Amsterdam ke Jakarta memang memiliki jeda yang sangat panjang.

Ini sebenarnya kali ke dua kami transit di bandara ini. Namun yang pertama sangat pendek jadi belum sempat mendapat kesan yang lengkap. Bandara ini terbagi menjadi 3 terminal, dengan Terminal 3 adalah terminalnya Etihad Airways. Di sinilah kami sekarang berada.

Bandara Abu Dhabi kecil, sebenarnya modern, tapi entah kenapa saya kurang menyukainya.Mungkin karena terlalu padat jadi tidak nyaman. Selain itu, saat kami tiba kesanna sangat kotor, alias kemproh. Saya yakin ini bukan karena pengelolaannya melainkan tabiat para calon penumpang. Bungkus plastik, gelas kopi bertebaran di mana-mana, sampai mas-mas yang membersihkan geleng-geleng kepala.

Petugas bandara kebanyakan orang Filipina, begitu juga dengan penjaga kios. Mungkin karena tenaga kerja Filipina lebih piawai dalam bahasa Inggris dibanding TKI. Antrian untuk masuk terminal maupun gate cenderung panjang dan kurang teratur.

Bila Anda membawa anak jangan kuatir ada stroller yang disediakan pihak bandara. Warnanya oranye ngejreng. Sayangnya kok ga nemu yang jualan susu ya di terminal 3. Aduh saya jadi ga konsentrasi nulis gara-gara ada rombongan TKW ramai pakai bahasa Sunda. Saya kan jadi kebayang nasi tutug oncom.

Continue reading Transit di Abu Dhabi International Airport