All posts by Red Short Stories

Writing is an oasis, it bursts an endless heavenly water to end my emotional drought.

Corvallis, City at The Heart of Oregon’s Valley (Part One)


Corvallis has taken my heart away since I passed my first lonely, cold and harsh winter in 2008. I believe many of you never heard of Corvallis before, who would have unless they’re from Oregon ?

Just quick and dirty info, Corvallis is a small city with population about 54 thousand, and I swear to God, this number shrinks during the summer because three quarter of them are students who flee outside the “bohwring” city to work or just chill out and spending their parents’ money at bigger metropolitan cities such as Portland, Seattle, San Fransisco, Los Angeles, even New York. At the first week of my staying in Oregon (it was three weeks before the fall term started), I hardly see people. Instead, all I can see is cattle and Illama. Yaiks!

Anyways, a little geographic lesson is about to start. Where is Corvallis?

Corvallis is located in Central Western of Oregon (FYI, the not so famous state of Oregon is a rural treehugger backcountry located in the middle of California and Washington). According to Wikipedia, as they quoted from the US Census Bureau, the city has a total area of 13.8 square miles. It is as big as Yogyakarta city but way less populated, In compare to other cities around the Oregon’s Valley, Corvallis is among the smallest. In fact, a friend of mine who lived in Eugene- the second metropolitan city in Oregon, one hour drives away from Corvallis, once said (in Bahasa) that,” Corvallis itu kotanya kecil sekali sampai kentut gue pun bisa terbaui diseluruh kota (pardon my translation, Corvallis is sooo tiny weeny that even the whole city can even smell my fart). Continue reading Corvallis, City at The Heart of Oregon’s Valley (Part One)

Advertisements

Edisi Si Petualang: Merambah Keelokan Hutan Kapuas Hulu


Halo

Minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja sekaligus jalan-jalan gratis ke Kapuas Hulu, Kalimantan Barat selama hampir 2 minggu. Selama itu, saya menghabiskan waktu dengan tinggal dirumah kepala adat Suku Dayak dan juga dirumah tradisionalnya, namanya Rumah Betang.

Perjalanan diawali dari Jakarta menuju Bandara Supadio di Pontianak. Setelah menginap semalam di Hotel Santika, kami melanjutkan perjalanan dengan Kalstar ke Putussibau yang jarak tempuhnya adalah 1 jam. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil menuju Badau, kota kecil sekitar dua jam perjalanan dari Kuching, Malaysia.

Setibanya di Badau, kami langsung menuju rumah Pateh Ingkai, kepala adat Dayak Iban yang berdiam di dukuh Bunut Lalai, Kecamatan Bajau. Pateh Ingkai, tidak selazimnya pateh yang lain, sudah lama meninggalkan rumah betang (rumah tradisional dayak) dan tinggal dirumah sendiri. Langkah beraninya ini rupanya juga diikuti oleh rekan-rekan yang lainnya. Menurutnya, dia merindukan kedamaian dan ketenangan tinggal dirumah sendiri.

Dusun Bunut Lalau sendiri dikelilingi oleh Umai (ladang basah), tempat penduduk setempat menanam padi dan sayuran. Ya, Suku Dayak Iban hidup subsisten; dimana mereka cukup makan dengan padi dan sayuran yang dihasilkan diladang sendiri. Meski besar ladang mereka sekarang lebih kecil, namun berkat siraman ajaib pupuk dan pembasmi hama, hasil panennya justru lebih melimpah.

Image

Umai – area persawahan padi ladang

Continue reading Edisi Si Petualang: Merambah Keelokan Hutan Kapuas Hulu

Road Trip Yuk, Ragunan-Setu Babakan 18KM


Liburan di tengah minggu (thanks God to Governor’s election), kami iseng berjalan kaki dari Ragunan menuju Setu Babakan pulang pergi. Ini adalah kali kedua saya dan teman, Lusiana, melakukan road trip di Jakarta. Tujuannya, yah tentu saja: olah raga murah, bisa latihan kardio, mengencangkan otot badan (paha, perut, pantat) dan ultimate goalnya adalah dating that “hot sizzling guy” I saw in Menteng (slurp).

 

Continue reading Road Trip Yuk, Ragunan-Setu Babakan 18KM

Golden Gate Bay Cruise: Pesiar Musim Panas Teluk San Fransisco


Siapa yang tidak kenal San Fransisco, kota metropolitan di Pantai Barat Amerika Serikat ini sangat identik dengan Jembatan Golden Gate yang terkenal itu.

Saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat ini musim panas 2008, bersama dengan teman-teman dari Korea, Jepang, Amerika Latin dan Saudi Arabia. Wah, sangat ramai ya.

Perjalanan saya dimulai dari kota kecil bernama Davis, sebelah timur laut San Fransisco. Jika naik kereta Amtrak Coast Starlight dibutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam untuk sampai ke stasiun kereta terdekat di Emeryville. Dari lokasi ini, kami naik bus Amtrak menuju ke Fishermen Wharf dengan jarak waktu 40 menit.

Harga tiket Amtrak dari Davis ke San Francisco cukup mahal, yakni 29 Dollar sekali jalan. Namun, kami biasa mensiasati dengan mengajak lima teman sekaligus agar bisa membeli multiple ride ticket (10 tiket). Dengan begitu, kami cukup membayar 20 dollar saja sekali jalan .

Menikmati Pagi Berkabut di Bawah Golden Gate

Salah satu atraksi yang menarik minat wisatawan asing adalah paket keliling Pulau Alcatraz dan Golden Gate dengan menggunakan kapal pesiar Golden Gate Bay Cruise yang berangkat dari Pier 33, dekat Fisherman Wharf.

Sejak tahun 1939, Golden Gate Bay Cruise ini berlayar 8-12 kali sehari dimulai dari jam 10 pagi. Tiketnya bisa dipesan online di http://tours.redandwhite.com/eventperformances.asp?evt=1 seharga 26 Dollar untuk dewasa, 18 Dollar untuk anak berusia 7-18 tahun, dan gratis untuk bayi dan balita.

Dalam perjalanan menyusuri teluk San Fransisco ini, kami menikmati indahnya matahari pagi musim panas yang pelan-pelan menyeruak kabut tebal Pantai Pacific. Sayangnya, kami tidak tahan lama-lama berdiri di dek kapal. Meski katanya musim panas, angin laut pagi hari cukup terasa dingin. Untungnya kapal dilengkapi dengan jendela-jendela kaca yang lebar sehingga kami bisa melihat indahnya tiang-tiang penyangga Golden Gate yang berwarna kemerahan.

Misteri Pulau Alcatraz

Selain menikmati indahnya jembatan Golden Gate, kami juga bisa melihat Pulau legendaris Alcatraz dari kejauhan. Pulau kecil ini juga dikenal dengan nama lain “The Rock” alias bebatuan karena kontur tanahnya yang ditutupi bebatuan granit.

Dari kapal, saya bisa melihat bekas-bekas penjara dan mercusuar yang kini digunakan sebagai atraksi turis saja. Pulau Alcatraz sudah beralih fungsi setidaknya tiga kali dalam empat dekade. Pada tahun 1963, pulau yang terletak 2,4 kilometer dari teluk San Francisco ini dipergunakan sebagai penjara bagi penjahat federal dan penjara militer. Tahun 1969- 1970an, Pulau ini beralih fungsi diambil alih oleh suku Indian selama 19 bulan. Baru tahun 1972, Alcatraz di tetapkan menjadi taman nasional dan terbuka untuk umum.

Baju Berlapis Musim Panas nan Gaya

Sekedar tips bagi yang ingin mengunjungi wilayan San Francisco Bay, pakai baju yang berlapis. Namun jangan salah gaya. Tidak berarti anda harus mengenakan jaket winter berlapis, tidak! Cukup kenakan kaos lengan panjang, jaket trendi atau kardigan padukan dengan celana jeans dan syal katun tipis. Jangan lupa kenakan kacamata hitam anda, maklum matahari cukup terik dan silau. Poleskan juga tabir surya sesering mungkin agar kulit tidak terbakar matahari.