All posts by backpackology

a couple who treats their everyday as holiday

Welcoming the third backpacker in the family


9 months has passed and new sunshine has come to our life. Gembolan has turned into Oliq: the latest backpacker in our small family.

During the pregnancy period, with bulging belly, relentlessly we prepared our baby to become a travel addict. Traveler from the womb. To be fair, it also satisfied our hunger of traveling.

Cibodas, Aceh, Batu Karas and Green Canyon, Ciater, Delhi and Agra, Phuket, Kuala Lumpur, Ciwidey, Merapi, Siung and Wediombo in Gunungkidul are among those visited.

Today Oliq is 22 days old and is ready to conquer the world. After all, he is named after Thariq bin Ziyad, the conquerer of Spain.

So, welcome my son. The world is big but you will have your whole life ahead of you. Welcoming the third backpacker in the family: Thariq Naveed Risanto (Oliq).

Advertisements

Promthep Cape: Surga bagi para pengejar matahari


Bagi anda yang pernah berlibur di Pulau Phuket, Thailand, mungkin pernah mengunjungi tempat ini. Promthep Cape atau Tanjung Promthep terletak di ujung selatan pulau dan terkenal sebagai tempat yang sempurna untuk menyaksikan matahari tenggelam.

Ketika saya mengunjunginya pada siang hari, tempat ini terlihat biasa. Hanya seperti bukit berbatu, mirip seperti garu-gardu pandang yang ada di daerah wisata di Indonesia, hanya saja lebih besar. Kios-kios berjualan minuman dan souvenir kas Thailand berjajar di sepanjang area parkir. Beberapa restoran menjadi tempat berteduh favorit bagi para wisatawan yang tidak ingin tersengat matahari. Kelapa muda menjadi teman yang paling tepat untuk beristirahat di tempat ini.

Pemandangan ke arah laut biru, dengan bukit-bukit berwarna hijau di kejauhan, terlihat indah walau tidak berbeda dengan pemandangan di Phuket secara umum. Momen matahari tenggelamlah yang dinanti oleh semua orang.

Jumlah wisatawan, baik yang domestik maupun internasional, makin banyak yang berdatangan seiring dengan  beranjaknya matahari menuju ke ufuk barat. Masing-masing berebut posisi, mencari tempat yang paling sempurna untuk menyaksikan matahari tenggelam. Hari itu langit biru cerah. Setelah mendapatkan posisi yang tepat, kamera-kamera dan tripod pun kami siapkan.  Kami sama sekali tidak beranjak dari tempat tersebut karena takut tempat itu diambil oleh orang lain, walaupun matahari masih bersinar cukup terik dan pemandangan masih belum bagus untuk diabadikan. Di kanan kiri kami, wisatawan yang lain pun melakukan hal yang sama.

Pukul 06.00 sore, matahari semakin kehilangan teriknya. Sinar yang tersisa menimbulkan siluet-siluet berwarna jingga. Inilah saat yang tepat untuk mulai mengambil gambar. Di saat ini, seluruh pinggiran gardu pandang telah penuh dengan wisatawan. Mungkin karena saya datang pada hari Minggu, wisatawan lokal pun sangat banyak jumlahnya. Beberapa pasangan muda sibuk mengambil foto, banyak keluarga dengan anak-anak kecil mereka, serta kelompok-kelompok perempuan yang berkerudung – mungkin seperti kelompok pengajian kalau di Indonesia. Wisatawan dari berbagai bangsa, usia, semuanya dengan tujuan yang sama, yaitu menyaksikan matahari tenggelam di Promthep Cape, Phuket.

Saya, saat itu bersama suami dan adik, tidak kalah gencar berfoto. Hobi fotografi suami tampaknya terpuaskan di tempat ini. Berbagai pose dan angle diabadikan. Beberapa melirik kami bergaya sambil tersenyum-senyum. Kami tidak peduli, toh sudah jauh-jauh datang ke Promthep Cape untuk berfoto-foto.

Matahari jingga semakin tenggelam, menciptakan suasana yang membuat semua orang terdiam untuk menikmati keagungan Sang Pencipta. Pantulan warna keemasan di permukaan laut menciptakan paduan serasi dengan alam sekitarnya.

Ketika matahari telah seluruhnya tenggelam di batas cakrawala, orang-orang pun beranjak untuk pulang, dengan puluhan foto di kamera mereka.

Ke Promthep Cape dari Phuket Town atau Patong

Promthep Cape dapat dicapai dari arah Phuket Town, melalui Wat Chalong. Anda bisa menyusuri jalan utama menuju ke perempatan Chalong, kemudian mengambil jalan pantai melalui Pantai Rawai. Sangat mudah menemukan tempat ini karena di Phuket tanda arah cukup banyak dan jelas.

Apabila anda berangkat dari daerah pantai, Pantai Patong misalnya, anda tinggal menyusuri jalan pantai melalui Pantai Karon dan Kata. Jarak Promthep Cape dangan Patong sekitar 18 kilometer.

Untuk menuju ke tempat ini, dan berkeliling Phuket secara umum, anda dapat menggunakan taksi atau menyewa tuktuk. Namun, yang paling nyaman serta murah adalah menyewa sepeda motor. Selain lebih fleksibel dalam hal waktu, juga lebih mudah menikmati pemandangan dan bisa berhenti sewaktu-waktu.  Jalanan di pulau ini semuanya beraspal halus, walau berliku dan naik turun karena kontur pulau yang berbukit. Sewa motor sehari sekitar THB 250-300 atau Rp 75-90ribu tanpa bensin.

Selamat mengejar matahari!

Menyusuri masjid di Phuket dan Koh Phi Phi


Sebagai seorang Muslim, walau kita sedang berlibur di negeri lain, ibadah shalat lima wkatu tidak boleh ditinggalkan. Apalagi bila di negara yang tengah dikunjungi, akses terhadap tempat ibadah tidak terlalu sulit, hal itu justru menambah pengalaman dan kesan liburan.

Keindahan Koh Phi Phi

Pulau Phuket berada di Thailand tenggara, kalau dilihat di peta, tidak terlalu jauh dari Banda Aceh. Phuket merupakan salah satu tujuan wisata favorit turis lokal maupun internasional karena terkenal akan keindahan pantai-pantainya.

Pada tahun 2004, daerah ini diterjang tsunami Samudera Hindia yang mengakibatkan  ribuan orang tewas dan hilang. Sama seperti di Indonesia, Sri Lanka dan negara-negara lain, tsunami di Thailand tidak hanya merenggut korban jiwa, melainkan harta, infrastruktur dan mata pencaharian warga lokal. Pariwisata hancur lebur selama beberapa waktu, namun kini semua telah kembali seperti sebelum bencana. Tidak tampak bekas-bekas tragedi tersebut di  Patong, Kata, Karon, pantai-pantai paling populer di Pulau Phuket.

Kini, yang terlihat hanya resort-resort, hotel mewah, restoran-restoran yang ramai oleh turis asing, serta gemerlapnya Bangla Road – jalanan yang paling terkenal bagi para backpackers – dan keindahan pantainya.

Tentu, seperti di daerah wisata pantai yang lain, banyak sekali diskotik, bar, dan turis-turis asing yang berpakaian minim. Namun di Provinsi Phuket ini banyak juga warga lokal yang Muslim dan banyak di antara mereka yang mengenakan kerudung, sehingga saya juga tidak merasa asing.

Apabila kita menyusuri jalan-jalan utama di daerah ini, tidak perlu merasa khawatir karena jumlah masjid cukup banyak. Pemerintah lokal pun sangat membantu dengan selalu menyediakan papan arah untuk masjid.

Islam merupakan kaum minoritas di Thailand dan sebagian besar bermukim di Thailand bagian selatan. Di Phuket dan Phi Phi Don, pemandangan perempuan berkerudung dan laki-laki berpeci adalah hal yang biasa. Makanan halal pun cenderung mudah untuk didapatkan, walaupun di tempat wisata yang menyediakan makanan halal biasanya adalah restoran India atau Arab.

Di beberapa pantai, misalnya Surin dan Kamala, banyak warung-warung yang menyediakan makanan halal dengan ibu-ibu penjual yang mengenakan kerudung. Anda juga jangan khawatir bila membeli makanan kecil di minimarket, banyak yang memiliki label halal.

Masjid Kamala

Salah satu masjid yang sempat saya kunjungi adalah Masyid Kamala atau Kamala Mosque, yang terletak tak jauh dari Ban Kamala dan Pantai Kamala,tepat di depan kantor Kecamatan. Shalat jama’ Dhuhur dan Ashar di masjid ini sungguh menenangkan hati sekaligus juga mendinginkan tubuh setelah mengendarai motor mengelilingi pulau di bawah teriknya matahari.

Masjid yang terbuat dari marmer berwarna abu-abu dan merah ini berdiri tegak di tengah pemukiman padat penduduk. Kamala juga merupakan wilayah dengan populasi Muslim karena kami banyak melihat tanda masjid serta warung halal.

Masjid  Nuruddee Neeyah

Masjid ini terletak di daerah Chalong, berada di jalan utama bila anda hendak menuju ke Pantai Rawai ataupun Promthep Cape. Masjid ini sangat indah dengan kubah berwarna keemasan dan marmer putih. Di depannya ditanami pohon palem untuk memberikan sedikit karakter Timur Tengah, namun juga terdapat banyak pohon anggrek yang mencirikan Thailand.

Di depan masjid, berjajar ruangan-ruangan yang tampaknya berfungsi sebagai pesantren di sore hari. Di daerah ini, yang terletak di ujung selatan Pulau Phuket, juga merupakan komunitas Muslim. Selain karena kami banyak melihat masjid di sepanjang jalan, juga penduduk lokal berpakaian muslim.

Di dekat masjid, sebuah warung makan menyediakan berbagai masakan yang semuanya halal. Pemiliknya yang beragama Islam, juga memajang berbagai hiasan dinding bertuliskan ayat-ayat dari Al-Quran. Tanpa ragu-ragu kami pun mampir ke warung ini. Ternyata, tidak hanya halal, masakannya pun sangat lezat. Bahkan ada beberapa turis asing yang tampaknya sudah sering berkunjung ke warung ini.

Koh Phi Phi dan Masjid Al-Islah

Phi Phi Island terdiri dari Phi Phi Don dan Phi Phi Ley, serta beberapa pulau kecil lainnya. Walaupun wisatawan seringkali pergi ke Phi Phi dengan kapal dari Phuket, sebenarnya Phi Phi islands berada di provinsi yang berbeda, yaitu Krabi. Selain dari Phuket, ada juga yang menyeberang dari Krabi, Ko Lanta, dan Ko Phanga. Daerah ini juga terkena dampak tsunami 2004, namun kini tidak tampak bekas-bekas bencana tersebut.

Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju Phi Phi Don sungguh luar biasa. Pulau-pulau karst yang tinggi berwarna abu-abu dan hijau di tengah laut yang sangat biru membuat kami semakin mengagumi keagungan Allah.

Perjalanan dari Phuket ke Phi Phi Don dengan kapal besar membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Phi Phi Don merupakan satu-satunya pulau di wilayah itu yang ditinggali. Mayoritas penduduk Phi Phi beragama Islam.

Selepas makan siang, kami beranjak mencari masjid untuk menunaikan ibadah shalat Dhuhur. Masjid Al-Islah berada di ujung pulau, sekitar 15 menit berjalan kaki dari pelabuhan. Kami harus melewati toko-toko yang menjual souvenir, restoran, bar, serta penginapan-penginapan.

Masjid Al-Islah bernuansa warna kuning dengan menara hijau. Seperti masjid-masjid lain yang saya kunjungi di Thailand, di depan setiap keran untuk berwudhu disediakan tempat duduk. Ternyata memang kebiasaan berwudhu di Thailand berbeda dengan di Indonesia di mana kita biasa berwudhu sambil berdiri.

Masjid ini menyerukan adzan yang terdengar di seluruh pulau dan warga lokal berbondong-bondong untuk shalat jamaah di masjid ini. Menurut informasi yang kami dapatkan, baru sekitar 40 tahun yang lalu pulau ini dihuni. Penduduk lokal berasal dari Krabi dan Ko Lanta dan mereka adalah nelayan Muslim.

Masjid Al-Islah memegang peranan penting di Phi Phi Don, karena merepresentasikan kerendahan manusia di hadapan Sang Pencipta. Masjid ini terletak di timur pulau, di dekat sebuah pantai indah yang dinamakan Hat Rante tempat turis dan warga lokal berenang dan berselancar. Dahulu penduduk lokal melarang pembangunan hotel dan penginapan di sekitar majid, namun kini karena alasan ekonomis, hotel dan penginapan dibiarkan berdiri di sekeliling kompleks masjid.

Bersembahyang berjamaah di masjid ini merupakan aktivitas yang biasa dilakukan, namun hal itu semakin terasa setelah bencana tsunami tahun 2004. Marilah seperti warga Phi Phi, ketika cobaan tidak menjauhkan kita dari Allah, justru makin mendekatkan kita pada-Nya.

Published in Republika, 13 March 2011

Mengunjungi Jejak Kejayaan Islam di India


India merupakan negara yang kompleks dengan lebih dari satu miliar penduduk, wilayah negara yang luas, serta kesenjangan sosial yang tinggi. Beberapa orang menyarankan saya untuk menunda perjalanan, karena saya tengah hamil empat bulan, dan India bukan merupakan tempat yang sesuai karena cenderung kumuh, kotor dan kurangnya prasarana publik.

Humayon’s Tomb

Tapi toh saya dan suami memutuskan untuk berangkat, karena kami memang menggemari travelling, dan backpacking selalu menjadi pilihan. Karena keterbatasan waktu, kami memutuskan untuk mengunjungi Delhi dan Agra. India bulan Januari tahun ini mencapai puncak musim dingin, dengan suhu berkisar antara 4 hingga 17 derajat Celcius.

Beberapa tempat wisata yang kami kunjungi antara lain Taj Mahal, Red Fort atau Lal Qila, Purana Qila, Jama’ Masjid, Qutub Minar, Humayun’s Tomb. Sebagian besar tempat wisata di India bagian utara adalah peninggalan Islam di mana Kekaisaran Mughal atau Mogul mencapai masa keemasan antara tahun 1500-1600 Masehi.

Jama’ Masjid

Hari pertama kami di Delhi merupakan hari Jumat sehingga kami memutuskan untuk mengunjungi Jama’ Masjid atau Masjid-i Jahān-Numā , sehingga suami saya bisa memunaikan ibadah shalat Jumat di masjid tersebut. Jama’ Masjid terletak di Old Delhi, atau kota tua. Masjid ini dibangun oleh kaisar Mogul ke-5, Shah Jahan yang juga membangun Taj Mahal, pada tahun 1650. Pembangunan masjid ini membutuhkan waktu 6 tahun dengan melibatkan lebih dari 5 ribu pekerja.

Jama’ Masjid mampu menampung sekitar 25 ribu jamaah. Bangunan serta pelatarannnya terbuat dari batu paras (sandstone) merah, merupakan bahan bangunan yang umum digunakan pada masa Kekaisaran Mogul. Masjid ini memiligi tiga gerbang besar,  empat buah menara, dan dua buah menara masjid yang masing-masing tingginya 40 meter. Dua menara masjid ini terbuat dari batu paras merah yang diselingi oleh marmer putih.

Shalat Jumat di masjid ini merupakan pengalaman yang cukup unik bagi saya. Kira-kira satu jam sebelum adzan, para petugas sudah menyuruh para turis asing untuk keluar. Ketika kami juga disuruh keluar, kami mengatakan bahwa kami Muslim dan hendak mengikuti namaz sehingga tetap diperbolehkan berada di dalam komplekd masjid.

Adzan dikumandangkan dua kali, yang pertama sekitar pukul 13.30, dilanjutkan dengan khutbah yang seluruhnya dalam bahasa Arab. Perempuan diperbolehkan untuk mengikuti shalat, walau waktu itu hanya ada sekitar 20 orang, dibandingkan dengan ribuan kaum laki-laki.

Masjid ini masih sangat gagah berdiri, dan merupakan masjid terbesar dan paling terkenal di India. Wisatawan mancanegara masih menjadikan Jama’ masjid sebagai ‘must-see’. Tiket untuk masuk ke kompleks masjid ini adalah Rs. 250 per kamera.

Taj Mahal

Taj Mahal, yang juga merupakan salah satu keajaiban dunia, adalah tempat wisata yang paling terkenal di India. Terletak di kota Agra, 195 km dari Delhi, Taj Mahal dapat dicapai dengan kereta, bus, maupun pesawat terbang. Setibanya kami di Taj Mahal, antrian masuk sudah sangat panjang. Mungkin karena hari Sabtu sehingga banyak wisatawan domestik maupun mancanegara mengunjungi tempat ini. Tiket untuk turis internasional adalah Rs. 750 per orang atau sekitar Rp 160.000. Antrian masuk ke kompleks Taj Mahal cukup lama, dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Alasannya adalah karena setiap pengunjung akan diperiksa dengan teliti oleh para petugas sebelum masuk. Hanya minuman, tas kecil dan kamera yang diperbolehkan untuk dibawa. Tripod, buku panduan, maupun tas besar harus ditinggalkan di loker yang telah disediakan. Makanan yang ditemukan oleh petugas akan dibuang begitu saja.

Kompleks Taj Mahal memiliki dua buah gerbang masuk, yaitu gerbang barat dan timur. Seperti yang telah banyak diketahui, Taj Mahal dibangun atas perintah Kaisar Shah Jahan untuk istri ketiganya yang telah meninggal, Mumtaz Mahal, sebagai tanda cinta yang abadi. Mulai dibangun pada tahun 1632, dan selesai pada tahun 1653, Taj Mahal dibangun menggunakan material dari India dan Asia. Lebih dari 1.000 gajah digunakan untuk mengangkut bahan bangunan tersebut. Marmer putih diangkut dari Makrana, Rajasthan, jasper dari Punjab, batu jade dan Kristal dari Cina. Batu turquoise dibawa dari Tibet, Lapis lazuli dari Afganistan, safir dari Sri Lanka dan carnelian dari Arab Saudi.

Masjid Taj Mahal terletak di sebelah barat hanya beberapa meter dari bangunan utama. Masjid ini terbuat dari batu paras merah, dibangun oleh Muhammad Isa. Interior masjid tersebut berisi kaligrafi nama-nama Allah serta cuplikan ayat-ayat Quran. Di sebelah timur Taj Mahal terdapat replika masjid dengan ukuran yang sama, namun tidak pernah digunakan untuk shalat.

Kami berkesempatan untuk menunaikan ibadah Slahat Maghrib di Masjid Taj Mahal dengan Imam Masjid. Sayangnya, hanya kami berdua yang menjadi jamaah shalat, padahal pada saat itu masih banyak pengunjung dan petugas yang ada dalam kompleks. Tampaknya seruan adzan yang dilakukan oleh Imam di menara masjid tidak dihiraukan oleh kaum muslim yang masih ada di sekitar Taj Mahal.

Qutub Minar

Qutub Minar merupakan tempat wisata sejarah lain yang wajib dikunjungi. Qutub Minar adalah menara masjid paling tinggi sedunia, setinggi 72,5 meter. Menara masjid ini mungkin hanya kalah dengan masjid Nabawi yang sudah direnovasi. Menara Qutub ini dibangun oleh  Qutb-ud-din Aibak dan diselesaikan oleh Iltutmish, menantus erta penerusnya. Qutub Minar juga dibangun dengan batu paras merah berukir kaligrafi dari ayat-ayat Quran.

Di kompleks Qutub Minar juga terdapat masjid tertua di India, Masjid Quwwat-ul-Islam yang didirikan oleh Qutb-ud-din Aibak pada tahun 1198 M.  Masjid ini dibangun dari bekas 27 kuil Jain yang dibangun sebelumnya pada masa Tomar dan Prithvi Raj Chauhan. Beberapa bagian kuil dibiarkan berdiri di bagian luar masjid.  Masjid ini sudah tidak digunakan lagi karena sebagian besar telah runtuh, namun pengunjung dapat menunaikan shalat di Masjid Mughlai yang ada di dekat pintu gerbang.

Di kompleks Qutub terdapat juga Pilar Besi  yang dibangun pada tahun 375 M oleh Chandragupta II. Pilar setinggi 7,25 m dengan berat lebih dari 6 ton. Pilar ini mengundang keingintahuan para arkeolog dan dan ahli metalugi, karena sama sekali tidak berkarat setelah lebih dari 1600 tahun berada di udara terbuka.

Perjalanan ke Qutub Minar merupakan tujuan wisata kami yang terakhir sebelum mengejar pesawat untuk kembali ke Jakarta. India, dengan lebih dari 12 persen penduduk Muslim memiliki kekayaan sejarah Islam yang luar biasa. Suasana kota yang kumuh dan kotor serta berdebu, seakan terlupakan ketika kita menyaksikan berbagai peninggalan sejarah yang sangat hebat ini.

Namun peninggalan sejarah yang hebat ini sekaligus menjadi ironi tersendiri bagi umat muslim. Tidak adanya jamaah saat kami sholat maghrib di Taj Mahal maupun tidak digunakannya lagi Masjid Quwwat-ul-Islam di komplek Qutub Minar menunjukkan rendahnya kesadaran beragama Islam di India. Dengan jumlah muslim lebih dari 12 persen dari 1 milyar lebih penduduk India, seharusnya gairah Islam lebih terasa dengan aktifnya kegiatan di masjid-masjid utama. Apalagi bila dikaitkan dengan kekuasaan Islam di India selama hampir 1000 tahun sampai menghasilkan banyak peninggalan-peninggalan luar biasa, kondisi Islam di India kini terasa sangat ironis. Semoga suatu saat Islam bisa kembali bangkit di India seperti pada masa kejayaannya dulu. Barakallah.

Published in Republika 23 January 2011:

http://republika.co.id:8080/koran/153/127795/Mengunjungi_Jejak_Kejayaan_Islam_di_India

Creating a peace of mind in Luang Prabang, Laos


I went to Luang Prabang and with a broken heart. And this small, quiet and peaceful town healed it! So every time I heard this place, I will remember how this small town mended my broken heart. And do note, that they also have the friendliest immigration officer I’ve ever encountered. Not those ones with robotic faces, but the ones who can actually smile and asked about your trip. There are not very many things to see here in Luang Prabang. It is small. And the life revolves around its main road, Vivasong Rd. But certainly you need to visit this place for 3-4 days.

Kuang Xi Waterfalls

 

 

This is the most picturesque view in Luang Prabang. Located 29 km from the center of the town, this is definitely a must-see. The water falling from the rock creates a series of greenish pools. You can bathe in, in some parts.  During rainy season or even in the mornings, the area surrounding the pools is very slippery, so use proper footwear such as Teva-like sandals. Or do like locals, barefoot, if you feel more comfortable.  If you are in a group, travel to this waterfalls is quite cheap because you can hire a tuk tuk or rickshaw. A return trip to Kuang Xi cost US$14. And like always, do bargain down!

Park Ou Caves

Or the Buddha caves, is about an hour drive or one and a half hour on a boat.  There are two caves – one on the entry level and another – the upper caves – on top of the hill. A very steep climb, but worth the effort. A candle or torch recommended to see the upper cave, as it is dark.

Phou Si

The center of the town is a hill where you have a good view of the whole town. It’s not a very steep climb from the bottom and sunrise and sunset are the most sensible and rewarding times to go up. There is a near-panoramic view from the top. Entrance fee 20,000 kip.

Night Market

Night market is there every night along the main road up to Phou Si. You can get any souvenirs from shirts, T-shirts, bed sheet, traditional hand bags. Just make sure that they are not made in Thailand. You can pay in kip, Thai baht or US dollars.  Alms Ceremony  Only for early-rising tourists. It is a very interesting rituals at dawn when the monks collecting alms from kneeling villagers. Stand and take pictures from a far, do not disturb the ritual itself. If you wish to participate, make sure you bring good fruit or food to give to the monks.

How to get there

Bangkok Airways fly Bangkok-Luang Prabang everyday. The air travel takes 1 hours 40 minutes in a 67-seater ATR aircraft. And yes, no need to be so surprise if you see it looks like a toy plane. They fly just fine.  They provides free meal, and on flight from Luang Prabang you would almost certainly get Lao dish i.e. sticky rice.  A lot of people opt to fly from Vientiene using Lao Airlines, or by bus via Vang Vieng.

Accommodation

Hotels line up along the main road and some smaller streets. I stayed in Sayo River Guesthouse which offer a view to Mekong River for $25/night. The place is clean and you get free coffee anytime of the day. It’s a good 10 minutes stroll from the main road and at night you will have to cross a slightly dark bridge. For you who travel in a group, this is no problem. I was travelling alone, and it was also alright. Some people may want to be closer to the party, which is the Vivasong Rd. There are many options. Sayo River has a twin on this road. You don’t have to book in advance as there are always room for you.

Others

I did not remember any ATMs there, but there are a lot of money changers. So bring your dollars or baht and there will be no problem f0r you. Visa on arrival costs from US$ 20 to US$ 40, depending on your country of origin.