Syukur Terkecil


Travelling, berada di negeri asing membuat saya sering menyukuri nikmat-nikmat yang sangat sederhana. Nikmat yang sangat biasa. Yang biasanya hal-hal itu bukan apa-apa.

Di Tallinn, Estonia

Di Bandara Riga, Latvia, saya duduk menyempil di pojokan ruang tunggu. Tidak terlalu kentara, saya menjalankan salat Subuh. Negara-negara Eropa Timur ini tidak terlalu mengenal Islam. Sering saya ditatap lekat-lekat gara-gara mengenakan kerudung. Sepanjang lima hari penuh di Estonia dan Latvia, tidak pernah satu kali pun saya bertemu dengan perempuan lain yang berhijab. Berbeda dengan di Helsinki, Finlandia, masih cukup sering bertemu saudara seiman keturunan Afrika.

“Mama dosa nggak pakai kaos pendek gitu?” tanya Oliq. Di bandara, petugas keamanan menyuruh saya melepas jaket dan sweater untuk discan. Salah saya juga sih hanya pakai kaos lengan pendek. Biasanya di bandara Inggris, sweater/jumper tidak pernah harus dilepas. Petugas perempuan menanyai apakah saya bisa melepas kerudung, saya bilang tidak. Tidak apa-apa, dia memeriksa tubuh saya secara seksama. Tentu jauh lebih lama daripada mereka yang tidak bertutup kepala.

Seorang petugas lain, laki-laki, mengoleskan tangan saya dengan sesuatu, lalu memeriksa di komputernya. Dia juga menyuruh saya menunjukkan celana bagian ikat pinggang, yang ikat pinggangnya sudah dilepas. Sepertinya petugas ini khusus memeriksa obat terlarang, apakah ada trace narkoba di kulit saya.

Semuanya masih dilakukan dalam batas-batas kewajaran. Saya tidak perlu merasa dicurigai. Mereka hanya menjalankan tugas dan kewajibannya.

“Nggak, Aik. Allah itu Mahabaik.”

Syukur berkali-kali saya ucapkan. Di negara-negara asing, hanya bertiga dengan anak-anak, walau sering ditatap penuh tanya, tidak ada yang pernah mengganggu. Tidak ada yang jahat.

Ketika kami harus berangkat saat Subuh, sekitar pukul 4 pagi, masih gelap gulita dengan suhu -1 derajat Celcius, saya juga merasa aman. Sopir taksi online yang kami tumpangi pun baik. Khas Eropa Timur, tidak pernah banyak cakap, tidak kepo. Meski, ketika datang suaranya terdengar sangat sangsi “You are Olenka?” Wajar, dia mungkin berpikir customernya adalah perempuan Rusia berbadan besar dan berambut pirang, bukan ibu-ibu muda kecil mungil berkerudung bersama dua orang anak.

Saya begitu mudah, dan murah, mencari taksi dini hari. Ya betul, jauh lebih murah daripada taksi di Inggris.

Saya bersyukur setelah hampir seminggu bertahan dengan Indomis, sarden, abon, dan nasi goreng, akhirnya bisa menemukan kedai halal di Riga. Anak-anak begitu senangnya makan nugget ayam. Nugget, yang seharusnya hanya terasa biasa-biasa saja ketika di rumah. Bersyukur bisa makan kebab halal, yang kalau di Inggris, cuma 50m dari rumah. Di Riga, sungguh bagai oase di padang pasir.

Syukur terbesar saya adalah anak-anak sehat semua, walau harus bertahan dengan makanan yang itu-itu saja. Memang, saya paksa mereka untuk selalu makan tepat waktu, biarpun cuma Indomie goreng. Pagi makan, baru jalan keluar, siang pulang untuk makan dan tidur siang, sore jalan lagi, pulang makan malam, main, lalu tidur.

Alhamdulillah wa syukurillah, paracetamol, minyak angin, diapet, tidak ada yang terpakai.

Hanya obat oles pegal yang terpakai, itu pun hanya untuk berjaga-jaga. Mata kaki saya lemah sejak usia belasan tahun. Pernah mendapat insiden. Salah satu ketakutan saya adalah terkilir ketika menyusuri jalan-jalan kota tua Tallinn dan Riga yang semuanya terdiri dari cobblestones.

Untungnya, ketakutan itu tidak beralasan. Paha kokoh saya mampu menopang Ola menyusuri bebatuan naik ke Toompea. Meski kadang ketika harus naik bertangga-tangga otot saya seperti menjerit.

Salah satu kegalauan saya adalah trip Tallinn ke Riga dengan bus yang membutuhkan waktu 4,5 jam. Duduk saya agak terpisah dengan anak-anak. Saya takutnya Ola rewel karena anaknya memang selalu maunya duduk sebelah saya persis. Ternyata mereka cukup kooperatif. Dari sekitar 310km, hanya 10km terakhir Ola minta pangku. Memang busnya nyaman, ada TV dengan banyak film anak-anak, ada wifi kencang, ada colokan listrik.

Perjalanan dengan feri antara Helsinki-Tallinn pun sangat nyaman. Dua setengah jam tidak terasa karena anak-anak senang bermain di playground. Mereka juga mendapat hadiah dari petugasnya.

Saya bersyukur tidak mengalami kesulitan yang berarti. Masih bisa salat, makanan halal masih terjaga (walau sempat kecolongan makan croissant ternyata dalamnya ham), masih bisa bersenang-senang walau tanpa Puput, masih kuat walau lelah.

Bahkan di Riga, ketika saya sudah deg-degan setengah mati saat Oliq didekati orang mabuk berat, ternyata cuma mau dikasih pisang.

Ketika kita berada di negeri yang jauh, nikmat-nikmat yang biasa, menjadi luar biasa.

Berjalanlah, Kawan, maka kamu akan menyadari bahwa kemudahaan yang biasa kamu dapatkan bagi orang lain adalah berkah yang luar biasa.

One thought on “Syukur Terkecil”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.