Petualangan di Finlandia, Estonia, dan Latvia dengan Anak-Anak


“Kamu yakin tega aku sama anak-anak plesir sendirian?” kata saya kepada suami.

“Ya tega aja. Kamu kan strong, Cup. Estonia negara maju. Dudu Zimbabwe.”

HALAH aku juga yakin nek misale kejadiannya sama Zimbabwe, dia akan ngomong semacam, “Zimbabwe yang sekarang udah aman, Cup, bukan kaya dulu lagi. Yang penting kamu bawa yuan cukup.” Semacam kuwi lah. Aku ki wis apal karo bojoku.

Tapi tentu dramanya dimulai jauh sebelum itu.

Anak-anak di Laima Clock, Riga, Latvia

***

Liburan musim semi anak-anak 3 minggu. Ada very long weekend juga untuk Easter break. Jadi seharusnya kami mengambil liburan saat itu, karena Puput jadi bisa ngirit cuti. Tujuannya mana? Awalnya kepikiran mau landing Belanda nonton Keukenhof, terus ke manaaa gitu. Saya sih sebenarnya tidak terlalu bernafsu nonton kembang. Just not my cup of coffee hehehe.

Jadilah kami mulai upyek ngurus visa. Udah ngisi semua form visa Schengen. Lha kok ternyata VFS Belanda sama sekali nggak ada slot appointment sampai April habis. Masa kudu bayar Orange Carpet, kan tekor ya?

Di mana-masa mau apply visa itu Puput sempat bilang, “Ketoke kok ribet banget yo. Mbiyen ketoke ora seribet iki!” LHA MBIYEN KAN DIURUSI KANTORMU! Saya ngegas dong. Dan ternyata doanya diijabah Allah dong. Jadi ribet bener.

Ini kesalahan kami, nggak nyangka banget yang namanya nyari slot itu susah banget. Setelah gagal apply via Belanda.

Perancis, Jerman, sama aja. Ada satu hari saya berusaha bikin appoinment di belasan negara: Belgia, Hungaria, Spanyol, Austria, Italia, Denmark, Bulgaria, dll. Semuanya baru ada slot yang terlalu mepet dengan tanggal keberangkatan.

Sampai Puput bilang, “Saksial-siale awake dewe plesir dalam negeri wae.” Hancur hatiku hahahah.

Hingga akhirnya saya dapat appointment via BLS Spanyol. Dan itu udah terlalu mepet. Stafnya, wong India, bilang, “Nambah aja £60 per orang buat premium, entar bisa cepet.” Waks, pengeluaran extra 4 juta itu aku kok eman-eman. Padahal Puput udah bilang, gapapa premium, saya tetap ga rela.

Perjuangan telpon Kedutaan Luxembourg dan dapat slot tanggal 27 Maret. Mepet, sih tapi ya sudahlah. Masnya embassy bilang, “Kalian nggak punya pilihan lain.”

Intinya plesiran akan kami sesuaikan dengan di mana kami dapat slot visa-nya. Hahahaha. Jadi kalau dapat lewat Luxembourg, rencananya masuk lewat situ baru nanti ke arah utara, misalnya. Kebetulan dari Gatwick ada penerbangan langsung.

Belum selesai, karena Luxembourg terlalu mepet marai deg-degan. Kami bukain negara-negara Skandinavia yang ternyata lebih selo. Iyalah liburan Paskah pada nyari yang anget. Slot biometriknya bisa cepet jadi ga mepet. Pilihannya Norway, Swedia, Finlandia.

Ganjalannya adalah kuwi negara-negara luaraaaaaaang banget huhuhu. Di antara itu, yang paling murah Finlandia biaya hidupnya. Akhirnya kami apply via Finland. Begitu dapat slot, langsung booking tiket pp, dan booking hotel.

Ini jadi pelajaran buat kami, lain kali kalau apply visa bisa dimulai 3 bulan sebelumnya. Dan cari slot dulu, baru mulai ngisi form dan ngumpulin dokumen-dokumennya. Juga cari tiket. Oh ya, form online masing-masing negara agak beda. Yang Finland ini sedikit lebih simple dari yang Belanda.

Seminggu persis, visa jadi. Ya, walaupun cuma dapat ngepas, alhamdulillah ga ditolak. Alasan dapat pas-pasan karena ini dianggap visa Schengen pertama karena selama 3 tahun terakhir kami ga apply. Mungkin juga karena Finlandia ga mau dijadiin batu loncatan, “Halah, iki apply-ne seko kene sing gampang, padahal sesuk-sesuk plesire nang Paris.” Ketiga, soale tabungane ming sakuprit wkwkwkwk. Tapi kabarnya, kalau sama anak-anak memang akan diberi pas-pasan sebagai antisipasi child trafficking.

***

Seminggu sebelum keberangkatan. Penginapan semua sudah dibooking. Transportasi antar negara masih belum, nanti mepet-mepet saja. Toh murah.

Hari itu Jumat yang syahdu. Di tengah indahnya menyetrika tumpukan pakaian, WA saya berkedip. Dari Puput, “Kabar buruk. Aku kudu ning Nigeria ki.” Waks. Kapan, tanya saya? Tanggal 15-18.

Bayangkan, itu benar-benar di tengah jadwal liburan kami yang tanggal 13-20 April. Hati ini rasanya remuk redam. Dinas ke Nigeria itu, kata Puput, nggak bisa dicancel. Berangkat sama bos-bos, bahkan tiket dan hotel sudah dibookingin.

AMBYAR HATIKU, JEM!

Bahkan sebelum dia pulang, kami buru-buru melakukan konsolidasi. Jadi berangkat atau batal? Saya butuh waktu sekitar setengah jam untuk memutuskan akan berangkat saja lah. Walau nggak kebayang capeknya bakal gimana.

Masalahnya, tiket pesawat kami semuanya basic fare, non refundable. Untuk bookingan apartemen juga sepertinya sudah masuk batas untuk tidak bisa direfund lagi. Kan sayang sekali. Belum lagi ngelingi apply visane sing ribet, sayang sekali kalau kemudian tidak terpakai. Iso nangis darah aku. Lagipula, kalau tidak berangkat semua kerugian akan kami tanggung sendiri. Sementara kalau saya dan anak-anak tetap berangkat, ada beberapa komponen (seperti tiket pesawat, dan transportasi antarnegara) yang bisa diklaim ke kantor.

Setelah Puput pulang, kami berpelukan. Hahahahah. Sedih banget. Tapi harus dilakoni.

Oh ya, pada saat itu sebenarnya dalam hati kami masing-masing masih ada satu doa lagi supaya perjalanan Puput ke Nigeria gagal. Wakakakka. Jadi kalau ke Nigeria dan belum punya business visa, (bahkan WN Inggris pun) bisa VOA. Tapi untuk VOA ini dibutuhkan semacam statement letter dari Kemenlu Nigeria, apply online. Salah satu syaratnya adalah surat pengundang. Jadi kantor Slukubathok Nigeria kasih surat dulu untuk kemudian Puput apply online. Setelah apply online ini nunggu statement letter itu keluar. Dan ga keluar-keluar dong, padahal janjinya dua hari kerja.

Hingga kemudian itu statement letter keluar hari Jumat tanggal 12 April, jam 6 sore. Edyan, wis ngluwihi business hour. Benar-benar last minute.

Kalau sudah takdir, gimana lagi?

Puput buru-buru beli tiket Helsinki-Gatwick tanggal 14 April. Jadi dia hanya akan ikut liburan semalam di Helsinki. Kan sayang banget kalau visanya nggak kepakai.

Sebelumnya saya sudah packing lengkap. Satu koper 15kg isi rice cooker, beras, Indomie, sarden, abon, pop mie, kopi sachet, bumbu nasi goreng, cemilan. Dan sedikit baju.

***

Helsinki, Finlandia

Pagi tanggal 13 April kami sudah mbedogrok di Gatwick yang ramene ora umum. Ya maklum,  memang lagi jadwal anak liburan sekolah. Perjalanan ke Helsinki ditempuh dalam 2,5 jam. Kami naik Norwegian Air dan turun di Bandara Vantaa.

Enaknya paspor ijo di Eropa adalah line imigrasinya sepi. Lha iya, kebanyakan penumpang antre di line EU, yang non-EU sepi banget. Bahkan tanpa antre.

Kereta di Helsinki, Finlandia

Petugas imigrasinya men-scrutinize paspor kami. Minta lihat tiket pulang. Lalu tanya travel plan, berapa hari di mana. Puput jelasin, kami akan ke Helsinki, Tallinn, lalu Riga. Nah, ini buat warning ya, sekarang ini kalau apply visa negara Schengen lebih baik di negara “main destination”, bukan lagi negara tempat mendarat pertama.

Sempat dicegat petugas custom juga. Ramah banget, nanya-nanya mau ke mana aja. Beliau ternyata dulu tinggal di Suomenlinna. Dan, ga, kopernya juga ga diperiksa. Dari bandara kami naik kereta ke Helsingfor (main station Helsinki). Tiketnya 5 euro untuk dewasa, 2,5 euro untuk anak. Ola masih gratis. Jadi jauh lebih murah daripada naik Uber yang bisa sampai 29 uero.

Selama di Helsinki ini kami ke mana aja?

– Helsinki Cathedral. Katedral Helsinki adalah Gereja Lutheran Finlandia yang dibangun tahun 1830 untuk Grand Duke Finlandia, yaitu Tsar Nicholas I dari Rusia. Katedral berdiri di atas anak tangga. Terlihat megah. Di depannya terdapat alun-alun yang juga dihiasi berbagai patung.

Helsinki Cathedral

-Uspenski Cathedral ini adalah gereja Rusia ortodoks. Memang terlihat sekali gaya Rusia-nya.

Uspenski Cathedral

– Market Square ini semacam pasar sentral yang dilengkapi kafe-kafe tenda.

– Senate Square ini adalah gedung parlemen dengan gaya neoklasik.

– Katajanokka Waterfront, Katedral Uspenski berada di ujung dekat dengan Katajanokka, jadi bisa sekalian ke sana.

Karena waktu yang sempit — Puput harus berangkat ke bandara jam 1 siang, jadi memang yang bisa dikunjungi terbatas. Cari di sekitar apartemen. Itu semua walking distance.

Kami ga sempat ke Suomenlinna dan Gereja Temppeliaukion yang sebenarnya masuk must-visit.

Siang kami nganterin Puput ke stasiun. Huhuhu sediiiiiiiih. Patah hatiku.

***

Tallinn, Estonia

Besok paginya kami bertiga menuju ke Katajanokkan Terminal untuk naik feri yang menuju ke Tallinn, Estonia. Dari apartemen kami naik Taxify, semacam Uber, tapi biasanya lebih murah. Sopirnya pun rapi dan ramah. Kalau di Helsinki, orang-orang masih banyak yang bisa Bahasa Inggris.

Feri yang kami tumpangi

Kami check in Viking Line. Saya beli tiket online di sini: https://www.vikingline.com. Sebenarnya ada beberapa operator feri yang melayani rute Helsinki-Tallinn. Saya sengaja pilih Viking Line karena terminalnya di Katajanokka, yang relatif dekat dari apartemen sewaan. Lagipula, menurut riset, jalur ini paling bagus karena melewati Suomenlinna. Operator feri lain adalah Tallink Silja yang sebenarnya lebih sering frekuensinya.

Suomenlinna dari feri

Ferinya nggak kaya kapal feri. Kaya kapal pesiar yang terdiri dari 10 tingkat. Di dalam feri ada banyak restoran, pub, bar, supermaket duty free, kafetaria. lantai 6 ada kabin-kabin gitu tapi harus bayar lebih. saya nggak mau dong.

Walau sempat bingung, akhirnya kami nemu tempat untuk nyimpen koper, dan mulai mencari posisi wenak. Sebagian besar penumpang kayanya udah biasa naik feri itu jadi sudah hapal. Sementara saya harus nggandeng dua anak kecil.

Di dalam Viking Line XPRS

Kami naik ke lantai 8 dan di sana ada kafe besar lengkap dengan playground. Senengnya anak-anak ini main di playground. Simboknya merapat di kafetaria buat jajan. Jadilah tiket feri bertiga 22 euro, jajannya 12 euro hahaha.

Perjalanan cuma 2,5 jam dan sama sekali tidak membosankan. Di playground sering ada aktivitas. Ada petugasnya yang memimpin. Terakhir, anak-anak seneng karena diberi hadiah berupa stiker dan koin.

Tiba di Tallinn, Estonia, jam 2 siang. Kami ambil koper terus keluar. Di luar agak galau mau naik taksi atau taksi online. Akhirnya saya pakai taksi konvensional yang memang harganya dua kali lipat daripada taksi online. Yo wis rapopolah ngrejekeni sopire.

Airbnb yang kami sewa ada di Old Town. Alamatnya 2 Rastakaevu. Sampai di alamatnya. Tapi kok ga nemu lockbox yang disebutkan host. Sampai bingung padahal sudah di depan pintu. Akhirnya saya telpon host-nya. Ternyata diriku yag nggak teliti. Sudah diberi petunjuk bahwa masuknya lewat 1 Pikk jalg, jadi semacam pintu belakang — yang cuma beberapa meter dari situ.

Karena sudah tinggal di Old Town, ke mana-mana gampang. Tinggal jalan kaki. Tapi lumayan juga kalau Ola ngambek jalan, minta gendong, terus saya naik ke Toompea Hill.

Di Tallinn ke mana saja?

– Toompea Hill ini cuma sekitar 200m dari apartemen kami. Di sana ada berbagai hal termasuk beberapa viewing platform yang bisa lihat Tallinn dari atas, termasuk Kohtuotsa yang kalau ditarik garis lurus berada di atas apartemen. Lha kelihatan dari jendela ruang tamu wkwkwk.

Alexander Nevsky Cathedral

– Alexander Nevsky Cathedral, juga berada di Toompea. Lumayan dapat a glimpse of Russia. Memang arsitekturnya sangat Rusia, dibangun pada abad ke-19. Di sekitar sini banyaaaaak banget turis mbah-mbah China.

View Tallinn dari Toompea Hill

– Danish King’s Garden dan patung Faceless Monks-nya. Ini lokasinya berada di Neitsitorn Muuseum, yang terkenal dengan Maiden’s Tower. Bangunan ini dulunya adalah penjara khusus PSK. Dari sini juga kelihatan Keik in de Kok.

Danish King’s Garden

– Raekoja plats dan Town Hall. Ini semacam alun-alun besar dengan banyak kafe di pinggir jalan.

– Gereja St Olaf

– Gereja St Catherine

– Gereja St Nicholas

Satu dari tiga The Faceless Monk

Pokoknya semua yang ada di Old Town Tallinn saya puterin. Cakeeeeeeep semua. Itu aja atraksi wisatanya udah banyak. Semuanya bagus. Cuma pundak saya lumayan remuk redam gendong Ola. Nanti saya tulisa panjang lebarnya deh, sekalian seri wisata horor Tallinn.

Riga, Latvia

Riga di Latvia adalah perhentian terakhir sebelum kembali ke Inggris. Ini trip yang bikin saya deg-degan, karena perjalanan 4,5 jam dengan naik bus. Dan karena tempat duduk saya terpisah. Kursinya kan 2-2, jadi anak-anak dudu berdua, saya di samping agak belakang. Saya booking bus Lux Express di sini: https://www.luxexpress.eu/en/. Tiketnya 16 euro untuk saya, dan 3,20 euro untuk anak-anak. Itu tiket saya reguler, ada promo yang cuma 9 euro tapi berangkatnya jam 7 pagi, saya malas.

Terminal Bus Tallinn, Estonia

Dari apartemen saya naik Taxify lagi (udah jadi aplikasi favorit di Baltik) ke Tallinna Bussijaam alias terminal. Terminalnya kecil tapi bersih banget dan rapi. Banyak yang jual jajanan juga. Simbok ki asal wareg tentrem.

Ola di dalam Lux Express nonton Rapunzel, Simboknya nonton quick count

Ternyata busnya jauh lebih bagus daripada bayangan saya. Kursinya nyaman, room leg-nya luas — not that I need it. Toiletnya bersih. Ada colokan di masing-masing kursi. Wi-fi kencang, bisa buat Youtube-an tanpa buffering. In-bus entertainmentnya lengkap. Filmnya banyak walau kalau film kebanyakan ga ada English subtitle, jadi kalau ga bawa headphone harus pinter baca gerak bibir. Sementara itu film anak pun banyak, ada Frozen, Rapunzel, Minions, dsb makanya anak-anak juga ga rewel. Selain itu ada mesin kopi gratis tinggal pencet.

Kami tiba di Latvia sekitar jam 4 sore. Dan karena menurut Google Map, Old Town cuma sekilo, saya memutuskan untuk jalan kaki. Nggak jauh sih, tapi guys, karena jalannya cobblestones semua, nggeret kopernya jadi berat banget.

Jadi saya nggendong Ola plus nggeret koper, sementara Oliq jalan kaki sambil nggendong ranselnya.

Airbnb kami tepat di samping Katedral St Peter. Walau petunjuk host-nya jelas, saya sempat salah pintu dan masuk ke bar. Terus dilihatin Mas Bartender, batinne, “Iki sopo ibu-ibu kudungan nggendong anak.”

Di Riga ini saya juga cuma mengelilingi Kota Tua:

– Cathedral St Peter’s yang tepat di depan mata.

St Peter’s Cathedral, apartemen kami tepat di sampingnya

– House of the Blackheads

– The Three Brothers

Three Brothers, tiga rumah tertua di Riga

– Dougava River

– Freedom Monument

SAMSUNG CAMERA PICTURES

– Powder Tower

– Gereja St James’

Sekali lagi, puter-puter kota tua saja. Itu juga sudah banyak dan cakep kok. Sempet juga ke mall buat beli playdoh karena anak-anak kalau pas di apartemen sudah mati gaya selain nonton Youtube.

Dolan pinggir kali

Sebenarnya pengen day trip ke Lithuania tapi kok awakku lumayan remek.

Itinerary saya memang nggak muluk-muluk. Sendirian cuma sama anak-anak, prioritas saya cuma anak senang dan ga sakit. Saya juga ga boleh sakit.

Makanya, kami biasa berangkat setelah makan pagi. Keluar jalan-jalan, lihat-lihat, jajan, sampai siang pulang ke apartemen. Sebelum itu mampir dulu ke supermarket beli jajanan, buah, cemilan. Di Estonia, sekitar 150 dari apartemen ada kebab halal, jadi selama tiga hari kami bolak-balik situ.

Nanti makan siang, tidur siang. Sore jalan lagi keluar. Santai ajalah pokoke. Nggak ngejar achievement apapun.

Tanggal 20 April jadwal terbang kami kembali ke London naik AirBaltic. Tiketnya jam 7.50 pagi. Jadi Subuh jam 4.30 kami udah keluar pesan Taxify untuk ke bandara.

Alhamdulillah, pulang tanpa drama. Penerbangan 2 jam 50 menit. Antre imigrasi di Gatwick pun (untuk yang non UK/EU) sedikit. Petugasnya juga ramah, ga kebanyakan ribet ketika disodori paspor dan BRP. Cuma tanya dari mana.

Bertiga mengakhiri petualangan

Keluar dari bandara, nunggu Puput jemput. Dia yang sehari sebelumnya sudah pulang dari Lagos, Nigeria. Dia yang selama di Lagos cuma hotel-kantor-klien. Dia, kesayangan yang sungguh nelangsa wkwkwk.

Advertisements

3 thoughts on “Petualangan di Finlandia, Estonia, dan Latvia dengan Anak-Anak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.