Mendadak Maroko: Sekilas Destinasi dan Tips


Kita tidak pernah tahu bagaimana hidup membawa kita. Dari dulu Maroko selalu menjadi salah satu bucket list kami. Pertimbangannya banyak karena dulu tinggal di Jakarta dan Kuala Lumpur, perjalanan jauh. Dengan demikian semurah-murahnya tiket pun jatuhnya tetap mahal. Apalagi dikali empat. Pernah beberapa kali ada promo, tapi nasib kurang baik sehingga akhirnya selalu batal.

Backpackologists sampai di Maroko yeaaay

Ketika pindah ke Inggris, jalan menuju Maroko tampak lebih dekat. Apalagi, kami tinggal di dekat airport yang menyediakan banyak penerbangan langsung menuju Casablanca dan kota lain di Maroko. Pilihannya banyak, tiketnya murah. Tapi nggak nyangka juga bakal gini amat garis nasibnya.

Tanggal 28 Desember siang, Puput WA, “Ada berita baik dan berita buruk.”
“Apa?” tanya saya.
“Berita baiknya kita masih punya jatah tiket. Berita buruknya harus dipakai sebelum 31 Des, kalau ga, hilang.”
“Kok yo kowe ki mesti lho koyo ngene? Nek kit wingi-wingi kan iso lunga suwe seko Natal barang? Njuk arep nang endi?”

Andai kami pemegang paspor Malaysia gitu misalnya, makplencing, tinggal pilih mau ke mana di Schengen area. Arep ngebis, nyepur, nyawat iso.

Tapi kami proud Indonesians, yang ke mana-mana mesti apply visa hahahaha. Pilihannya cuma: dalam negeri UK, misalnya ke Skotlandia. Tapi adem. Banget. Tur akomodasi mahal, itu pun kalau masih ada yang kosong.

Pilihan lainnya adalah tiga negara tanpa harus apply visa via embassy yang ga jauh-jauh amat: Maroko, Turki (e-visa bayar), Gibraltar (free visa untuk resideny UK). Turki wis tau tur susah untuk ke sana kalau cuma 3 hari. Moso mubeng Istanbul tok? Gibraltar jarene raono opo-opo walau kami tetap berencana ke sana suatu saat.

Maroko adalah yang paling ideal. Pertama, kami belum pernah ke benua Afrika. Ke dua, harga-harga ga terlalu mahal dibanding Eropa. Ke tiga, masuk bucket list sudah sejak lama tapi ono-ono wae. Pernah tinggal klik payment ternyata promo sudah habis waktu.

Tapi kami have no clue about Morocco. Udah gitu Easyjet wis full. Akhirnya saya nemu yang pas banget, naik Royal Air Maroc, berangkat tgl 30 Des, pulang tgl 2 masih sisa 4 seats. Plus, pesawat dari Gatwick, jadi kami enak banget. Ga perlu naik kereta ke Heathrow (yang artinya juga irit ongkos).

Pesawatnya landing di Casablanca. Padahal atraksi utama adalah Marrakesh. Untung saya ingat punya temen Mbak Imazahra Fatimah Saya langsung kontak minta bantuannya arrange trip. Mbak Ima mencarikan mobil, juga hotel di Marrakesh yang obviously kebanyakan sudah full booked. Biasanya kami tipe pejalan yang ngurus semua sendiri, ribet sendiri. Biarlah kali ini ikut ngribetin orang lain wkwkw.

Jadi, kurang dari 24 jam kami beli tiket, booking hotel-hotel, atur itinerary. Kata Mbak Ima ini rekor deal tercepatnya.

24 jam berikutnya saya beli beberapa keperluan buat bekal, packing, dan mbolak-mbalik #BritishRoyalRengginang yang belum kering.

***

Kami tinggal hanya sekitar 8km dari Bandara Gatwick (LGW), jadi pilihan terbang dari dan ke Gatwick itu sangat tepat. Transportasi di Inggris mahal dan cukup melelahkan kalau harus gonta-ganti kereta, misalnya harus terbang dari Heathrow.

Pagi-pagi, sekitar pukul 7.30 kami berangkat naik mobil ke Gatwick. Mobil kami parkir di kantor Puput yang terletak di dekat South Terminal. Lumayan gratis, timbang parkir inap bandara. Dari kantor Slukubathok kami jalan kaki sekitar 7 menit ke bandara.

Dan sungguh ndeso kami ini, baru tahu kalau di Inggris tidak ada proses imigrasi keluar. Jadi setelah check in, scan hand carry langsung ruang tunggu. Bisa langsung ke gate kalau sudah ada informasi gate mana pesawatnya.

Pengalaman naik Royal Air Maroc ini juga lumayan beda dari biasanya hahahahha. Pesawat sudah menggelinding di-pushback padahal penumpang masih wira-wiri taruh koper, ke toilet. Dan bagasi kabin pun kebanyakan masih terbuka. Pesawatnya kaya Garuda zaman dulu yang TV-TVnya ada di langit-langit, tidak per kursi. Sepanjang perjalanan menuju ke Casablanca TV-nya cuma menyiarkan posisi pesawat alias flight information doang wkwkwk.

Meski ada iklan free wifi, dan bisa menyambungkan ke gadget kita. Ternyata free wifinya bukan nyambung ke internet tapi hanya ke entertainment Royal Air Maroc saja. Ada movie, TV shows, games….yang……semuanya ga ada yang bisa dibuka. Hikikiki.

Tapi dapat makan sih. Jadi anteng. Kandani kok, menungso kuwi sing utama wareg. Yang lain belakangan hahahha. Makannya biasa aja ada meal berupa nasi dan ayam/beef, roti dan keju, serta minuman standar. Anak-anak dapat makaroni. Yang bikin hepi pas berangkat ini adalah mereka dapat Kinderjoy. Ola bola-bali bilang, “Kalau Kinderjoy di wawa (pesawat) mahal ga Mama?” Wis biasa banget ditolak beli Kinderjoy gara-gara mahal.

Imigrasi di Casablanca nggak terlalu penuh. Cuma petugasnya lambat banget. Dan kami menyaksikan ada dua orang (beserta istri-istri mereka) perang mulut tepat di depan konter imigrasi. Pakai Bahasa Perancis, entah apa yang dipertengkarkan. Petugasnya santai aja tuh.

Di sini Mbak Ima mengabarkan bahwa mobil yang seharusnya kami pakai bannya kempes karena ketika driver salat ada yang iseng mencucuk ban mobil. Mereka harus ganti ban, dan kemudian juga ganti mobil sekalian just in case.

Maroko ini memang rodo ono-ono wae. Kesenjangan sosial sangat tinggi, jadi mungkin kalau lihat mobil bagus pengen nggrathil. BTW, mobil sewaan kami adalah Mercedes Vito — yang sepertinya lumayan umum ditemukan untuk mobil turis.

Pertama ketemu Tante Ima dan Om Risyan, anak-anak masih malu. Enggak juga dink, Oliq langsung akrab sama Tante Ima dan duduk di belakang. Ola yang masih malu, tapi mulai besoknya nempel kaya perangko sama Om Risyan. Nggak mau dilepasin, bahkan pas berpisah nangis-nangis.

Masjid Hassan II, Casablanca

Kami langsung meluncur ke Masjid Hassan II di tepi Samudera Atlantik. Masjid ini adalah masjid yang terbesar di Afrika, pembangunannya menghabiskan dana sekitar 9 triliun rupiah yang keseluruhannya merupakan sumbangan dari rakyat maupun dari negara-negara Islam di dunia.

Megahnya Masjid Hassan II, masjid terbesar di Afrika

Masjid ini katanya adalah masjid terbesar ke-5 sedunia bisa menampung lebih dari 100 ribu jamaah. Sebagian dibangun di atas tanas, sebagian sudah di atas laut. Menara masjid sampai kini masih jadi yang tertinggi di dunia menjulang 210 meter di atas permukaan tanah.

Halamannya sangat luas, kebetulan kami tiba ketika matahari mulai terbenam. Ketika mendekat, makin terlihat arsitektur bergaya Moor dengan ornamen dinding zellige — semacam batu warna warni yang ditempel ke dinding satu demi satu. Seperti mozaik.

Interiornya saat jamaah salat Maghrib

Baru kali ini saya memakai sepatu hingga ke tempat salat. Jadi, Maroko menganut mahzab Maliki. Bagian yang harus suci hanya di tempat bersujud. Semua orang masuk ke dalam masjid bersepatu. Baru kemudian melepas alas kaki ketika sudah bertemu karpet untuk salat. Kalau musafir, orang-orang sini bertayamum pakai batu.

Setelah mampir di KFC (Oliq was so excited sampai kejedug meja karena ini KFC pertamanya setalah lebih dari 2 bulan tinggal di Inggris), kami meluncur ke Marrakech.

Foto mesra syar’i

Jemaa el-Fnaa

Perjalanan ke Marrakech ditempuh sekitar 3 jam melalui jalan tol. Kami tiba hampir tengah malam. Mbak Ima sudah memesanka sebuah riad (semacam hotel yang dulunya adalah istana-istana kecil milik bangsawan). Riad kami letaknya tepat di dalam Medina, kota tua Marrakech.

Medina terdiri dari gang-gang yang menggurita, kini kombinasi antara hotel, toko, pasar, sehingga mobil tidak bisa masuk. Kami harus berjalan menembus Jemaa el-Fnaa yang walau tengah malam pun masih ramai. Mungkin karena Maroko sedang libur nasional selama tiga hari. Polisi pun ada di mana-mana.

Pashmina di Jemaa el-Fnaa

Posisi kami ribet banget. Oliq yang tadinya sudah tidur duduk di stroller didorong Puput dan Ola saya gendong. Kondisi seperti ini sangat rentan kriminalitas. Apalagi memasuki gang toko kebanyakan sudah tutup dan suasana agak gelap.

Dua orang anak lelaki mengikuti kami, berusaha menjual lampion. Ternyata mereka juga berniat mencopet, salah seorang sudah mulai merogohkan tangan ke saku Puput (yang dompetnya dirantai karena belum jinak). Ustaz Risyan yang berada di belakang kami menyadari dan membanting koper ke arah si pencopet. Anak itu berteriak dalam Bahasa Arab, “Sakiiit.” Lalu mereka kabur.

Alhamdulillah tidak ada yang hilang.

Di malam berikutnya kami kembali menembus Jemaa el-Fnaa, cuma buat foto-foto. Ya tujuannya biar bisa dapat ilustrasi untuk blog seperti ini, guys. Biar kalian puas. Memang tidak berniat beli apa-apa. Apalagi melihat suasana yang kemruyuk, kami dikerubungi para pelayan warung yang menawarkan dagangan mereka. “Malaysia? Indonesia?”

Puput nggak mau lama-lama,takut juga kalau nanti meleng terus ada yang hilang. Hahaha. Lagipula kami memang tidak berniat beli apa-apa. Kalau saya sih kaya deja vu sama pengalaman kami di India. Tiba di Agra Cant Station langsung dikerubuti oleh sopir bajaj.

Kaya daging berdarah yang dilemparin ke kolam penuh piranha. Wekekekke.

Sutil-sutil yang sungguh menggoda iman diva pawon

Sebenarnya Jemaa el-Fnaa ini asyik sekali. Makanannya macam-macam dan sangat berwarna-warni. Bagus buat difoto-foto. Ada pedagang jus yang buah-buahannya sungguh bervariasi. Maroko memang terkenal sebagai negara penghasil buah-buahan dan sayuran karena tanahnya subur makmur gemah ripah loh jinawi.

Selain itu ada berbagai macam pedagang lain, misalnya lilin aromaterapi, kacang-kacangan, berbagai jenis judi-judian, dan pertunjukan syair.

Oukaimeden

Highlight perjalanan kami di Maroko justru di Oukaimeden. Daerah ini sekitar 1,5 jam dari Marrakech, berada di Pegunungan Atlas. Oukaimeden terkenal akan salju abadinya.

Perjalanan ke Oukaimeden berliku, benar-benar berliku melalui jalan gunung yang kadang ada longsoran, berada di tepi jurang, kadang tanpa aspal.

“Coba nek nyetir dewe piye, Cup?” kata saya.

“Koyone mbalik meneh,” kata Puput.

Jangan coba-coba nyetir sendiri kalau tidak kenal medan. Sumpah serem. Aku aja kadang merem kalau sopirnya ngebut dan papasan dengan mobil lain. Pemandangan di sepanjang perjalanan asyik. Awalnya kami disuguhi padang rumput dengan pohon-pohon kaktus di pinggirnya.

Stelah itu mulai menanjak bertemu dengan gunung-gunung batu dan tanah liat. Ada desa-desa yang rumah-rumahnya terbuat dari tanah liat. Hingga akhirnya kami bertemu ladang pertanian hijau bertingkat seperti terasiring di Indonesia. Hijau. Ya, Maroko ini sebagian memang hijau, bagian yang lain terlihat cokelat karena memang masih musim dingin.

Sepanjang jalan matahari bersinar cerah walau makin tinggi makin dingin. Ketika sampai alhamdlillah masih ada salju walau tipis. Ini agak ajaib karena keluarga yang tinggal di Inggris cari salju malah di Maroko. Sayangnya, cable car tidak beroperasi karena petugasnya lagi libur. Wakakakka.

Anak-anak senang ketemu salju — well lebih tepatnya es karena sudah mengeras. Juga ada padang rumput luas dan bertemu dengan kambing-kambing banyak. Liburan seperti ini memang yang disukai anak-anak kami karena mereka bebas berlarian. Oliq dan Ola juga senang sekali naik baghal (keturunan perkawinan antara kuda betina dan keledai jantan), badannya lumayan besar seperti kuda namun kakinya kuat naik gunung seperti keledai.

Naik baghal

Setelah berjam-jam bermain, kami balik ke mobil. Ternyata sopir beserta beberapa orang lain sedang membantu seorang turis lokal yang terjatuh menggelinding dari atas bukit bersalju, jatuh tepat di samping mobil kami. Tulangnya ada yang patah. Awalnya mau kami ajak naik mobil sampai ke rumah sakit, tapi ternyata ada orang Maroko lain yang akan membawanya.

Memang harus hati-hati sekali karena es sangat licin. Dan karena tipis, banyak juga batu-batu tajam. Karena itu ketika Oliq minta naik toboggan saya larang, takutnya terpental dan jatuh di batu. Kalau salju tebal malah empuk.

Dalam perjalanan pulang kami mampir ke sebuah warung, asli kaya warung di gunung. Seadanya. Subhanallah, makanannya enaaaak sekali. Kami makan hidangan asli Maroko yaitu tagine. Kambingnya empuk, kentangnya enak. Warung itu milik keluarga yang anak-anaknya cantiiiiik sekali. Cantiknya asli tanpa polesan, kalau di Indonesia sudah jadi bintang iklan.

Bersama keluarga pemilik warung

Palais de la Bahia, Marrakech

Hari terakhir di Marrakech kami mengawali hari dengan berjalan dari riad ke Istana Bahia yang tidak jauh dari Medina. Istana Bahia ini dibangun paa akhir abad 19 oleh Si Moussa, dimaksudkan untuk istri-istrinya. Istananya besar dengan lapangan luas di bagian tengah.

Bahia Palace

Yang paling mengesankan di sini adalah ukiran di dinding dan juga langit-langit. Banyak di antaranya merupakan nukilan dari Quran. Yang menjadi ciri khas juga adalah vitrase warna-warni.

Seperti halnya istana lain di Maroko, salah satu karakteristiknya adalah kebun dengan pohon-pohon jeruk. Buahnya kuning menggelantung menggoda. Tapi ternyata jeruk yang ditanam di kebun istana beda dengan yang dijual di luar. Jeruk ini khusus untuk hiasan dan tidak bisa dimakan. Padahal buahnya besar-besar tapi memang tidak dapat dimakan.

Kami tidak lama di Bahia, selain karena Oliq lagi masuk angin, juga karena Bahia lagi direnovasi jadi tidak semua bagian bisa dikunjungi. Pengunjung pun padat hari itu, dari mana-mana, terdengar dari bahasa mereka.

Tarif tiket masuk untuk orang asing: MAD 70, anak MAD 30

Masjid Koutoubia

Masjid Koutoubia tereltak di ujung barat daya Medina, merupakan masjid terbesar di Marrakech. Masjid ini dibangun pada tahun 1184-1199, dan menjadi inspirasi Giralda di Sevilla.

Masjid Koutoubia

Masjid ini dikelilingi taman yang luas dengan bangku-bangku dan air mancurnya. Enak duduk-duduk di bawah sinar matahari. Banyak juga penjual asongan kopi keliling, mainan, makanan. Kami sempat mencoba makan kaktus. Harganya sebuah 1 dirham saja. Rasanya seperti buah naga tapi bijinya besar-besar seperti jambu batu. Malah lebih besar lagi bijinya.

Masjid Koutoubia ini melakukan jamaah Dhuhur dua ronde, tapi kok kayanya yang salat nggak banyak banget ya padahal banyak sekali  orang di sekitarnya.

Kapan-kapan saya tulis ah tentang muslim di Maroko. Entar kalau sudah riset dulu.

Tips

Menatap Atlantik

Hari terakhir di Maroko.

Simbok: Cup kok kayanya kesel banget ya.

Puput: Hooh, awakku yo kesel.

Simbok : Padahal biasane ra kesel. Opo mergo spaneng?

Puput: Hooh. Ketoke mergo kita merasa waspada terus-terusan.

Huhahahaha, jadi ya guys, kami merasa perjalanan ke Maroko kemarin adalah trip ter-spaneng kami. Mungkin karena tidak terencana juga sebelumnya, jadi kurang persiapan. Untungnya kami pakai Kelana Cahaya Tour yang sangat memudahkan trip kami. Coba kalau ga? Ambyaaaaar.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan kalau memang berniat traveling ke Maroko, antara lain:

  1. Banyak copet. Ini kudu extra hati-hati. Saya meninggalkan kartu-kartu penting saya dalam koper (KTP, SIM, KTP Inggris), bawa uang seperlunya.
  2. Sebisa mungkin tidak mengeluarkan dompet. Jadi siapkan uang seperlunya di dalam kantong. Uangnya bisa dipisah-pisah.
  3. Ransel digendong di depan.
  4. Jangan kelihatan bingung atau repot. Wajah Asia dan orang yang bawa anak sering jadi sasaran karena biasanya bawa cash dan repot ngurusin anaknya.
  5. Jaket panjang lebih oke, jadi menutupi saku-saku celana. Lumayan melindungi hape-hape yang kita kantongin. Susah dirogoh juga.
  6. Jangan jalan sendiri. Setidaknya dua orang untuk saling menjaga.
  7. Scam luar biasa banyak. Mbak Ima dan Ust Risyan saja sempat berdebat dengan sopir yang niat malak minta tambahan uang. Itu mereka yang fasih Bahasa Arab. Coba kita yang cuma bisa ana, antum, ukhti, syafakillah, alhamdulillah, innalillahi bener deh bakal kena palak. Gila bener malaknya. Salah satunya waktu kami keluar dari KFC, ada orang nutupin pintu, kan saya dorong ga bisa, terus dia bukain dari luar. Pas kami sudah di luar dia minta uang tarif mbukain pintu. Opo cobooooo? Buru-buru deh kami kabur.
  8. Scam lain biasanya modus foto. Kan ada tuh yang bawa ular, burung, monyet, unta, kalau kita motret bisa-bisa dimintai uang. Hati-hati saja.
  9. Kalau mau naik apapun itu dipastikan berapa ongkos, apakah sekali jalan atau pulang pergi, dan apakah harganya per kendaraan atau per orang.
  10. Banyak razia. Waktu ke Oukaimeden kami kena tilang sekali dengan alasan mobil melanggar marka putih di tengah. Pokoknya kesalahannya dicari-cari. Pulangnya mobil di depan kami kena jebakan betmen di malam hari, jalan gunung pula. Selain itu sempat juga melewati beberapa razia lain. Ngeri deh kalau orang asing bisa palaknya banyaaaaaaak.

Kesimpulannya, kapok ga? Gaaaaaa. Mana bisa kapok. India aja kami ga kapok lho walau belum ke sana lagi dan memutuskan kembali ke India kalau anak sudah agak besar saja. Maroko ini bagus deh, tapi ya itu, memang harus persiapan matang. Dan kalaupun ke sini lagi kami mungkin juga akan sewa tur lagi melihat scam yang bertebaran. Takutnya backpacking niatnya biar hemat malah jebol gara-gara kena tilang dan kena tipu.

Tapi next time insyaallah pengen ke Chefchaouen, sekalian Gibraltar dan Granada.

Kalau ada yang butuh private tour Maroko, Spanyol, Mesir, dll bisa kontak Kelana Cahaya, insyaallah amanah:

WA: +212 696 433 211

Email: kelanacahayatour@gmail.com

IG: @kelanacahayatour

Facebook: Kelana Cahaya Tour

Kami merasa tertolong sekali ada Mbak Ima dan Ust Risyan. Aku wis gak sanggup nek kudu kerengan karo sopir, polisi, bakul, tukang hotel. Hadeeeh banget. Luar biasa karakter orang Maroko ini.

Di Oukaimeden

Ini foto-fotonya seadanya dulu, yang lain masih di kamera bakal diupload di IG @backpackology aja ya. Follow lho ya wkwkwkwkw. Pancen Simbok modus kok.

Advertisements

8 thoughts on “Mendadak Maroko: Sekilas Destinasi dan Tips”

  1. kebetuln ku follow kelana tour ini mba di IG. dan ku makin mupeng baca postingan mba di sini =)) semoga dalam waktu dekat diparingi rejeki berlimpah biar bisa kesana. amieeen

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.