Pengalaman Mencari Rumah Sewa di Inggris


Setelah melakukan pencarian selama 3 bulan (yes, kami mulai searching sejak dapat surat cinta mutasi), dan melihat sendiri 9 rumah dan 2 flat, perjalanan ini berakhir.

Mencari rumah di Inggris ini memang agak tricky bagi kami. Maunya yang dekat dengan sekolahan (yang ini berakhir failed banget baca di sini, walau in the end malah ada hikmahnya), tidak jauh dari kantor, public transport dekat, dan juga akses terhadap makanan halal mudah.

Di Inggris cari masjid

“Harus walking distance sama masjid, Cup?” kata saya suatu sore di apartemen sewaan kami di KL. Waktu itu belum ada bayangan Crawley itu kotanya seperti apa, walau kami sudah memutuskan akan cari rumah di sana karena komunitas muslim banyak dan cuma sekitar 6km dari kantor Puput. Boleh dikatakan kota kecil ramai terdekat dari Gatwick.

“Ya iya no, terus piye aku salate nek adoh!” Sing ditakoni emosi. Sudah jadi syarat mutlak dari juragan besar walaupun dia juga sadar bahwa kalau hari biasa hanya Subuh yang bisa jamaah di masjid. Isya (sekarang jatuh jam 17.45) pun masih di kantor.

Huahuahua dulu di Jakarta ga mau kalau deket banget sama masjid karena you-know-lah, di sini cari masjid.

Ternyata tidak semudah yang kami harapkan. Ya jelas lah, lo kate Jekarte, mane-mane ade mesjid?! Di Crawley ini ada 4 masjid, yaitu Masjid Quwwat-ul-Islam Crawley di Broadfield, Crawley Islamic Center di Langley Green, Masjid Noor ini punya Ahmadiyah di Langley Green juga, dan SLMWAC, masjid milik komunitas muslim Sri Lanka di Langley Green.

Awalnya kami menyasar masjid Quwwat-ul-Islam, karena dilihat dari Gmaps masjidnya besar. Websitenya pun meyakinkan. Terletak di sebelah hutan, parkirnya luas. Tidak jauh dari situ ada butcher halal.

Beberapa hari setelah sampai saya langsung kontak-kontak agen. Saya berhasil mendapatkan janji dengan tiga rumah yang berdekatan. Dearahnya namanya Bewbush, sekitar 3km dari Crawley dengan menjauhi kantor Puput.

Dua rumah pertama yang kami datangi lingkungannya agak gloomy. Entah ya, mungkin pengaruh bata gelap yang dipakai. Serta terlalu banyak pohon rindang. Dan rumah-rumah di sana tidak punya driveway masing-masing, jadi tiap satu kompleks punya parking space sendiri, bebas mau parkir di sana. Artinya kalau saya mau belanja, dari mobil harus jalan ke rumah. Yah, cuma beberapa meter sih.

Rumah pertama milik bapak India yangs udah menempati rumah itu selama 40 tahun. Dia sekarang mau ikut anak dan cucunya di rumah yang lebih besar sehingga rumah itu disewakan. Rumahnya terkesan tua walau rapi juga. Well, kalau mau jujur, semua rumah di Inggris memang tua sih. Kalau mau pilih yang baru ya hanya apartemen mewah. Tapi saya ga mau karena ga punya garden. Selain sempit.

Rumah ke dua berdekatan dengan rumah pertama. Ini tempat kami ketemu Kate Middleton KW patlikur yang dipuji-puji Puput. Rumahnya baru saja direnovasi, jadi bagus. Tapi lingkungannya itu lho yang agak malesin. Penuh dengan gogrokan godong dan terkesan shady. Padahal yang mungkin sebenarnya enggak.

Rumah yang ketiga lumayan bagus, sekitar 500 meter dari masjid. Ownernya nambahin satu ruangan di belakang yang langsung ke arah taman. Lingkungannya agak terang, tidak seperti yang pertama dan ke dua. Sayangnya, tangganya tidak ada pegangannya, jadi sebelah tembok, sebelah kosong blong, jadi agak serem karena kami punya anak-anak. Selain itu, tidak ada heater. Artinya kami harus nambah ongkos.

Sampai di sini saya dan Puput diskusi lagi. Apa bener harus walking distance sama masjid, kayanya kok susah. Sesial-sialnya ya kalau Subuhan harus naik mobil. “Lha kae Atung nek pas ono Ola ning Masjid Muhajirin yo kadang nggowo mobil kok,” kata saya ngomongin Bapak Mertua. Biasanya naik motor tapi kalau pas Ola ikut suka naik mobil.

Ya sudah, pilihan dibuat lebih fleksibel. Kami juga memutuskan untuk cari rumah yang agak lebih dekat ke kota alias lebih ramai menimbang kalau Puput lagi dinas luar, saya bakal bertiga dengan anak doang. Dia sempat menyarankan di apartemen aja, modern, keren, dan aman. Tapi ya itu, saya nggak mau karena nggak bisa nandur kangkung.

Sebenarnya Slukubathok menghire relocation agency untuk membantu proses relokasi staf-stafnya. Panggil saja namanya Agen G. Mereka ini membantu mencarikan rumah, sekolah, dokter, serta memastikan segala yang berkaitan dengan kontrak sewa rumah rumah tidak akan merugikan kami.

Rumah yang akan kami tempati dari backyard

Jadi suatu hari kami diantar Agen G keliling dengan mobilnya. Dia sudah mengatur janji dengan beberapa agen perumahan. Koneksi dia luas, karena kerjaan sehari-harinya pun seperti itu. Selain pilihan dari mereka, kami juga mengirim list yang kami dapatkan dari website. Karena kan preferensi Agen G dan kami ini berbeda, ya. Mungkin dia tidak menganggap dekat dengan masjid ini penting banget.

Rumah akan kami pindahi sekarang juga hasil kami cari sendiri. Hari itu kami keliling. Ada flast dua kamar, langsung kami coret. Ada rumah lokasinya lumayan, tapi kok sepuhnya agak banget. Ada apartemen baru mau jadi, dekat sekali dengan pusat kota, tapi kok apartemen. Walau dua lantai, tapi kan tetap akan menghalangi cita-cita nandur kangkung.

Ada satu rumah yang jelek banget. Ada lokasinya lumayan tapi kok rumahnya kaya nggak kopen. Ada satu yang lumayan, kami pertimbangkan, backyardnya ada kebun anggur.

Dapur kami dan Agen G

Yang terakhir rumah kami sekarang ini. Memang sudah incaran. Pas kami tiba, lima menit kemudian ada sekeluarga yang juga mau lihat. Agen G ini langsung nutupi jalan, kami duluan, kalian habis ini ya. Bule-bule wedok i dong-dong sangar og.

Rumah itu masih ada penghuninya tapi kami bisa lihat rumahnya. Istilahnya di sini terraced house. Ukurannya tidak sangat besar, sekitar 6×6 untuk satu lantai. Jadi total 72 meter persegi. Orang Amerika selalu menganggap rumah-rumah Inggris ini cramped alias uyel-uyelan. Memang, pengalaman saya di Eropa, flat, apartemen, kamar hotel memang kacil-kecil banget. Maklum ya space terbatas dan sangat mahal.

Ciri khas yang kami temui di sini adalah, begitu masuk pintu depan, langsung ketemu tangga menuju lantai atas. Di atas isinya 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Di bawah ada living room yang besar dan dapur yang lumayan juga sizenya.  Di depan ada driveway untuk naruh mobil dan di belakang ada backyard.

Yang kami suka dari rumah ini ada beberapa antara lain:

  1. Lingkungan yang dekat masjid 100m dari SLMWAC dan 1km dari Crawley Islamic Center
  2. Ada butcher halal dan resto ayam goreng, burger, dsb halal 100m
  3. Lokasinya antara Crawley town center dan Gatwick, jadi Puput juga lebih dekat ke kantor. Kalau public transport di sini di mana-mana enak banget, kecover bus semua.
  4. Bagian berkarpetnya sedikit, cuma tangga dan koridor. Lainnya kebanyakan lantai kayu. Kami senang karena lebih mudah bersihinnya. Karpet lebih susah ngurusinnya. Kalau ga, gampang bau. Bayangkan kalau saya ngukus terasi terus baunya pada nyantol di karpet ga ilang-ilang.
  5. Toiletnya ada bidetnya, itu lho khusus buat cawik. Jadi cita-cita Oliq tercapai punya toilet yang ada tempat ceboknya.
  6. Kompornya pakai api, bukan induksi. Dengan demikian wajan besi lengkung kesayangan saya akan bisa menggelinjang di dapur baru.

Kelemahannya ada beberapa juga, antara lain rumah yang lumayan tua. Tapi serius, rumah di sini sih memang tua semua. Tapi biasanya dalamnya sudah direnovasi. Toiletnya juga cuma satu (beberapa rumah lain yang kami lihat punya extra toilet kecil mungil). Kata Puput, “Nggak papa, nanti nek kesusu pipis di kebon aja. Menko takgaweke jugangan.” Sisan ngarit, bosque!

Area tempat Puput kelak harus ngarit

Tapi belum selesai di situ. Prosesnya lama.

Jadi gini, bahkan ketika kita telpon agen perumahan untuk tanya, apakah bisa lihat rumah X yang diiklankan? Dia tidak akan segan-segan tanya, penghasilan keluarga kalian setahun berapa. Itu biasa. Pertama kali saya telpon langsung kaget ditanyain gaji. Ternyata memang seperti itu prosedurnnya. Jadi agen bisa langsung melihat nih calon penyewa secara finansial mampu nggak sewa rumah ini. Begitu.

BTW, semalam saya nonton reality show di TV, tentang polisi-polisi gitu. Episodenya adalah mereka mengawal penyewa rumah mengosongkan rumah sewaan dengan paksa karena nunggak.

Nah, di Inggris memang ketat banget dalam hal ini. Jadi setelah balik sama Agen G kami langsung putuskan, oke rumah yang terakhir. Agen G berusaha nego tapi ga berhasil karena rumah itu banyak yang mengincar. Akhirnya kami mengajukan penawaran secara formal yang dilakukan oleh Agency G. Setelah itu agen perumahan mengontak owner dan menyertakan data awal kami. Owner OK, approved.

Belum selesai di situ. Setelah itu ada namanya referencing form. Artinya agen perumahan (atau dia men-subcontract ke referencing agency) melakukan pengecekan terhadap si calon penyewa. Jadi kalau penyewa orang Inggris, dia bisa dicek credit historynya. Apakah dia ngutang di bank dan bayarnya tepat waktu. Apa pelunasan kartu kreditnya tepat waktu nggak ada tunggakan? Apakah tagihan-tagihan listrik dia ada yang nunggak? Semacam itu. Saya sempat browsing ternyata banyak calon penyewa yang ditolak karena punya sejarah ga bayak utang tepat waktu atau ngemplang atau ada masalah dengan landlord rumah sebelumnya.

Karena kami tidak punya credit history di UK, mereka tidak bisa mencek. Ada banyak landlord yang tidak mau menyewakan rumahnya untuk orang asing karena tidak bisa mencek sejarah calon penyewanya.

Referencing yang mereka lakukan kepada kami (dan kepada semua calon penyewa properti di UK) adalah referensi dari previous landlords. Jadi kami disuruh nge-list di mana saja kami hidup selama 10 tahun terakhir, alamatnya di mana, yang punya siapa, kontaknya yang punya mana.

Temen-teman Puput beberapa ada yang kepentok sama hal ini karena kadang kita kan udah lost contact sama pemilik apartemen yang kita sewa, misalnya, lima tahun lalu kan? Apalagi di Indonesia, jangankan perjanjian sewa, sering cuma lisan doang.

Untung saya masih berhubungan baik dengan pemilik apartemen di Malaysia. Dia masih WA-WA-an sama saya. Kak D ini baik banget dan sangat kooperatif makanya proses cepat selesai. Kak D tahu benar susahnya. Suaminya juga kerja di bidang yang sama dengan Puput, pernah pindah ke Eropa dan kesulitan cari rumah hingga tinggal 6 bulan di hotel. Bayangkan. Ngenes ga sih?

Kalau misalnya sebelumnya tinggal di rumah pribadi harus disertakan sertifikat kepemilikan. Wah ini sempet pusing karena sertifikat apartemen Jakarta kami udah dimasukkan ke safe deposit box. Teguh saya suruh bongkar-bongkar lemari untung masih nemu surat pemesanan apartemen. Dan karena semuanya Bahasa Indonesia, agennya ya percaya ajalah pokoknya itu surat kepemilikan.

Dari depan ya begini doang

Alhamdulillah prosesnya lancar banget dan kami serah terima kunci sesuai jadwal yang diinginkan. Kapan-kapan saya ceritain lagi tentang masalah perumahan, semoga ga bosen hahahaha.

Sayangnya shipment kami delay jadi belum ada kasur. Huhuhuuuu Puput nyaranin beli sleeping bag aja 4 nanti tidur kruntelan. Saya juga tadi udah beredar di charity shop (di sini buanyaaaaaakkkkkk) cari barang-barang bekas. Kami mau beli kasur, sofa, dan kulkas.  Niatnya mau beli trampolin buat ditaruh di kebun. Juga sepeda statis biar betis Lady Olen menipis kaya Duchess of Sussex, bukannya kaya Mang Dul, driver becak yang suka mangkal di pengkolan Plered Cirebon.

Habis ini tinggal beli media tanam dan benih kangkung di Amazon, deh.

Advertisements

11 thoughts on “Pengalaman Mencari Rumah Sewa di Inggris”

  1. ya kayak saya juga nyewain apartemen di jkt sama org asing, harus cek semuanya, minimal kerja di mana kantornya, dan medsosnya.

    Justru biar lebih aman dan menguntungkan kedua belah pihak.

    Thanks sharingnya ya.. seru seru…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.