Perjuangan Mencari Sekolah di Inggris


….dan ternyata mencari sekolah di Inggris tidak semudah yang saya bayangkan huhuhu. Penuh jalan berliku sampai membuat saya agak stres. Sempat membuat saya mimbik-mimbik kalau ada yang tanya Oliq sudah sekolah belum. Dan karena setiap hari ada yang tanya, aku melampiaskannya dengan makan Indomie pakai sawi, telur, dan cabe rawit. Dengan demikian salah satu pos besar pengeluaran di Inggris adalah stok Indomie. Sekian.

Second day

Sebenarnya kantornya Puput lewat agen relokasinya menyarankan sejak awal untuk memasukkan anak ke sekolah swasta. Ya, sekolah swasta dianggap lebih terbiasa dengan keluarga expat yang datang dan pergi, murid lebih sedikit, dan fasilitas lebih terjamin. Keamanan dan kenyamanan anak juga lebih diutamakan. Kurikulum lebih fleksibel.

Selain itu ada ekskul golf dan berkuda.

“Menko Aik numpak jaran koyo Prabowo wakakak,” kata Delin.

Saya dan Puput sebenarnya adalah tipe orang yang santai masalah akademik. Pilihan kita pertama adalah sekolah yang dekat dengan rumah. Sekolah negeri nggak apa-apa, toh standar pendidikan di sini sudah cukup merata.

Sekolah negeri sebenarnya punya rating juga lho. Ada Outstanding, Good, dan Need Improvement. Dan Ratingnya itu terbuka, lha wong saya lihatnya saja di website sewa rumah.

Idealnya adalah keluarga harus punya rumah permanent dulu. Baru setelah itu mendaftar ke sekolah negeri terdekat. Makanya saya sibuk cari rumah dulu kan? Pas cari rumah itu kami juga search sekolah terdekat. Nah pas dapat yang sangat dekat dengan sekolah (nanti saya ceritain proses mencari rumah yang prosesnya juga lumayan ribet karena mereka strict), saya ngimel sekolah terdekat itu. Yang kelihatan dari rumah. Di website sewa rumah sekolah itu tidak oversubscribe, jadi harapan saya besar bisa sekolah di situ.

Ternyata takdir berkata lain. Email balasan dari sekolah mengatakan untuk umur se-Oliq kelasnya sudah penuh. Kalau mau harus ke Ofsted (Office of Education), lalu mendaftarkan diri dulu, kemudian ditolak dulu karena kepenuhan, lalu dilempar ke sekolah lain terdekat berikutnya yang ga penuh. Saya kirim email ke Ofsted pun jawabannya sama, dengan tambahan mereka akan memprioritaskan pengurusan anak-anak yang sudah mendaftar sejak summer holiday. Jatah Oliq kapan coba? Memang sih kami datang nanggung waktunya. Kalau melihat Crawley yang ramai ini, rasanya bakal dilempar ke sekolah pinggiran juga. Udah nunggu lama, entar sekolahnya jauh pula. Saya tetap harus ngantar jemput anak-anak.

Kami malas nunggu proses lama seperti itu, karena terombang-ambing ga jelas hahahha. Akhirnya kami putuskan ke sekolah swasta. Ini hasil rekomendasi temennya Puput. Well, sekolahnya Oliq, CP School ini memang langganan perusahaan tempat Puput bekerja, sebut saja namanya Slukubathok. Wajar sih, karena lokasinya adalah sekolah swasta terdekat dari kantor.

Saya mengirim email ke sekolahnya. Dan Kepala Humas-nya langsung menyambut baik dan bahkan langsung bertanya apakah kami bekerja di Slukubathok. Lalu dia meng-arrange school visit. Jadi kami datang di suatu pagi dan dijelaskan sebegitu rupa oleh Bapak Kepsek. Dia antusias. Ya iyalah, murid baru artinya uang masuk hahahah. Simbok jujur banget. Pokoknya dijelaskan begina-begini-begitu. Kami di bawa ke masing-masing ruangan, ada ruang drama, ruang musik, chapel (biasanya untuk assembly sekali seminggu membahas hal-hal umum tapi ada part menyanyi dan berdoa, yang bukan Nasrani biasanya diingatkan untuk tidak ikutan atau keluar).

CPS ini sudah berdiri sejak tahun 1902. Bahkan Mbahmu Kiper pun belum lahir. Dulu sempat kena bom Perang Dunia I dan ada beberapa murid menjadi korban. Dulunya adalah sekolah anak laki-laki tok. Pada masa kejayaannya CPS mensuplai murid-murid yang kemudian melanjutkan ke sekolah pangeran-pangeran macam Eton dan Harrow. Foto-foto lulusan terbaiknya dan sekolah di mana mereka melanjutkan menuntut ilmu dipajang. Yah, kaya Hogwarts lah.

Apalagi letak sekolahnya persis di pinggir hutan. Cuma apakah ada pohon Dedalu Perkasa atau tidak saya belum ngecek. Yang jelas tidak ada Aragog.

Avada Kedavra!

Sekolah ini menampung anak usia 2 hingga 13 tahun. Jadi anak PAUD sampai SD. Dia juga punya boarding school, bahkan bisa occasional boarding. Jadi misalnya Puput sama saya mau honeymoon sebentar anak-anak bisa diboarding-kan selama beberapa hari. Eh tapi batasan usia anak mbuh berapa.

Kami pulang dan memutuskan untuk mengirim Oliq sekolah di sana, walau jaraknya dari rumah sekitar 15-20 menit naik mobil, bisa 30 menit kalau pagi hari. Mungkin tidak jauh beda dengan apartemen dan sekolah Oliq di Malaysia, cuma karena di Inggris jalannya belum hapal jadi rasanya jauh. Lewat hutan-hutan pula.

Tapi Inggris sih di mana-mana emang hutan wakakaka.

BTW, saya sempat down banget lho. Cari rumah memang sengaja cari yang dekat masjid. Pas nemu yang dekat masjid, rumah pun bagus, lingkungan tidak gloomy, ada butcher halal dekat, dan juga ada beberapa supermarket besar dan mall besar kira-kira 1-1,5km, eh tahunya sekolahnya penuh. Udah kita memutuskan ke sekolah swasta yang jauh, ternyata van sekolahnya ga lewat daerah situ. Mau sewa mobil, supaya biaya sewa dicover sama Slukubathok, Puput harus ikut semacam pelatihan menyetir di UK, dan pelatihnya sibuk, lama ga dapat jadwal. Mau beli mobil sendiri, ora duwe duit, rumangsane tuku slondok po? Kayanya kok agak sulit jalannya, saya mikir. Terus kepikiran, jangan-jangan saya juga kurang memudahkan hidup orang lain nih. Saya memang gitu sukanya. Kalau ada orang lain kena musibah, jangan harap saya akan bilang kena azab, kurang amal, dan sebagainya. Lha wong saya kan ga ngerti amalan mereka juga, selain menurut saya hubungannya juga tidak pasti. Tapi kalau untuk diri saya sendiri , standarnya beda. Selalu jadi renungan. Apakah jalan saya sulit karena saya menyulitkan orang lain? Apakah rejeki seret karena kurang sedekat. Pokoke dalam hal ini saya standar ganda banget.

Jadi kamu sedekah bukan niat membantu dong, Mbok, cuma biar hidupmu gampang aja? Kalau ada julidwan dan julidwati yang berpikir demikian ya terserah. Mungkin dalam hidupnya memang kurang makan Indomie huhahahhha

Oke kembali ke sekolah Oliq.

Oliq sebenarnya bisa masuk kelas 3 tapi menimbang Bahasa Inggrisnya belum lancar benar, dan butuh adaptasi akhirnya setelah musyawarah mufakat dengan sekolah, kami putuskan mulai kelas 2. Nggak masalah, toh kalau di sekolah negeri di Indonesia dia seharusnya kelas 1.

Jadi ada yang namanya Taster’s Day, itu Hari Mencicipi. Hari pertama untuk mencicipi sekolah di situ gimana rasanya, sebelum itu harus bayar registrasi dulu £50. Kalau misalnya, sudah yakin mau sekolah di situ akan diberi formal offer, dan harus membayar £500 untuk deposit yang akan dikembalikan ketika anak pindah sekolah.

Bapaknya kalah rapi

Fee sekolah swasta di Inggris berapa. Mahal. Mahal banget. Kalau misalnya bayar sendiri kami ga akan kepikiran buat nyekolahin anak di sekolah swasta. Dalam satu tahun ada 3 term, satu term fee sekitar £4000 atau Rp 80 juta, semakin tinggi kelasnya semakin mahal. Artinya sebulannya Rp 20 juta. Memang tidak ada uang gedung dan sumbangan tidak sukarela semacamnya. Itu sudah termasuk buku dan stationery.

Sayangnya belum termasuk seragam yang lumayan bikin megap-megap. Kebetulan saya lagi nonton drakor The Heirs yang lawas itu, dan baru tahu saya kalau Lee Min Ho ternyata masih muda. Takpikir sak angkatan karo Andy Lau.

(((Andy Lau)))

Di drama itu tokoh utamanya Cha Eun Sang bilang sama ibunya, “You bought me uniform? But uniform costs a fortune.”

Saya langsung njerit. LIKE HELL!!!!

Yang saya beli di Marks&Spencer kemarin nothing compared to yang harus saya beli di sekolah. Jadi seragamnya: celana abu batubara dan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang olahraga beli di luar. Yang harus beli di sekolah: dasi, jumper, jumper olahraga, kaos olahraga, celana olahraga summer, celana renang, kupluk, blazer, topi renang, jaket winter, waterproof suit buat jalan ke hutan, tas. Untungnya sekolah jual seragam bekas, jadi begitu stafnya nanya mau baru atau bekas, saya langsung jawab bekas. Bekas aja habisnya kaya tiket EasyJet Gatwick-Barcelona one way berempat kok.

Jadi kapan nih ke Barcelona?

Saya juga masih harus beli sepatu dan sepatu boots Wellington karena anak-anak suka ada aktivitas di hutan. Juga sepatu olahraga karena setiap hari ada acara lari satu mil, yang memang dilakukan rutin untuk mengatasi inactivity dan obesity. Katanya gitu.

Sing lemu mbokne, sing mlayu anake. Lyfe.

Oh ya, sebelum akhirnya Oliq melakukan Taster’s Day saya sempat mengirim email panjang lebar. Intinya saya bilang anak saya hanya makan makanan halal, kalau di sekolah dia boleh makan anything vegetarian, buah, sayur. Bolehkah saya bawain bekal anak?

Ternyata jawabnya, untuk anak yang memang hanya boleh makan halal, semua yang disediakan untuk anak-anak itu (muslim, Jewish misalnya) hanya makanan halal. Jadi tidak perlu bawain bekal.

Ya Allah, alhamdulillah, ucap Simbok pemalas ini.

Yang ke dua, saya mengatakan anak saya akan salat di lunchtime dia. Butuh waktu 2-3 menit saja, tidak perlu tempat terpisah, dia bisa pakai pojokan kelas. Kepsek bilang, tidak masalah, nanti dia akan tunjukkan arah ke Mekkah. Kalau ada prayer mat boleh juga dibawain.

Ke tiga, saya minta agar Oliq bisa dibawa Puput Jumatan. Jadi rencananya tiap hari Jumat Puput akan jemput Oliq, salat Jumat, terus balikin ke sekolah, terus di balik ke kantor.

Ribet ya? The price we have to pay.

Biasanya akan ada yang bilang, “Kalau tahu ribetnya kaya gitu mending tinggal di Indonesia.”

Kalau saya yakin, insyaallah keribetan ini juga akan dicatat kok sama malaikat.

Hari pertama masuk dia sedikit nervous tapi overall oke anaknya. Ga ketakutan atau mimbik-mimbik, sudah menjawab ketika ditanya guru/kepsek. Dan langsung kami tinggal. Agak siang sekretaris mereka mengirim foto Oliq yang kelihatan ceria bersama sahabat barunya, namanya Ibrahim, anak Pakistan. Dulu di KL, sohibnya anak Pakistan juga hahahah.

Alhamdulillah hari ke dua ini juga lancar. Katanya tadi praying sama Ibrahim, tapi Ibrahim prayingnya agak beda. Yo wis rapopo bebas.

Untuk kelas 2 ini masuk pukul 8.25, pulang 3.30. Setelah itu bisa ikut ekskul. Pilihannya banyak ada memasak, renang, taekwondo, musik, golf, berkuda biar kaya Prabowo, dan wall climbing. Iya ada dinding panjatnya tuh. Gemes deh.

Sekolah Oliq

Mungkin lain kali saya akan share-share lagi tentang sekolah Oliq. Ola akan join the nursery bulan January setelah winter break. Mungkin awalnya dia akan sekolah 3x seminggu dulu, karena baru umur 4 tahun dia akan dibayarin sama kantor bapaknya. Karena itu sampai Juni bulan depan sekolahnya belum full, soale mbokne ora lilo mbayare. Menko nek jatah piknikku berkurang piye jal? Piye?

Advertisements

13 thoughts on “Perjuangan Mencari Sekolah di Inggris”

  1. Selamat menjalani hari-hari baru di rantau baru, Mbok. Yang aku heran sekolah di Inggris mahal ya, kirain kalau di negara maju sekolahnya murah. Atau karena awasta ya, gak ada subsidi pemerintah. Ohya kalau sekolah negeri dapat subsidi po?

    Like

  2. Seragame Oliq keren mbak,koyo ning pilem2 kae. Semoga Oliq seneng di sekolah barunya.Ditunggu cerita2 selanjutnya ya mbok.Salam slondok😀😀😀

    Like

  3. Sangat bermanfaat mbak sharingnya…makasih. jd tau sekolah swasta yo tetep ae lebih mahal bahkan sangatcmahal kl di LN

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.