Kecegat Ratu di London


Perjalanan ke London ini tidak direncanakan sebelumnya, jadi memang tanpa persiapan yang matang. Ujug-ujug saja in the morning saya merasa daripada cuma glundang-glundung di rumah, mending jalan ke London.

Depan Buckingham Palace setelah Ratu lewat

Kami pergi naik kereta dari Crawley, tapi karena sedang ada perbaikan rel, digantikan dengan bus sampai stasiun berikutnya, Three Bridges. Kereta dari Crawley sampai ke Victoria Station itu termasuk national rail atau sepur antarkota. Tiket sehari adalah £11 untuk satu orang. Travelcard itu boleh digunakan untuk moda transportasi umum apa saja di London zona 1-6 dalam sehari.

Kereta yang membawa kami ke London seperti kereta antarkota biasa, bukan yang keren banget kaya kereta-kereta di Jepang ya. Di kereta ini penumpang bebas makan minum. Tahu gitu kan sedia kopi ya wekekek. Butuh waktu sekitar satu jam hingga sampai di London.

Itinerary pertama adalah ke Buckingham Palace yang tidak jauh dari Stasiun Victoria. Memang rencaanya kami akan jalan kaki memutari London. Niatnya sih mulia ya, habis ke Buckingham Palace, ke St James Park, lalu ke Big Ben, lalu ke Trafalgar Square, terus nonton jembatan, lanjut ke Piccadilly Circus dan berakhir di Chinatown. Tapi rencana tinggal rencana huhahahha.

Kami tiba di halaman depan Buckingham Palace dan melihat orang kemruyuk. Langsung ikut-ikut kemruyuk juga. “Kayanya Ratu mau lewat nih,” kata saya. Ternyata beberapa menit kemudian memang benar Ratu Elizabeth II lewat. Pakai mobil dengan kaca bening, gitu, jadi kelihatan jelas. Saya ga lihat jelas plat mobilnya apa, yang pasti bukan AB.

Lumayan lah hari pertama ke London sudah lihat Ratu. Sayang, idola Puput, Duchess of Cambridge ga kelihatan. Setelah itu kami berjalan menuju ke Big Ben lewat St James Park. Duh, otaks aya terhenti di tahun 1990-an, kalau dengar St James Park bayangan yang tampak adalah stadion Newcastle United dan Alan Shearer. Maklum, mantan penggila bola. Bisa jadi nanti bakal gila bola lagi nih kalau hidup di sini.

Parade militer

Ternyata jalan-jalan di sekitar Buckingham Palace sangat ramai. I mean like, suangaaaatttt ruameeeee. Banyak orang-orang mengenakan seragam tentara beserta commendation-nya. Itu lho medali-medali yang digantung di dada.

Ternyata 11 November diperingati sebagai Hari Berakhirnya Perang Dunia I. Dan ini adalah perayaan besar-besaran di Eropa dan Amerika Serikat, kecuali Jerman. Apalagi, hari kemarin itu istimewa karena bertepatan dengan peringatan 100 tahun.

Tanggal 11 November 1918, pukul 4.54 ditandatangi perjanjian berakhirnya perang antara Sekutu dan Jerman. Dan perjanjian itu akan berlaku mulai pukul 11.00. On the eleventh hour, of the eleventh day, of the eleventh month.

Di Paris, Pak Macron memperingatinya bersama Angela Merkel dan Donald Trump. Di London, perayaan ini dipusatkan di Westminster Abbey. Ke sana-lah rupanya Ratu tadi berangkat. Squadnya lengkap, ada Pangeran Charles, Pangeran William, Pangeran Harry, KM, dan MM. Salah satu yang berpidato adalah PM Theresa May.

Ribuan orang memperingati 100th Armistice

Dan begitulah nasib kami terjebak di St James Park. Semua jalan diblokade. Jalan-jalan itu dipenuhi parade angkatan bersenjata, pramuka, tentara berkuda, veteran, bangsawan, rombongan para Duta Besar (kami lihat mobil-mobil Dubes parkir), bangsawan, juga rakyat yang mewakili bapak-ibu, kakek-nenek veteran Perang Dunia I. Mereka menggunakan medali milik moyang-moyangnya. Sweet-lah pokoknya.

Tapi pahit juga buat kami hahaha. Jadi pas mau jalan ke Big Ben, ga bisa nyeberang. Mubang-mubeng ga genah, hingga akhirnya lihat crossing. Itu pun bisa nunggu setengah ja baru crossingnya dibuka. Waktu jalan ke arah Big Ben ternyata kami kejebak arak-arakan yang ke Westminster Abbey.

“Wis, Cop, kayanya ga mungkin, kita ke Trafalgar Square aja,” kata saya ketika kami balik lagi ke depan Churchill War Room. Udah bener-bener mustahil jalanannya. Toh Big Ben juga lagi direnovasi. Kapan-kapan juga bisa ke sini lagi. Saya sebenarnya juga ga pengen-pengen banget, ga harus sekarang. Cuma Oliq yang ngebet.

Tapi melihat kondisi anaknya juga akhirnya pasrah. Alhamdulillah sih anak-anak ga rewel. Ola cuma heboh sekali waktu di St James Park ribut, “Mau kasih makan bebeeeek. Mau kasih makan bebeeek.” Padahal ga boleh kasih makan binatang di situ. Saya jawab ngawur, “Bebeknya Ratu ga doyan nasi.”

Di Duck Pond

Dia jawab, “Kasihaaaan. Bebeknya kasihaaan. Mau kasih makan.” Saya bilang, udah ada yang kasih makan sendiri. Untungnya akhirnya perhatiannya teralihkan.

Oliq jalan kaki jauh banget dan Ola di stroller. Ada beberapa kali Oliq di stroller tapi cuma sebentaaar banget. Tetap jalan kaki dia. Ola sempat saya gendong dan stroller dilipat karena kondisi terlalu umpel-umpelan.

Nah, ketika mau ke Trafalgar Square, tinggal nyebrenag doang nih, ternyata keblok semua. Gagal maning, akhirnya balik lagi ke arah Buckingham.

Jadi antara jam 10-13 kami cuma muter-muter ga jelas karena bola-bali kena blokade.

“Udah balik ke taman aja, nanti maem sama salat di taman. Udah jam segini e,” kata Puput. Anak-anak untung udah makan sedikit tadi, saya kebetulan bawa nasi dengan abon. Ola selain makan nasi juga sudah mengemplok dua buat croissant.

Ketika mau balik ke St James Park, ternyata ada crossing ke trotoar seberang. Menurut penerawangan saya, crossing yang ini niscaya akan melepaskan kami dari kungkungan blokade polisi dan parade ribuan manusia. Setelah nunggu setengah jam akhirnya crossing itu dibuka blokadenya dan kami bisa nyeberang. Melihat kondisi, kami batal ke Trafalgar Square dan langsung mlethas lewat tangga — ternyata njedulnya di Waterloo Gardens.

Kami sudah menetapkan tujuan: menjauhi Buckingham Palace dan Westminster Abbey sejauh-jauhnya. Pada saat ini kami mengandalkan Google Map dengan destinasi Rasa Sayang — restoran Malaysia tidak jauh dari Chinatown. Alasannya adalah karena kami lapar, Rasa Sayang ini halal, dan mau nebeng salat juga. Kalaupun ga ada tempat salatnya, ya minimal salat di kursi.

Chinatown di mana-mana selalu semarak dan menyenangkan ya

Kenapa ga cari resto Indonesia? Karena sepenerawangan saya yang ada adalah NusaDua. Pas googling-googling jebul itu punyanya Anniesa Hasibuan. Kan saya rodo males gitu lho. Moso ikut memperkaya dia. Mending ke resto Malaysia to. Kami masih battling apakah itu masih punya dia atau ga. Ternyata ketika pulangnya lewat masih ada tulisan “part of FT group”.

Jadilah kami jalan sekitar 15 menitan hingga tiba di Rasa Sayang. Di luar banyak orang, yang antre meja. Kami agak ragu soalnya ga lihat tulisan halal, yang jebul ada di kaca ming mata kita aja yang siwer. Dari luar kayanya kecil ini restoran, ternyata ada beberapa ruangan lain di bawah dan atas. Meja-mejanya saling berdesakan. Kami paham, space di London sangat mahal. Untuk review Rasa Sayang, terpisah ya, yang jelas di recommended. Masakannya enak dan servisnya luar biasa. Tempatnya sangat bersih. Harganya? Hehehehe, tapi memang harga standar makanan di London sih.

Dari Rasa Sayang kami ke New Loon Moon yang cuma sakplinthengan saja. Ini adalah supermarket Asia. Di lower ground adalah barang dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam. Di lantai atas dari negara lain. Pokoknya ditulisi jadi tahu ke mana carinya. Dan bisa ditebak kan kami cari apa.

Tempe.

Kami beli 6 papan tempe yang @400gr. Tempenya buatan Belanda yang memang mengeropa. Merk paling jamak ditemukan di Eropa. Selain itu saya beli kangkung satu plastik, bumbu-bumbu, saus ABC, tahu, dan agar-agar Cocon buatan Malaysia kesukaan Ola. Mungkin tidak banyak sekali produk Indonesia, tapi lumayan banget sih. Apalagi, selain produk Indonesia, kami juga familiar dengan produk Malaysia. Jadi di mata kami banyaaak. Alhamdulillah.

Yang kemarin penasaran total belanjaan kami adalah GBP 40 alias 800 ribu huhahahahhahahhahaa *ngakak ngglinding tekan Gombong*

Pulangnya saya ngangkut Ola, Puput ngangkut belanjaan yang beratnya. Kami naik Underground dari Leicester Square. Agak bingung lihat peta transportasi.

“Kita ke Pidacili,” kata Puput.

“Heh?”

“Pidacili.”

“Picadilly maksudmu? Picadilly line.”

“Yo wis karepmu.”

Dibenerke nesu kok piye hahahahahha. Wagu banget. Awake pegel ngangkut tempe dadi ora sinkron antara mata dan otak. Nggemesi banget. Taksamul, lho, we!

Perjalanan ke London kami berakhir. Ga lihat Big Ben, ga lihat Tower Bridge, ga lihat London Bridge, ga ke Picadilly Circus, ga ke Trafalgar Square.

Buckingham Palace

Tapi lihat Ratu.

Dan dapat tempe banyak banget.

Kesimpulannya, mission accomplished.

Advertisements

18 thoughts on “Kecegat Ratu di London”

  1. Tempe disana buatan Belanda? Fix aku dodolan tempe ae rasa euro wakaka. Pinisirin juga bmn mrk proses pembuatan tempenya, canggihnya koyo opo , manual apa udh semi mesin ya…

    Like

    1. yoi. Harusnya udah semi mesin lah wong diekspor ke mana2 kok. Edyan po nglothoki dele nganggo tangan. Tapi orang Indonesia yang bikin sendiri juga banyak

      Like

  2. Walah mbaaakk… sing moco iki melu trenyuh, kok gagal kabeh rencanane… tp teteeeeppp… dudu wong jowo yen ra ono ‘untung’e!Untung loro ati lan kesele iso keslamur nemu tempe… alhamdulillaaahhh…

    Like

  3. Waa, mau lihat Ratu juga 🙂 Dan juga semua anggota kerajaan sih #FansKerajaan Inggris 🙂 Ratu beserta Mbak Kate dan Mbak Meghan pakai baju hitam kan, Mbak? Hari MInggu kemarin aku ngikutin beritanya di IG soalnya 😀

    Like

  4. Habis merantau ngrasak’ke tempe jadi barang mewah.. Padahal pas di Indonesia disio-sio 😅
    Makasih ya mbok udah aktif di blog lagi..

    Like

  5. Rapopo, mbok…nek pengen mrono kan cedak rong jam PP to? Jik luwih adoh Janti – Solo 😀
    Yen Edinburg adoh ra yo? Nek mrono aku titip salam yo, sampaikan pada gedung-gedung di sepanjang jalan dan rerumputan di lapangan bahwa aku pasti kesana…
    hahahaha…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.