Malam Pertama di Inggris dan Bencana yang Menyertainya


Kalau kalian pembaca kaffah blog ini pasti akan menjagokan kisah ini menjadi salah satu dari Pengalaman Sial Saat Traveling yang selalu memancing kebahagiaan dan gelak tawa kalian. Ckckck….

Entah kenapa ya, selalu ada pengalaman yang ono-ono wae menyertai perjalanan kami. Padahal kami ini termasuk orang yang nggak neko-neko. Pun, kami juga bukan traveler amatir yang baru pertama ke luar negeri. Seharusnya kejadian-kejadian ajaib dalam perjalanan bisa diminimalisasikan. Tapi mbuh ya, kayanya memang Puput itu identik dengan pengalaman wagu. Saya sih cuma collateral damage-nya wkwkwk. Hikmahnya sih, saya jadi punya bahan tulisan buat ngeblog.

On the way to post office ngambil resident permit

***

Kalian tahu nggak, ini adalah kesempatan ke 4 Puput terbang ke Inggris, Kesempatan 1, 2, 3 gagal total. Kenapa? Kesempatan pertama dan ke dua, ketika dia kerja di perusahaan Inggris, dia diajak bosnya ke London, business trip untuk meeting. Tapi ya dasare paspor ijo, kudu apply visa dong ya, sementara bosnya melenggang terbang, Puput harus nunggu visa. Pas visanya udah jadi, bosnya udah balik ke Jakarta lagi. DUA KALI. Nggonduk banget ga sih? Wekekekek.

Kesempatan ke tiga waktu mau training ke London. Saya dan Oliq juga mau diajak (Ola belum ada). Pas hari seharusnya kami ambil paspor, Jakarta banjir besar tahun 2012. Kalian ingat lah kejadian itu. Baru kali itu juga kami tinggal di Rasuna, listrik sampai mati beberapa hari. Embassy-embassy dan agency-nya juga tutup. Worst case scenario, ngambil paspornya setelah banjir reda. Tiket yang sudah di tangan nanti direschedule. Ternyata, pas ambil paspor, visa saya dan Oliq granted, visa Puput refused. Bayangkan betapa gondoknya, masa dependentnya dapat visa, main applicantnya malah ditolak. Kan wagu banget ya?

Tapi kisah wagu selalu menyertai kami hahahha.

Hikmahnya, setelah itu, Puput me-reroute training ke Stavanger, dan kami jadi berkesempatan pergi ke Norwegia. Bola-bali kok hikmah disebut-sebut to, Mbok? Haaaaa kami ini orang-orang positif kok, selalu melihat yang baik-baik, yang buruknya dilupakan.

Agak deg-degan juga waktu apply visa UK karena sejarah ditolaknya visa Puput. Tapi sebenarnya ga masalah sih karena waktu itu alasan ditolak karena penyelenggara training adalah perusahaan US, bukan asli UK, jadi ga bisa menyeponsori aplikasi visa. Kan nyebelin, tahu gitu dia minta kantor pusatnya yang sponsori, atau malah apply visa turis aja sekalian to?

Nah, waktu apply visa kali ini ditanyain juga surat alasan penolakan visa dulu. Lhaaa udah ke mana juga suratnya, wong kami juga udah pindah rumah kontrakan berapa kali. Awalnya semua diurus oleh agen di London. Setelah itu, baru kami dapat panggilan untuk foto dan biometrik.

VFS Global di KL adanya di Jalan Ampang, ga jauh dari KLCC. Saya bela-belain bikin alis demi foto visa. Penting banget bo. You know, karena foto visa ga boleh pakai kacamata.

VFS agak ramai karena banyak orang Malaysia yang juga apply. Kebanyakan sepertinya students. Banyak orang Malaysia yang memang luar negeri-oriented kalau urusan kuliah anaknya.

Prosesnya seharusnya cepat. Begitu masuk langsung antrean dipanggil untuk menyerahkan paspor dan dokumen pendukung. Lalu nunggu untuk foto dan biometrik. Orang-orang lain sih cepat ya. Kami kok dilewati terus. Jadi orang-orang yang datang lebih lambat dari kami, dipanggil biometriknya lebih dulu. Duh duh duh. Setelah nunggu sejam baru giliran kami. Mungkin karena kasus kami adalah visa kerja plus paspor Indonesia, jadi proses pengecekan juga lebih lama.

Aplikasi visa dan paspor dikirim ke UK Embassy di Manila (dulu di Bangkok). Alhamdulillah lancar jaya. Tepat seminggu Puput ditelpon VFS untuk ambil paspor. Saya langsung ngebut dari rumah ke Ampang dan ketemu Puput di sana. Memang niat banget ambil hari itu juga, kebetulan itu hari Jumat. Hari Sabtunya di sekolah Oliq ada Meet The Parents (MTP) alias ambil rapor. Rencananya, kalau visa sudah di tangan, saya langsung pamitan sekalian kasih suvenir buat guru-gurunya. Suvenirnya tentu saja barang dagangan Delin Choose! Hijab yang dia jual ke saya pakai harga reseller. Padahal aku dewe lho yang kulakan di supplier, moso isih dibathi. Ckckckck. Yo wis lah rapopo demi mewujudkan #2019DelinRabi.

Tanggal 22 Oktober semua barang kami dipacking kargo, termasuk kasur-kasur kami yang sudah penuh noda bersejarah, panci, wajan, sutil,  tampah, cowek, munthu. Dan kok saya sekarang kepikiran tampah satu lagi yang saya tinggal di KL ya. Itu tampah tenant sebelumnya dan emang udah jelek. Tapi kok ga takgowo wae yo? Menko nek tampahku ning kene rusak, tuku gantine nang endi jal?

Okelah, urusan tampah kita pikir belakangan mau jastip ke siapa ahahahha.

Kami berangkat tanggal 25 Oktober, transit Dubai semalam, dan tiba di London tanggal 26 Oktober. Visa entry kami mengharuskan kami tiba di UK sebelum tanggal 29 Oktober,

Kami tiba di Bandara Gatwick pukul 8 malam. Imigrasi hampir tidak ada antrean di jalur non-UK/EU. Mas-mas petugas imigrasinya pun ramah banget. Bola-bail bilang “thank you very much”. Dia memang menanyakan beberapa hal yang tidak akan ditanyakan bila kita datang dengan visa turis, misalnya kerja di mana, kontrak berapa lama, mau tinggal di mana. Semuanya dengan nada ramah.

Koper-koper kami pun muncul dengan cepat, begitu juga stroller Ola seharusnya keluar di DXB. Masalahnya agak berat ngangkut koper-koper yang banyak jumlahnya tanpa troli. Sementara ambil troli harus masukin uang pound krincing. Dan kami ga punya recehan. Dan mesih penukar recehannya rusak. Mau angkut tanpa troli kok rasanya berat. Belum tahu bahwa malam itu akan berakhir dengan terpaksa nggeret koper juga wkwkwk.

Saya suruh Puput ke money changer, paling bisa tukar. Ternyata bisa bener. Problem solved.

Sebenarnya yang saya sedikit khawatirkan ada custom. Kebayang to bawaan saya banyak makanan, ada dendeng, abon, lanting, bumbu, Indomie, beras, dan sambel-sambel sing tuku ning kalian kuwi. Nek dikon njereng kan aku rodo isin, wong bercampur cawet dan kutang.

Tapi ternyata jangankan kena random check, lha wong custom ki kosong melompong, blas ga ada petugasnya. Mungkin adem-adem ngene enak bali njuk kelon. Jadi, ga ada x-ray tambahan lagi. Langsung sampai luar.

Kalau dipikir-pikir dulu di Paris dan Stavanger pun sama kaya gini, langsung bludung-bludung.

Di luar ditunggu sopir yang sudah dipesankan agen. Tampak sempurna kan, hingga tiba di apartemen sewaan — proses sewa pun ditangani agen.

Kan judulnya serviced apartment, yo takiro ki ono resepsionise. Jebul ga ada blas. Jadi kaya residence. Eh tapi kalau residence pun biasanya ada satpamnya kan? Kami masuk ke area parkiran yang ditutup dengan gate otomatis. Jadi kalau ga tahu passwordnya ya ga bisa masuk.

Ga ada resepsionis, ga ada orang yang nunggu kami. Karena ga enak sama sopirnya, akhirnya di kami suruh pergi, sambil Puput ngecek HP, cari kontak yang ngurusin temporary accommodation ini. SALAH BESAR.

Moso ora dikei instruksi opo-opo sih Cop?” Kami biasa pakai AirBNB dan kalau host tidak bisa menemui langsung biasanya dikasih instruksi misalnya: kunci-kunci di dalam mailbox X. Password untuk buka mailbox adalah xyz. Unitnya naik lift ke lantai 3 belok kanan paling ujung. Misalnya seperti itu.

Ora ono, iki ra ono email blas koyo ngono. Nomer unite we raono.” Kata Puput emosi. Nek wis emosi medeni wonge koyo buto ijo.

Permasalahannya bertumpuk:

  1. HP Puput kudu direstart
  2. HP Puput sudah beli data roaming Malaysia tapi tetap ga ada data
  3. HP Puput udah ada data tapi ga ada instruksi
  4. Semua nomor HP agen adalah nomor kantor yang berdering tanpa ada yang ngangkat

Posisi kami di parkiran open air, suhu 6 derajat Celcius. Oliq sudah pakai jaket tebal. Saya pakai jaket tipis, Puput pakai sweater. Ola pakai kaos doang.

“Ola, dingin ga?”

“Dingin.”

“Pakai jaket ya?”

“Nggak mau!”

Kena bentak Puput hingga akhirnya mau pakai jaket yang ga terlalu tebal. Anaknya mingsek-mingsek. Masnya juga.

Sebenarnya kami pernah terdampar di luar apartemen juga sebelumnya di musim dingin, walau hanya saat nungguin janjian sama host. Di Paris, pas nunggu janjian dengan host dan kami datang kecepetan, lalu kedinginan di St Sulpice. Di Istanbul, juga datang terlalu awal plus host kena macet. Di Korea, kademen karena kesasar waktu nyari apartemennya. Tapi kan semua itu waktu siang dan bawaannya ga banyak ya.

Semua nomor telpon dicoba, ga ada yang ngangkat. Ini semacam sontoloyo banget.

Akhirnya kami memutuskan untuk cari hotel aja. Lha piye, malam-malam di luar kedinginan. Oliq udah mimbik-mimbik yang berhasil kena bentak Puput lagi.

Oh masalah berikutnya adalah, karena kami sudah di dalam parkiran dengan gate otomatis. Kami ora iso metu!!!!

Untunglah habis itu ada mas-mas yang mau keluar, dan ditunjukin cara bukanya. Jadilah kami di pinggir jalan.

FYI, barang kami sebagai berikut: 4 koper yang masing-masing beratnya antara 25-35kg, 1 ransel Puput berat sekitar 15kg, ransel saya 10 kg. Dan 2 ransel anak. Plus stroller.

Kebayang gimana cara jalan kaki nyari hotel terdekat dengan bawaan segitu kan? Puput sempat tanya orang lewat mana hotel terdekat, tapi saya ragu.

Gimana kalau ga ketemu? Gimana kalau hotelnya penuh?

Saya ngotot cari taksi aja, nanti minta antar ke hotel terdekat atau any hotel lah pokoke, di Gatwick pun ga masalah. Yang pasti kami ada tempat bobo malam itu.

Saya bilang, kita jalan arah stasiun aja karena tadi lewat sana ada konter taksi.

Udah kaya rombongan sirkus. Saya nggeret dua koper, nggendong ransel, dan nggendong depan ransel Oliq. Bisa dibayangkan dengan masing-masing berat segitu plus jalanan yang ga rata. Mungkin beratnya kaya nyeret Delin yang lagi semaput. Tapi kan Delin bisa ngglinding, koper kan enggak.

Puput nggeret 2 koper juga sambil nggendong tasnya yang abot banget.

Oliq bilang, “Ola duduk di stroller ya, nanti Aik dorong. Ola jangan nangis lagi ya.”

Padahal dia sendiri mingsek-mingsek.😭

Jadilah kami jalan menuju stasiun. Harus nyeberang teteg sepur pula. You know teteg ya, bukan teteq. Pas di tengah rel kereta, strollernya Ola stuck. Oliq sampai panik. Maklumlah berat dorong stroller ngelewatin rel kereta.

Ya pokoknya kami jalan entah berapa ratus meter. Beberapa taksi lewat semuanya ada orangnya. Sampai ada mobil polisi, saya kepikiran buat melambai-lambai, eh mobil polisinya udah belok duluan. Hingga ada taksi kosong mendekat. Alhamdulillah. Kami minta diantar ke hotel terdekat.

Kami mendekati sebuah hotel besar. Pak taksi bilang, “Ini hotel bintang lima jadi mahal, lho.” Saya ngikik dalam hati, emang penampilan kere sih.

Kami menunggu di taksi sementara Puput ngecek dengan resepsionis. Alhamdulillah ada kamar dan kami akhirnya punya tempat bermalam wkwkwkwkw.

Di lobi hotel Arora International Crawley-Gatwick

Kandani og, uripku ki ono-ono wae mesti. Malamnya Puput bilang gini, “Aik tuh beruntung, besok gede bisa cerita dulu Aik terdampar pas pertama sampai UK.”

Ngooook.

Pengalaman sial. Ngenes saat dijalani, berkesan ketika sudah berlalu.

***

Nah, waktu sampai di kamar hotel yang jadul namun hangat itu, dan udah nyambung WiFi, baru muncul email instruksi tentang apartemen. Instruksinya, kalau sudah di Bandara Gatwick, suruh telpon nomor hape orang yang akan menemui di apartemen. Kalau melihat jamnya, email itu dikirim ketika kami dalam pesawat. Berarti last minutes kan ya? Kok ya ndak kepikiran untuk ninggalin SMS atau gimana. Kan tahu kalau orang dari luar negeri mungkin akan bermasalah dengan data internet. Lha wong airbnb aja bisa sms-a kok.

Paginya si agen apartemen email lagi, nanyain kok semalam nggak datang. Kapan mau check in ulang? GA DATANG GUNDULMU NJEPLAK!

Katanya dia sempat nungguin di aparteman jam 21.00, expected arrival time, tapi kami ga nongol. Lha kan ya butuh waktu buat clearance imigrasi dan barang-barang. Mbok ya kalau tahu ga datang ditelpon po piye. Ora njuk ditinggal bali. How can you make a family who traveled halfway around the world kapiran in the middle of a freezing night?

Intinya, Puput akan log complaint.

Pagi itu jam 11 siang, si agen akhirnya datang ke hotel. Di-arrange ulang untuk check in di apartemen pukul 12.00.

Alhamdulillah, akhirnya Simbok bisa masak.

View dari jendela apartemen
Advertisements

33 thoughts on “Malam Pertama di Inggris dan Bencana yang Menyertainya”

  1. Pas jalan kemarin ada satu temen yang ngidam makan tekwan dan minta dibawain bengkoang. Ibu udah beli sekantong, eh akunya parno. Jadilah aku dan adik bawa masing-masing sebiji. Belum lagi bawa kering tempe sekilo (yang habis di hari ke-10) makin deg-degan, eh tahunya melenggang bayam.

    Baca ini ngenes, tapi kayaknya yang dulu-dulu lebih ngenes hahaha. #VoteCeritaNST

    Like

  2. Subhanalloh, mengharukan. Besok bikin novel kisah perjalanan hidup simbok keliling dunia. Banyak hikmah yang didapat. Sukses selalu dan barokah semuanya dalam lindungan Alloh SWT, aamiin.

    Like

  3. Di sono orang serba email po yo Mbak. Di kita apa-apa kebanyakan masih serba pake WA buat komunikasi.
    Btw, pengalaman sampean ki nek versi Jowone paling jenenge sarwo bejo, Mbak. Lagi ngalami hal seng wagu, endinge kok untung ono iki iku.

    Like

    1. Mostly serba telpon jane. Makane aneh. Kan yo kudune paham. Yo nek ora untung ora bakal taktulis, wong aku wis mati beku ning pinggir dalan

      Like

  4. Dear mbak olenka

    Boleh di kirim lg gak? Kok ak gak bs baca blogmu mbak, ak fans mu loh 😁

    Regards Rani

    Sent from my iPhone

    Like

  5. Hai, Mbok….kau pasti tidak mengenali aku…padahal kau sudah seringkali memberikan “kehidupan” padaku di kendikras (jujur, aku selalu berharap kau meminta “kehidupan” juga, tapi itu tak pernah kau lakukan. entahlah)
    Tolong mulai sekarang tandai aku sebagai kawan bloggermu, ya mbok. Bukan hanya teman seperjuangan di kendikras.. bahahhahaha….

    Nganu…aku kok jadi tambah terinspirasi yo pengen kerjo ning yurop…jane nek dipaksakan kemungkinan itu ada, tapi aku wiz malas ndisik membayangkan prosesnya…palagi sekolah e anak e…urusan e pak bojo…pokokmen kok ketoke rwibeth yo…

    aku akan selalu membaca blogmu untuk menumbuhkan semangat itu..semoga semuanya lebih seru dan membahagiakan di tempat baru…

    tertanda
    pemain kendikras level tiga empat puluh

    Like

      1. Kuwi lho mbok, kan ono gambar hati, penceten.trus ono ask friends gambare fesbuk.. pilih koncomu sing kiro2 gelem wenehi life.

        Koncomu, yg pernah diberi life dirimu
        Kendikras level empat enam nol

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.