Transit di Dubai dan Visa UAE


And yes, buat kalian yang masih penasaran, kami sekeluarga pindah ke London. Memang agak tidak terduga sebelumnya, ujug-ujug dapat memo pindah. Sebenarnya bukan London banget sih, tapi London coret. Lebih tepatnya di dekat bandara London Gatwick (LGW).

Tapi postingan kali ini belum membahas London. Kebetulan kami sempat transit di Dubai. Jadi yaaa ceritanya tentang Dubai dulu.

Awalnya ketika mau booking tiket ke London, kepikir mau naik yang direct aja, entah MH atau BA.  Maksudnya biar ga usah repot-repot transit, nungguin lagi, terbang lagi. Tapi tiba-tiba terbaca klausul bahwa biaya transit bakal diganti. Wakakaka, lha kan eman-eman kalau tidak dimanfaatkan. Emang keluarga traveler kere.

Saya cek-cek cari pesawat yang terbangnya ke Gatwick instead of Heathrow. Maksudnya untuk menghindari bandara yang katanya tersibuk di dunia, gitu. Ternyata banyak juga yang terbang langsung ke LGW. Salah satunya Emirates.

Akhirnya saya ojok-ojoki Puput booking Emirates. Kebetulan kami juga belum pernah ke Dubai, dan pengen lihat Burj Khalifa. Kan para lelaki di keluarga ini tower fetish semua. Kami pun baru pertama ini naik Emirates, tapi pengalamannya ditulis lain kali ya.

View dari lantai 125

VISA Uni Emirat Arab

Paspor Indonesia membutuhkan visa untuk masuk UAE (Simbok bingung mau nulis UAE apa UEA, yo pokoke you know what I mean lah nek kuwalik-walik kan sami mawon).

Karena singkat kami ambil visa transit 96 jam. Dan karena terbang dengan Emirates, aplikasi visa bisa dilakukan via websitenya, dengan fitur manage my booking. Oya, proses visa hanya bisa dilakukan setelah booking confirmed alias tiket udah dibayar. Dan kayanya ini cuma buat Emirates, maskapai lain gak bisa. Mudah prosesnya, hanya mengisi formulir yang disediakan dan mengunggah scan halaman depan paspor dan halaman paling belakang. Selain itu kita juga perlu upload pasfoto dalam ukuran standar foto paspor. Kalau mau aman, bikin pasfoto standar visa UK, tukang foto yang biasa bikin foto visa pasti paham. Oya ada yg tricky waktu upload dokumen yaitu ada ukuran maximum berapa kilobytes gitu. Jadi kadang hasil scan perlu di-resize biar bisa diunggah.. kalo ukuran file kebesaran, otomatis gagal upload.

Buat kalian yang belum melakukannya, ingat ya, harus selalu punya scan halaman depan paspor dan dokumen sejenis, baik di Google drive maupun di email atau di gadget masing-masing, kali-kali aja perlu. Bojoku master banget dalam menyimpan dokumen. Transferan bulananku aja dipdf-kan dan difolderkan sendiri. Ckckckck….

Biaya visa online lewat Emirates website adalah USD 36.65 per orang, itu sekitar 555 ribu rupiah. Pembayaran cuma bisa via credit card dan paypal. Jadi kalo gak punya dua2nya, pinjem dulu yaa.. Kartu debit gak diterima yesss, kali-kali ada yang mo nawar… Dan, yes, anak-anak juga wajib punya. Visa kami granted dalam waktu 2×24 jam, notifikasi via email. Visa tersebut diprint untuk nanti disertakan bersama paspor ketika sampai di Dubai.

Waktu kontak Fahmi, temen blogger, ditanya mau ke mana saja. Wah dengan mepetnya jadwal, saya cuma pede ke Burj Khalifa aja, kata saya. Itu wae wis marem.

Kami tiba pukul 22.00 waktu setempat. Imigrasi singkat dan ga ditanya macam-macam. Walaupun bapak-bapak petugas imigrasinya ngecek sambil ngobrol.

Pas di x-ray custom, saya disapa, “Piye, opo kabare?” Kayanya petugase mas Filipino yang kakehan hang out sama wong Jowo 😂.

Agak lama di bandara gara-gara drama stroller Ola ilang, yang setelah dilacak ternyata tag-nya langsung London. Weks.

Istirahat semalam di Dusit Thani hotel, jam 9 kami ke Burj Khalifa. Tiket udah beli online sebelumnya. Naiklah ke observatory deck lantai 124 dan 125. Oliq happy akhirnya satu cita-citanya kesampaian. Sebelumnya dia pernah ke second tallest building, yaitu Tokyo Skytree.

Oh ya, tiket untuk naik ke Burj Khalifa kami beli di sini: https://tickets.atthetop.ae/atthetop/en-us/. Harganya AED 135 untuk dewasa dan AED 100 untuk anak 4-12 tahun. Anak d bawah 4 tahun free. Lumayan lah Ola gratis. Bisa beli di Klook juga harganya 11-12, tapi waktu kami mau beli sistemnya lagi ga nyambung, jadi akhirnya direfund. Sebenernya kami pilih beli via Klook karena bisa langsung dalam mata uang lokal dan dapet poin… tapi apes waktu itu udah bayar, tau-tau dapat email sistem lagi error. Akhirnya chatting ama CS-nya yang cukup profesional, dan akhirnya tiket di-refund. Prosesnya cepet, kira-kira seminggu udah balik duitnya ke kartu kredit…

Ketemu lagi setelah bertahun-tahun. Dulu Keluarga Cimil masih berdua doang, sekarang sudah berempat. Barakallah

Setelah itu, baru ketemu Fahmi yang kebetulan lagi dikunjungi anak istri. Silaturahim ke dua setelah KL tahun 2014. Alhamdulillah sempat ketemu walau singkat.

Bisa foto-foto bareng.

Lalu ke Dubai Mall yang supermegah. Ola ribut banget minta lolipop. Saya dikasih Puput duit AED 7, jebul yang termurah itu AED 16. Saya tarik Ola yang udah pegang permen. Untung di deketnya ada money changer. Baru kali ini saya ngerasain mau beli permen lolipop sebiji aja kudu nuker duit di money changer wakakaka.

Ringkasan aja ya buat pengalaman singkat di Dubai:

  1. Secara umum akomodasi di Dubai ini mahal. Pilihannya memang banyak. Semakin dekat Burj Khalifa semakin mahal. Kalau memang waktunya tidak terbatas seperti kami mending pilih agak pinggir aja, asal dekat Metro.
  2. Bandara Dubai gede banget. Kebetulan kami turun di Terminal 3, kayanya ini yang ada dijadikan acara di NatGeo Ultimate Airport Dubai. Jadi, walau ada  walkalator di mana-mana, tetep aja capek. Datangnya juga jangan mepet.
  3. Di bandara ada banyak peminjaman stroller. Tinggal ambil di rak-rak yang disediakan, Strollernya pun merk Maclaren, kan saya yang punyanya cuma Cocolatte iSport jadi rada malu wakakakka
  4. Taksi dari bandara mudah banget dan nyaman. Nggak terlalu mahal juga. Dari bandara ke pusat kota, sekitaran Burj Khalifa kira-kira 60 AED untuk perjalanan sekitar setengah jam. Kalo dari pusat kota ke bandara jauh lebih murah, paling-paling separonya alias 30 AED.
  5. Tiket naik Burj Khalifa sebaiknya booking in advanced daripada harus antre.
  6. Pilih waktu kedatangan jam 9 aja. Kami pas turun sekitar jam 10.30 antrenya udah panjang banget, bahkan mereka yang udah punya tiket online pun tetap antre.
  7. Taksi vs Uber. Perasaan saya sih lebih murah taksi konvensional ya. Tapi, naik Uber sekali mobilnya Lexus. Yap, beneran Lexus baru, masih kinclong, yg nyetir anak muda Arab pake setelan jas berdasi lengkap. Entah beneran dia yang punya atau cuma pinjem atau sewa dari juragannya.
  8. Dubai Mall besaaaaar banget. Dan mewaaaaah banget, Simbok jadi merasa hina dan kumuh wkwkwk.
  9. Di bandara nemu burger yang enak banget. Apa ya namanya? Pokoke ada Shack-Shack gitu wakakaka. Tapi harganya juga nganu banget, sekitar AED 40. Tapi ini relatif murah dibanding restoran lain di dalam bandara, makanya lumayan rame dan panjang antriannya. Makanya kami batal beli kopinya yang harganya AED 20, lebih milih pakai vending machine seharga 5 dinar. 

Selain itu kami ga bisa review makanan wong maemnya cuma Popmie. All hail Indomie!

Advertisements

7 thoughts on “Transit di Dubai dan Visa UAE”

  1. Kalau mbak Olen butuh asisten untuk ngajakin Oliq main ke taman atau nemenin main mobil keruk-kerukan, hubungi aku.

    Dijamin aku gak suka berenang pakai baju, makan nasi segunung (udah agak tobat), keluar ke pasar malam (dan beli leging warna ngejreng) dan ikutan komentar kalo nonton teve bareng. Aku janji oooo

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.