Jalan-jalan ke Negeri Sultan: Tips Wisata di Brunei


20 Hal yang harus kamu ketahui tentang Brunei Darussalam, nomor 9 bakal bikin kamu melotot *macak wartawan Tribun*

Brunei itu mahal, katanya. Sebenarnya itu hanya mitos belaka. Brunei itu murah……kalau kamu mantunya Aburizal Bakrie wakakakkak.

Jadi, minggu lalu kami ke Brunei. Nggak lama sih, cuma 4 hari 3 malam karena bookingnya pun mendadak. Oliq ada libur term break, tapi Puput nggak jelas bisa cuti atau nggak. Akhirnya baru bisa ambil cuti seminggu sebelumnya. And I had to use my magic fingers to find the perfect deal.

Sebenarnya saya pengen liburannya ke Moscow tapi apa daya, dana tak sampai hahahha. Enggak ding, lha wong waktunya sempit, maunya yang deket aja. Plus murah.

Pilihannya waktu itu ada dua: Ho Chi Minh City dengan VietJet berempat RM 1300 (sekitar 4 juta) dan Brunei dengan AirAsia RM 1200 – include bagasi, meal, dan pick a seat. Sempat tergoda naik VietJet gara-gara iklan pramugari yang pakai bikini itu hoahahha, tapi kebetulan saya sudah pernah ke Saigon 2 kali. Sementara Brunei baru satu kali, itu pun tidak maksimal. Puput juga sepakat pilih Brunei karena dia dan anak-anak belum pernah, padahal Puput sering tugas ke Miri dan Labuhan yang cuma sakplinthengan.

Akhirnya saya booking tiket yang sangat murah itu. Hitung-hitung satu orang cuma Rp 1 juta pp. Lumayan banget untuk penerbangan internasional dengan durasi 2 jam 20 menit.

Selain AirAsia dari KL, hanya sedikit penerbangan ke Brunei. Antara lain, Malaysia Airlines dari KL juga, code sharing Garuda/Royal Brunei dari Bali, Garuda dari Jakarta dan Surabaya, Singapore Airlines. Harapan untuk bisa terbang murah ke Brunei ya cuma naik AirAsia. Eh, tapi saya 9 tahun yang lalu terbang ke Brunei dari Kota Kinabalu naik Royal Brunei Rp 0, lho wekekke.

Akomodasi

Setelah dapat tiket murah, seperti biasa, perburuan dilanjutkan dengan pencarian akomodasi. Saya sih tahu banget kalau hotel-hotel di Brunei ini mahal sekali. Jauh tarifnya dibandingkan di Malaysia. Pilihan sewa apartemen lewat AirBnb sudah langsung saya coret. Brunei itu sepi. Restoran, warung, mini market tidak sebanyak di negara-negara lain di Asia Tenggara, jadi pilihan menginap di residential area bukan langkah yang bagus. Apalagi kalau kalian punya anak suka jajan kaya Oliq dan Ola. Duuuuh.

Akhirnya saya booking Hotel Badi’ah. Kalau dari reviewnya bagus. Tarifnya 2x lipat daripada hotel sekelas di Malaysia. Tapi, kamar yang saya pilih ada dua double beds. Kan enak tuh enggak umpel-umpelan. Kalau anak-anak udah tidur, simbok bapaknya bisa…..auuuuuuuuwoooo.

Letak hotel Badi’ah ini juga dekat dengan bandar (pusat kota), terletak antara dua masjid terbesar di Brunei: Masjid Omar Ali Saifuddien dan Masjid Jame’ Hassanil Bolkiah.

Pas sampai di hotel, senang ternyata kamarnya besar. Ada sofa panjang. Semuanya bersih dan modern. Oh ya, karena mau ngirit, kami ga mau pesen breakfast.

Untungnya, tepat di belakang hotel ada supermarket.

Oh ya, kalau kalian cuma backpacking, tanpa keluarga, salah satu penginapan favorit backpacker adalah Pusat Belia atau The Youth Hostel yang letaknya di pusat kota.

Transportasi

Transportasi ini perlu dipikirkan lebih lanjut kalau danamu mepet. Di Brunei tidak ada Grab (ya iyalah orang sana duitnya udah banyak, ngapain bela-belain nyopir). Tidak ada ojek (apalagi, lha wong motor aja ga ada). Tidak ada kereta api (lha wong kabeh wong duwe mobil dewe). Tidak ada tuk tuk (opo meneeeeh andong utowo becak). Isone mung mlaku thimik-thimik wakakaka.

Sebenarnya ada public bus (bas awam), semacam mini bus tapi hanya beberapa jalur dan jarang frekuensinya. Jadi ribet juga kalau mau ke mana-mana yang jauh. Oh ya, dulu saya pernah naik bas ini dan sopir sama keneknya wong Jowo. Taksi ada, tapi mahal. Kabarnya taksi biasanya dipukul rata BND 30 untuk satu trip. Itu Rp 300 ribu lebih.

Kami sewa mobil, nyetir sendiri. Kebetulan Puput punya teman yang kerja di Brunei dan punya kontak orang yang menyewakan mobil. Namanya Mas L, aslinya orang Surabaya. Usaha jual beli mobil bekas di sana. Kalau butuh kontaknya, kalian japri aja. Sewa mobil di Mas L sangat murah, BND 30 untuk 1 hari.

Note: Untuk lebih memahami perduitan Brunei, saya kasih informasi. 1 BND = 1 SGD. Iyes, Brunei ngikut Singapura sekarang untuk kursnya. Mata uang resmi adalah Brunei Dollar, tapi orang lokal nyebutnya Ringgit. Tolong jangan bingung dengan ringgit Malaysia. 1 Ringgit Brunei setara dengan 3 Ringgit Malaysia.

Jadi, sewa mobil di Mas L cuma sekitar Rp 300 ribu per hari. Dia akan jemput di bandara, lalu kami balik nganterin dia ke rumahnya. Habis itu bayar, dan mobil tinggal bawa. Mobilnya sedan Proton Persona. Kalau butuh yang lebih gede ada juga.

Nah, di Brunei ini ternyata sering ada road block alias razia alias cegatan. Biasanya, sama dengan di Kuala Lumpur, polisi hanya melihat stiker pajak yang ditempel di kaca depan untuk ngecek sudah bayar belum. Ndilalah hari itu kami dapat yang agak tidak biasa, yaitu disuruh nunjukin SIM.

Ceritanya kami hendak mencoba melintasi Jambatan Raja Istri Pengiran Anak Hajah Saleha (puanjangnyaaaaa Mbooook) yang baru diresmikan akhir 2017 lalu. Ternyata jalan macet banget. Kami kira antre mau masuk jembatan, ternyata di bawah jembatan ada razia. Udah dibilangin sih sama Mas L, kalau kena road block bilang aja “kereta kawan” alias mobil temen.

Kami lihat mobil-mobil di depan pada mengulurkan SIM (di sini ga ada STNK yang bentuknya kaya di Indonesia. Cuma ada semacam proof of ownership seperti mobil kami di Malaysia). OK lah Puput nyiapin SIM Malaysia dia.

Pas giliran kami Pak Polisi menyapa dengan ramah. Blas ga ada juteknya.

Polisi: (mengambil SIM) Ini kerete siape?

Puput: Kerete kawan

Polisi: Dan berape hari sini?

Puput: Dua hari.

Polisi: OK lah. (nyuruh kami pergi)

Udah gitu doaaaang. Hahaha

Saya tahu apa yang bakal kalian tanyakan, kalau SIM Indonesia gimana? SEHARUSNYA ga masalah. Saya pun nyetir di Malaysia pakai SIM Indonesia saja.

Yang perlu kalian tahu, tingkat kecelakaan di Brunei ini cukup tinggi. Bukan karena ugal-ugalan. Tapi karena jalanan sepi, tidak ada motor, mobil buantereeeeee masyaallah. Saya ga berani nyetir di kota, cuma sempat di luar kota karena Puput ngantuk. Itu aja jalan 120 km/jam rasanya kaya keong wkwkwk.

Bensin murah banget di sini, RON 92 seliter sekitar 50 sen (Rp 5.000). Pom bensin jarang dan ga ada yang jual eceran jadi mesti siap-siap kalau mau jarak jauh. Kalau menurut pojok informasi di Museum Maritim, hanya ada 36 pom bensin di seluruh negara.

Makanan

Sampailah kita pada bagian yang sudah ditunggu. Makanan bagaimana? Orang Brunei makan nasi, sama kaya kita. Tapi makanan khasnya adalah ambuyat, semacam papeda, terbuat dari sagu. Lauknya macam-macam, misalnya ikan masak merah, kari kambing, sayur dengan santan, dan sebagainya. Kami sempat makan ini di resto top di BSB ditraktir temannya Puput. Of course kami ga akan makan di sini kalau bayar sendiri hakakakakkakakak *kere

Selain itu, andalan kami adalah…….jreng-jreng…..pop mie. Kebetulan bawa dari rumah beberapa pop mie, dan untungnya supermarket di belakang hotel juga jual Pop Mie dan Mie Sedap Cup. Harganya sebiji BND 60-70 sen. Jadi sekitar Rp 7000. Harga Pop Mie di Indonesia berapa sih?

Selain makan mie, kami juga sempat beli makanan di pasar malam dekat Masjid Omar Ali, yang jual banyak orang Indonesia. Bahkan ada gerai makanan Sunda. Di sini, kami beli ikan bakar 1 ekor BND 3, lumayan cukup buat berempat. Nasi putih satu porsi BND 0.50. Oh ya, jangan beli minum di sini karena air mineral botol 600ml harganya BND 1. Sepuluh ewu cuy wekekek. Kalau di supermarket air mineral botol 1,5 lt harganya BND 0.70.

Kami juga sempat makan KFC dua kali – sekali di Yayasan, sekali di bandara – paketannya seperti di Malaysia. Ayam dengan nasi gurih tapi ga gurih, atau kentang goreng. Paket kecil ayam satu harganya BND 3.65. Sekali juga beli di Chinese restaurant karena kami butuh sayur, harga per porsinya sekitar BND 6-7. Ngenes kan kalau tiap hari makan di resto beneran?

Oh ya kalau hari Jumat biasanya di masjid ada nasi sedekah berupa nasi katok (kaya nasi lemak) dengan lauk sambal dan telur. Boleh ambil bebas gratis, sekalian sama botol mineralnya. Ga usah merasa miskin, musafir ini hihihiiii.

Tempat wisata

First of all, siapa bilang Brunei wisatanya cuma masjid? Tapi emang sih masjid-masjidnya bagus hahahah….bisa ambil nasi sedekah pula.

Ini list yang kami kunjungi:

  1. Masjid Omar Ali Saifuddien

Biasanya gambar masjid ini yang muncul di brosur-brosur pariwisata di Brunei. Masjid ini terletak di pusat kota, menjadi jantung kota Bandar Seri Begawan. Di belakangnya ada Kampong Ayer, yaitu pemukiman terapung terbesar di dunia, yang merupakan lokasi asli dari Kesultanan Brunei (akan dibahas di poin 4). Masjid ini mulai dibangun oleh Sultan Omar Ali Saifuddien III yang merupakan sultan Brunei ke 28. Pembangunan masjid selesai tahun 1958 dengan arsitektur campuran antara Mughal dengan Melayu. Kubah utama masjid ini terbuat dari emas murni. Di bagian belakang masjid terdapat laguna buatan yang menyambung ke Kampong Ayer. Dibangun juga tiruan ‘kapal upacara’ di atas laguna tersebut. Turis-turis santai sana berkunjung ke kompleks masjid, tapi kalau mau masuk harus pakai jubah hitam yang disediakan gratis. Dan kunjungan ke dalam masjid juga jam-jam tertentu, tidak masuk waktu salat.

  1. Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah

Masjid ini dibangun pada tahun 1988 di atas tanah wakaf Sultan Hassanal Bolkiah, tapi baru diresmikan pada tahun 1994. Masjid ini adalah yang terbesar di Brunei, dapat menampung 5000 jamaah, memiliki 29 menara masjid.

  1. Masjid Ash Shaliheen

Ini termasuk masjid baru, terletak di dekat kompleks Perdana Menteri. BTW, Perdana Menteri Brunei siapa sih? Well, gaya arsitekturnya Maroko. Kesannya emang kaya di Maghribi gitu dengan pohon-pohon kurma di sekeliling. Kabarnya, kubah masjid ini bisa dibuka tutup.

  1. Kampong Ayer

Kampung terapung terbesar di dunia yang membuat Brunei dijuluki sebagai Venice of the East. Jangan dikira kampung terapung ini mengenaskan. Enggak. Semua rumah memang terbuat dari kayu tetapi pilarnya sudah dari beton semua. Semua punya AC dan punya mobil yang diparkir di pinggir-pinggir jalan. Kampung ini terdiri dari 5 kecamatan, punya sekolah, rumah sakit, kantor pemadam kebakaran, dan fasilitas lainnya. Kampong Ayer ini adalah asal muasal Kesultanan Brunei. Sekarang populasinya hanya sekitar 11.000 jiwa dari sekitar 30.000-an. Banyak yang pindah ke “daratan” yang mungkin lebih praktis, memang sih kami lihat banyak rumah kosong ditinggalkan begitu saja. Selain itu banyak masalah sampah, pengelolaan limbah juga.

  1. Royal Regalia Museum

Baru di museum ini pengunjungnya harus nyeker hahahahha. Harus lepas sepatu, tapi boleh pakai kaos kaki atau sandal hotel yang disediakan pihak museum. Kami sempat kesasar nyari museum ini, jebul oawaaaah tiap kali pergi juga dilewatin. Dari luar blas ga kelihatan seperti museum. Kaya gedung tidak terpelihara gitu. Ternyata dalamnya mewah. Sejuk ber-AC. Rapi jali. Di sini kita harus menitipkan semua barang-barang di loker, termasuk kamera dan handphone. Masuknya gratis. Dan ternyata besar. Isinya berbagai koleksi benda-benda kesultanan serta berbagai hadiah untuk Sultan dari negara sahabat maupun dari rakyatnya. Kayanya Sultan Brunei sangat dicintai rakyatnya karena hadiah rakyatnya banyak banget. Setelah capek keliling, nanti kita turun di bagian hall di muka, dan boleh foto-foto di situ.

  1. Oil and Gas Discovery Center, Seria

Ini adalah museum minyak ke tiga kami setelah Petrosains dan Oljemuseum. Entahlah Puput kayanya ga cukup sama kerjaan, sampai libur pun pengen lihat ginian. Kami ke Seria, sekitar 100km dari BSB. Satu jam perjalanan deh, wong nggak ada macet walau bola-bali kebabalasen. BTW, Google Maps di Brunei ga bisa disetting “Drive” nggak ada suara Mbak-nya yang memandu “….in 400 meters turn left….” Tapi akhirnya kami sampai juga. OGDC ini berada di kamp Shell, perusahaan minyak terbesar di Brunei. Warga Brunei kok kalem-kalem aja ya minyaknya ditambang asing semua ckckck hahahha. Center-nya kecil tapi cocok buat anak-anak karena kebanyakan malah Dinosaurs Park. Ada beberapa mainan edukatif buat anak dan dewasa. Kami satu-satunya pengunjung waktu itu hahahahha. Kami sempat mampir makan, dan memang banyak orang orang asing di sini.

  1. Billionth Barrel Monument, Seria

Monumen ini dibuat pada tahun 1991 yang menandakan produksi minyak Brunei yang ke ….billionth….. Ennnggggg ke satu milyar barel. Lumayan buat foto-foto. Lokasinya di pinggir pantai dan banyak pompa minyak yang sedang bekerja di sekelilingnya.

  1. Pantai Jerudong

Dalam perjalanan pulang kami melipir ke Pantai Jerudong karena Ola eek dan harus dicawiki hahahahahha. Di pinggir pantai ada pasar ikan dan sayuran. Banyak orang mancing.

  1. Museum Teknologi Melayu

Museum ini memamerkan miniatur rumah-rumah tradisional di Brunei, mata pencaharian orang-orangnya. Gratis.

  1. Museum Maritim

Berada di sebelah Museum Teknologi Melayu, sesuai namanya, isinya koleksi kemaritiman. Termasuk sebuah kerangka ikan paus yang masih lengkap. Gratis juga.

Guys, karena ini ternyata sudah 2000 kata lebih, daripada kalian eneg, yang “20 Hal yang harus kamu ketahui tentang Brunei Darussalam, nomor 9 bakal bikin kamu melotot”, jadi postingan berikutnya aja ya.

See you soon. Kecup klomoh dulu.

Advertisements

13 thoughts on “Jalan-jalan ke Negeri Sultan: Tips Wisata di Brunei”

  1. Mbok, dosenku serombongan pernah ke sini dan foto-foto di depan Istana Nurul Iman, dan beliau serta rombongan ditanyai salah satu orang sana. Ketika jawab dari Indonesia, terus orang itu masuk; balik keluar lagi sambil ngasih uang kakakakaka. Tiap rombongan dosen dikasih uang semua hahahahah
    *Mungkin karena rombongannya sepuh-sepuh semua; rata-rata pensiunan dosen dan ngadain gathering di Brunei 😀
    Itu kalau sempat judulnya sama kayak Tribun bakal dihujat sama netijen mbok 😀

    Like

    1. Huhahahaha. Anak2ku dapat duit juga di masjid ali omar. Aku wis nyadong berharap simboknya dapat 100 ringgit kan lumayan buat bayar hotel je ditinggal pergi begitu aja hiks

      Like

    1. Tanya sendiri aja ya. Kalau dia ga bisa, siapa tahu dia punya temen yg bisa. Brunei sih kecil. Tapi aku yo kesasar terus gara2 gmap itu hahaha

      Like

    1. Sim indonesia bisa buat di mana2 kalau buat turis. Kalau residen baiknya punya sim lokal. Tapi sejak tahun lalu di malaysia ga bisa bikin sim lokal

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s