Drama Ketinggalan Pesawat ke Kelantan


“Cup, besok kita berangkat jam berapa?”

“Pesawate jam 8 to, berangkat jam setengah 6 aja cukup.”

“Cukup po?”

“Cukup.”

Yo wis lah, sebagai istri yang manut suami saya nurut. Dalam hati sebenarnya merasa cukup juga sih. Biasanya kami kalau terbang internasional berangat dari rumah sekitar 3 jam sebelumnya, kalau pagi-pagi buta tanpa macet. Lha ini cuma Kelantan doang, terbang domestik nggak pakai pemeriksaan imigrasi segala, beda setengah jam harusnya cukup kan? Harusnya.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kami berangkat naik mobil, karena hanya pergi 2 malam 3 hari, parkirnya lebih murah daripada harus bayar taksi bolak-balik. You know lah, jarak dari KLIA ke pusat kota KL sana sekitar 48km, kalau jarak ke rumah bisa sampai 60km.

Kok ya ndilalahnya ada aja kejadian di jalan. Puput suka lewat Sungei Besi, itu lho dekat Terminal Bersepadu Selatan (kalau kalian pernah ke Melaka naik bus pasti naiknya di TBS). Nah saya selalu bilang kalau habis TBS agak ribet jalannya, mlungker-mlungker, sekali salah masuk jalan ya muter. Saya lebih senang lewat tol MEX langsung melewati KBRI. Tapi ya sudah, manut suami wong dia yang nyetir.

Ternyata benar setelah TBS salah masuk bolongan, akhirnya kudu muter. Tapi cuma sebentar sih sebenarnya. Oliq sudah ribut aja. “Ini jalannya udah bener belum?”

Eh berikutnya ada masalah lagi ketika kami di pintu tol. Kami pakai teknologi yang namanya Smart Tag. Jadi itu alat dimasukin kartu dan harusnya digantung di spion dalam, mobil hanya perlu melambatkan jalan tanpa berhenti nanti detektor pintu tol sudah bisa mendeteksi dan secara otomatis pintu terbuka, dengan keterangan sisa kredit kita yang ada dalam kartu.  Tapi Puput ga mau katanya rawan dicuri. Ya ampun selo banget nyolong Smart Tag wong mobil mbedogrok berbulan-bulan di jalan aja ga ada yang nyolong. Jadi kalau tanpa alat itu kita harus berhenti sebentar dan nge-tap kartu ke alat. Orang-orang sini manja bener ya, berhenti sebentar buat nge-tap kartu aja nggak mau, beda sama orang kita rela antre gara-gara ga mau beli kartu hahahahha. Oh ya, hampir semua tol di Malaysia sudah tidak menerima bayaran tunai, hanya menerima uang ketika mau tambah saldo kartu saja.

Jadi kami masuk ke jalur Smart Tag, eh nggak terdeteksi. Tertulis “No Smarting” kami terpaksa mundur lagi, Puput malah tetep nggak percaya. Dia masuk lagi ke jalur sebelahnya yang juga Smart Tag. Tenan to, gagal meneh. Udah gitu di jalur itu ngga ada mesin buat tap kartu. Orangnya marah-marah. Akhirnya mobil mundur lagi masuk ke jalur sebelahnya yaitu jalur Touch ‘n Go yang harus tap kartu.

Kami melanjutkan perjalanan menuju KLIA. Sombong banget lah trip kali ini, berangkat naik Malaysia Air, pulang naik Malindo. Sebagai bocahe AirAsia, kami sama sekali nggak akrab dengan parkiran KLIA. Puput sih sering naik MH kalau pas dinas kantor tapi kan biasanya dia berangkat naik KLIA Express jadi sama sekali belum pernah parkir di KLIA. Kalau di KLIA2 kami sudah sangat akrab denga parkiran maupun bandaranya.

Ternyata cari parkiran di KLIA susah juga, kami muter mulai dari lantai ground sampai atas ga nemu. Baru nemu di lantai 5, itu udah muter-muter penuh semua. Pas sampai Puput bilang, “Masih cukup waktu.” Saya sudah sangat nggak yakin karena itu sudah nyaris 1 jam sebelum penerbangan.

Jalan dari parkirannya ternyata cukup jauh juga. Dan bener juga sampai check in area penuuuuuuuuuh banget. Maklum ya long weekend Natal, kayanya seluruh KL tumplek blek di bandara.

“Ini udah masuk 1 jam lho aku nggak yakin bisa,” Saya bilang demikian. Melihat antre yang mengular kami coba peruntungan lewat check in kiosk yang ternyata muncul nama kami tapi sudah tidak bisa check in.

Akhirnya Puput nanya ke mas-mas petugas dan dibilang memang sudah tidak bisa check in. Seharusnya paling lambat tiba 90 menit sebelum keberangkatan. DUENGGGG.

Puput bilang seharusnya 1 jam sebelumnya masih bisa. KLIA2 dan LCCT dulu sih memang gitu. Apalagi Adisucipto, berangkat dari rumah 1,5 jam sebelum keberangkatan penerbangan internasional aja berani.

Faktanya kami tetap harus beli tiket baru.

Oliq nangis gero-gero, “Jadi pergi gaaaa? Jadi gimanaaa?”

Ola nangis gero-gero, “Mau donaaaat. Ola mau donaaat.”

Pakne nesu-nesu. Mbokne ngelu.

Ini sungguh WKWKWKWKKKKKK.

Kami lalu antre di loket tiket. Puput buru-buru Subuhan, sementara saya sudah salat di mobil tadi. Ternyata bisa direschedule dengan penerbangan siang puku 14.30, dengan penalty fee RM 106 per orang. Jadi jatuhnya RM 424 berempat atau sekitar Rp 1.400.000. Huhuhu ha daripada nggak jadi berangkat kan rugi bandar bolak balik plus bookingan hotel.

Jadi ini ceritanya saya dapat voucher dari nganu sebesar nganu untuk booking flight + hotel. Hitung-hitung hampir bakbuk dengan penalty fee keterlambatan ini. Untung dikit lah tapi rugi banyak di sisi moril wakakakkakaka.

Pancen saya enggak berjodoh sama hal-hal yang berbau gratisan. Dulu pernah tulisan diterbitkan di Travel3Sixty AirAsia, gratisan hotel bintang 4 ga kepakai. Terus pernah dapat voucher apalagi gitu akhirnya hangus. Nggak apa-apa lah ini artinya kami Puput harus bekerja keras untuk membiayai trip-trip kami.

Habis dapat tiket baru, kami lega. Oliq pun udah bisa senyum lagi walau dibilang harus nunggu 7 jam di bandara. Ola masih keukeuh semekeuh minta donat.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kami menghabiskan waktu di Anjung. Letaknya di belakang area check in. Lorong menuju anjung saja sudah cantik, dengan murah-mural nan instagrammable. Anak-anak senang sekali main di anjung ini karena ada playground lumayan luas dengan pesawat-pesawatan dan replika air traffic controller tower. Waduh anak dua itu heboh lari-larian.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dari sini viewnya luas dan Oliq dan Ola senang karena pesawatnya beraneka ragam. Kalau di KLIA2 kan Airasia doang ya. Di sini dia bahkan bisa mengenali Air Mauritius hanya dengan lihat tailfin-nya yang bikin bapaknya kepincut pengen ke sana. Ola heboh sendiri lihat Batik Air *anaknya emang domestik banget*

SAMSUNG CAMERA PICTURES

“Mama, kalau Batik Air temennya wawa Qantas?” Muka simboknya datar doang enggak ngerti mau jawab apa.

Sementara anak-anak main, saya mengirim Puput untuk beli kopi dan sarapan. Saya jadi bisa jenak update status #pentingSAMSUNG CAMERA PICTURES

Tujuh jam ternyata cuma segitu doang ya hahahaha. We survived that easily, menghabiskan waktu dengan foto-foto dan peluk-pelukan syar’i.

Kami check in lagi sekitar 2,5 jam sebelum keberangkatan. Dan lalu menunggu di waiting gate. Ternyata pesawat Malaysia Air yang membawa kami ke Kelantan penuh, karena memang ada rombongan umrah yang mau pulang. Alhamdulillah, masih harus bersyukur walau bayar penalty fee kami masih dapat seat. Coba kalau enggak, berarti harus direschedule besoknya atau terpaksa beli tiket baru dengan maskapai lain.

Setelah satu jam terbang ajrut-ajrutan kami tiba di Bandara Sultan Ismail Petra, Kota Bharu, Kelantan. Negeri Darul Iman.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dengan ini saya nyatakan daftar pengalaman sial saat travelling bertambah lagi.

Advertisements

22 thoughts on “Drama Ketinggalan Pesawat ke Kelantan”

    1. Tepat Mak. Nek bandara ning KL kan lumayan. Ha nek bandarane model Jeddah ngono yo mumet aku. Makane nek entuk tiket murah nganggo Saudia ora sido2 dijupuk

      Like

  1. Nah, pas memutuskan mau berangkat jam berapa ke bandara, ada 1 hal lagi yang harusnya dipertimbangkan Mbok: bandara baru. Aku juga selalu nyasar dan muter-muter kalo di bandara baru. Pengalamanku hampir sama, naik Malindo Air di KLIA dan NYARIS TELAT.

    Kami masih punya banyak waktu pas nyampe di KLIA. Tapi, yah, foto-foto ndisik, lingguh-lingguh disik terus kepenaken, nggak kerasa udah mau boarding. Sialnya, kami harus naik Aerotren karena Boarding Gate ada di gedung seberang. Lari-lari ke boarding room, ngos-ngosan, tinggal kami yang belom naik hahaha. Saat itu status udah Closing Gate, dan seingatku kurang dari 1 jam sebelum terbang mbok. Berarti mungkin juga tergantung maskapainya apa. Itu buat penerbangan internasional lho.

    Like

    1. Kalau bandaranya udah hapal Nug. Cuma parkirannya ga tau bakal sepenuh itu. Klia2 90 menit, kami ngiranya juga 60 menit buat domestik

      Like

  2. Entah kenapa baca cerita sial saat travel Mbak dan keluarga itu malah bikin aku senyum senyum sambil ikut deg-degan 😀 Tapi gak kebayang kalo aku sendiri yang ngalamin kayak gitu, pasti udah panik 1/2 mati dan mungkin diiringi dengan tangis bombay 😦

    Like

  3. Semalam tulisan ini gak bisa dibuka. Aku sampe terbang ke Italia loh buat baca tulisan ini mbak Olen.

    Kurang apalagi aku coba sebagai fans setia.

    *Sungguh komen yang WKWKWK banget.

    Saat diundang Citrawarna tahun lalu, aku pulangnya dianter sama pacarnya panitia. Jadi si panitia ini mau ke Jepang. Dia di KLIA dan bener. Kok ya aku mumet liat area parkirannya hwhw.

    ——
    Lalu komen ini sebetulnya mau diposting kemarin, eh pas enter, error. Panjang ya perjuangan buat komen di sini hahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.