Ribuan Tahun Hidup Cappadocia


Ini postingan serius. Kalian boleh saja eker-ekeran masalah Erdogan dan keberadaan Kedutaan Israel di Ankara, tapi dijamin kalian akan sepakat terpesona bersama bila berkunjung ke wilayah negara Erdogan yang satu ini.

Cappadocia. Kapadokya. Namanya saja sudah romantis bukan? Sama romantisnya dengan nama Olenka.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Love Valley

Olenka berdiri di ujung Pigeon Valley, menatap nanar burung-burung merpati yang terbang. Dia tengah gundah gulana mencari makna dari kisah cintanya di Cappadocia. Romantis banget kan, bisa jadi scene FTV, asal tidak berubah menjadi sinetron hidayah karena Olenka kena azab ketelekan manuk.

Sudah, sudah. Ini mau jadi tulisan serius. Hampir tiga tahun berlalu dan sepertinya saya belum pernah menulis sejarah tempat yang panoramanya terasa magis ini. Cappadocia berada di region Anatolia, di Turki bagian Asia. Saat ini yang dinamakan Cappadocia adalah suatu daerah gabungan dari provinsi Aksaray, Nevsehir, Kayseri, Kirsehir, dan Nigde. Bila datang dengan pesawat biasanya kita akan mendarat di Kayseri yang bandaranya lebih besar, atau Nevsehir yang jaraknya lebih dekat. Kota yang dituju turis adalah Goreme hingga ke Urgup.

Goreme sudah dihuni suku Hittite sejak 1200-1800 SM. Berabad-abad Cappadocia diperebutkan berbagai kekuasaan besar peradaban lampau seperti Persia, Iskandar Agung, Byzantium, Romawi, hingga Utsmani.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Pigeon Valley

Tentu saja yang paling menyolok dari wilayah ini adalah lanskap yang luar biasa unik. Batu-batu menjulang tinggi, hingga setinggi 40 meter, dulunya dihuni maka masih terlihat bekas-bekas jendela, pintu, bahkan ruangan gelap yang dulunya dapur.  Bentuk batunya pun menarik,  tapi yang paling mempesona tentu saja yang biasa disebut fairy chimneys. Pilar batu tinggi menjulang, di ujungnya ada seperti topi. Yang kalau dilihat-lihat memang bentuknya jadi seperti….eng….titit. Yeah, penis, para pembaca.

Jangan kuatir, bentukan batu-batu itu ada penjelasan ilmiahnya. Pilar batu itu terbentuk secara alami, bukan sengaja dibuat manusia. Untuk gua-gua batu tentu lain lagi penjelasan.

Jadi ceritanya demikian. Lanskap Cappadocia sekarang adalah hasil dari letusan gunung berapi purba Erciyes sekitar 2,7 juta tahun silam. Erupsi gunung itu menyebarkan abu yang sangat tebal. Setelah berabad-abad lamanya,  abu tebal itu memadat menjadi batu lunak yang disebut sebagai “tuff” atau tufa dalam bahasa setempat, tebalnya hingga puluhan meter. Dilapisi oleh lapisan basalt. Erosi dan angin menyebabkan batu-batu lunak itu membentuk berbagai pilar, bukit, pegunungan. Sementara itu lapisan basalt lebih keras daripada tufa dan lebih lambat mengalami porosi sehingga membentuk semacam topi berbentuk jamur di tiap-tiap pilar yang masih berdiri.

Sementara itu yang tidak kalah mempesona adalah gua-gua batu. Siapa yang awalnya tinggal di sana?

Percayalah, sejarah di daerah itu sangat rumit. Kekaisaran bergantian mengklaim Anatolia sejak jauh sebelum Masehi. Pada era Romawi, Cappadocia diberi kekuasaan penuh dengan dukungan Roma, melawan Kekaisaran Pontus dan Armenia.  Dalam perang saudara Romawi, penguasa berkali-kali ditumbangkan dan dibunuh. Cappadocia sempat berada di bawah Magnus Pompey, Julius Caesar, Marcus Anthony hingga Octavian. Di masa Tiberius – pada tahun 17 setelah Masehi – penguasa Cappadocia dipanggil ke Roma dan kedaulatan dicabut, diubah hanya menjadi salah satu provinsi Romawi. Ribet bin bundet. Mungkin seperti Games of Throne with less nudity and doggy-style scenes.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Karikli Kilise

Orang-orang Goreme banyak yang awalnya adalah kaum Kristen yang terdesak akibat perang dan pergantian kekuasaan. Mereka pindah ke daerah Cappadocia yang relatif terisolasi. Pada abad 4 orang-orang Goreme mulai menyadari bahwa batu-batu lunak bisa dipahat dan digali untuk menjadi gereja dan biara. Juga rumah-rumah. Tinggal di dalam gua-gua batu membantu mereka bertahan dalam musim dingin serta tiupan angin kencang.

Atas arahan Saint Basil of Caesarea, gua-gua digali dan dipahat. Awalnya gereja dan biara dibiarkan minimalis tanpa hiasan, hanya simbol salib. Setelah era itu, mulailah dibuat gereja yang lebih warna-warni dengan gambar-gambar.

Gereja kuno yang terbesar saat ini adalah Tokali Kilise. Selain itu ada Elmai Kilise, Azize Barbara Kilisesi, Yilanli Kilise, dan Karanlik Kilise. Beberapa di antaranya berada dalam kompleks Goreme Open Air Museum, yang bisa dikunjungi sekaligus walau bagian dalamnya tidak boleh difoto.

Saya pernah kan ya menyebutkan bahwa Goreme Open Air Museum adalah museum favorit kami hingga saat ini. Di tengah musim dingin bersalju, Oliq rela memasuki tiap gua dalam kompleks besar ini dengan riang gembira.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Dervent Valley

Pasabag atau Lembah Biarawan

Pasabag terletak di jalan menuju kota Zelve. Dulunya ini adalah biara pertapa Simeon. Biarawan Simeon dulu tinggal di dekat Aleppo, namun kemudian tersebar rumor bahwa ia adalah orang sakti. Ia merasa terganggu oleh semua perhatian yang berlebihan hingga pindah dan lalu memilih tinggal di atas pilar setinggi 2 meter. Lalu pindah lagi di dalam pilar setinggi 15 meter. Pilar itu dilubangi dari bawah hingga ke puncak atas. Di atas, dilubangi menjadi beberapa ruangan. Biarawan Simeon hanya turun bila akan mengambil makan dan minum yang disiapkan oleh muridnya.

Pasabag ini salah satu lokasi favorit saya karena memang fairy chimney-nya luar biasa menakjubkan. Sangat fotogenik.

Pulang dari Pasabag, di tengah musim dingin dengan kehamilan 5 bulan, saya kebelet pipis. Mau ditahan sampai Goreme sudah tidak kuat lagi. Akhirnya pipis di pinggir jalan, di sebelah mobil. Pas selesai pipis, ada mobil lewat dan sopirnya melambai. Aduh, bokong!

Love Valley

Love Valley atau Lembah Cinta terletak di antara kota Goreme dan Goreme Open Air Museum. Kenapa dinamakan Love Valley? Karena formasi pilar di sini memang sangat mirip dengan organ kelamin laki-laki, dengan lapisan basalt di bagian ujungnya. Jumlahnya banyak dan ukurannya sangat besar. Sayang kami kesulitan mendapatkan foto yang bagus karena waktu itu mendung dan gerimis. Dan dinginnya luar biasa karena berada di lembah terbuka sehingga angin langsung menembus tulang tanpa ada lagi yang menghalang.

“Mamaaa, ayo balik ke mobil aja,” kata Oliq gemetaran. Kami jadinya cuma sebentar gara-gara angin yang sangat kencang. Jari-jari tangan saja sampai sulit digerakkan.

Uchisar dan Ortahisar

Gua batu tidak hanya dipahat menjadi rumah maupun gereja, melainkan juga menjadi kastil dengan puluhan kamar. Uchisar terletak antara Goreme dengan Nevsehir, hanya sekitar 5km dari pusat Goreme. Kastil ini memang besar dengan puluhan kamar yang saling berhubungan, dan bertingkat-tingkat, dilengkapi dengan tangga. Di bagian bawah ada terowongan yang saling menghubungkan.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Uchisar Castle dan masjid modern

Kastil-kastil semacam ini dulu berfungsi juga sebagai benteng pertahanan. Di bagian puncak kastil ada makam tua zaman Byzantium yang sudah rusak karena erosi. Banyak ruangan yang sekarang menjadi sarang burung merpati yang memang banyak hidup di daerah sini.

***

Cappadocia Sekarang

Tidak disangkal, pariwisata memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari orang (terutama) Goreme, di mana menjadi pusat wisatawan. Hotel-hotel di sini banyak yang merupakan restorasi gua-gua tradisional. Cave hotels layak dicoba kalau kalian ke sini. Kami memilih menginap di hotel yang bukan gua karena Oliq lebih suka yang modern. Well, hotel kami dibilang modern sekali juga tidak sih, cuma jelas lebih tidak klaustrofobik daripada kamar gua.

Kalau berkunjung ada musim dingin, siap-siap kecewa seperti Puput karena cuaca tidak baik dan balon udara tidak terbang. Musim dingin di Cappadocia sangat dingin, bisa mencapai di bawah titik beku. Hujan salju pun sesuatu yang biasa terjadi.

Pilihlah hotel yang dekat dengan pusat kota, banyak restoran  di sana. Di Goreme lumayak banyak pilihan restoran, tapi memang harga turis. Makanan utama adalah roti-rotian. Breakfast kami di hotel adalah variari roti, keju , dan selai. Rotinya enaaaaaaaaak.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Sarapan roti di hotel

Di jalan utama juga banyak jajaran penjual suvenir. Orang-orang Turki sangat suka dengan anak kecil sehingga biasa saja bagi mereka memberi suvenir atau cokelat pada anak-anak. Kalau Anda tipe protektif, ya siap-siap saja kuatir terus karena anak Anda bakal sering disentuh, dielus kepalanya, bahkan digendong. Kalau kami termasuk orangtua selow. Oh ya, cerita orang Turki yang suka anak-anak ada di sini.

Kebanyakan orang akan mengikuti tur untuk mengelilingi Cappadocia, Red Tour biasanya cocok untuk firsttimer, dan Green Tour untuk yang lebih tangguh dan berpengalaman. Kami sewa mobil sendiri, pengalamannya pernah ditulis Puput di sini, jadi lebih fleksibel berkeliling. Rute kami mengikuti rute Red Tour plus plus.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Pasabag alias Monks Valley
  • Goreme Open Air Museum
  • Ihlara Valley
  • Love Valley
  • Dervent Valley
  • Uchisar
  • Orthahisar
  • Urgup
  • Pigeon Valley
  • Zelve
  • Pasabag
  • Avanos ngisi bensin doang wakakakka

 

Masih banyak sekali tempat di Cappadocia (apalagi seluruh Turki) yang belum kami kunjungi. Pamukkale, Ephesus, Nemrut, Bursa, Galipoli masuk dalam bucket list berikutnya. Ingin suatu hari kembali ke sana.

Advertisements

4 thoughts on “Ribuan Tahun Hidup Cappadocia”

  1. menyenangkan memang di Goreme, orangnya selow, makanannya enak dan buah2an murah, kotanya juga tenang, dan sejauh mata memandang cuma terlihat bukit-bukit unik yang tak berpenghuni. Ngomong soal Yahudi, waktu menginap di hostel barengan sarapan dengan sepasang suami istri orang Israel yang setelah napak tilas leluhurnya pinggir danau dekat Konya sekalian ke Goreme. Pas ditanya pemilik hostel yang warga New Zealand “apa tidak takut jalan2 berdua di Turki” jawabannya “Orang Turki baik kok ke orang Yahudi dari dahulu”. Kami bengong, bener juga ya, mereka aman berbisnis di Turki dari zaman khalifah sampai sekarang. Goreme/Capadoccia sangat mengesankan buat kami.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.