Berburu Kunang-Kunang di Cherating


Saya tidak ingat kapan terakhir kali melihat kunang-kunang di Jogja. Mungkin sudah 30 tahun yang lalu. Dulu saya mengira kunang-kunang adalah kuku orang mati yang beterbangan. Kepercayaan anak-anak di daerah saya waktu itu demikian. Jadi saya selalu berpikiran bahwa Pemakaman Tambak Boyo – yang tidak jauh dari rumah – kalau malam pasti cantik karena banyak orang mati yang kukunya beterbangan di sana.

Kuku orang mati. Meh.

Ya, gitu deh. Namanya anak kecil.

Kalau saya dengan Puput saja sudah puluhan tahun tidak melihat kunang-kunang, apalagi anak-anak yang baru muncul di dunia ini beberapa tahun terakhir. Mereka tidak pernah merasakan hidup di lingkungan di mana masih sepi penduduk. Bertahun-tahun pindah dari apartemen-rumah-apartemen yang padat penduduk. Maklumlah, kontraktor. Hobinya pindahan kontrakan wakakak.

Hafiz Cherating Activities

Jadi ketika kami hendak berwisata ke Cherating ,salah satu tujuan utama adalah ikut tur kunang-kunang. Cherating adalah sebuah kota di negara bagian Pahang sebelah utara, sudah berbatasan dengan negara bagian Terengganu. Bahkan, kalau naik mobil ke sini, kita sempat menyeberang ke perbatasan Terengganu di jalur tol baru kembali ke Pahang. Wisata utama di Cherating itu pantai, yang memang bagus-bagus sih. Kota ini semacam resort areanya orang-orang Malaysia. Ada banyak hotel mewah di pinggir pantai hingga ke utara Kuala Terengganu sampai ke Pulau Perhentian dan Pulau Redang yang dekat dengan negara bagian Kelantan.

Selain pantai, atraksi utama adalah Sungai Cherating yang ditumbuhi mangrove. Di tepi Sungai Cherating banyak holiday homes, villa, penginapan yang disewakan untuk wisatawan. Wisatawan asing juga banyak di sini. Kalau siang biasanya mereka melakukan aktivitas sungai, misalnya rafting, tubing, atau sekadar ikut mangrove boat tour.

Hafiz’s Cherating Activities adalah operator tur yang paling besar di Cherating. Paket tur yang paling terkenal adalah Fireflies Tour atau tur melihat kunang-kunang. Tur ini dilakukan pada malam hari lepas magrib.

Kami berangkat dari penginapan kami di Samsuria menuju ke Hafiz, setelah sebelumnya memesan tur melalui Whatsapp. Kira-kira 15 menit kami sudah tiba. Tidak menyangka juga bahwa peserta tur sangat banyak, lokal maupun internasional. Tiket RM 30 untuk dewasa dan RM 20 untuk anak-anak. Durasi tur 1 jam.

Sebelum berangkat kami diberi briefing oleh Encik Hafiz. Dia menjelaskan berbagai hal tentang kunang-kunang, atau kelip-kelip dalam Bahasa Malaysia. Pteroptyx bearni adalah jenis kunang-kunang yang ada di Cherating. Kedip-kedip dalam perut kunang-kunang adalah bentuk panggilan kepada lawan jenis. Kunang-kunang jantan nyalanya lebih terang daripada betina.

Bahasa kitanya flirting gitu loh. Jadi kalau kedip-kedipnya dibalas lawan jenis, kawin deh. Ngono.

Dulu, sangat mudah mendapati kunang-kunang, kata Cik Hafiz. Sekarang dengan pertambahan jumlah penduduk dan pembangunan di mana-mana, harus menyusuri sungai hingga 5km untuk bertemu kunang-kunang.

En. Hafiz sedang memberi briefing

Kami diberi briefing apa yang harus dilakukan. Tentu, tidak boleh memotret karena cahaya kamera maupun ponsel akan menakuti kunang-kunang. Cik Hafiz sudah bertahun-tahun melakukan penelitian kunang-kunang ini dengan profesor dari Jepang dan menemukan sebuah sinar frekuensi tertentu yang dapat mengundang kunang-kunang.

Perahu-perahu yang mengangkut penumpang

Jaket pelampung dibagikan dan kami bersiap berangkat. Saat itu ada 5 buah perahu yang memberangkatkan peserta tur. Perahunya memiliki mesin dengan suara yang halus. Beruntunglah saya, Puput, Oliq dan Ola dapat bangku paling depan. Perahu menyusur sungai. Tidak pelan seperti river cruise biasanya, laju cukup kencang. Di suatu titik semua perahu berhenti, Cik Hafiz yang menumpang perahu kecil memberi pengarahan di mana harus melihat. Ternyata benar di beberapa pohon kunang-kunang banyak sekali, berkedip-kedip menggoda lawan jenisnya.

Kami berhenti di beberapa titik. Kalau pusat kunang-kunang berada di kiri, Cik Hafiz akan berada di sisi paling kanan. Ia akan menggerak-gerakkan senter khususnya sehingga kunang-kunang dari pohon akan terbang melewati para peserta tur. Awalnya saya khawatir Ola takut, makanya sebelumnya saya sudah mewanti-wanti anak-anak agar jangan ketakutan kalau didekati kunang-kunang. Ternyata malah pada kesenangan.

Seekor kunang-kunang hinggap di telapak tangan Puput, dan anaknya dengan bangga memamerkannya pada mbak-mbak bule di belakang. Ahemmm. Wis biasa.

Pada kesempatan berikutnya ratusan kunang-kunang seolah menyerbu kami. Kanan kiri atas kedip-kedip semua. Satu kunang-kunang sepertinya menyukai Oliq. Dia hinggap di kepala Oliq entah berapa lama, hingga kami pindah tempat pun masih belum terbang. Anaknya sibuk sendiri karena tidak bisa melihatnya.

Kunang-kunang adalah kumbang yang memiliki cahaya bioluminesens di perutnya. Ukuran tubuhnya lebih besar dari lalat.

Melihat kunang-kunang pertama kali

Anak-anak senang, orang tuanya pun senang. Anak-anak kami sungguh beruntung masih bisa mendapat kesempatan melihat kunang-kunang.

***

Hafiz Cherating Activities: http://hafizcheratingactivities.blogspot.com or contact +6017-978 9256/ +6017-940 6898.

Advertisements

16 thoughts on “Berburu Kunang-Kunang di Cherating”

  1. Wah iya ya, kalau aku ingat-ingat juga aku udah lama gak lihat kunang-kunang. Tapi juga gak sampai 30 tahunan sih. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu deh terakhir kali lihat. Soalnya rumah nenekku di kaki gunung Salak, masih banyak hutan, dan kalau malam banyak kunang-kunang beterbangan.
    Jadi ingat, dulu jaman masih anak-anak, suka nangkap kunang-kunang terus dimasukkin ke dalam botol atau toples. Jadi kaya lampu gitu. Kalau sekarang sih jangan yaaa, udah langka soalnya 😀

    Like

      1. Gak semua desa sih kayanya. Belakangan aku balik ke rumah nenekku, udah susah juga nemu kunang-kunangnya. Banyak yang berubah sekarang, suhu udaranya juga udah gak sesejuk dulu. Bisa jadi anak sekarang malah gak ngeh sama sekali apa itu kunang-kunang.
        Tapi kreatif juga ya Malaysia ini, segala liat kunang-kunang aja bisa jadi tur yang mendatangkan uang.

        Like

      2. Udah banyak lampu ya? Iya malaysia semua dijadiin uang haha. Tapi ya gapapa karena salah satu efeknya para pengelola dan masyarakat jadi berusaha melestarikan ekosistem

        Liked by 1 person

      3. Antara banyak lampu dan juga ekosistem mereka yang terganggu.

        Iya, dan itu salah satu ilmu yang bisa kita pelajari dari Malaysia sebenarnya. Sesederhana apapun potensi wisatanya, kalau dikelola dengan baik dan profesional pasti bisa menjadi sumber pemasukan juga.

        Like

  2. Ntah kapan trakhir aku ngeliat kunang2 :p. Kyknya sih pas masih di aceh, thn 80an itupun :p. Masuk ke 90an prasaan udh ga ada krn pembangunannya jg udh banyak.. Kayaknya kalo mw ngenalin ini ke anak2ku, hrs ikut tour ini jg mba 😀

    Like

    1. Nah kan iyaaa. Aku dulu zaman kecil masih main di kali, cari ikan, cari cacing, cari kepik dll..anak2 sekarang nontonnya di ipad huhuhuu

      Like

  3. di bantul tempat saudaraku masih banyak mba, taun kemarin kesana kayak yang surprise banget, hehe impianku buat liat kunang2 sejak kecil akhirnya terkabul juga, banyak pula kunang2nya sampai masuk2 teras gitu puas bangetlah pokoknya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s