Memilih Sekolah Anak di Malaysia


Mencari sekolah anak saja sudah tricky, apalagi di luar negeri, di mana kurikulum, biaya, dan budaya berbeda dengan yang biasa kita terima. Eh, enggak dink, saya bohong. Hahahah sebenarnya lebih gampang karena pilihannya juga lebih sedikit.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi pengalaman mencari sekolah anak, menuliskan rekomendasi beberapa sekolah, dan gambaran biayanya.

Oliq di hari pertama sekolah

***

Dulu, ketika kami pindah pertama kali ke Kuala Lumpur, Oliq masih berumur 2,5 tahun, jadi belum repot cari sekolahan. Sayangnya pada periode itu justru pengalaman kami tentang sekolah di KL buruk. Cukup traumatis buat saya. Ceritanya waktu umur 3 tahun saya memasukkan Oliq ke Kindergarten. Waktu itu pertimbangannya lokasi dan sok-sokan go local, jadi saya daftarkan ke Tadika biasa, selain karena perusahaan Puput waktu itu baru akan menanggung biaya sekolah anak di atas umur 4 tahun. Teman-temannya anak Malaysia semua, predominantly Malay, tadi ada beberapa China dan India juga. Oliq blas nggak mau lepas dari saya, jadi saya kudu nunggu di depan sekolahan. Itu pun dia bolak balik terus keluar.

Di situ dia ketemu dengan seorang teacher India yang “garang” dan tegas. Semakin takut lah anaknya. Hanya mau main sesekali dan sama sekali tidak mau belajar. Plus, pelajarannya dahsyat banget untuk ukuran pra TK. Sudah mulai mengeeejaaaaa. Oliq sama sekali nggak nyandak. Dia hanya mau dengan Teacher Anna, guru China. Tidak mau dengan yang lain. Pokoknya traumatis banget hingga makin lama makin enggan berangkat sekolah.

Pikiran saya tantangan pertama adalah kendala bahasa. Yang ke dua, mungkin anaknya memang belum siap untuk bersekolah. Akhirnya saya berdamai dengan kenyataan bahwa ya mungkin belum saatnya anak sekolah.

Tak disangkal saya tetap deg-degan jangan-jangan anaknya akan selamanya clingy seperti itu terus ga bakal mau sekolah selamanya. Ibu-ibu beranak satu memang biasanya lebay badai wakakakak. Kenyataannya tidak sama sekali. Ketika balik ke Jogja dan saya daftarkan ke TK ABA – almamater saya – hari pertama tanpa ditunggu langsung dilepas begitu saja.

Saya kasih gambaran sedikit tentang Tadika dan Taska di Malaysia.

Untuk Tadika dan Taska yang biasa-biasa saja, biasanya berada di dekat pemukiman penduduk, di ruko-ruko, juga berfungsi sebagai daycare dan transit untuk anak sekolah. Biaya berkisar antara RM 300-RM 600 per bulan (belum termasuk uang pendaftaran, asuransi, dan seragam), mulai pukul 08.00 hingga 15.00. Untuk jam sekolah tergantung.

Untuk Tadika sekolah internasional biaya bisa mencapai RM 10.000 per term (6 bulan), tambah uang pendaftaran sekitar RM 2000 dan deposit sekitar RM 6000. Lumayan banget nggak sih TK aja bayarnya 30 juta per semester belum termasuk biaya pendaftaran. Well, sebenarnya yang ini ga beda jauh dengan TK dan daycare di Jakarta yang bisa sampai Rp 5 juta sebulan.

Sementara itu TK internasional yang high end per term biasanya sekitar RM 15.000-21.000. Jadi bisa dibayangkan sebulan habisnya lebih dari 10 juta untuk satu anak. Nggak masalah sih kalau plafon pendidikan dari perusahaan bisa mencukupi. Kalau bayar sendiri ya emoh banget.

Beberapa rekomendasi adalah ELC di Cyberjaya, Alice Smith yang harganya ampun, banyak TK berbahasa Inggris dan juga berbasis Islam yang franchise. Boleh lihat iklannya di jalan tol hahha.

Oh ya, kalau tujuan utamanya adalah Bahasa Inggris bisa dipertimbangkan juga anak-anak untuk dimasukkan ke Smart Reader atau Eye Level.

***

Sekarang saya akan cerita tentang SD. Sebenarnya saya mulai school shopping di Jogja juga, rencana memang umur 6 tahu Oliq akan saya masukkan ke SD. Saya sempat ke sekolah milik teman saya Arief, Afkaaruna School yang mengusung konsep alam. Kurikulum yang dipakai pun Cambridge. Biayanya murah. Pertimbangan lain adalah Salman Al Farisi di dekat Jogja Bay karena dekat dengan rumah dan reviewnya lumayan. BIAS agak terlalu overcrowded menurut saya. Kebetulan saya dan Puput bukan termasuk sangat pemilih dalam hal ini. Nggak perlu yang favorit-favorit banget. Yang bagus biasa saja asal anak betah.

Saya dan Puput adalah produk SD Negeri favorit. Waktu itu hanya kami berdua yang sekolah di luar perumahan. SD yang daftarnya saja rebutan pagi-pagi buta, dan murid-murid masuk SD sudah dites. Tiga puluh tahun yang lalu, murid-muridnya sudah diantar pakai mobil – kadang dengan sopir pribadi. Cuma Mama Papa saya yang antar naik motor butut wekekek.

Jadi yaaa, kami tidak berambisi untuk menyekolahkan Oliq di sekolah terbaik dan termahal. Toh sekarang mutu pendidikan di Jogja sebenarnya sudah lebih merata. Banyak swasta baik juga.

Qadarullah Puput dapat kerja di Malaysia lagi awal tahun ini. Yang pertama kali saya pikirkan adalah cari sekolah untuk Oliq. Tempat tinggal menyesuaikan. Nah bingung-bingung lagi plus deg-degan keinget trauma Oliq nggak mau sekolah.

Awalnya kami sempat berpikir untuk menyekolahkan Oliq di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dekat Chow Kit, dengan bayangan lebih mudah adaptasi karena teman, guru, kurikulum Indonesia. Tapi, eenggg, reviewnya kurang OK. Dan kalau tidak sekarang kapan lagi Oliq mulai belajar Bahasa Inggris, kan?

Siapa tahu habis ini pindah ke manaaa lagi. Wekekek. Itu sih harapan Simboke.

Akhirnya saya tanya teman-teman saya yang masih di KL. Sebagian ibu-ibu yang tinggal di condo saya dulu menyekolahkan anaknya di sekolah internasional dekat dengan Ampang Point. Sebagian lain menyekolahkan anaknya di sekolah Oliq sekarang. Sekolah yang pertama lebih mahal daripada sekolah yang ke dua. Untuk biaya alhamdulillah kami tidak mempermasalahkan karena tunjangan pendidikan dari perusahaan Puput bisa mencover biayanya. Masih sisa dikit buat Simbok jajan gorengan sak bakule haha.

Keputusan kami ambil sangat cepat karena sekolah yang pertama “sangat bule” dan “sangat Korea”, sementara yang ke dua adalah sekolah Islam. Sekolah Oliq, International Islamic School adalah subsidiary dari International Islamic University Malaysia/ Universiti Islam Antarbangsa. Sekolah internasional rasa lokal ceritanya, karena walau mengikuti kurikulum Cambridge, berbahasa Inggris setiap saat, dengan sebagian besar murid adalah WNA, stafnya orang Malaysia – walau ada yang keturunan Timur Tengah atau negara-negara di subkontinen India.

Waktu itu saya masih tinggal di hotel, naik LRT hingga Gambak, dilanjut naik taksi untuk mendaftarkan. Sebelumnya, ketika masih di Jogja, kami sudah daftar online. Jadi waktu ke sini sudah bawa beberapa dokumen seperti rapor (ijazah TK Oliq belum ada), fotokopi akte kelahiran, foto kopi paspor anak dan ortu, dan pasfoto.

Ternyata begitu mengurus pendaftaran dan (harusnya) bayar uang pendaftaran, anak langsung dites penerimaan. OK, waktu itu saya ngutang uang pendaftaran soalnya uang di tabungan Malaysia saya masih ngenes banget, enggak sampai RM 2200 buat pendaftaran wekekek.

Kami dibawa ke gedung Primary. Saya disuruh nunggu di sofa, Oliq langsung digiring ke lift untuk dibawa ke lantai 4. “Aik takuut,” anaknya sempat ngomong begitu tapi mbaknya cuek aja nggandeng masuk lift.

Bisa dibayangkan saya deg-degan lagi kan, waktu itu Oliq belum bisa Bahasa Inggris sama sekali wkwkwkw. Plus nulis namanya sendiri masih salah-salah hahahahha. Tapi, ya alhamdulillah sepertinya tes cuma formalitas saja, dua hari kemudian saya ditelpon staf mengatakan Oliq masuk dengan hasil tes Bahasa Inggris ndlosor tapi Matematika bagus.

Sekarang masuk ke tahapan yang paling kalian tunggu. Biaya.

Seperti yang saya bilang tadi, sekolah Oliq ini untuk ukuran sekolah internasional di KL memang murah. Mungkin selain lokasinya di pinggiran, stafnya juga orang lokal. Untuk Primary gedungnya baru, untuk Secondary lebih lama. Di sini ada mulai dari Grade 1 – 13. Hingga A Level persiapan masuk universitas. Untuk yang terakhir bahkan disediakan asrama. Sayangnya tidak ada TK.

Grade 1 Oliq tahun ini ada 2 kelas, masing-masing kelas muridnya di bawah 20 anak. Teman-teman Oliq paling banyak berasal dari Bangladesh, kemudian Indonesia, Pakistan, ada beberapa dari Maroko dan negara-negara Afrika. Ada juga yang asli orang China dan Jepang yang muslim.

Oh ya, untuk ekspatriat yang mungkin gajinya tidak terlalu besar, bisa memilih sekolah sebelahnya yaitu Sekolah Setiabudi. Ini manajemannya sama, bawahan IIUM juga, namun tidak internasional. Tentu biayanya lebih rendah.

Biaya sekolah Oliq termasuk muraaaah deh. Kami membayar RM 15.000 untuk SATU TAHUN. Tahun ini tidak ada deposit – yang seharusnya RM 6000 – kalau kami langsung membayar untuk satu tahun. Ditambah dengan pendaftaran, seragam, buku, mungkin total yang kami keluarkan adalah Rp 50 juta untuk satu tahun.

Bandingkan dengan sekolah-sekolah internasional lain, misalnya Alice Smith yang maha dahsyat itu. RM 20.500 untuk kelas 1 per term.  Jadi sebulannya mencapai Rp 10 juta untuk satu anak. Untuk high school mencapai RM 30.500, atau sampai Rp 15 juta sebulan untuk satu anak.

Sekolah internasional  favorit lainnya adalah ISKL atau International School of Kuala Lumpur. Biaya untuk kelas 1 RM 65.000 per tahun atau sekitar Rp 12 juta per bulan, belum termasuk biaya pendaftaran. Untuk kelas 9-12 mencapai RM 100.000 atau 300 juta per tahun. Silakan monggo dibagi 12 biar ketemu biaya per bulannya. Sekali lagi, belum termasuk pendaftaran.

Sekolah internasional favorit untuk orang Indonesia salah satunya adalah Mutiara International Grammar School, biaya kelas 1 sekitar RM 6500 per term. Tapi ada biaya pendaftaran sebesar RM 6500 juga hehehe. Jatuhnya lumayan, yes.

Beberapa pilihan sekolah internasional berbasis Islam selain IIS adalah Idrissi International School, Al Baseerah International School.

Itu tadi membahas sekolah internasional untuk Primary dan Secondary.Kan biasanya ekspatriat memang nyarinya sekolah internasional , ya. Nah di bawah itu ada private school biasa.

Sekolah swasta sangat beragam biayanya, antara RM 5.000 hingga RM 15.000 per tahun. Untuk gambaran lebih lengkap bisa dibaca di sini: http://schooladvisor.my/popular/tuition-fees-for-year-1-private-schools-in-klang-valley/

Sementara itu sekolah negeri atau Sekolah Kebangsaan gratis, menggunakan kurikulum nasional Malaysia, bahasa Melayu dan Inggris. Ada juga SJK atau Sekolah Jenis Kebangsaan, yaitu Tamil dan China. Non warganegara boleh masuk ke Sekolah Kebangsaan namun harus memiliki Student Pass yang valid. Jadi tidak boleh hanya dengan visa dependent orang tuanya. Harus urus-urus dokumen macam-macam lagi.

***

Semoga cukup membantu teman-teman yang mungkin akan pindah ke KL ya. Atau akan interview pekerjaan, untuk pertimbangan minta gaji dan benefit.

KL enak kok buat hidup. Biaya hidup sama dengan Indonesia, cari makan dan bahan makan masih gampang, mau mudik mudah dan murah.

Lain kali saya akan membahas tentang les privat di Malaysia.

Advertisements

22 thoughts on “Memilih Sekolah Anak di Malaysia”

  1. Mantap mbak.
    Saya juga lagi nyari nyari tadika buat anak saya di shah alam.

    Tahun depan udah masuk 4 tahun. Prepare tadika…

    Mudah mudah dipermudah aamiin..

    Like

  2. Masya Allah, nak setahun aku bayar sekolah anak 300 juta. Trus sak wulane mangan opo?
    Eh tapi gaji bapaknya harus diadjust lagi deh 5 kalinya 😀
    Btw, dirimu KL nya dimana mbak? Siapa tau aku ada waktu main ke KL lagi, jadi bisa kopdar 🙂

    Like

      1. Hahahaha, yo iyo … Alhamdulillah pokoke nak dibayari kantor.

        Wah kebetulan, aku bola bali ning KL durung tau tekan Batu Caves. Bisa sekalian main ke area Gombak.

        Like

  3. Aku lhg itung2an ama biaya kukiahku dulu. Kok biaya tadika international di sana lbh mahal dr kampusku yg jg international wkwkwkwk.. Tp okelah, inflasi kali yaa mba.. Dulukan aku kuliah 2002-2006 :p . Aku jg suka kalo utk tinggal di malaysia. Pengeeen bgt kalo bisa ntr anak2 kuliah di sana aja. Jauh lbh murah drpd univ di indonesia yg ga masuk akal utk uang masuk aja kadang2

    Like

  4. hai mba..salam kenal ya, kebetulan saya jg mau pindah ke KL dan lagi cari sekolah SD untuk anak saya.. boleh tau kenapa SIKL reviewnya krg ok mba? makasih yaa..

    Like

  5. Hai mbk ..salam kenal
    Boleh tau apakah pindah sekolah tengah tahun ajaran (dr indonesia) itu lebih susah?
    Apa hrs nunggu awal thn ajaran malaysia dulu?
    Thx ya

    Like

    1. Tengah tahun ajaran bulan apa? Malaysia kalau swasta dan intl sama kaya Indonesia mulainya juni/juli. Agustus mulai sekolah. Kayanya gampang kok soalnya banyak temen2 anakku baru mulai masuk setelah sekolah mulai 4 bulanan.

      Like

      1. Sekitar februari
        Sempet googling ada yg februari itu awal semester 2 ya
        Oiya apakah ada semacam sekolah alam gitu di KL ato shah alam?
        Krn anakku bukan type yg bs duduk manis nulis dia gampang bosen
        Huhuhuu

        Like

  6. Hi mba salam kenal.. Saya juga rencana pindah ke KL bln Januari… Yg artinya pindah tengah semester (dari jkt).. Yg saya dengar informasi th ajaran di KL beda dg Jkt.. Anak saya saat ink kls 3 dan kelas 5…kalo th ajaran di KL mulai Januari artinya anak kita ngulang ya mba? Trims sebelumnya

    Like

  7. salam kenal mba😊
    Mau tanya ttg IIS, anak saya minat u/level upper secondary(boarding) disana. Apa satu lokasi dengan tadika juga?
    Kami baru mau survey bln Desember(masih menunggu konfirmasi dari sana)😊.
    Apa mba ada info u/level upper secondary IIS?
    Terima kasih sebelumnya😊

    Like

    1. IIS ga ada Tadika. Mulai dari Primary. Sepertinya di sekitar situ juga cuma boarding housenya ga tau di mana. Coba besok saya tanyakan klo pas jemput anak ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s