Itinerary dan Budget Bangkok-Ayutthaya


Kalau punya liburan pendek biasanya kami hanya melakukan road trip ke kota-kota sekitar. Tapi kali ini, karena Oliq sedang liburan term break, bolehlah menyeberang ke negara tetangga. Pilihan kali ini adalah terbang ke Bangkok karena Puput dan saya belum pernah ke sana bersama-sama. Saya beberapa kali ke Bangkok, namun hanya dalam rangka kerja, jadi belum sempat mengeksplor kota ini. Sementara Puput hanya pernah ke Bangkok bersama ibunya dan rombongan ibu-ibu pensiunan, yang kunjungannya ke….eengg…..pabrik batu mulia.

Wakakaka malesin kan.

Di Wat Arun. Sudah minta izin foto Bapak Biksu.

Oliq juga belum pernah ke Bangkok, walau ini bukan kali pertama ke Thailand karena dia pernah ke Krabi waktu umur 3 tahun. Sedangkan bagi Ola, Thailand adalah negara ke-6 yang dia kunjungi.

Kami menghabiskan 4 hari di Bangkok, well, practically 4 malam 3 hari karena sampai di Bangkok sudah lewat tengah malam. Dari KL memang sengaja ambil pesawat malam, puluh 20.50, nunggu Puput pulang kantor dulu. Berangkat ke KLIA2 sambil setengah deg-degan karena super macet. Maklum saja rush hour, Jumat dan hujan.

Tapi alhamdulillah drama di perjalanan berakhir dengan lancar hingga kami tiba di bandara masih cukup waktu buat ngejus dan ngedonat. Damai….sebelum…

Ola hilang.

Jadi ceritanya kami gantian salat. Selesai Puput salat saya berangkat ke surau. Eh Olanya nginthil nggak mau ditinggal. Surau sepi, saya tinggal salat magrib. Pas rakaat pertama dan ke dua Ola masih jalan-jalan di sekitar saya. Selesai magrib saya cari anaknya ga ada. Di tempat wudhu pun ga ada. Rukuh langsung saya lempar, saya nyeker sambil teriak cari Ola. Ada mbak-mbak yang  berdiri di seberang pintu toilet menunjuk ke satu arah, “That’s your kid?” Ola udah beberapa puluh meter jaraknya, di depan Dunkin Donuts. Tadinya saya pikir dia mau jalan balik ke Gate 7 tempat bapaknya nungguin. Ha kok kendel men? Masa sih.

Sambil nyeker saya lari mengejar. Ternyata Ola – yang nyeker juga – bersama mbak-mbak Filipina mau dibawa ke security. Anaknya ga nangis, mukanya lempeng aja. Duh, lemes simboke. Tenin.

Ola saya bawa balik ke surau dan saya salat isya ga khusyuk  blas dengan ekor mata tetap mengikuti anak ini. Duh duh.

***

Pesawat sempat delay sekitar 30 menit, kami tiba di Don Muaeng (DMK) pukul 23.00 WIB. Iyes, WIB, kan sama zona waktunya. Imigrasi tidak terlalu lama. Don Muaeng ini beda ya dengan Suvarnabhumi yang gemerlap dan belum lama direnovasi. Airportnya cenderung lebih tua dan diperuntukkan bagi maskapai LCC semacam AirAsia, Thai Lion, Orient Thai dan Nok Air.

Kami langsung beli SIM card, harganya THB 199 itu isi data unlimited apa ya….bisa untuk 7 hari. Kenapa harus beli SIM card? Karena butuh banget kalau kita pakai Grab atau Uber. Dari sini kami antre naik taksi. Antrenya puanjaaaaaang, tapi sebenarnya cukup efisien juga sih. Sopir taksi yang baru datang berjalan ke petugas menjemput penumpang. Jadi tidak rebutan dan tidak pilih kasih karena taksi yang laku bukan merk-merk tertentu seperti di Jakarta…begitchuuuu.

Nah, dari bandara ini biasanya sopir minta borongan, enggak pakai meter dan itu biasa banget di seluruh Bangkok. Jadi sebaiknya ngira-ira dulu berapa biayanya. Bisa pakai aplikasi Grab buat kira-kira karena sering juga taksi nembaknya malah lebih murah. Host kami bilang kira-kira THB 400 sampai Pratunam.

Komunikasi awal dengan sopir taksi kami kacau balau. Setelah mudeng destinasinya, si sopir nembak harga, “Tihalit incuding.”

“What?”

“Tihalit. Incuding.”

“Ha? Tihalit? Including toll fee? What tihalit? Ticket? Toll,” kami melongo ga dong.

Bapak taksinya ketawa-ketawa geli. Akhirnya dia ketik di hapenya, “300.”

“Oooooh three hundreeeeeed.” Serempak saya dan Puput mengangguk-angguk.

Bapaknya ngakak, “Three hundred. Yes. Three hundred.” Dan beberapa menit ke depan dia sibuk melafalkan pengucapan “three hundred”.

THB 300 itu sekitar Rp 90 ribu, tidak mahal untuk jarak 28km sudah dengan bayar tol. Makanya kami langsung mengiyakan. Bangkok tengah malam sudah tidak macet namun masih ramai.

City of Angels.

Kami tiba di apartemen sekitar pukul 1 dinihari. Kunci sudah ditinggal di mailbox yang tidak terkunci. Apartemen kami berada di Grand Diamond Building, di Pratunam, tepat di sebelah Platinum Fashion Mall. Apartemennya berkamar satu, dengan balkon yang menghadap ke sungai dan gedung-gedung. Ada  kulkas, kompor listrik, panci, peralatan makan, kulkas, microwave, TV dengan android box yang tidak kami nyalakan sama sekali, dan mesin cuci yang tidak kami pakai.

Lumayan enak apartemennya walau basic dan kecil. Sebenarnya masih banyak yang lebih murah dan lebih mewah tapi biasanya agak di pinggir, dan karena waktu kami yang sempit, lebih baik bayar sedikit lebih mahal tapi dekat dengan kota, tempat wisata, makanan (halal), dan transportasi.

Pada akhirnya saya sama sekali tidak naik transportasi umum, hanya naik taksi dan Grab karena…..murah….hahahha.

Itinerary

Day 1

Karena tidur sudah dini hari, kami memulai hari agak siang. Anak-anak saya buatkan nasi dengan rice cooker mini yang saya bawa, dan kari ayam instan yang dibeli Puput di supermarket 24 jam di bawah gedung. Convenient kan?

Hari pertama ini agak kacau, saya lupa kalau Grand Palace ditutup untuk seremoni duka Raja Bhumibhol Adulyajed yang meninggal tahun lalu, tapi begitu dicintai rakyatnya hingga masih dihormati hingga sekarang. Bahkan di pesawat FD (AirAsia Thailand) yang kami tumpangi pun didoakan.

Kami pesan Grab minta diantar ke Grand Palace. Sopirnya bilang ditutup, oh ya saya baru ingat. Dia sarankan kami sight seeing naik boat di kanal. Kami iyain aja karena anak-anak suka naik perahu. Kirain berapa ya harganya, ternyata sampai sana harganya THB 1700 buat sejam. …mbuuuutttt….500 ribu. Langsung melipir pergi dan pesen Grab lagi minta diantar ke Wat Arun. Oliq sempat ngamuk-ngamuk gara-gara ga jadi naik perahu dan harus jalan buat nunggu taksi lagi. Ola tidur nyenyak di gendongan dengan badan basah kuyup karena Bangkok puanaaasss.

Banyak bagian Wat Arun yang sedang dipugar

Di Wat Arun Oliq hepi lagi naik-naik ke pagoda. Dua anak senang banget apalagi dapet jajan es krim. Sementara simbok bapaknya makan mangga satu plastik THB 40. Enaaak seger. Ola pun doyan banget.

Di Wat Arun ini kami ketemu banyak banget orang Indonesia. Memang yah Bangkok ini cocok banget buat orang Indonesia karena relatif murah dan juga surga belanja.

Di taman tepi Sungai Chao Phraya

Kami menyeberang ke Wat Po/Grand Palace naik ferry boat. Tiketnya THB 4 per orang alias Rp 1.000 lebih dikit aja. Iya sih nyeberangnya juga cuma 5 menit tapi anak-anak sudah cukup senang. Daripada sejam ngeluarin THB 1700, ya ga?

Di Wat Pho kami melihat patung Buddha Berbaring (Reclining Buddha), lebih besar daripada yang pernah Oliq lihat di Yangon, Myanmar. Oliq dan Ola dijawili orang-orang yang lewat.

Karena sudah lapar, ga sempet bawa bekal, ga ada makanan halal, dan udah gerimis pula, kami memutuskan untuk pulang. Naik Grab dari sini susah, kami naik taksi. Sopirnya minta THB 250. Okelah cuss, jalanan macet karena hujan deras. Pulang, makan, santai, malamnya kami jalan-jalan di sekitar Pratunam. Asyiiiik rame banget, ada beberapa kedai halal tapi ya hanya berupa kebab-kebaban gitu.

Akhirnya Oliq merengek beli ikan berbalut garam. Dia memang doyan sekali ikan. Puput tadinya ga kasih karena harganya sekitar Rp 90 ribu, tapi simboknya ngotot. Gede banget ini ikannya. Puput beli ketan mangga juga.

Day 2

Jadwal hari ini ke floating market. Ada beberapa pasar terapung di sekitar Bangkok, yang paling besar jauh, sekitar 40km. Setelah baca-baca review kami memutuskan ke Taling Chan Floating Market yang jaraknya sekitar 14km. Katanya itu yang paling worth it karena tidak terlalu jauh dan pasarnya lumayan lengkap.

Kembali naik Grab dan sampai pasar langsung

Jajanan di Taling Chan ini macam-macam

excited melihat buah segar, berbagai jajanan ketan yang menggoda. Saat itu sekitar jam 9.30 pagi dan turis hanya ada 1-2. Kata Puput memang ga touristy – belum tahu siangan dikit kaya apa hahahha. Karena masih lengang kami santai duduk di salah satu pojokan yang ada lincaknya. Puput beli berbagai macam ketan yang Ola doyan banget, sementara Oliq – ya gitu – makan jajanan yang dia bawa sendiri. Ngok banget anak yang satu ini.

ketan sajen Puput

Selesai makan jajanan Puput udah tergoda aja mau makan seafood padahal masih pagi. Anak-anak senang sekali kasih makan ikan (semacam patin) yang ada banyak di sekitar pasar. Bukan Cuma banyak. Buanyaaaak sampai desek-desekan.

Ternyata di sini ada tur dengan boat juga. Berangkat dari pengalaman hari sebelumnya kami merendahkan ekspektasi. Ya siapa tahu mahal banget kami ga sanggup bayar hikss hiksss. Ternyata untuk tur yang bareng-bareng (enggak 1 kapal buat sendirian), cuma THB 69 per orang dan anak-anak gratis. Itu durasinya 1 jam sudah termasuk mampir ke Wat Kor, sebuah wat tua kecil di pinggir sungai, dan acara kasih makan ikan. Murah banget lah. Kami dapat jadwal pukul 12.30.

Nunggu di dermaga, duduk manis. Mas-mas tukang boatnya gemes sama Oliq dan sibuk nyuruh-nyuruh kami duduk di bangku yang jauh dari panas.

Naik boat untuk tur Taling Chan

Waaah asli anak-anak seneng banget naik perahu ini. Perahunya ga pelan-pelan, tapi ngebut juga. Lalu kami tiba di tempat memberi makan ikan. Puput sudah beli roti khusus untuk ikan sebelumnya. Ola dan Oliq senang sekali dan berakhir Ola nangis ketika acara kasih makan ikannya selesai hahaha.

Kami tiba di Wat Kor, wat tua di pinggir sungai. Di sini peserta diberi waktu 20 menit untuk foto-foto di wat-nya. Wat lucu deh, sudah sangat tua tapi jendela-jendelanya habis direnovasi. Jadi kontras. Ola heboh sama patung-patung ayam yang banyak di situ. Setelah 20 menit kami naik boat lagi untuk balik ke pasar.

Saatnya makan. Lagi-lagi pesan ikan balut garam, kali ini ikannya seabass. Harga di sini jauh lebih murah daripada di Bangkok. Ikan seabass THB 240 itu besaaar, kalau nila cuma THB 180. Puput pesan kerang hijau karena katanya itu afrodisiak biar rrrrrrr. Mbuhlah. Karena nasi sudah habis semua (yes, turis bule banyaaaaak banget), kami makan pakai ketan. Itu pun tinggal 2 bungkus tok thil.

Makan siang!

Kenyang pulang deh. Sempet nggembol mangga mentah juga hehehe.

Kami sebenarnya tidak merencanakan bakal seharian di pasar, apa daya, kami menikmatinya jadi betah sampai menjelang sore huahahahha.

Malamnya kami jalan-jalan ke sekitar Baiyoke Tower, beli kaos Thailand sama serangga. Malam itu Ola makannya enthung wekekek.

Day 3

Hari ke-3 ini kami ke Ayutthaya seharian yang ceritanya ada di halaman sebelah. Klik AYUTTHAYA.

Day 4

Pesawat kami pukul 12.20. Kami berangkat dari apartemen naik taksi melambai-lambai. Maksudnya melambai-lambai dipinggir jalan wekekek. Uang kami tinggal THB 360, kalau pakai Grab dengan booking fee bisa jatuh 300 lebih. Nah ternyata taksinya mau pakai argometer. Habisnya kira-kira THB 250 sampai Don Muaeng. Puput menghabiskan THB kami bersih licin tanpa sisa buat beli air mineral dan nanas. Hahaha, ga mau rugi dia.

Budget

Ini budget untuk 2 dewasa dan 2 anak (tiket pesawat sudah full semua).

Tiket KUL-DMK-KUL  x 4 orang + bagasi 20kg return = MYR 1449

airBNB 4 malam = Rp 2.800.000

SIM Card =  THB 200 (dibulatkan saja ya)

Tiket Wat Pho x2 THB 50 (dapat air mineral 2 botol) = THB 100

Tiket Wat Arun x2 THB 50 =  THB 100

Kereta Ayutthaya pulang pergi x3 THB 15 =  THB 90

Tiket Wat Maha That x2 THB 50  = THB 100

Tiket Wat Ranca Burana x2 THB 50 = THB 100

Tiket Wat Phra Sisanpeth x2 THB 50 =  THB 100

Rental motor Ayutthaya   =  THB 200

Boat Taling Chan x2 THB 69  =  THB 138

Beli ikan balut garam Bangkok + ketan = THB 490

Makan di Taling Chan = THB 360

Jajan-jajan di Taling Chan  = Ga banyak lah hahaha

Beli kaos 2 dewasa 5 anak-anak =   THB 610

Beli baju Simbok =   THB 200

Beli Thai Tea oleh-oleh=THB 500

Beli sandal Oliq gara-gara sandalnya dilempar Ola keluar kereta= THB 80

Malam terakhir beli kebab, nugget dan french fries=  THB 350

Beli macam-macam di supermarket, kaya susu, air mineral, oreo, milo, lauk instan, timun lalap dll.

Tansport semua Grab/Taksi

DMK-Pratunam

Pratunam-tempat kapal mahal

Tempat kapal mahal-Wat Arun

Wat Pho-Pratunam

Pratunam-Taling Chan

Taling Chan –Pratunam

Pratunam- Hua Lumpong

Hua Lumpong – Pratunam

Pratunam-DMK

Simbok ga inget persisnya, yang jelas muraaaah muraaaaah. Jadi di luar tiket pesawat dan bayar airbnb, total uang yang ditukarkan Puput adalah RM 1000 = THB 7800 = Rp 3 jutaan lah.

Total jendral = tiket 4.600.000 + airbnb 2.800.000 + pengeluaran selama di sana 3.000.000

Jadi…..Rp 10.400.000 lumayanlah buat 4 orang yang pengen trip santai dan enggak ngoyo. Ya ndak?

Advertisements

7 thoughts on “Itinerary dan Budget Bangkok-Ayutthaya”

  1. bwhahahaha aku tuh suka banget bacain status fb kamu mba, mau lagi trip ataupun lagi hari-hari biasa. Biasanya kalo kalian abis trip pasti aku tinggal nungguin status kocak di FB masuk ke artikel ahahahha kayak drama ke bandara + sendalnya Oliq ini :P.
    eh iyaa minggu depan aku ke KL, nanti aku kabarin via fb message yaa, siapa tau bisa ketemuaan. Belum pernaah ketemu Ola kaan soalnya

    Like

  2. Tihalit! Hahahaha ,,, ngakak poll aku pas tau kalau maksudnya adalah Three Hundreed. Aku sampai sengaja lho baca pelan-pelan, sambil nebak-nebak itu berapa sih ‘tihalit’. Tapi murah deh itu taksinya, dari DMK ke area Pratunam khan lumayan jauh.

    O iya mbok, kemarin SIM Card nya pakai kartu apa? Boleh dong dibisikkin nama providernya kalau masih ingat. Khob khun krap!

    Like

  3. Aku kangen bangkok mbok :D. Tp kapoook kesana kalo pas musim panas mendera :p. Pernah ke bangkok pas april, dan puanase puuuooollll byangetttt -_-. Secara aku ga kuat kena panas, yo wis lah, pas msh di bandara KL, udh ga enak badan, dan nelan sakit bangetttt. Sampe jkt, fix sudah kena radang tenggorokan lumayan parah.. :D. Sjk itu, kalo mau ke thailand pasti aku slalu desember ato akhir nov, jd cuaca udh sejuk mba.
    Eh, pas k sana, aku tuh pernah pake tiket pass seharian bisa kliling chao praya, turun di dermaga manapun, itu ga mahal deh mba. Seharian masalahnya. Aku ama suami pake itu, dan 1 hr dr pagi sampe malam kita cuma wisata di tempat2 yg ada di setiap pier nya.. Lumayan bnyk, trmsuk wat arun ini, dan museum forensik siriraj yg horor, hahahahaha… Mayat semua isinya..
    Dan kenapa yaa semua buah di thailand itu enak2 bangettt. Murah, manis pula.. Aku jg cemilan di sana mah buah mulu.. Thn dpn nih aku ada planning k chiang rai, chiang mai dan bangkok ama temen2.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s