Oemah Bamboo New Selo di Suatu Pagi


Selo Boyolali berada di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. It sits right on the cleavage. Dulunya Selo hanya menarik perhatian bagi mereka yang hendak mendaki Merapi. Sekarang, makin banyak objek wisata baru yang menarik kunjungan wisatawan lokal. Ya, sayangnya, objek wisata artifisial yang dibuat “instagrammable” dan “selfie-friendly” memang tidak akan sanggup untuk menarik pasar yang lebih luas.

New Selo di lereng timur Merapi

Padahal, tentu, Selo menawarkan lebih banyak daripada itu. Kontur area yang berbukit-bukit dan berada di antara dua gunung besar sebenarnya memang asli cantik, namun ke sana juga tidak sangat mudah. Kami berangkat dari Jogja menyusur hingga Muntilan. Niat hati mau mampir di Ketep Pass mengenang masa muda kami, apa daya kesasar hingga Ketep terlewat huhuuu. Tiba-tiba saja, setelah melalui jalan berliku, sempit, dan pating gronjal, kami sudah masuk wilayah Boyolali. Mau memutar ke Ketep, rasanya kok ngalang kakehan, hingga akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Selo.

Oh ya, daerah Boyolali ini berada di kaki gunung sehingga hawanya sejuk dan cocok ditanami sayuran. Di sepanjang jalan kami bertemu dengan perkebunan sayur kol, sawi, brokoli, dan juga cabai merah.

“Belum kelakon cita-cita kita puna kebon lombok,” kata Puput. Dulu, kami memang punya cita-cita membeli sebidang tanah untuk ditanami cabe. Sekarang karena kekuatan perut Puput terhadap sambal sudah melemah, mungkin cita-cita berubah jadi punya perkebunan tomat cherry.

Terowongan bambu tidak jauh dari pintu masuk

New Selo, adalah area wisata di Selo yang baru. Di sini ada beberapa spot wisata. Kami mengunjungi Oemah Bamboo di New Selo. Tulisan besar terpampang sehingga memudahkan navigasi. Jalannya sempit dan mendaki.

Jadi apa itu Oemah Bamboo?

Kalau saya buka websitenya isinya seperti ini:

“Oemah bamboo. Kolaborasi antara kopi, sahabat dan alam. Terwujud atas dasar persahabatan yang ingin mengenalkan kepada khalayak bahwasanya ada satu kesatuan antara 3 elemen penting tersebut. Oemah bamboo akan menjadi tempat ngopi yg beda dari tempat ngopi pada umumnya, dimana anda bisa menikmati secangkir kopi hangat berlatar belakang gunung yang fenomenal di Indonesia. Anda juga bisa nyaman berdiskusi dengan sahabat, berbicara tentang cinta, cita-cita, dan masa depan. Anda juga bisa mendengarkan kicauan burung liar yang terbang bebas tanpa terbelenggu, menghirup udara segar yang jauh dari kontaminasi.

Salah satu wujud keseriusan kami adalah dengan dibuatnya website resmi oemah bamboo, semoga bisa menjadi ajang komunikasi dan silaturahmi buat para penggemar kopi dan para pelestari alam.”

Di dekat salah satu “bar” yang mungkin akan dijadikan kedai kopi

Sayangnya, ketika ke sana awal tahun ini rasanya tidak ada bakul kopi di Oemah Bamboo. Yang ada adalah bakul-bakul Indomie dan kopi sachetan di bagian depan, di mana kami memuaskan lapar dan dahaga huhuh.

Indomie — sahabat anak Indonesia *dislenthik

Oemah Bamboo adalah sebuah struktur yang dibuat sebagian besar dengan bamboo – ditambah dengan kayu untuk memperkuat di beberapa bagiannya.

Bangunan dari bambu ini cukup panjang dan beraneka bentuk. Memang sih terhitung instagrammable. Ada yang berupa lorong, berupa jembatan. Dibentuk bertingkat-tingkat dengan beberapa gardu pandang yang menyediakan pemandangan Selo 360 derajat.

Tentu saja rintangan terbesar wisata foto di daerah seperti ini adalah kalau kabut turun. Ya gelap gulita semuanya.

Oliq senang berlarian melewati jembatan-jembatan bambu walau sempat gemetaran ketika hendak naik ke gardu pandang tertinggi.

Tentu, wisata jenis ini memiliki kaum muda sebagai porsi pengunjung terbesar. Kelompok-kelompok remaja asyi berfoto di gardu pandang. Beberapa pasangan muda yang tidak memiliki tongsis sibuk mengatur agar ponselnya bisa berdiri di atas lantai bambu.

Struktur bangunan terbuat dari bambu

Puput asyik mengambil video sambil bernarasi ria. Sesuatu yang hampir selalu dia lakukan sehingga koleksi videonya menumpuk. Tanpa ada yang ia upload. Semacam vlogger untuk diri sendiri saja *rolling eyes*

Kami melihat beberapa bagian berbentuk seperti bar, dengan beberapa bangku. Mungkin ini yang dimaksudkan untuk kedai kopi. Tapi waktu itu masih sepi tak berpenghuni. Tidak ada yang berjualan. Mungkin sekarang sudah ada?

Di beberapa bagian dibuat bentuk-bentuk hati yang memang sedang kekinian dijadikan latar belakang foto anak-anak muda. Karena menara masih sangat muda kamu pun ikut ambil pose di depan bentuk-bentuk hati itu. Bedanya, mereka pakai skinny jeans. Saya pakai baggy jeans. Plus nggendong anak.

BTW, perasaan ketika di sana kami satu-satunya pengunjung yang membawa anak kecil.

Para pendaki

Setelah berkeliling di semua bagian, gerimis turun, dan kabut tebal menyelimuti. Ketika turun kami berpapasan dengan beberapa orang pendaki. Laki-laki di samping saya kembali menggerutu, mengatakan sudah lama sekali tidak mendaki gunung. Gunung terakhir yang ia daki adalah Gunung Kinabalu di Sabah ketika kami belum menikah.

Sudah berkali-kali saya tawarkan kalau mau naik gunung sama teman-temannya ya silakan. Tapi jawabannya tetap, “Enak pergi bareng sekeluarga.”

All the love in the world

Ya wis to, ayo kita ke mana. Spanyol, gitu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s