Jadi Blogger Masih Valid Kah?


Belakangan ini saya membaca beberapa kasus yang membuat saya berpikir. Ada teman yang mengatakan bahwa ia akan menutup blognya (karena apa gunanya punya blog). Padahal, di situ sudah ada puluhan tulisan. Ga eman-eman tah?

Di sisi lain ada yang mengeluh sekarang sering malas menulis. Tidak punya waktu, tidak punya ide.


Ada yang bilang karena tidak menghasilkan (uang).


Saya terus terang juga agak jarang menulis akhir-akhir ini. Kalau ini penyebabnya jelas, lha wong blog saya itu blog travelling (and I’d intent to keep it that way), sementara setahun terakhir intensitas jalan-jalan saya tipis banget dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ya jelas kehabisan bahan.


Tapi saya melihat blogger-blogger lama juga mulai banyak yang tidak sekonsisten dulu dalam menulis. Kalau menurut ke-soktahu-an saya, mereka punya pekerjaan tetap yang menyita waktu — dan yang jelas lebih menghasilkan.

Atau mungkin dunia blogging ga seramai dulu ya? Rasanya tidak juga, lomba blog masih banyaaaaak banget. Tawaran-tawaran job review juga masih ada, walau saya kebanyakan menolak karena……MALAS. Hahaha.


Atau mungkin justru terlalu ramai? Dulu, yang namanya blogger itu keren karena dianggap bisa menulis, punya wawasan luas. Sekarang, terus terang saja, everybody blogs hahahaha sekarang semua orang punya blog, semua orang jadi blogger jadi ya ga spesial lagi.


Tapi sepertinya di mata saya sekarang brand lebih bergeser memilih social media influence, entah campaign di FB, Twitter, atau yang paling moncer IG. Pasar Indonesia memang cocok untuk itu, rakyatnya lebih visual. Influence lewat medsos lebih berdampak karena langsung terbaca, bisa berkali-kali, dan bujetnya pun lebih murah. Bayangkan, brand bisa bayar misalnya 500 ribu untuk 10 postingan IG. Sementara untuk blog itu hanya 1 postingan. Dan entah berapa yang baca. Walau tentu blog punya keuntungan yaitu lebih durable. Panjang hidupnya.


Solusinya cuma satu sih kalau mau blogmu menghasilkan, kamu harus cerewet di medsos juga.


Hahaha kalau yg ini Simbok nyerah karena cuma aktif di FB. Saya bahkan ga ngerti lho foto yang bagus buat IG itu yang seperti apa. Hahahaha.


Penghasilan (Hampir) Utama


Blogger itu sudah jadi profesi. Kamu mencantumkannya di Linkedin. Kamu bikin media kit. Kamu bahkan punya kartu nama. Kalau sudah pada taraf itu tentu kita mengharapkan ada imbalan finansial dari blog, bukan?


Namun, blogger pun berbeda-beda melihat hal ini. Ada yang selow aja karena pendapatan utamanya bukan dari blog. Dapet job ya alhamdulillah, ga dapet ya ga patheken. Punya standar fee yang lumayan tinggi karena dia menghitung waktu dan tenaga untuk membuat blog post.


Ada juga yang memang serius memonetize blog. Lewat adsense, lewat job review, lewat lomba karena memang pendapatan dari blog sangat membantu keuangan keluarga, walau mungkin bukan yang utama.


Apalagi kalau full time blogger yang memang dapur mengepul dari situ. Mereka harus ikut perkembangan zaman. Kalau sekarang eranya vlog ya berarti harus belajar bikin video yang baik, ikut subscribe berbagai komunitas blogger, ikut lomba dsb dsb.


Sering ada pergesekan di medsos tentang fee blogger. Ada yang merasa banyak blogger mau dibayar murah, sehingga pasaran jadi turun.

Saya sih merasa in between. Kadang ya jengkel kalau lihat fee blogger serendah itu. Tapi itu udah masuk ranah dapur orang lain. Buat dia mungkin uang segitu memang penting banget buat cashflow keluarga. Kita bisa apa, ya to? Namanya pasar persaingan terbuka hahaha.


Diari Terbuka


Hampir semua menjadikan blog sebagai diari terbuka. Saya pun demikian. Kebetulan karena travel blog sekalian jadi jurnal perjalanan kami. Mulai dari traveling waktu belum punya anak sampai sudah punya anak dua. Full stop.

Blog parenting misalnya, bisa jadi catatan kehidupan si anak. Bisa jadi wadah belajar-belajar kalau punya anak bayi hahaha.


Blog juga jadi media opini ketika ada kasus-kasus kekinian yang muncul di permukaan. Misalnya tentang poligami, selingkuh, ibu rumah tangga, agama dll. Kan mending ditulis curhatan dan pandangan kita ketimbang jadi bisul.


Memberi Manfaat bagi Orang Lain


Banyak sekali blog yang super duper membantu kehidupan milenial kita yang ribet ini. Misalnya dalam hal teknologi, ada masalah dengan HP tinggal google. “Redmi 2 blank screen whatsapp call” misalnya, langsung muncul berderet daftar blog bagaimana cara mengatasinya. Plus tutorial Youtube.


Kalau kamu blogger dengan niat ngeblog membantu orang lain, kamu sungguh mulia, teman. Semoga doamu diijabah Yang Kuasa.

Salah satu blog paling bermanfaat bagi saya adalah Just Try and Taste (JTT). Blog Mbak Endang ini sangat tenar di kalangan ibu-ibu. Semua masakan ada, resep dan cara memasaknya lengkap, ditambah dengan berbagai tips yang sangat membantu. Saya juga suka cara Mbak Endang menulis, runut tanpa kehilangan personalitas. Selain itu, penulisannya rapi, penempatan tanda baca dan awalan serta kata depan yang tepat. Maklum saya suka rewel sama hal-hal ini, kalau kata Emak Traveling Precils, a skill that can’t be unlearned.


Blog Grace Melia, misalnya, banyak dijadikan acuan para orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus. Sharing tentang Ubii juga bisa jadi pendorong mereka yang sama-sama berjuang dengan anak-anak istimewa.


Tidak Cukup Jadi Ibu Rumah Tangga Saja


Semulia-mulianya jabatan ibu rumah tangga dengan iming-iming sebuah singgasana di jannah (ea), zaman sekarang rasanya tidak cukup “hanya” jadi IRT. Harus jadi seseorang yang lain.

Ya jadi member MLM yang aktif di medsos lah, jadi pedagang online macam gamis, jilbab, tupperware, terima orderan makanan, atau ya itu jadi blogger (karena kalau jadi penulis T&Cnya lebih berat hahahaha).


Kalau dipikir-pikir ibu-ibu ini sadomasokis semua. Udah repot ngurus anak dan rumah, masih cari kerjaan lain. Padahal entar kalau kudu multitasking ngeluh-ngeluh kecapekan di.medsos hahahaha. Dasar ibu-ibu.


Ini adalah tentang menyalurkan renjana kita. Salah satu cara biar kita tetap waras di sela-sela kegiatan membersihkan nasi yang dilepeh, mengelus-elus kaki yang ga sengaja nginjek lego, mikirin mau masak apa hari ini.


Buat ibu rumah tangga (baca: Simbok) kegiatan yang tidak melibatkan anak kadang bagai oase di Gumuk Pasir Parangtritis. Syeger. Apalagi sambil nyeruput es degan.


Selain tentu jadi sarana validasi bahwa kami di rumah enggak cuma glundang-glundung aja wekekekke.

***

Jadi sebenarnya jadi blogger itu masih valid ga?

Masih, kalau kamu masih konsisten ngeblog.

Masih, kalau kamu mengimbanginya dengan aktif di media sosialmu.


Kalau urusan mau dimonetize atau tidak, itu urusan masing-masing.


Jadi, cari bahan ngeblog ke mana kita? Moscow? Qatar?

Advertisements

7 thoughts on “Jadi Blogger Masih Valid Kah?”

  1. “Bayangkan, brand bisa bayar misalnya 500 ribu untuk 10 postingan IG.” Rasanya aku ingin menatap mbak Olen pake matanya Laili Sagita. “Duit segitu bisa 30 foto di IG tahu mbak” hihihi.
    Hayo hayo brand, sini sini tawarin ke aku. Tapi aku tarifnya mahal loh. *numpang promo

    Like

  2. mungkin memang dunia blogging gak seramai dulu, tapi kalau memang ada kesukaan disittu(blog) pasti gak akan berenti sebelum puas. karena memang ada kesukaan.. tapi ya tu dia. yang dibilang agan tadi.. pekerjaan tetap yg menyita waktu memang kudu punya trik sendiri sie..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s