Tentang Pernikahan


Beberapa hari yang lalu saya nonton acara TV judulnya “Say Yes To The Dress”, reality show tentang para calon pengantin yang mencari gaun pernikahannya di Amerika sono. Ya Tuhan ribet ya. Ribuan dolar dihabiskan untuk gaun pernikahan yang paling dipakai beberapa jam, setelah itu disobek-sobek. Ada calon pengantin yang memaksa tokonya menemukan gaun yang pernah dia lihat di subah acara. Harus sama persis plek ketiplek. Dan ternyata gaun itu harganya lebih dari dua kali lipat anggarannya, dan akhirnya dia rela demi si gaun.

Kebayang ga sih kalau saya minta baju pengantin seharga 50 juta? Modyar nan. Dulu, syarat baju pengantin Puput cuma satu: tidak boleh lebih dari 500 ribu rupiah *nari gambyong muter Pasaraya Blok M*

Tapi namanya acara pernikahan memang penting nggak penting. Prioritas bagi sebagian orang, nggak penting banget bagi sebagian orang lain — dalam hal ini saya dan Puput sepaham. Dulu, kami hanya mengundang teman kami via medsos, karena buat kami memang itu lebih kepada acara orangtua. Tanpa terlalu ramai-ramai.

Tentu, selalu ada yang mencurigai hamil duluan HAHAHA. Yakin, pasti ada yang ngitung mundur kelahiran Oliq.

Dibilang dadakan juga bukan, karena sudah direncanakan 2 bulan sebelumnya. Lumayan lama, kan? Beberapa tetangga tertakjub karena katanya nggak pernah lihat kami berduaan kok ujug-ujug mau nikah. Lhaaa gimana bisa kelihatan berdua wong saya kerja di Aceh lalu pindah Jakarta, dan Puput kerja di Balikpapan lalu pindah Jakarta juga. Nggak pernah kelihatan berdua di Jogja wong berduaannya di tempat lain #halah.

Intinya buat kami resepsi pernikahan itu super nggak penting. Cerita lengkapnya tentang pengantin kabur-kaburan ada di tulisan: Runaway Bride (and Groom)

Kembali lagi ke masalah di atas. Prioritas orang memang berbeda-beda, kayanya kita juga nggak punya hak untuk menghakimi pilihan orang lain untuk menikah. Si Teguh (babysitter Ola di Jogja) mau nikah sebentar lagi, bolak-balik dia bilang untuk beli pelaminan sekian, undangan sekian, sekian, sekian, yang jelas total pengeluaran jauh lebih tinggi daripada pernikahan Puput dan saya dulu. Dia bilang karena ada desa calon istrinya begitu. Karena pamor, dan sebagainya. Intinya, prioritas masing-masing memang berbeda.

Ada seorang member forum backpacker yang menulis bahwa dia membatalkan rencana menikah besar-besaran dan memilih menggunakan uangnya untuk bulan madu ke ….lupa Finlandia atau Norwegia atau Islandia….kayanya nonton aurora borealis gitu. Kebanyakan mengacungkan jempol, menganggapnya sebagai #lifegoals #relationshipgoals dan goals-goals luar kotak penalti lainnya. Tapi, yang menghujat juga banyak — bahkan dalam forum yang disatukan oleh passion travelling yang sama — dianggap tidak menghormati keluarga besar dll dll.

Intinya, kita tidak dapat menyenangkan semua orang.

Semua orang pasti setuju kalau pernikahan itu sakral. Momen penting dalam hidup yang diharapkan hanya terjadi satu kali saja kecuali memang sudah berniat poligami sejak awal. Bedanya adalah cara orang menganggapnya sakral berbeda-beda. Ada yang sudah puas dengan ijab kabul yang lancar dan khidmat, ada yang baru puas kalau resepsinya diadakan di gedung tertentu, ada yang hanya bisa puas kalau mengundang band keroncong idola, ada juga yang baru puas kalau disiarkan di TV tiga hari tiga malam.

Kalian yang mana?

Saya bukan orang yang tepat untuk ditanyai masalah pernikahan, kalau kalian tanya rekomendasi destinasi bulan madu mungkin saya lebih pinter jawabnya. Nyatanya ada beberapa orang yang sering curhat masalah percintaannya hanya karena menganggap pernikahan saya dan Puput harmonis. Atau terlihat harmonis. Yang mana sajalah wekekekke.

Bagi kami, pesta pernikahan itu amat sangat tidak penting. Yang penting setelahnya.

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dipertimbangkan ketika akan menikah:

  1. Umur

Boleh jadi kalian seperti putra ustad yang menikah usia 17 tahun itu, ya tidak apa-apa. Waktu heboh-hebohnya pernikahan itu saya lihat banyak orang — termasuk teman-teman saya — yang menulis dulu sebenarnya ingin nikah muda namun tidak kesampaian.

Saya dan Puput menikah ketika umur kami sama-sama 29 tahun. Udah kenyang ditanya “Kapan nikah?” So, jomblos, I’ve been there. Saya memang tidak pernah punya impian menikah muda. Bayangan saya dulu menikah ya setelah kerja dan cukup mapan, karena buat  saya dulu karir itu sangat penting. kalau pada akhirnya saya jadi ibu rumah tangga simbok glundang-glundung ya berarti it’s the course of destiny wekekekk.

  1. Kesamaan visi

Pengen punya anak berapa?

Kalau udah punya anak boleh tetap kerja nggak?

Ada masalah dengan kita kirim uang untuk orang tua?

Istri sekolah lagi boleh nggak?

Kalau udah menikah istri boleh solo backpacking nggak? (saya dikhianati untuk poin ini)

Sebaiknya hal-hal demikian dibicarakan sebelum menikah. Saya lho menyesal nggak pernah ngomongin hal-hal ini di muka jadi kami selalu bertentangan dalam hal JUMLAH ANAK.

Macak Duta BKKBN.

  1. Modal Finansial

Saya tahu kok banyak sekali orang yang beranggapan bahwa rejeki itu akan datang setelah menikah. Well, saya setuju bahwa setelah menikah insyaallah rejeki akan bertambah. Tapi bukan berarti gegabah menikah tanpa modal rupiah. Well, kalau adanya dolar sih boleh aja ya wekekek. Iya, saya orangnya serealistis itu. Harus ada pegangan, tentu jumlahnya relatif untuk masing-masing orang. Ada yang harus punya rumah dahulu, ada yang cukup tabungan sekian-sekian, itu terserah kalian. Cuma bagi saya, yang saya tidak setuju adalah ketika pernikahan mewah tapi ternyata tidak ada modal finansial yang cukup untuk selanjutnya.

Ingat lho, banyak perceraian terjadi karena faktor ekonomi.  Realistis saja, sih.

  1. Keluarga

Saya pernah iseng join salah satu grup curhat perempuan di FB, banyak sekali yang menggunjingkan ibu mertuanya. Apakah sedahsyat itu hubungan ibu mertua dan menantu perempuan di dunia nyata ini? Bahkan hubungan antar ipar juga tidak kalah mengerikan. Apalagi kalau urusannya dengan uang. Saya sempat tinggal satu tahun serumah dengan ibunya Puput, dan baik-baik saja semuanya. Tapi, walau satu rumah memang saya dibuatkan kerajaan khusus oleh Puput. Rumah boleh bareng, dapur harus pisah.

Ah ya, ini akan merujuk ke poin berikutnya.

  1. Mau tinggal di mana setelah menikah?

Poin 4 tentang hubungan dengan anggota keluarga pasangan harus diperhatikan. Kalian pilih yang mana? Saya tahu banyak yang memilih tinggal bersama ortu atau mertua biasanya dengan alasan: belum punya rumah sendiri, sekalian jaga ortu, atau biar ortu bisa jaga anak kalau istri kerja (irit dobel hehe). Dinamika tinggal serumah banyak sekali, terutama kalau ada anggota keluarga lain di rumah itu.

Saya pribadi sih pilih pisah rumah, biar ngontrak. Yang kemarin setahun itu udah terpaksa banget karena sekalian ngawasin tukang buat pembangunan guest house. Dan kami sudah berencana beli atau kontrak rumah kalau renovasi selesai. Ternyata takdir berkata lain, tukangnya masih kerja, kaminya udah kabur duluan hahaha.

  1. Afiliasi politik

Sungguh ini nggak penting banget kalau mau kalian jadikan acuan. Kami sendiri jarang ngomongin politik nasional di rumah. Terlalu mawut bagi kehidupan cinta kami. Saya tahu bahwa kami ada beberapa perbedaan pandangan. Tapi itu biasa saja, namanya juga dua pribadi berbeda dengan latar belakang dan pikiran yang beda pula. Masa harus sama terus. Mau coblos pilihan lurah, “Mas, aku pilih siapa ya?” Yeeeeeeee, tentukan pilihanmu sendiri, women!

  1. Prioritas

Karena Puput dan saya sama-sama suka jalan-jalan, buat kami menghabiskan sejumlah uang tertentu untuk traveling wajar saja. Banyak teman yang mengeluh — dan bahkan bilang iri — pada saya karena sepertinya Puput selalu mengabulkan proposal jalan-jalan. Yeeeeee nggak tahu aja perjuangan Simbok ini untuk meluluhlantakkannya *slepet lingerie*

Pernikahan itu penuh dengan kompromi kok. Yak yuk wae. Sesekali istri yang ikut passion suami, main futsal misalnya. Sesekali suami yang ikut passion istri, nonton sinetron India misalnya. Gampang to?

Betapapun kita telah merencanakan tidak selalu semuanya sesuai dengan rencana kita. Dulu kayanya baik hati banget, kok pas udah nikah sama sekali nggak mau bantu pekerjaan rumah tangga. Dulu kayanya dermawan, kok makin ke sini pelit bahkan untuk sedekah pun tidak mau keluar.

Atau masalah klasik: orang ke tiga.

Kalau udah sampai situ kita cuma bisa ikhtiar, bagaimana supaya pernikahan itu langgeng. Sama-sama berserah pada-Nya. Sama-sama berusaha to keep the sparks alive. Kalau lilin kurang terang, bawa obor sekalian petromaks.

Misalnya: Si istri jaga tubuh biar singset walau gelambir tak bisa disembunyikan. Di pihak lain si suami menerima dengan baik kondisi istrinya yang sudah dua kali hamil.

Si suami senantiasa berusaha mengajak keluarga liburan. Di pihak lain si istri harus mempertimbangkan kalau memang lagi prihatin ya ngajaknya yang deket-deket aja, misalnya Maldives *keplak.

Si istri berusaha masakin kesukaan suami. Si suami habis makan cuci piring, nggak mahal cuma taruh piring kotor di meja kaya di warteg aja.

Banyak lah contohnya. Saya enggak punya banyak tips, sih, wong nikah juga belum lama. Tapi ada yang selalu kami praktekkan setiap hari.

Saling mendoakan.

Banyak-banyak pelukan. Iya, kaya teletubbies gitu. Pulang kantor pelukan, pulang dari masjid pelukan, malam pelukan, lagi masak dipeluk, mau berangkat kantor pelukan.

Namanya pernikahan itu butuh kerja sama, butuh kerja keras. Marriage is a constant hard work.

Buat yang belum menikah, jangan menyerah tetap ikhtiar. Your Macrons is on his way to you.

Salam tujuh tahun pernikahan,

Simbok

 

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Tentang Pernikahan”

  1. Tentang mertua menantu ini, kalau background budaya dan kebiasaannya nya beda dan ada pihak yg mendominasi, memang senjatanya cuma sabar …..sabar ….sabar …. #curhat_sekalian

    Like

  2. Hufft…. Ini bnr bgt sih mb.. Kalo boleh milih dulu, aku jg ga pgn ngadain acara nikah sampe 2x, di pulau berbeda pula. Hanya krn ortu msing2 mau memestakan nikahan anaknya ini. Dan bilang kalo keluarga besar kita ada banyak bgt, ga mungkin mama ga ngadain acara.. Dan kita ngalah.. Toh itu acara pesta ga kita yg biayain juga :D..
    Tapi kalo nikahin anak nanti, aku ga bakal maksa dia utk membuat pesta yg aku mau. Terserah mereka mau ngadain pesta ato hanya temen2 deket.. Buatku jg pesta itu ga terlalu ptg toh.. Yg ptg ada buku nikah resmi :p

    Like

    1. Kalau aku terus terang males ribet orangnya. Makanya sebelum tamu bubar aku udah cuss bandara. Lumayan bebas dari beres2 hahaha

      Like

  3. Salam 15 thn pernikahan, mba Olen..The hardest part is the 1st 10 years.. After that keknya udh ga ada energi buat ngambek2 dan idealis2an yaa..hahaha.. Your spouse is literally your bff setelahnya.. Syukur2 msh romantis..wong udh kek sodara kembar lama2.. Just enjoy every minute of it

    Liked by 1 person

  4. Kalo nikah sama orang yg beda suku, siap-siap aja saling nyinyir antara mertua-menantu. Untung aja jauh-jauhan beda propinsi rumahnya hahaha…
    Mba Olen beruntung bisa menentukan sendiri style resepsinya. Aku musti salaman sama ratusan orang yg gak kukenal. Nanti buat anakku aku mau saranin tuk ngundang kerabat dan teman dekat aja biar gak ribet.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s