Living in Transit


Setahun belakangan ini kami pindahan 2 kali. Mei 2016 pindahan dari Kuala Lumpur ke Jogja, dan Mei 2017 dari Jogja ke Kuala Lumpur.

Tahu rasanya setiap tahun pindahan? Ruwet, seperti nglurusin tali G-string yang bundet tengah malam. Ini ramadan, Mbok, hati-hati bicara.


Seruwet kisah-kisah cinta Si Delin.


Jadi gimana rasanya? Rasanya adalah kenapa hidup kaya cuma mampir beres-beres. Bahkan barang-barang kami dulu belum semuanya dibongkar lho. Ada satu koper yang jebulnya isi baju-baju Oliq dan Ola, sama sekali belum dibuka selama setahun. Awul-awulan mawut.


Jadi sekarang kami living in transit again. Simbok cuma ngarang-ngarang istilahnya sih, rasah digatekke. 


Intinya kami tinggal di akomodasi sementara yang disediakan kantor Puput. Biasa, semacam serviced apartemen. Seperti hotel, tapi biasanya dilengkapi dengan dapur sederhana (kitchenette) lengkap dengan layanan housekeeping — mas-mas India yang seneng banget sama Ola. Hedyan ya kalau sebulan makan beli di luar terus, walau bisa direimburse tapi kan capek. Apalagi puasa kaya gini.


Tahun 2014 lalu, kami dapat jatah akomodasi sementara 2 minggu. Waktu itu digunakan sambil kelabakan cari apartemen, beli mobil, cari sekolah anak, dll dll. Dulu kami dapat studio apartemen dengan dapur kecil. Dibersihan tiap hari oleh housekeeping mas Srilanka yang seneng banget sama Oliq karena punya anak seumuran itu di kampungnya.


Kali ini, mungkin karena sudah beranak 2, kami dapat jatah apartemen 2 kamar. Lumayan lengkap sudah ada kompor induksi 3 tungku, oven, microwave, kulkas segede bagong, dishwasher, mesin cuci, setrika yang penampakannya sebesar setum, ketel listrik, coffee machine.


Tahu apa yang kurang?


Jelas rice cooker.


Tentunya Simbok sudah mengantisipasi hal ini. Selama plesir ke mana-mana dan nginep di apartemen, hanya di Tokyo yang menyediakan rice cooker. Karena punya anak yang kudu makan nasi kaya Oliq, kami bawa rice cooker mungil ukuran 1,5 liter.


Breakfast disediakan apartemen. Lumayan menunya beragam tapi sejak puasa ini males banget sahur harus turun ke restoran. Ya, hotel-hotel di Indonesia dan Malaysia biasa membuka dua jam makan pagi, yaitu jam sarapan biasa dan jam sahur ketika Ramadan.


Rasanya hidup sementara gini gimana? Capek karena barang-barang masih seadanya banget. Tadi kami beli panci dan wajan karena hotel cuma menyediakan masing-masing satu dengan ukuran jumbo bisa masak buat satu grup WA keluarga besar.



Untungnya karena ini KL, bukan Abu Dhabi misalnya (uhuks), kami sudah cukup familiar. Agak santai cari apartemen karena sudah kenal dengan wilayahnya. Sudah banyak kenalan untuk tanya masalah sekolah dll. Sudah akrab dengan mall dan pasarnya. Sudah fasih dengan transportasi umumnya. Sudah berjumpanlagi dengan resto-resto favorit seperti Nasi Kandar Pelita, Wonton Mee Sizzle, Fuel Shack, Puti Bungsu.


Dan sudah senang dengan kursnya yang beda jauh dari 2 tahun lalu *dikeplak Pak Nadjib.


Terus terang walau lebih santai ‘transit’ kali ini lebih capek buat saya. Dulu anaknya satu, sekarang dua, mana umur sudah menua, uban di mana-mana, untung ada Liese Bubble Cream — cara paling mudah toning rambut sendiri hahahahahahaha.


Apalagi puasa ya. Saya dan Puput puasa. Ola tentu enggak. Oliq masih puasa bedug, tengah hari makan, lalu lanjut puasa lagi sampai magrib.

Makanan gimana? Saya tetap masak terutama buat Ola. Sering juga beli siang-siang, Oliq suka sekali ayam goreng Pelita yang ga jauh dari apartemen, tinggal nyeberang kuburan hahahaha. Kadang Puput sekalian beli pas pulang kantor. Hanya 2 kali pesan room service kalau udah kepepet.


Tahu nggak yang amat sangat saya rindukan di sini? Pasti tahu jawabanya: Go Food.


Selain Go Food, tentu saya rindu Teguh hahaha yang biasa setrikain baju-baju kami dan nyuapin Ola 2x sehari. Wekekekeke


You must be strong, Mbok.


Demikian curhatan malam ini, doakan kami segera settled di apartemen yang baru ya. Karena sungguh living in transit itu nanggung. Bukan nungging. 

Advertisements

21 thoughts on “Living in Transit”

  1. Makin jauh ya sekarang kalo mau jumpa simbok dan geng sirkus (dipelototin mas puput) eh tapi Palembang-KL kayaknya lebih deket ketimbang PLM-JOG *nyengir.
    Ntar kalo aku ke KL jumpa ya mbok. Kalo butuh asisten RT boleh loh koling aku. Tenang, aku gak suka main ke taman dan pasar malam kayak mbak NST.

    Like

  2. Belum sempet ketemu di Jogja udah ke KL aja Oleeen..
    Tapi seperti katamu, tiket pesawat murah dari KL:D Kebayang repotnya pindahan dengan dua anak, tapi dirimu pasti setrong ya Mbok…

    Like

  3. Hihihihi.. Duh simbok, tali g string bisa bundet, segede apa ukurannya mbok 😀
    Ntahlah mba.. Aku kalo liat temen2 yg hidupnya pindah2 kok seneng sekaligus iri yaa :D. Soalnya aku tipe yg suka begitu. Suka ama suasana baru, walopun tau bgt sih rempongnya luar biasa :D. Ini sjk nikah, jd hrs menetap, krn memang g ada kemungkinan ada rotasi sampe luar kota apalagi luar negri :D. Kalo aja kerjaan suami juga pindah2, wiih, aku resign dr kantor ikut dia aja mba huehehehe :p ..

    Like

    1. Justru kalau kecil suka nglinthing2 ga jelas.

      Aku bilang sama suamiku dia kudu bersyukur punya istri yg seneng pindah2 juga

      Like

  4. Om nanya dependent Visa dong mumpung topiknya agak terkait.
    buat anak istri (dependent) pas legalisir dokumen (akta lahir , buku nikah) itu langusng ke embassy apa musti ke AHU to departemen terkait dulu ya?
    Thanks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s