Review Kayu Arum Resort, Salatiga


Liburan long weekend selalu saja membuat saya kebingungan. Kenapa? Bukankan lebih mudah merencanakan liburan pendek? Karena fokus saya hanya pada akomodasi. Cari hotel yang enak buat glundungan dan krunthelan namun tidak juga mencekik leher harganya.

Kayu Arum Resort

Kali ini, menyanggupi keinginan Puput yang sudah jutaan kali ia utarakan, kami akan pergi ke Boyolali. Terserah mampir mana saja, yang penting lewat Boyolali. Lewat belahan dada antara Merapi dan Merbabu. Melewati kenangan-kenangan masa mudanya ketika masih aktif mendaki gunung.

Boyolali.

Setelah berkutat dengan Google Maps akhirnya saya mem-propose itinerary sebagai berikut: Jogja-Muntilan-Ketep-Selo-Salatiga-Ambarawa -Magelang-Jogja. Disetujui, walau pada pelaksanaannya Ketep terlewati karena kesasar, dan Ambarawa di-skip karena Oliq demam tinggi.

Mencari penginapan di Boyolali tidak mudah, apalagi dengan kondisi anak-anak saya yang sanga picky dengan penginapan — sebuah bakat keturunan Simboknya. Kalau mau niat menginap di Boyolali mungkin waktu yang paling tepat adalah bila Disneyland sudah selesai dibangun wekekekek.

Seorang teman membisikkan bahwa Salatiga lebih punya pilihan hotel. Ada Tetirah dan Kayu Arum. Tetirah lebih modern minimalis dan lebih murah, sebenarnya lebih sesuai dengan preferensi kami. Entah kenapa saya jatuh cinta dengan foto kebun Kayu Arum di waktu malam. Pohon-pohon, lampu temaram, kotak telpon warna merah. Saya jadi membayangkan indehoy di taman pinggir Sungai Thames. Huhuhu ga gitu juga kali yaaa. Yang jelas memang Kayu Arum terasa lebih menarik.

kamar standar

Saya booking kamar standard dengan harga 630.000 (published rate 800.000). Agak kemahalan sih di kantong saya, tapi untuk liburan pendek memang saya lebih splurge dalam akomodasi karena tidak ada pengeluaran tiket pesawat, apalagi pakai urus visa.

Kami tiba di Kayu Arum sekitar pukul 16.00. Tempatnya dekat dengan pusat kota namun sekitarnya tetap terasa seperti pedesaan. “Kok hotelnya zaman dulu,” kata Oliq turun dari mobil. Dari luar memang tembok tampak berlumut sebagian, jauh berbeda dengan penampakan hotel bintang 4.

Kami masuk ke resepsionis dan langsung terlihat halaman tengah nan mempesona. Proses check in cepat dan kami diberi welcome drink jahe-sereh-entahlah. Saya pilih kamar dengan double bed.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Uhhhh, saya salah besar. Ukuran kasurnya 160×200 entah kenapa rasanya lebih sempit dari kasur kami. “Tahu gitu pilih twin bed ya,” pikir saya. Kamarnya kecil berukuran 19 meter persegi. Langit-langitnya tinggi khas rumah-rumah Belanda — walaupun saya tidak menemukan informasi dalam situsnya apakah bangunan yang dipakai adalah bekas bangunan lama.

Seluruh perabotannya terkesan antik. Saya dan Puput harus berpeluh mendorong ranjang agar mepet dengan tembok. Biar anak-anak nggak ngglundung. Kamar terasa lebih besar dengan kasur rapat ke tembok.

Memang kalau hotel tradisional semacam ini kurang cocok bagi anak-anak. Kami langsung menyingkirkan benda-benda rawan pecah dan menutup colokan listrik.

Kamar kami sebenarnya tidak windowless, namun begitu jendela dibuka yang terlihat hanya tembok berjarak 1 meter. Jadi kamar kesannya lebih sempit.

Review saya tentang Kayu Arum bagian yang paling negatif ya tentang kamarnya.

Halamannya saya sungguh suka. Banyak pohon-pohon tua yang besar dengan akar menggelayut. Masing-masing diberi plang nama pohonnya. Restorannya cantik, ditata etnik, dengan dokar sebagai hiasan di bagian depan.

Kolam renang

Kolam renangnya pun apik, paduan antara modern dengan pinggiran tradisional Indonesia. Sayang, kami tidak ada waktu untuk berenang.

Malam itu kami tidur bak ikan pindang dalam keranjang. Tengah malam Oliq bangun dan mengigau, ternyata panas tinggi. Sukses saya hampir tidak tidur semalaman.

Paginya, Puput menggendong Oliq ke restoran. Ternyata sarapan bukan berupa prasmanan. Kami disuruh memilih dua jenis makanan. Sangat bervariasi. Seperti pada umumnya, ada general selection of Indonesian, American, Continental breakfast. Nah di menu Indonesia sendiri, variannya sangat banyak. Bisa memilih nasi goreng, mie goreng, soto ayam, soto daging, rawon, dan entah apa lagi. Puput memilih nasi goreng dan saya soto ayam dengan pertimbangan untuk anak-anak. Breakfast dihidangkan dengan jus, kopi atau teh, air putih, dan potongan buah segar. Masakannya enak, tidak seperti rasa masakan prasmanan hotel. Suka suka. Oliq yang masih panas tinggi pun mau makan dengan ayam goreng sambil tiduran, “Ayamnya enak,” katanya. Ayam goreng itu bagian dari nasi goreng yang dipesan Puput. Kalau saya melirik harganya pun tidak terlalu mahal kok.

Tapi saya gatal mau berkomentar mbak-mbak pelayannya jalannya kaya Putri Solo. Klembak klembek klembak klembek.

Bukannya saya ngenyek, saya ini dulu juga pelayan restoran di Melbourne lho hehehe. Kecepatan jalan saya kalau melayani sudah setara dengan Usain Bolt.

Usai makan kami masih berfoto-foto di kebun. Ada banyak patung di sana. “Atung dadali kakinya ilang,” kata Ola mengomentari patung bidadari yang tidak ada kakinya. Ada patung Budha berbaring. Ada banyak ragam patung. Ada banyak macam anggrek yang tumbuh subur. Cantik sekali.

Pose dulu

Buat saya sih worth it kok harga segitu, seimbang dengan pengalamannya. Apalagi kalau kasurnya king size HAHAHAHA dan ditambah day bed HAHAHAHA *dikeplak yang punya*. Lain kali ke situ lagi bawa sleeping bag lah buat Puput HAHAHAHA *dikeplak Puput*.

Advertisements

2 thoughts on “Review Kayu Arum Resort, Salatiga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s