Siapa yang memegang keuangan keluarga, suami atau istri?


Gara-gara harus bayar tukang bangunan, tukang sofa, dan beli beberapa perabot yang bikin tabungan sama setipis lambenya Lambe Turah, saya jadi kepikiran masalah ini.

Dari sejak menikah sampai sekarang keuangan kami dipegang Puput.

Myeongdong di pagi hari

Kenapa dipegang suami? Soalnya dulu NEM matematikanya pas SD, SMP, SMA 10 bulat telur. Sementara saya….nganu bulat krowak. Wekekeke.

Soalnya dia lebih bisa ngatur keuangan. Berapa untuk belanja dapur (dikasih ke saya), berapa untuk sedekah, berapa untuk tabungan.

Suami saya lebih bisa menginvestasikan tabungan ini, mau dideposito, dibelikan reksadana, atau logam mulia. Saya, boro-boro mudeng reksadana dan logam mulia. Yang mulia hanya hati saya. Amin.

Barusan saya melakukan survei sederhana. Dari 38 responden, 26 menjawab keuangan dihandle istri dan 14 lainnya diurus suami. Ada beberapa jawaban tidak jelas yang komen hanya untuk menakali saya .

Hampir semua responden sepakat untuk menyerahkan keuangan pada pihak yang lebih pandai berhemat. Tidak bocor alus tiap ngelirik IG, tiap Apple mengeluarkan seri baru, atau tiap Purbasari mengeluarkan shade matte yang baru.

Satu poin yang saya lihat dengan jelas adalah pada kasus apabila keuangan dipegang istri, ada beberapa istri yang sangat teliti membuat pembukuan lengkap dengan excelnya. Saya belum menemukan kasus di mana suami rela membuat pembukuan meskipun dia akuntan.

Saya cukup banyak melihat keluarga memberlakukan sistem amplop untuk pos-pos belanja. Banyak yang mencatat, minimal tahu berapa banyak uang dikeluarkan per hari.

Saya termasuk orang yang sangat amburadul dalam urusan keuangan. Uang receh bertebaran di penjuru kamar, dalam tas, di dapur, di motor, di atas kulkas. Contohnya beberapa hari yang lalu Teguh  bilang, “Aku nemu emas batangan ning gudang.” Lebay sih ya, ga batangan juga, cuma 2 keping emas 5 gr-an punya saya yang udah ketlingsut lama. Lumayan juga 2 keping kalau dijual bisa buat jalan-jalan tipis. Sebenarnya kalau masalah pelupa Puput sama parahnya. Simbok pernah nemu seamplop uang dolar di tumpukan majalah yang siap buang. Dan gobloknya saya ndadak bilang hiks. Tapi, Puput sangat teliti menyimpan bukti-bukti transaksi keuangan walau kami juga tidak pernah memiliki pembukuan.

Semua berdasar perkiraan.

Dulu waktu di Jakarta dan Malaysia perhitungannya seperti ini.

Zakat Sedekah – Puput rutin, Simbok accidental

Cicilan KPR – Puput

Sewa apartemen – Puput

Tagihan internet, TV kabel – Puput

Listrik, air, gas – Simbok

Makan – Simbok

Makan di luar – siapapun yang lagi baik hati waktu itu

ART laundry – Simbok

Grocery – kalau pas di kasir saya pura2 bawa Oliq nunggu di luar karena anaknya bosen

Pulsa – sendiri2

Lain2 – Puput
(Untuk di Jogja susah diperkirakan karena kami masih numpang huwaaaaaaa)

Pendapatan: gaji dipegang Puput, sabetan saya (royalti, job review) yang jumlahnya sakiprit saya pegang sendiri, uang sewa rusun kami saya yang pegang.

Jadi secara umum Puput yang megang hal-hal besar seperti internet sementara saya yang pegang hal remeh temeh macam buat makan tiap hari.

Hal paling sulit yang saya rasakan justru di pengelolaan tabungan. Kalau saya mah tabungan ya tabungan aja. Buka tabungan rencana itu udah berasa kaya Ligwina Hananto canggihnya. Apalagi yg model reksadana, sukuk, saham. Kibar bendera putih.

Sekali ikut unitlink bank biru aja malah merugi.

Mungkin itu sih salah saya, nggak mau belajar lebih lanjut tentang keuangan hanya karena suami saya cukup jago. Sama sih kaya Puput yang mau saya ajarin masak tapi males-malesan. Pernikahan tidak hanya menyatukan dua hati yang berbeda. Tapi, juga dua skill yang berbeda.

Skill membelanjakan dan skill menyimpan.

Setiap bulan (walau kadang harus ditagih) saya akan ditransfer sejumlah uang. Itu untuk belanja keluarga, transferan buat uti. Sisanya terserah mau saya apakan. Kalau misalnya ada pengeluaran besar, misalnya bayaran uang kuliah Delin dulu, saya minta tambah. Kalau sisa saya diam-diam saja hahaha.

Enggak dink, pernah kejadian dulu saya merasa jatah dari Puput terlalu banyak, jadi saya minta dikurangi saja.

Selain uang bulanan, saya juga pegang tabungan sejumlah tertentu. Kadang nambah kadang kurang. Kalau dirasa kurangnya cukup banyak, nanti akan ditop up Puput.

Seorang teman membuka topik baru tentang uang belanja dan uang nafkah. Saya pun beberapa kali membaca di FB tentang hal ini. Jadi secara garis besar uang yang diberikan suami adalah uang belanja untuk kebutuhan keluarga, dan uang nafkah yang buat seneng-seneng istri. Misalnya PO Abekani, jajan Chatime, atau beli sepatu boots siapa tahu kapan diajak ke Moscow.

Nah, uang belanja tidak boleh digunakan untuk bersenang-senang istri karena itu amanah. Kalau kami sih ga ada pembagian seperti itu. Intinya selama belanja keluarga dipenuhi sisanya anggap saja uang nafkah. Toh suami istri sudah saling percaya.

Kemarin ada teman di FB yang curcol, ada bilang kalau istri yang tidak bekerja (menghasilkan uang) adalah benalu. Komen saya di statusnya: Nek aku sing dionekke ngono takkucir lambene.

Pengelolaan Uang untuk Liburan

Dari suami atau istri? Beberapa teman saya yang istrinya bekerja, menjatuhkan pos ini pada istri. Jadi suami yang akan membiayai segala pengeluaran sehari-hari, tabungan, dan investasi, gaji istri disimpan dan dibelanjakan untuk sepatu jinjit, barang unyu-unyu di IG, dan liburan.

Karena saya tidak bekerja, pos ini tetap tanggung jawab Puput. Jadi saya juga cukup kesulitan bernegosiasi karena bukan saya yang keluar uang.

Santorini!

Boyolali!

Santorini!

Boyolali!

Ini adalah contoh sebuah ketidaksepakatan abadi, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Untuk keluarga yang merasa liburan adalah bagian dari kehidupan rumah tangga harmonis, ada baiknya direncanakan dengan matang. Misalnya dalam 1 tahun mau berapa kali liburan. Misal 1 liburan besar, 2 liburan menengah, dan 2 weekend getaway.

Ini untuk mencegah pos-pos yang lebih penting diambil untuk liburan. Kalau tabungan jebol, jangan salahkan liburan, salahkan perencanaan yang tidak matang.

Jangan pernah liburan dari berutang. Jangan.

Saya tipikal orang yang akan mengutamakan realitas dibanding passion. Kalau memang harus irit ya liburan distop dulu. Renjana itu bisa dilakukan lain kali, daripada kami harus jatuh ke lembah durjana 😂. Masalah ini akan saya bahas selanjutnya.

Liburan ga lebih penting dari pendidikan anak di masa depan, misalnya. Liburan jelas tidak lebih penting dari zakat dan sedekah. Kalau kita pulang liburan terus bilang kere dan ga bayar zakat ya berarti ada yang salah dalam urutan prioritas.

Jadi liburan memang penting, setelah pengeluaran sehari-hari, tabungan, investasi dan zakat/sedekah.

Tetep penting ya mbak, mas. Penting. Cuma harus diatur.

Pertanyaan selanjutnya adalah:

  1. Siapa yang pegang kendali tentang rencana liburan, suami atau istri?
  2. Dananya dari mana? Tabungan bersama, gaji istri, atau bagi-bagi?
  3. Siapa yang paling berkuasa atas destinasi liburan?

 

Kita bahas di postingan selanjutnya yah.

Advertisements

7 thoughts on “Siapa yang memegang keuangan keluarga, suami atau istri?”

  1. Salam kenal, mbook!
    Kalo aku malah suamiku lebih telaten ngurus duit. Lhaa catetannya di excel itu lengkap tenan. Kategorine jelas: transpor harian, makan, investasi. Trus pas kawin sama aku bubrah kategorine. Lha wong nambah beli sabun muka, lotion, esketu.. Bingung di mo narok di mana. Akhirnya dibikin kategori baru: beauty. Halah!

    Like

    1. Huwwwoh nganggo esketu. Bojoku ga segitunya. Cuma dia rajin mendata harta pas mau lebaran biar ga salah ngeluarin zakat mal

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s