Review Hotel Alana Solo


Sebenarnya liburan minggu lalu sudah direncanakan, namun seperti biasa perencanaan liburan-liburan pendek kami tidak terencana wekekek.

“Ke Santorini aja yuk!”

“Ke Boyolali aja. Viewnya bagus lho dari Selo ke Ketep.”

“Udan-udan ngene arep ndelok view opo?”


Akhirnya kami sepakat ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, setelah Puput diiming-imingi erotisme Candi Sukuh plus kebun teh di antara kedua candi.


Dasar fetish kebun teh.


Kami kembali sepakat menginap di Solo dengan tujuan wisata kota dan wisata kuliner yang blas tidak terlaksana.


Saya mengontak Halim Santoso tentang hotel-hotel Solo. Dia merekomendasikan Alila. Dan beberapa hotel lainnya, tapi tetep madep mantep sama Alila.


Sayang budgetnya ga masuk di saya karena tarif per malam waktu itu sudah di 900 ribu. Saya lirik hotel lain yang kelasnya ga kalah jauh. Macam The Sunan, Aston, Alana, Best Western Premier, maupun Hotel Syariah. Ternyata tarifnya murah-murah banget untuk bintang 4. Hanya di 400 ribuan. Ya emohlah saya milih Alila.


Saya book The Alana karena kasurnya terlihat besar. Minimal king size ga bikin kami berempat tidur kaya ikan pindang di keranjang. Tarif 500 ribu sudah termasuk breakfast.


Kesan pertama tiba di Alana. HASYEEEK depannya banyak warung-warung. Ada sate, ada soto, ada bakso, ada penyetan. Kami kan gitu orangnya, nginap di mana pun makannya tetap warung murahan. Citarasa ndeso.


Check in lancar sekali. Kami dapat di lantai 11, paling atas. Viewnya Garuda Mahkota yang ternyata lampunya tidak pernah dinyalakan selama dua malam di sana. “Belum beli pulsa listrik mesti,” kata Oliq yang sudah biasa mendengar simboknya nggrundel perkara pulsa listrik sejuta habis 10 hari.


Kamarnya sesuai dengan foto, bednya king size. Ada meja kursi dan sofa pendek. Anak-anak langsung heboh memanjat sofa untuk melihat pemandangan di luar. Heboh lihat sawah 😒.


Interiornya minimalis standar hotel bintang segitu. Tidak ada pernak-pernik membahayakan yang bisa dibanting anak. Makanya saya jarang bawa anak ke hotel heritage. Bukannya ga suka tradisional. Tapi takut bayar ganti kalau ada yang dirusakin anak 😝.


Yang paling membahagiakan dari kamar ini adalah kamar mandinya yang dibatasi kaca. Kami kan keluarga…nganu…eksibisionis.

Sungguh kamarnya nyaman. Lantainya juga parket kayu, bukan karpet, jadi mudah kami.bersihkan kalau nasinya Ola bercecer ke mana-mana. Ada minimar kecil yang kosong, ada safe deposit box. Dan ada telepon yang…nnggg…bikin deg-degan dua hari kemudian.


Anak-anak hepi banget mandi sambil semprot-semprotan kaya nggak pernah lihat yang namanya shower.

Breakfastnya beragam. Saya memang punya kesan baik dengan buffetnya Aston Group.


Ada jajaran makanan berat seperti nasi, nasgor, mie goreng dan berbagai lauknya. Pastry superlengkap. Ada beberapa meja yang menyajikan makanan khas sarapan hotel misalnya bubur ayam, noodle corner, cereal, telur. Jus buahnya juga lengkap disertai infused water.


Tambahan menyenangkan adalah gubuk makanan tradisional di luar. Ada jamu, angkringan dengan berbagai pelengkap, nasi liwet, lontong opor, soto bandung.


Pagi pertama makan di sana kok menurut saya masakannya kurang enak. Nasi kucingnya keras. Ikannya kurang segar tapi untung Oliq doyan. Croissantnya ga kaya croissant. Lebih seperti pastri biasa yang menyamar menjadi croissant.


“Croissantnya enak ga Aik?”

“Lebih enak croissant Roti Boy di KLCC.”


Ouch, bandingannya sama Roti Boy yang mini croissantnya cuma RM 2.8 dapat 6 biji. Bisa dikeplak Manajer F&B ini.


Hari ke dua makanan lebih enak. Soto Bandungnya seger. Tapi pastri-pastrinya tetep nggak enak hahahaha.


Lokasinya enak banget sih, di Colomadu. Tidak jauh dari kota, dekat PG Colomadu. Gara-gara warung di depan hotel yang enak-enak dan murah, kami batal wisata kuliner wekeke.

Nah di hari check out saya mampus deg-degan. Waktu saya selesai check out saya keluar nunggu Puput dari parkiran. Pas di luar resepsionis telpon satpam nyuruh saya masuk lagi. Kirain ada cawet ketinggalan di kamar atau gimana. Kutang misalnya. Eh ternyata….


Ini status FB saya setelah itu:


The moment when you checking out dan disodori tagihan telpon dari kamar Rp 272.500. Inget Ola sempat mainan telpon, berusaha menata hati, ngeluarin duit sambil misuh dalam hati. Bajilaque, kowe wingi nelpon nandi, Nduk? Angola?

Appeal dong, ternyata menurut log yg dipencet cuma #. Lha kan harusnya ga nyambung ke mana2. Minta dicek lagi ternyata menurut sistem kejadian kemarin jam 3 sore. Lha, kami masih di Ndoro Donker jam segitu. Setelah diusut teknisi katanya memang sistemnya error.

Langsung masukin duit ke dompet secepat kilat. 😂😂


Hahahahaha. Gitu aja sih. Saya ga dendam sama Alana. Biasa aja, kesalahan bisa terjadi. Mbak resepsionis juga udah berkali-kali minta maaf.

Merekomendasikan Alana? Big YES.

Advertisements

8 thoughts on “Review Hotel Alana Solo”

  1. Ya Allah kok aku ngakak pas baca acara misuh dalam hati hahahahhaa
    Tapi mungkin aku juga akan marah2 sih kalau dapat tagihan telepon segitu wkwkkww
    Untung kesalahan ya mbok Olen :*
    Buru2 kekepin dompet

    Like

  2. Wah aku udh lama pengen ke sini tp belum jadi jadi soalnya ga ada bathtub buat berendem si kakak.😂

    Ngga sempet nyoba kolam renangnya ya mak?

    Like

  3. Emg bgs kok hotelnyaaa :). Pas temen kantor nikah, di sini mba acaranya.. Secara kampung suami di solo, aku bela2in ke sana sekalian mudik.. Aku jg seneng ama tempatnya.. Acara nikah temenku jg bagus dihandle ama mereka.

    Like

    1. Iya aku sukaa. Viewny bagus soalnya solo high rise masih sedikit. Cuma pastrynya itu yg menurutku kurang nendang haha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s