Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali


Saya hanya bisa menatap ngeri kabut tebal yang mengelilingi, berharap dalam gelap. Mobil menanjak tajam, melemparkan kerikil-kerikil ke pinggir jalan. Saat itu masih siang, mungkin baru tengah hari. Kanan kiri adalah kebun teh tersusun rapi menunggu pucuk-pucuk mudanya dipetik paa ibu pembawa bakul. Naik sedikit, terintip dari sela kabut tebal kebun daun bawang berjajar rapi di punggung bukit.

Kami sedang berada di sekitar Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam sebuah misi mengunjungi dua buah candi yag sudah kami idamkan. Di puncak bukit itu berdirilah sebuah candi megah. Candi Ceto. Atau Candi Cetho. Sebuah candi Hindu dengan struktur punden berundak yang memiliki arsitektur nyaris identik dengan pura.

Candi Ceto yang sangat mirip pura di Bali

Masih dalam perdebatan apakah struktur asli Candi Ceto seperti yang terlihat sekarang. Candi ini pertama kali ditemukan oleh orang Belanda pada tahun 1842. Ekskavasi baru mulai dilakukan pada tahun 1928 oleh Komisi Purbakala Hindia Belanda. Yang masih dipermasalahkan oleh para arkeologis adalah pemugaran sepihak yang dilakukan oleh Sudjono Humardani — asisten pribadi Presiden Soeharto — pada tahun 1970. Dikatakan bahwa pemugaran tersebut tanpa melalui studi purbakala yang cukup, banyak struktur ditambahkan, sehingga tidak sesuai dengan bentuk asli candi. Beberapa bangunan yang mengubah struktur asli adalah gerbang besar di depan komplek, bangunan-bangunan kayu sebagai tempat pertapaan, dan bangunan berbentuk kubus di atas

Entah bagaimana sebenarnya. Yang jelas, begitu keluar dari mobil, kabut sudah terhapus. Hamparan kebun daun bawang terlihat sejauh mata memandang. Gapura Candi Ceto pun terlihat gagah. Iya, gapura baru yang dipermasalahkan oleh arkeolog.  Langkah kaki kami menuju gerbang diiringi oleh alunan tembang-tembang Jawa. Bukan, bukan karena kami pejabat yang disambut mewah, bukan pula karena saya simbok-simbok inspiratif, namun karena kebetulan ada resepsi pernikahan hanya beberapa meter dari gerbang candi.

Semakin dekat dengan candi, semakin saya melihat kemiripan dengan pura. Bahkan rumah-rumah di pinggir jalan tersebut memiliki gerbang serupa dengan gerbang candi. Rasanya seperti berada di Bali, bukannya di Karanganyar Jawa Tengah.

Runtuhan batu di teras bawah Candi Ceto

Makin jelas bahwa kompleks ini adalah punden berundak. Candi Ceto dibangun pada abad ke-15 pada masa akhir kejayaan Majapahit. Pada saat ditemukan, Candi Ceto terdiri dari 14 tingkatan berundak. Setelah renovasi hanya ada 9 tingkatan berundak. Di candi ini banyak patung dan relief berbentuk binatang.

“Ada atung ula-ula. Ola mau naik atung ula ulaaaa!” anak bayi nangis jerit-jerit tidak diizinkan memanjat patung kura-kura. Ada juga penggambaran ketam, katak, dan mimi.

Sama dengan Candi Sukuh, ada juga gambaran patung phallus alias penis yang ditindik. OUCH. Penggambaran erotisme di Candi Ceto ini tidak sebanyak di Candi Sukuh yang kelak — bila beliaunya ingat — akan diceritakan dengan sangat mendetil dan menggairahkan oleh Puput. Dijamin akan membuat kalian menggelinjang!

Ketika sampai di sini baru kami paham bahwa ternyata Candi Ceto masih berfungsi sebagai tempat pemujaan. Beberapa pengunjung bercelana pendek disuruh melilitkan kain campuhnya menutupi kaki. kami hanya meliliitkan di pinggang. Oliq yang paling semangat mengenakan kain campuh ini sejak berada di Candi Sukuh.

Pemandangan dari Candi Ceto sungguh mempesona. Hilangnya kabut membuat hamparan hijau terlihat mahaluas. Posisi candi yang berada di ketinggian 1496 meter di lereng Lawu membuat mata sungguh dapat memandang jauh. Jauh sekali. Dan indah sekali.

Anak-anak kami sudah cukup terbiasa mengunjungi candi. Mereka senang berlari, bermain, menikmati. Untuk anak yang lebih kecil, memang kebanyakan harus digendong karena banyak tangga-tangga terjal dan sempit. Di beberapa teras terlihat tambahan bangunan kayu untuk pertapaan.

Puncak Candi Ceto seperti piramida terpotong yang mirip Candi Sukuh dan peradaban Maya serta Inca

Di teras ke 6 atau 7 ya ada jalan keluar menuju ke beberapa warung. Dari sini akan ada loket selanjutnya di mana pengunjung bisa membayar 3000 untuk mendaki menuju ke Candi Kethek. Dari loket menuju ke Candi Kethek dan air terjun dapat ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak sejauh 300 meter. Kami memilih berjalan lebih dekat ke Patung Saraswati yang hanya berjaak 50 meter. Patung ini adalah sumbangan dari Pemerintah Gianyar yang didirikan oleh Bupati Karangayar Rina Iriana sebagai usaha menyemarakkan gairah keberagaman.

Patung Saraswati sumbangan dari Gianyar

Sebenarnya kami mau ke Candi Kethek, tapi mendadak mendung menggelayut. Takutnya d i jalan kehujanan dan jalannya licin. Maklum, namanya bawa anak-anak, harus melihat berbagai kemungkinan.

Kami turun melalui jalan tanah, mengembalikan kain campuh untuk kemudian kembali menempuh perjalanan menuju ke Solo.

Nah pada perjalanan pulang ini, ketika kabut sudah tersibak keseluruhan, sungguh semuanya mempesona. Jajaran kebun sayur hijau, disusul kebun teh. Di pinggir-pinggir jalan terdapat warung-warung kecil berjualan minuman dan mie instan. Ada yang lebih mewah, menjual sate ayam dan sate kelinci.

Banyak pasangan-pasangan muda duduk membelakangi jalan, menghadap lautan kebun teh, merajut mimpi-mimpi mereka dengan anggun (yang tetiba hancur mendengar TDL naik dan harga popok bayi pun menjulang tinggi — kuwi kan kowe Mbok!)

Tentu saja, sebelum meluncur ke Solo kami mampir dulu di Rumah Teh Ndoro Donker, beberapa kilometer di bawah Candi Ceto. Ceritanya lain kali saja.

Terjalnya jalanan seperti ini kira-kira

Candi Ceto ini tidak jauh dari kota Solo, hanya sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan. Dari Solo, kalian ambil jalan menuju Karanganyar, lalu masuk ke Jalan Lawu, terus hingga arah Tawangmangu. Nanti akan ada pertigaan yang kanan menuju Tawangmangu dan ke kiri menuju ke Candi Ceto dan Candi Sukuh.  Dari Solo hingga ke pertigaan ini jalannya bagus dan besar. Setelah itu, ketika naik ke Kemuning jalan mulai berliku. Tanjakannya luar biasa terjal dan ada beberapa tikungan ekstrim. Pastikan kendaraan kalian kuat.

“Atung ula-ula” yang ingin dinaiki Ola

Jujur saya tidak menyangka bahwa atraksi wisata di daerah ini bukan hanya candi-candi itu. Kebun teh Kemuning ternyata juga sangat indah, lebih bagus daripada Walini atau di Ciwidey, walau masih kalah luas diband+-ingkan kebun teh milik BOH di Cameron Highlands, Pahang Malaysia. Selain itu ada juga beberapa situs purbakala dan ar terjun yang mungkin sangat layak dikunjungi. Lain kali, Mbok, lain kali.

Advertisements

7 thoughts on “Candi Ceto di Jawa Tengah, Serasa di Bali”

    1. Ini jalannya lebih sangar dari Gedong Songo. Tapi emang kompleks candinya cuma 2. Nek gedong songo kan gede banget

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s