Pengalaman Operasi Kanker dengan BPJS


So as you know Papa saya baru saja selesai pengangkatan tumor ganas di prostat. Well, bukan hanya tumornya yg diangkat tapi seprostatny sekalian 😄😄. Simbok mau berbagi pengalaman penggunaan BPJS.

Jadi awalnya, beberapa bulan yang lalu Mbah Kakung merasa nyeri kalau habis pipis. Sebenarnya itu sudah berlangsung lama, tapi enggak mau ngaku! 😬 Setelah ketahuan Mama saya — Uti — akhirnya dipaksa periksa. Mbah Kakung emoh periksa di Puskesmas dan RS, ngeyel mau periksa sendiri ke dokter kulit (maksudnya SPKK) di Bumijo. “Doktere wedok, isih enom, jilbaban.” Ga penting blas.

Oleh dokter didiagnosa semacam ISK (infeksi saluran kencing), dikasih obat. Begitu diminum agak enakan. Beberapa hari kemudian kumat lagi sakitnya. Uti, Delin, dan saya udah ngojok-ojoki buat periksa di Puskesmas pakai BPJS biar mudah kalau dirujuk ke RS.

Seperti yang sudah diduga Mbah Kakung ngeyel lagi. Cuma habis 200 ribu aja, katanya. Balik ke SPKK-nya. Berulang lagi, agak enakan, lanjut sakit lagi.

Wah ora bener iki mesti.

Akhirnya pakai jurus “Papa wis ora sayang kami yo. Nek ono opo-opo menko sing dadi wali nikahe Delin sopo?” Mbah Kakung mau periksa ke Puskesmas. Kayanya itu sekitar Nov-Des 2016.

(Pertanyaan besarnya adalah kapan Delin nikah?)

Puskesmas hanya berjarak 100 m dari rumah. Uti ambil antrian, baru kemudian Mbah Kakung datang. Pulang dari Puskesmas ceria, “Ramah-ramah kabeh, Nok. Doktere kenal aku soale tau moco novelku.” 😅😅

Sayang, obat yang diberikan tidak manjur juga. Akhirnya balik lagi ke Puskesmas dengan diberi rujukan ke RSIY PDHI. Rumah Sakit Islam Yogyakarta Persatuan Dokter …enggg bukan Hewan kan…..Indonesia. Lokasinya di Kalasan, arah ke Prambanan.

Saya antar ke sana untuk daftar ke spesialis urologi. Pertama datang hanya diberi obat, gagal juga. Akhirnya disuruh tes lab. Dari hasil tes lab dipastikan harus dioperasi prostatnya. Menurut Google, 50% pria usia di atas 60 tahun memang bermasalah pada prostatnya. Operasi prostat semacam ini tanpa pembedahan, hanya ‘dikerok’.

Tahu ga apa yang dikeluhkan Mbah Kakung? Bukan masalah operasinya. Melainkan kenapa harus mondok alias opname 😒.

Intermezzo dulu. Jadi Mbah Kakung ini sangat anti rumah sakit. Belum pernah opname sama sekali, karena memang jarang sakit, paling sering patah tulang gara-gara jatuh dari motor. Terakhir jatuh dari motor sebelum nikahan kami gara-gara keburu-buru KUA 😅.

Ada cerita dulu zaman saya belum lahir, Mbah Kakung pernah kecelakaan motor di depan kantor Harian Bernas (sebelah Gramedia Jl Sudirman). Ada wartawan Bernas yang tahu. Zaman itu belum masa telpon apalagi WA, cyint. Nah wartawan Bernas ini ke kantor Kedaulatan Rakyat — bilang, “Tadi Mas Munif kecelakaan, tapi terus nggak tahu ke mana.” Wartawan KR ke rumah mama saya, tapi ragu-ragu mau bilang. Akhirnya Uti yang kebingungan diajak muter-muter keliling beberapa rumah sakit nyariin Mbah Kakung yang menghilang. Ga ketemu di mana-mana.

Akhirnya ketemunya di bengkel motor buat mbenerin motornya dulu. Padahal darahnya bercucuran. Tetep, enggan ke rumah sakit.

Pernah juga jemput saya sekolah SD dengan jari tangan udah patah karena habis jatuh.

Pas lahiran saya dan Uti terpaksa dicesar Mbah Kakung juga yang panik luar biasa sampai nangis-nangis. Tapi untuk yang ini mungkin case agak beda karena trauma. Ibunya Mbah Kakung meninggal ketika melahirkannya, jadi sejak keci Mbah Kakung tidak kenal ibunya.

So, opname is a big deal for him. Nginep di RS itu sungguh sesuatu. Mbah Kakung harus nunggu beberapa hari sebelum akhirnya dipanggil untuk masuk kamar.

Kamar kelas 1 RSIY sesuai dengan kelas BPJS. Operasi berjalan lancar. Mbah Kakung yang tadinya takut banget bakal sakit ternyata tidak sakit sama sekali. Selama operasi bercanda ria dengan dokter. Ada sekitar seminggu opname di RSIY. Katanya semua pelayanan, dokter, perawat baik-baik semua. Pulang pun diantar layanan gratis dari rumah sakit. BPJS atau tidak, tidak dibedakan. Saya lupa tagihan RS di sini berapa, yang pasti semua gratis.

Setelah operasi prostat nyeri jauh berkurang, tapi tetap masih ada. Ketika kontrol di RSIY, dicek lab dan memang ditemukan ada benjolan. Tumor ganas. Dokter langsung merujukkan ke Sardjito.

Uti udah mewek-mewek aja. Delin panik ga jelas. Saya lebih kalem. Entah ya, saya merasa udah ikhlas aja mau kenapa-kenapa. Bukannya ga sayang, cuma saya udah mengalami Papa saya jatuh secara psikologis selama 8 tahun, dan sukses bangkit beberapa tahun lalu. Jadi sakit fisik sepertinya kok nothing. Bukan berarti ga khawatir juga, sih.

Setelah cek dan tes lab di Sardjito yang antriannya super duper itu, dokter menyatakan bahwa prostat harus diangkat keseluruhan. Dari pengalaman pasien-pasien sebelumnya, banyak yang ga mau dioperasi, maunya dikemo, diobati, pada akhirnya kembali untuk dioperasi dalam kondisi yang lebih buruk karena kanker sudah menyebar.

Dokter mengatakan setelah prostat diangkat, Mbah Kakung akan dibuatkan lubang dengan selang di samping. Pipisnya lewat situ tanpa terasa ada sensasi kebelet pipis. Selang disambungkan ke kantong urine namanya uriostomi. Kantong ini bisa dikosongkan kapan saja.

OK lah, kami nurut dokter, pokoknya yang terbaik. Menurut RS, antrian kamar kelas 2 akan butuh waktu sekitar 2 minggu sementara.kelas 1 bisa 2 bulan. Uti ngotot secepatnya. Kelas 2 dulu nggak apa-apa.

Selama di rumah nyeri yang dirasakan Mbah Kakung hanya diredakan dengan obat namanya Renadinac.

Suatu pagi yang cerah pada bulan Februari, Mbah Kakung dapat telpon dari Sardjito. Ada kamar kelas 2. Uti dan Mbah Kakung berangkat.ke Sardjito. Setelah melalui proses administrasi akhirnya masuk kamar.

Kamar kelas 2 di Sardjito berisi 4 pasien disekat-sekat. Kamar mandinya 1 berbarengan. Space sisa di samping ranjang cuma pas untuk 1 orang. Ngeri ya. Bayangkan kelas 3 nya huehehehe.

Mbah Kakungnya malah seneng karena ramai, bisa ngobrol dengan pasien lain. Bahkan ada pasien yang kemudian pindah ke kelas 3, Mbah Kakung konsisten nengok sambil geret-geret infus. Setelah beberapa hari di kamar kelas 2 Mbah Kakung bisa pindah ke kamar kelas 1 yang lebih lega, ada sofa, dan kamar mandi.tidak berbagi.

Kok udah diinfus? Ya karena udah dijadwalkan mau dioperasi. Jadwal operasi pertama adalah tanggal 20 Feb. Karena HB rendah, harus transfusi, harus siap 6 kantong darah. Ingat kan waktu saya heboh-heboh cari darah di FB? Untungnya golongan darah termasuk yang jamak, yaitu A+, jadi relatif gampang dicari.

Tanggal 20 tidak jadi karena ada yang lebih emergency. Ditunda hingga tanggal 21. Malam sebelum hari H dibilang lagi ditunda karena ada yang lebih darurat lagi. Ditunda hingga Kamis tanggal 23 Feb.

Selama di RS, Uti yang menunggu. Delin juga kadang-kadang menginap. Ndlosor di lantai. Saya hanya menengok tiap pagi kalau pas anak-anak sekolah.

Sampai juga tanggal 22 sebelum hari operasi. Darah disiapkan, Mbah Kakung diperiksa secara keseluruhan. Sudah disuruh puasa juga. Tahu ga yang terjadi? Malam itu dokter anestesi yang seharusnya ikut dalam tim operasi meninggal dunia.

Innalillahi wa inna ilahi rojiuun.

Ditunda lagi, bagaimana lagi. Operasi harus direschedule, tim dokter juga harus diubah. Dokter bedahnya bilang, “Bapak akan kami prioritaskan.” Tensi Mbah Kakung naik sampai 145 mungkin karena stres, padahal tidak punya sejarah darah tinggi.

Jadwal selanjutnya adalah Selasa tanggal 28 Feb. Kali ini tidak ditunda-tunda. Jam 8, sebelum saya sampai di Sardjito sudah masuk kamar operasi. Ditunggu Uti, Delin, Pak dan Bu Rohadi sohib sekaligus tetangga.

Uti harus 2 kali lari cari darah ke PMI Sardjito sepanjang operasi. Sekitar pukul 4 sore baru keluar kamar operasi. Langsung lihat muka Delin masih setengah sadar dan bilang, “Lho Nok kowe kok ora kerjo?”

Setelah itu kembali ke kamar dengan berbagai selang masih menusuk tubuh. Kata dokter pemulihan cukup bagus. Tanggal 9 Maret akhirnya diizinkan pulang dengan berbagai catatan, misalnya asupan air harus minimal 75% dari yang keluar, makanan protein tinggi seperti susu, telur, ikan. Sudah bisa jalan walau sedikit-sedikit tapi masih ada rasa nyeri di selangkangan kanan. Entah kenapa.

Uti sempat syok melihat jumlah tagihan, yaitu 48 juta sekian sekian. Gratis karena menggunakan BPJS.

Saya hanya harus membelikan uriostomidan Procare (seal untuk selang) karena Sardjito kehabisan. Uriostomi @95.000 satu box 900.000.

Jadi pakai BPJS ribet? Iya, harus melalui Faskes 1 dan Faskes 2. Karena kalau tidak dibuat berjenjang seperti itu bukannya dengan mudah orang akan minta langsung dengan dokter spesialis di rumah sakit terbaik. Kebayang gimana penuhnya RS besar dan yang terjadi malah pasien tidak terurus. Ribetnya BPJS yang harus fotokopi rujukan dsb sebanding kok dengan biaya yang tidak dibayarkan.

Pakai BPJS dibedakan dengan non BPJS? Pengalaman Uti dan Mbah Kakung enggak. Memang ada prosedur yang harus dilalui, ya memang gitu sih. Maklum aja.

Pakai BPJS, nakes jadi ga ramah? Ini bullshit.

Pakai BPJS, administrasinya ribet? Ga juga. Uti lumayan cepet kok ngurus admin waktu mau check out baik di RSIY maupun di Sardjito. Bandingkan waktu dulu Oliq opname semalam karena demam di Gleneagles Hospital Kuala Lumpur. Salah satu rumah sakit paling top di KL. Opnamenya semalam aja, perawat dan staf admin lebih sengak. Ngurus admin dari.jam 9 pagi, baru beres jam 5 sore. Itu plafon asuransi perusahaan kami VIP lho. Masuk pun harus pakai rujukan-rujukan. Tagihan setara dengan 10 juta semalam padahal kamarnya kelas 1 karena VIP penuh. 10 juta, semalam, cuma demam. Hahahaha untung ga bayar dewe.

I know, masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam sistem BPJS, tapi kok mengutuknya seenak udel juga bukan solusi. Saya kenal banyak orang yang sudah sangat merasakan manfaat BPJS. Tanpa BPJS, mereka tidak akan mampu membawa anak-anak mereka berobat. Jangan hanya karena kalian sanggup bayar sendiri kelas VIP, kalian kira seluruh rakyat Indonesia mampu melakukannya!

Advertisements

27 thoughts on “Pengalaman Operasi Kanker dengan BPJS”

  1. Papah mertua saya sudah lebih dari 2 tahun rutin berobat menggunakan BPJS karena diabetes dan sudah membuatnya gak berdaya karena ada insiden jatuh. Kuncinya menjadi pasien BPJS berdasarkan pengalaman kami adalah harus banyak sabar karena antreannya yang panjang. Tapi setidaknya selama bertahun-tahun kami tertolong dengan adanya BPJS. Gak kebayang berapa besar biayanya kalau tanpa BPJS

    Semoga papanya diberi kesembuhan Mbak. Syafakallah

    Like

    1. Iya bener mbak antrean panjang. Tapi kalau dipikir2 bayar mandiri pun antre karena rs2 besar di Indonesia selalu penuh sesak

      Like

  2. Iya mba, di kota besar,mungkin saking banyaknya orang penting(kalau PNS golongan 4A ke atas), susah dapat kamar kelas 1 di rumah sakit kalau pakai BPJS. Pengalaman di Sardjito, terpaksa ambil VIP, nambah sendiri selisihnya. Tapi kalau di kota kecil, misal di Tulungagung Jatim, kamar kelas 1 banyak sekali yang kosong, karena kebanyakan orang isi di kelas 2&3.
    Btw, ternyata banyak ortu yang alergi RS (pengalaman ortu saya). Tapi setelah sepuh, mau gak mau ke RS juga.

    Like

    1. Kayanya kalau sardjito mau kelas berapa aja penuh selalu karena rujukan dari mana2. Pas di kelas 2 itu papaku satu2nya asli jogja. Lainnya luar prov bahkan ada yg luar jawa

      Like

      1. Iya mba, mungkin orang luar daerah beranggapan kalau di kota lebih bagus. Kalau saya lihat betul juga sih,lebih banyak spesialis dan lebih teliti dokternya. BPJS memang sangat bermanfaat, terkesan rumit admin di awal, tapi kalau sudah pernah rawat inap berikutnya mudah. Dan keluarga pernah operasi tyroid di rinciannya habis belasan juta, pakai BPJS free, cuma diminta tanda tangan. Sudah 2 tahun operasi belum ada keluhan. Alhamdulillah. Semoga papah mba Olen lekas sehat kembali.

        Like

      2. Kalau di sardjito emang banyak yg dirujuk dari rsud2 karena memang lebih mampu utk penyakit2 kronis. Suka ga tega lihat keluarganya tidur di lorong2 😭😭

        Like

  3. Mba untuk tambahan karena naik dari base kelas 2 ke VIP ga kena charge mba? Bapak saya kemarin opname dan naik kelas jadi nambah, karena darurat dan saya yang ngurus sendirian jadi langsung aja ga nanya detail..

    Like

    1. Aslinya bpjs kelas 1 mbak (udah kutulis) jadi masuk kelas 2 malah turun kelas, karena itu yg lebih dulu available. Jadi ga nombok blas

      Like

  4. Sedikit “pencerahan” buat yang suka nyinyir. Perubahan emang gak bisa sekali kedip, butuh proses. Tapi aku punya pengalaman baik juga menggunakan bpjs. Anakku opname selama seminggu di sebuah RS di Tuban karena DB. Semua gratis mulai periksa ke dokter trus rujukan ke lab sampai perawatan di RS. Kalo gak salah cuma bayar 400rb an untuk ambil darah di Surabaya karena stok PMI setempat kurang. Plus 100rb buat nebus multivitamin saat pulang.

    Like

  5. Aku salah satu yang merasakan manfaat punya BPJS, soalnya sejak akhir Januari lalu sampai minggu kemarin, mbah kakungku bolak-balik opname sampai 3 kali.

    Kalau ada yang nanya soal ribet gak sih? Pasti njawabnya “nggak juga”. Apalagi aku milihin Faskes 1-nya di klinik bersama deket rumah, jadinya lebih praktis dan bisa diakses pagi sampai sore buat dapat surat rujukan ataupun periksa kesehatan.

    Like

  6. Pengalaman opname saya hampir saya dengan Mbah Kakung. Waktu itu saya DB. Seharusnya saya dapat jatah kelas 1, tapi karena full dan yang tersisa kelas 3, akhirnya masuk saja kelas 3. Saya lebih suka karena rame. Bisa ngobrol sesama pasien. Temen sependeritaan. Hehehe… Saya juga pake BPJS dan …. gratis. Memang masih ada kekurangan di sana-sini, tapi saya yakin kedepannya BPJS pasti akan lebih baik. In shaa Allah….

    Like

    1. Suami saya jug pernah db dan opname tapi ga bisa paki bpjs krn masuk rs trombositnya belum serendah peraturan. Lupa tepatnya haha. Ya wis akhirnya pakai asuransi kantor

      Like

  7. Baru kali ini baca tulisan mbak Olen sing diketik lewat gawai. Eh bener nggak? Hehehe. Terus pake mikir “ngojok-ojoki” itu bahasa Indonesianya apa, “ndlosor” itu sama dengan ngesot nggak ya? Wakakaka ra penting… Mbak O, semoga mbah Kung cepet sembuh dari sakitnya, iso nulis cerpen yang menginspirasi lagi. 🙂

    Like

    1. Iihh kerep kok lim mbiyen nek lagi males menyat. Tapi biasa kepentok ning foto. Nek iki berhubung hape anyar kepenaklah le ngetik. Ben puput ki bahagia wis nukoke aku hape dan berguna iso nggo ngeblog.

      Liked by 1 person

  8. sebenarnya yg bikin repot itu kalau nurut (pengalaman) saya ada di pihak RS terutama RS swasta yg jg kerjasama dg BPJS misalnya seperti kejadian yg barusan aku alamin, dimana HARUSnya obat2 yg dipakai bisa pakai generik tp mereka kasih yg paten, yg jls Gak ditanggung BPJS dan lucunya alasannya “RS gak mau rugi 😂😅. intinya jadi (keluarga) pasien kudu cerdas. kadang karena ketidaktahuan kita bisa jadi “celah”.

    Like

    1. Semoga semua rs bisa ikut aturan ya bhwa kalau tindakan atau obat yg tidak ditanggung harus diberitahukan dulu sebelum diberikan

      Like

  9. Saya sakit DB dan opname pakai fasilitas BPJS di RS Muhammadiyah Bandung (kelas 1), pelayannanya cukup ramah. Bahkan pas saya nggak doyan makan ahli gizinya sampai nyamperin ke ruangan untuk mendiskusikan menu makanan yg sekiranya saya bisa lahap menyantapnya

    Like

  10. Pembantuku 2 thn laku operasi varises di kakinya abis 25 ,gratis. Aku vaksin anakku pake bpjs, gara2 limit asuransi utk vaksin dr kantor udah abis, juga gratis. Lah banyak bgt manfaatnya kok ya mba.. Makanya aku jg heran ama org2 yg taunya nyinyir… Dia cm ngerasain panjang antrian doang kali yaa.. :p

    Like

    1. Hooh padahal ga pake bpjs pun antre sebenarny wekekeke. Aku heran juga dulu anak kasus anak meninggal krn lambat ditangani krn ruwetnya prosedur. OK birokrasi memang harus diperbaiki. Tapi lalu ada yg ngompori dgn bilang bpjs membunuh anak itu, mending dihilangkan. Laaaah, kalau ga ada bpjs apa malah ga lebih banyak yg meninggal?

      Like

  11. Akupun kemarin lahiran anak kedua SC pakai bpjs juga mbak, cuma memang jdi turun kelas. Zaman masih askes, dapat kelas 2 tapi tambah biaya. Padahal dari segi pelayanan sama sih, beda di fasilitas kamar aja.
    Memang mengurus suratnya harus sabar, pas masa pemulihan pernah ditinggal seharian ngurus bpjs buat baby supaya gak kena charge gitu kata suami kalau langsung diurus habis lahir.

    Like

  12. Tadi udh coment eh ilang hiks. BPJS membantu pasien? Iya! Tapi BPJS sering juga bikin pusing nakes dan manajemen RS. Itu yg dikeluhkan sama teman-teman. Kabarnya klaim RS ke BPJS jg banyak yg nunggak. Namanya juga butuh waktu kan y untuk verifikasi data. Termasuk kalau diagnosa dianggap ga sesuai sm obat yg digunakan, bisa2 gagal di klaim. Tp njuk dihilangkan ?ya nggak lah, melainkan harus diperbaiki terus menerus.

    Like

    1. Komenmu 2 kali maaak akakaka. Ngerti kok gimana repotnya nakes. Klinik bapak mertua pun pilih tutup krn klo join bpjs kayanya bakal repot dan bisa2 rugi

      Like

  13. setuju mba, ak salah satu yang sangat terbantu bpjs, dibilang ribet, ya emg rada sesikit rempong, tp ya ga lebai rempongnya…biasa aja, berguna banget ketimbang bayar sendiri (udah sering operasi n opname,bahkan dl pernah vip, gratis loh)
    cuma gumun, sama org2 yg ngeluh biaya dokter mahal, tp kl dsuruh antri bpjs mereka ogah, males, alesanya ribet #wolaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s