Antara Itaewon, Masjid, dan Mendoan


Siang itu dingin menggigit. Gigi saya gemeretak, namun berusaha menahan lelah demi mendaki bukit di Itaewon-dong. Tangan membeku menggenggam stroller Ola, sementara sibuk menyemangati Oliq mendaki bukit. Puput masih sibuk berjibaku dengan koper merah kami.

BAJILAK! Di tengah suasana dingin, badan lelah, dan perut keroncongan, terpampang di depan mata: TEMPE MENDOAN 8000₩, TAHU ISI 8000₩. Sungguh sangat hasyem buanget karena itu setara dengan Rp 94.000.

Welcome to Itaewon
Welcome to Itaewon

Itaewon bisa dibilang daerah paling internasional di Korea Selatan. Itaewon berada di Distrik Yongsan-gu dan menjadi populer setelah Amerika Serikat mendirikan pangkalan militernya di sana. Sejak itu, ditambah dengan Asian Games Seoul 1986 dan Olimpiade 1988, Itaewon makin dikenal publik dunia. Saat ini tempat ini menjadi daerah yang banyak dihuni ekspatriat.

Daerah ini sekilas seperti daerah-daerah padat penduduk di Seoul pada umumnya, seperti rumah-rumah karakter dalam K-drama. Sok tau banget, Mbok, sakumur-umur nonton drama Korea cuma Descendents of the Sun! Konturnya berbukit. Banyak rumah-rumah sangat sederhana seperti penginapan kami. Tampak seperti slum, walaupun interior rumahnya bagus, lengkap dengan AC, pemanas ruangan, dan elektronik lainnya.

Kalau urusan makanan halal di Seoul, tentu Itaewon surganya. Mau masakan khas Korea, masakan Melayu, restoran India, Arab, Persia, sampai baklava Turki pun ada. Halal, halal semua. Termasuk tempe mendoan.

.

Kalau kamu memilih tinggal di Itaewon tentu tidak sulit mencari makanan halal. Tergantung kocek kamu, bisa tinggal pilih. Kalau yang budgetnya mepet seperti kami plus penyandang dana yang pelit, yang ada cuma ngiler saja. Niat hati mau makan samgyetang, kan kayanya enak banget tuh dingin-dingin. Kenyataannya cuma indomie lagi indomie lagi. Nasi abon lagi, nasi abon lagi.

Buat kamu yang pilih tinggal di apartemen dan mau masak sendiri, di Itaewon ini juga banyak halal groceries, dari beras halal hingga daging halal. Kami sih nggak strict-strict banget sampai beras juga harus ada label halalnya, tapi kalau daging, ayam, ya memang milih halal.itaewon6

Islam di Itaewon berpusat pada Masjid Itewon di punggung bukit di Itaewon-dong. Masjidnya besar, dilengkapi dengan madrasah. Dan itu adalah satu-satunya masjid di Seoul.

Masjid Itaewon tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, namun menjadi salah satu atraksi wisata daerah ini. Jangan heran bila bertemu dengan turis-turis yang mencangklong kamera, tidak hanya turis muslim seperti kami saja, saya melihat banyak turis lokal.

Islam sendiri berkembang sangat lambat di Korea. Imigran dari negara-negara muslim baru mulai masuk ke Korea awal 1990-an, ketika aturan imigrasi Korea Selatan cukup longgar. Selain itu banyak juga ekspatriat dan mahasiswa dari Timur Tengah, Malaysia, dan Indonesia. Namun, konsep Islam, hijab, masih cukup asing di mata orang Korea.

Lalu, kenapa ada tempe mendoan di sana? Restoran Siti Sarah adalah sebuah rumah makan Melayu Mesir. Pemiliknya bernama Dyas, dulu seorang mahasiswa doktoral yang mengambil bidang budaya dan bahasa. Dyas menikah dengan seorang warga Mesir yang memiliki agen perjalanan. Agensi suami Dyas ini mendapat izin dari Kerajaan Arab Saudi untuk memberangkatkan haji dan Umrah dari Korea. Kabarnya pendaftaran naik haji di Korea hampir 4x lipat daripada kuota yang diberikan.

Kalau Indonesia berapa? 12-20 kali lipat kali ya melihat antrian yang hingga belasan tahun?

Apa saja yang bisa dilihat di Itaewon?

Itaewon juga  merupakan pusat barang-barang palsu. Eheem, istilah kerennya KW. Di sore hari banyak pedagang menggelar lapar di trotoar. Jadi ya, tidak hanya di Indonesia saja trotoar digunakan untuk bakulan. Barang yang dijual antara lain baju, tas, suvenir, banyak baju anak-anak lucu.

Sebagai peninggalan jaman Olimpiade, di trotoar jalan utama Itaewon ada tanda ucapan selamat jalan dalam berbagai bahasa. Misalnya: Indonesa, Selamat Datang. Turkiye, Merhaba, dan sebagainya. Silakan kalau mau disusuri jalannya.itaewon3

Jadi kami akhirnya mampir Siti Sarah buat makan mendoan nggak? Jelas tidak, karena Sang Putera Gombong tidak rela bayar seratus ribu untuk beberapa lembar tempe.

Sekian.

Advertisements

17 thoughts on “Antara Itaewon, Masjid, dan Mendoan”

  1. Heheh jadi ingat pas malam hari ada dua cewek korea dgn pakaian dress malam gituh ke mesjid cuma mo selfie doang — sempat ditegur sih pas lihat pakaian mereka.

    Terus pas jum’at siang juga nemu rombongan anak sekolah korea di halaman mesjid yg lagi dapat tugas ttg agama islam.

    🙂

    Like

  2. Bisnis mendoan nang kono joss kali ya mbak. Nek jare konco-koncoku nek nang luar negeri gak usah mikirke nek di kurske rupiah. mundak gak sido tulu.. aku mek mangut-mangut tok. wong jarang nang luar negeri. hahahha

    Like

      1. Wakakaka… Nebak mbok. Soale biasane nek aku komen neng kene suwe mbalese. Lah wingi kan dikon mas Cup standby dan lebih produktif. hehehee salam kagem keluarga mbok. Sukses selalu

        Like

  3. sebelumnya salam kenal dulu mbak, mbak aku mau nanya itu beli T – money dan pas top up dimesin bayarnya pake kartu kredit apa bisa cash mbak….?…..makasih

    Like

    1. Aku nginep di apt dari airbnb lupa namanya haha. Tapi di sini byk penginepan kok tapi saranku kalau emg ga strict bgt harus halal mending cari di hongdae aja lebih praktis transportny

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s