Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup


Seorang ibu berusaha mengendalikan mobilnya, menuju ke parkiran. Juru parkir heboh mengganjal ban belakang mobil dengan batu besar. Maklum saja, tanjakannya terjal, sementara mobil mengantre masuk ke lokasi parkir. Sepanjang jalan pun berjajar mobil parkir, semua diganjal batu.

Dulu Candi Ijo tak begini. Empat tahun silam kami datang ke candi ini. Sepi, hanya sekelompok (yang sepertinya) mahasiswa dan sepasang muda-mudi yang bergaya pre-wed. Waktu itu masuknya gratis, ada box donasi, hanya wajib lapor penjaganya dan menulis buku tamu.

Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus
Sekarang ramai sampai susah mau dapat foto bagus

Syahdu. Hening. Sepi. Hanya kicau burung dan sesekali suara pesawat terbang dari dan ke Adisutjipto.

Baca: Terminal B Bandara Adisutjipto

Kini, beberapa puluh meter dari lokasi candi, sudah tampak jajaran mobil dan kerumunan orang. Beberapa lokasi parkir di kanan jalan pun mendadak tercipta. Selain jadi parkiran, juga warung dan gardu pandang. “Dulu kok kita nggak perhatiin kanan jalan ya?” kata Puput. Memang, ternyata di sisi selatan Bukit Ijo pemandangan cantik terbentang. Dulu entahlah ada apa di sana. Mungkin pohon-pohon dan semak belukar saja.

View dari kompleks utama Candi Ijo menghadap barat
View dari kompleks utama Candi Ijo menghadap barat

Dari lokasi parkir kami mendaki hingga masuk ke kompleks candi. Tarif masuk adalah Rp 5000, namun petugas kehabisan tiket sehingga seluruh pengunjung bisa masuk dengan cuma-cuma. Sebenarnya kalau mau nakal, bisa saja petugas menarik bayaran dari pengunjung dan uangnya masuk kantong pribadi. Nyatanya, tidak. Salut dengan integritas mereka menjaga amanah dari negara.

Baca: Candi-Candi di Seputaran PrambananΒ 

Puput dan Simbok tercengang lagi di dalam. Ternyata sekarang sudah ada tamannya hahahaha. Ada rerumputan rapi. Saat kami datang sedang ada acara family gathering sebuah keluarga dari Tegalrejo. Pantas banyak terlihat pengunjung ber-dresscode merah.

Tulisan tentang Candi Ijo sebenarnya pernah saya tulis untuk Yahoo Indonesia, sayangnya udah kukutan. Sejarah ringkasnya adalah candi ini merupakan candi Hindu dari abad ke-10 pada zaman Kerajaan Medang periode Mataram. Candi Ijo berada di ketinggian 425mdpl di punggung Gumuk Ijo yang merupaan bagian dari perbukitan Batur.

Ada sebuah candi induk yang telah dipugar, candi pengapit dan candi perwara di kompleks utama, terletak di dataran yang paling tinggi. Sementara itu agak ke bawah ada beberapa candi perwara dan tumpukan batu candi yang sudah diekskavasi namun mungkin tidak cukup jumlahnya untuk dipugar. Sebuah candi perwara baru saja selesai dipugar, warna batu-batu yang baru masih terlihat cerah belum terlalu lama dihantam cuaca.

Total luas kompleks Candi Ijo adalah 0,8 hektare, namun dugaan kuat masih jauh lebih luas mengarah ke utara dan barat. Buktinya, masih banyak artefak ditemukan di sekitar bukit, ketika penduduk melakukan aktivitas penambangan. Bahkan tidak jauh dari Tebing Breksi, ada situs Arca Gupala yang kelak akan ditulis Puput dalam blog ini. (((kelak)))

Candi induk dan candi pengapit
Candi induk dan candi pengapit

Kompleks candi ramai. Ada keluarga, banyak kelompok-kelompok remaja, mahasiswa, tak lupa pasangan-pasangan yang mengambil posisi di ujung-ujung kompleks menghadap hutan dan membelakangi pemirsa sekalian. Entah sedang apa. Mungkin tadarus bareng.

Terus terang saya lebih suka kondisi sekarang. Memang tidak syahdu lagi. Bagaimana mau tenang, pengunjung sangat ramai. Ada anak-anak berkejaran, kelompok remaja sibuk mengatur posisi foto, ada juga seorang pemuda yang sibuk memotret seorang mbak-mbak yang gonta-ganti kerudung sehingga saya yakini adalah penjual jilbab online.

Saya bukan tipe orang yang akan bilang, “Ihh nggak enak sekarang ramai banget. Enakan juga dulu.” Emang itu candi punya mbokmu? Jangan mentang-mentang mencap dirinya traveler seolah-olah berhak atas segala tempat indah di muka bumi. Kalau rombongan keluarga ga boleh. Kalau kelompok piknik RT ga boleh. Kalau turis (domestik) ga boleh.

Baca: Memangnya Kenapa kalau Saya Turis?

Justru sekarang jadi hidup. Penduduk daerah sekitar juga kebagian rejekiΒ  untuk buka warung, jualan es, jadi tukang parkir. Saya juga tidak melihat (terlalu banyak) sampah berserakan. Ada satu dua puntung rokok di kaki candi, sayangnya.

Menurut bapak yang menjaga parkiran, Candi Ijo mulai ramai sekitar 3 tahun belakangan, namun menjadi sangat ramai setelah Tebing Breksi naik daun. Benar sih, dulu waktu saya ke Candi Ijo Tebing Breksi masih jadi penambangan, belum menjadi tempat wisata.

Baca; Tebing Breksi Makin Seksi

Karena letaknya di ketinggian, pemandangan dari atas juga menawan. Ada Gunung Merapi di utara, landas pacu Adisutjipto pun terlihat di kejauhan, sementara di selatan jajaran Pegunungan Sewu membentengi Gunungkidul.

Jogja dari Candi Ijo
Jogja dari Candi Ijo

Cara ke Candi Ijo: Dari Jogja ambil arah Prambanan. Tepat di pertigaan Pasar Prambanan (sebelum pintu masuk kompleks Candi Prambanan) belok ke kanan, ikuti Jl Piyungan. Bila Anda cukup familiar dengan daerah ini, bisa ambil jalan ke timur lewat Candi Barong atau Banyunibo dulu. Bila tidak, ikuti jalan Piyungan sekitar 2km sampai di pertigaan yang ada petunjuk ke Candi Ijo. Belok kiri ikuti jalan. Ada banyak petunjuk arah ke Tebing Breksi. Ikuti saja terus. Jalan akan menanjak dan banyak lubang-lubang besar karena daerah ini dilalui penambang batu. Tebing Breksi akan terlihat di kiri jalan dan Candi Ijo naik sekitar 500 meter lagi.

 

Advertisements

22 thoughts on “Candi Ijo Tidak Lagi Syahdu, Tapi Hidup”

  1. Efek lain dari ramainya Candi Ijo adalah pak satpamnya nggak curiga sama orang yg ke sana buat foto-foto. πŸ˜€

    Dulu tahun 2009 Candi Ijo masuk ke dalam “blacklist”-ku karena ulah pak satpamnya yang nyebahi. :p

    Tapi jujur, aku lebih seneng pas Candi Ijo sepi kayak dulu Mbok. Tapi ya aku yo terima kenyataan kok klo sekarang ramai. :p

    Semoga yang ke sana nggak hanya foto-foto thok tapi juga belajar sejarahnya. πŸ˜€

    Like

    1. Kayanya sih cuma foto2 tok kebanyakan. Huhuuu. Pak satpamnya kenapa? Dulu pas ke sana ada rombongan anak sekolah yg dimarahin gara2 ga lapor

      Like

  2. “Mungkin tadarus bareng.”

    wasyeeeemmmmmm πŸ˜†

    aku ke candi ijo awal 2015, sampe parkiran juga ngematne sisi selatan kok apik banget, njug masuk dan masih belum ditarik HTM cuma ngisi buku tamu dan ada kotak donasi.. memang sudah rada rame sih tapi itungannya masih cukup syahdu.. apalagi pas sunset.. beh.. le medhun kui medeni mbok! πŸ˜†

    Like

  3. wah iya nih candi ijo bagus buat view sunset, harga tiket masuk nya juga murah, ga bosen buat visit ke candi ini, cek juga diskusiaja.blogspot.com referensi wisata alam yogyakarta πŸ™‚

    Like

  4. pertama kali ke Candi Ijo. tahun 2012. Dan masih bener2 sepi. hanya ada pak satpam. Dan itupun tempat parkirnya masih di atas. Bener2 syahdu dan sepi. bisa puas memotret g bocor. Dulu cuma isi buku tamu doang, ya.

    sekarang. ramai, khususnya pas sore. tapi sangat disayangkan, ke sini kalau cuma motret. kadang aku berpikir, apa g pengen mereka mengetahui sejarahnya. hehe.

    Candi Ijo skrg sudah masuk pengelolaan TWC. berharap, makin eksis dan lestari.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s