Malapetaka di Bukit Panguk


In the far away land, the mountains were overarching. The hills started shutting us in, the trees and rocks about us seemed shadowy and dim. Mordor was in sight, beware! Rupamu, Mbok, ndadak macak JRR Tolkien barang. Mordar-mordor. nDlingo kaliii!

Ini cerita kesialan kami seharian ini menambah daftar kesialan saat traveling, melibatkan wafer, ban pecah, kunci mobil yang terjebak di bagasi, dan  kepala dinosaurus. Entah mana yang lebih sial, yang ini atau saat Oliq midak telek kirik di Paris.panguk4

***

Alkisah ketika Puput datang kemarin dia bercerita, “Besok kita ke Bukit Panguk yuk, kemarin aku lihat di Lion Mag, bagus.” Iya, maskapai kesayangan Puput adalah Lion Air. Dia mah anaknya gitu, antimainstream. *istrinya minta diendorse*

Awalnya kami berangkat menuju Bukit Panguk kemarin, tapi karena ini, anu, dan itu, baru keluar rumah selepas asar, nyaris jam 4 sore. Jogja itu, saudara sebangsa dan setanah air, kalau malam Minggu, byuuuuuh macetnya kaya Ragunan-Mampang jam 7 pagi. Gencet-gencetan. Alhasil kami baru sampai di Ring Road Timur hampir jam 5-an. Karena sungguh sangat mustahil, kami ambil alternatif yang lebih feasible: Hutan Pinus Mangunan.

Eits, ternyata tidak berapa lama hujan turun deras sekali. Makin embuhlah jalan menuju Bantul. Akhirnya kami ambil Plan C: ke sate klathak Pak Pong.

Lalu, dengan sok tahunya Puput membelok ke kiri, dikira sudah sampai Jalan Imogiri Timur. Ternyata itu Jalan Raya Ngipik. dan seperti biasa, Puput kalau sudah salah jalan tidak akan berbalik. Dia akan berusaha mencari jalan alternatif untuk kembali ke jalan yang benar.

Suami guwehhhh, pantang mundur dong. Biar ngenes di jalan yang penting pantang menyerah. Pantang balik arah.

Sudah ditebak dong hasilnya, kesasar. Untuk yang kesekianbelas ribu setelah dia menikahiku. Kesasar saja itu belum cukup keren bagi nasib seorang petualang bernama Puput. Kudu harus wajib ketemu fans PSIM di sepanjang jalan yang pulang dari Stadion Sultan Agung. Tanpa helm, motor berderu, dan bawa bendera segede-gede sprei king size. Modyar kowe Mbok.

Akibatnya, ketika hampir menemukan jalan yang benar kami terpaksa memilih alternatif yang ditunjukkan maps.me dan akhirnya kesasar lagi. WAKAKAKA. Ketika kemudian — setelah melewati jalan nan sempit dan berharap tidak papasan mobil — kami menemukan jalan yang benar . Dan ketemu fans PSIM lagi. *raup kembang*

Toh sampai juga tempat Pak Pong sebelum Maghrib.

***

Hari ini, saya terpaksa membatalkan kencan dengan Dude Herlino karena harus ‘mbaleni’ yang kemarin. Kami berangkat pagi, sekitar jam 10, dengan harapan sore sudah sampai rumah karena Puput akan balik ke Jakarta naik kereta.

Lancar hingga Imogiri, kami salah arah dan nyasar ke Hutan Pinus Mangunan. Ya nggak apa-apa lah nyasar di Hutan Pinus. Lumayan, wong belum pernah. Iya broooo, kami yang (sok) travellers ngeheits ini belum pernah ke Hutan Pinus Mangunan *telen logo blog*. Huhehehe yang ini namanya kesasar membawa berkah.

Habis foto-foto kami melanjutkan rencana semula ke Bukit Panguk. Ternyata jalannya melalui Kebun Buah Mangunan dan masih terus sekitar 4-5 km lagi. Jalan beraspal lalu berubah menjadi jalan tanah rata. Masih mudah dilalui mobil, walau kalau papasan kudu empet-empetan.

Mendung menggelayuti Bukit Panguk
Mendung menggelayuti Bukit Panguk

Dari Hutan Pinus yang ramai, Bukit Panguk rasanya jadi jauh lebih sepi. Saat itu hanya ada mobil kami, dan beberapa motor pengunjung. Retribusinya 5.000 untuk mobil dan 3.000 untuk orang dewasa, anak kecil gratis. Karena sudah lapar, kami langsung menuju ke warung di sana.

Walau terbilang baru, lokasi di Bukit Panguk ini lumayan established. Kamar mandi ada, cukup bersih. Warung sudah ada cukup banyak dan menjual makanan yang cukup menjanjikan seperti ayam goreng, nasi goreng, bubur ayam, soto ayam, pecel lele, dan kelapa muda. Jadi bukan cuma jualan pop mie saja. Harganya pun terjangkau, paling hanya beda 1-2 ribu dibandingkan dengan harga warung di Jogja standar.

Kami makan dulu, alhamdulillah Oliq dan Ola makan lumayan banyak. Mungkin bawah sadarnya tahu akan ada petualangan menanti.

Sialnya, pas kami selesai makan, mendung menggelayut. Saya sudah teriak-teriak, “Cuuup cepet, selak udan.” Puputnya lagi shalat di warung.

Benar, baru dua jepretan, dan belum naik di gardu bambu, hujan turun deras. Saya menggendong Ola lari-lari terbirit-birit untuk berteduh di warung. Untung cuma sekitar 10 menit dan mulai gerimis kecil. Kami memberanikan diri menembus gerimis.

“Duh, Mbak, bayine mesake udan-udanan!” Kata seorang ibu. Kasihan bayinya dibawa hujan-hujanan. Orang-orang sini memang ramah-ramah, masih kental suasana desa. And they called me “Mbak” instead of “Bu”.

Yang ini blas nggak ada takutnya
Yang ini blas nggak ada takutnya

Yay! Kami bisa foto-foto. Puas foto-foto kami pulang. Sandal sudah terasa tebal digelayuti tanah liat berlumpur.

Semuanya lancar selama 1 km pertama. Sebelum akhirnya fatal.

Jadi, Puput kalau nyetir suka sambil nyemil. Like terus-terusan, but I wonder juga kenapa dia ga gendut-gendut. Mungkin lemaknya ditransfer ke saya, saking dermawannya. Cemilannya suka ditaruh di kursi sebelah (saya, Oliq, Ola di belakang).

Saya ingat banget, Puput lagi berusaha ngambil wafer Khong Guan ketika mobil agak miring ke kiri dan mak bleethaaak. Kena batu. Daerah situ memang daerah batu kapur, banyak pecahan batu di pinggir jalan. Saya kira nggak kenapa-kenapa ternyata jalannya oleng. Ban diri depan pecah.

Puput buka bagasi untuk ambil dongkrak. Kami semua keluar dari mobil. Pas itu, dari arah berlawanan ada dua truk. Karena dikiranya jalan ga cukup Puput langsung nutup bagasi dan spion, mau mindahin mobil ke pinggir. Tapi ternyata truknya jalan santai saja, cukup.

Acara mendongkrak dilanjutkan. Ban sudah dalam posisi bisa lepas, ketika Puput mau ambil ban cadangan di bagasi. And guess what? Kunci mobilnya hilang. Kami cari ke seluruh penjuru mobil, rogohin celana Puput, tetep nggak ada.

Kunci mobilnya ketinggalan dalam bagasi mobil waktu ambil dongkrak. Gyaaaahhhhhhhh.

“Emangnya ga bisa dibuka dari depan, Cop?” tanya saya nggak cuma sekali.

No caption needed.
No caption needed.

“Nggak bisa, ini manual, ga kaya Viosnya Ati,” katanya. Mobil Accord ini memang sudah sepuh, lungsuran ibunya Puput.

Bingung mau gimana, Puput telpon mbaknya — sebut saja Mbak No 1. Dulu Accord ini disimpan di showroom mobil suami Mbak No 1 jadi dengan harapan kunci serepnya pun ada di sana. Ternyata Mbak No 1 lagi makan di restoran, dan nanti akan dicariin dulu, baru diantar.

Sekitar satu jam berlalu. Oliq udah sempat mewek, “Kalau nggak bisa pulang gimanaaaaaa?” Kondisi jok belakang sudah porak poranda akibat potholan Pocky, remah-remah Choco Pie, dan wafer durjana itu.

Kami cari lagi kuncinya, berharap jatuh atau gimana. Tetep nggak ketemu. Entah bagaimana, TERNYATA BAGASI BISA DIBUKA DARI DEPAN! *keplakPuput* Dan terbukalah harapan kami kembali. Oliq udah cengar-cengir hepi.

Ban mobil diganti ban cadangan. Dongkrak diturunkan dan tebak… BAN CADANGAN KEMPES. Nggak cuma kempes tapi bener-bener gembos-mbos-mbos.

Kami meles lagi dong. Di tengah kelemesan akibatt minuman yang udah habis ada drama lagi di belakang, “Mamaaa, kepala dinosaurusnya dipotholin Adiiiik.” Ngelu.

Ditelpon Ibu Mertua, disuruh telpon Mbaknya Puput yang No 2, yang rumahnya di Jl Imogiri untuk bawa pompa.

“Cup, kamu punya nomernya Mbak W, ga?” Puput tanya ke saya. Jiaaaahhh. Bola-bali nek Kendhung ki, kalau istilah Mbak No 1.

Untungnya saya ada, dan ternyata Mbak No 2 udah ditelpon sama Ibu Mertua. Koordinasi tingkat tinggi dalam usaha penyelamatan Oliq dan Ola. Mbak No 2 berangkat dari rumahnya, dan sempat nyasar ke Hutan Pinus, lalu nyasar kembali, setelah akhirnya sukses tiba.

Alhamdulillah ban cadangan tidak bocor, hanya kempes saja, dan sukses dipompa pakai pompa yang disambungin ke mesin itu. Waktu ban sudah jadi ada mas-mas bawa sempritan, mungkin pengelola Bukit Panguk yang datang mau pinjamin pompa, karena tadi ada warga lewat yang kasih tahu. Bener lho, warga sini ramah-ramah.

Kami pulang dan Puput baru sadar bahwa keretanya jam 7, bukan jam 8 atau 9 seperti  perkiraan.  Ya iyalah, naik ekonomi gitu.

Untuk menghindari macetnya Giwangan yang parah, kami mlethas lewat Jl Wonokromo, dan kemudian kembali lewat Ring Road hingga sampai rumah pada pukul 18.20. Sebelum sampai rumah saya sudah WA Teguh (ART sekaligus babysitternya Ola) untuk nganterin Puput. Puput langsung mandi dan berangkat ke Stasiun Lempuyangan. Sekali lagi, kereta ekonomi.

Sanpai di sana pas sekali, beberapa saat kemudian kereta tiba. Kembali ke ibukota.

Buat kami sih malapetaka. Tapi buat Puput yang kaya gini adalah petualangan. Eh salah, PETUALANGAN, capslock and bold.

Malapetaka itu kalau sampai dia ketinggalan kereta dan harus beli tiket pesawat besok pagi.

Yo wis alhamdulillah nyandak sepur, jatah bulananku ga jadi disunat. Sampai jumpa di petualangan kami selanjutnya.

21 thoughts on “Malapetaka di Bukit Panguk”

    1. Mungkin kui juga marai anakku sok emoh dijak dolan. Aik mau di rumah aja main aipik (ipad). Wakakakak. Ceritaku emang berkesan 😎

      Like

  1. Wah bakal berkesan ini perjalanannya ya mbok. Alhamdulillah akhirnya bisa happy ending ya. Besok lagi download waze atau maps. Kl aku sebelum jalan ku skrinsut jalurnya mbok, hihihi. Besok lagi, simbok suapin suaminya biar wafer durjananya nggak terulang lagi, wkwkwkwwk. Semoga besok nggak kapok kl kusuruh anterin ke hutan pinus ya mbok.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s