Liburan Keluarga Sukses dan Ceria dengan 7 Tips Ini


“Ada temenku kapok, Mbok, liburan bawa anak. Repot banget katanya, padahal cuma ke Singapura,” ujar kawan saya suatu hari.

Liburan dengan anak, bagi keluarga yang sama sekali belum pernah bepergian, bagaikan tantangan besar. Ngurus anak di rumah aja repot, apalagi traveling?! Gila kali ya bule-bule itu bawa anak ke mana-mana. Mungkin itu pikiran semua orang.

Kekhawatiran terhadap anak itulah yang banyak membuat keluarga memutuskan untuk menunda liburan (jauh) hingga anak-anak mereka ‘sudah agak besar’. Sudah agak besar itu relatif, tergantung keluarga masing-masing. Ada yang artinya umur satu tahun, karena sudah bisa makan table food sehingga tidak terlalu repot mempersiapkan makanan pendamping ASI. Ada pula yang memilih usia sekitar 2 tahun karena anak sudah lebih lancar berkomunikasi dengan orangtuanya, dapat menyampaikan keinginannya. Atau, ada juga yang lebih suka menunda hingga anak usia SD sehingga bisa gendong ransel sendiri hahaha.

Nggemblok bayi dan nggandeng balita
Nggemblok bayi dan nggandeng balita

Kenapa sebagian orang cemas ketika akan liburan dengan anak? Biasanya takut anak rewel di jalan (terutama di pesawat), yang lain adalah khawatir anak sakit.

Yaelah, anak sakit mah biasa, kayanya anak juga lebih sering ketularan teman sekolahnya dibanding ketika sedang bepergian.

Buat saya, yang sudah membawa traveling anak-anak saya sejak mereka masih bayi 3 bulan, saya makin terbiasa traveling dengan anak. Kenapa? Ya sebenarnya karena sudah terbiasa. Sudah mengalami berbagai permasalahan ketika liburan, dan sudah makin paham cara mengantisipasinya.

Dalam sebuah talkshow, ketika saya menjadi narasumber, seseorang bertanya, bagaimana biar anaknya tidak sakit saat liburan. Hmmmm, saya jawab terus terang, kalau itu saya tidak tahu. Anak — dan bahkan orang dewasa — bisa sakit kapan pun dan di mana pun. Diam di rumah saja juga bisa sakit, kok. Karena itu, tidak ada jaminan bagaimana anak tidak akan sakit selama bepergian. Yang ada adalah bagaimana kita berusaha mencegah agar anak tidak sakit dan bagaimana kita mempersiapkan antisipasi ketika anak sakit.

Memangnya keluarga kami, yang dianggap sudah sering traveling ke mana-mana ini tidak pernah mengalami anak sakit saat di perjalanan? Tetoottt. Oliq (5 tahun) pernah sembelit di Aceh, jet lag nggak jelas di Perancis, panas tinggi di Turki dan Langkawi Malaysia, dan diare di Korea. Ola (16 bulan) pernah panas tinggi dan lemas di Phnom Penh Kamboja yang akhirnya kami harus ke klinik di Bandara KLIA2 Malaysia ketika transit.

Karena itu, tips di bawah ini bukan imajinasi dari saya, bukan juga cuma hasil googling, melainkan memang berdasar pengalaman pribadi.

Before anything else preparation is the key to success  – Alexander Graham Bell

  1. Persiapan ekstra matang

Kutipan di atas berlaku untuk segala hal, termasuk dalam merencanakan liburan keluarga. Bayangkan saja, mau liburan sendiri saja butuh banyak sekali persiapan, apalagi membawa anak-anak. Poin-poin berikutnya pun sebenarnya merupakan bagian dari persiapan dengan penjabaran yang lebih rinci. Lalu persiapannya apa saja?

Pilihan destinasi sangat penting untuk liburan yang ceria. Dalam atau luar negeri. Jauh atau dekat. Harus naik pesawat atau bisa dengan mobil pribadi. Tentu semuanya harus dipertimbangkan matang-matang, sesuaikan dengan budget juga. Kalau bawa anak tentu tidak bisa langsung wisata ekstrem, hiking ke Annapurna misalnya. Misal anak-anak biasanya suka pantai, pilihan pantai di Indonesia ini kan hampir tak terhingga ya. Sesuaikan dengan jumlah cuti orangtuanya, dana, juga minat keluarga. Kalau anak sudah agak besar, bisa berkomunikasi dengan baik, ajak diskusi mereka agar wisata tidak membosankan karena sesuai kesukaan mereka. Tapi….jangan beri pilihan secara terbatas. Jangan, “Mas mau liburannya ke mana?” Nah, jangan-jangan kaya Oliq, anak saya, jawabannya, “Mau ke Ukraina!” Gyaaaaah, mbokne sama pakne jual sawah dulu ya, Le! Kayak punya sawah aja. Kya kya. Kasih pilihan seperti, “Kakak mau liburannya ke pantai atau ke gunung?” atau “Mau ketemu binatang atau mau kemah?”

Itu baru persiapan masalah lokasi. Belum harus jauh-jauh hari booking tiket kalau mau naik kendaraan umum, menyesuaikan dengan liburan anak, orangtua pun harus minta cuti. Lalu harus memilih hotel, membuat agenda liburan, packing dan sebagainya.

Kelihatannya ribet ya? Aaaahhhh nggak kok, makin lama makin terbiasa, udah otomatis aja ngerjainnya sambil senang karena liburan di depan mata.

And remember, success is 80% preparation and 20% execution.  

  1. Jaga kesehatan anak sebelum berangkat

Ini sering kelupaan. Memang, yang namanya sakit bisa datang tiba-tiba. Tapi tentu tidak ada salahnya kalau kita berhati-hati. Jangan karena mau liburan, lantas orangtuanya kalap ngajak anak-anak belanja baju asesoris biar bisa wefie narsis di tempat wisata. Atau, sibuk ke sana ke mari beli cemilan ini itu sampai lupa waktu. Kalau ada yang mau dibeli sebaiknya jauh-jauh hari supaya anak tidak kecapekan dan malah sakit ketika Hari-H.

  1. Pastikan itinerary yang longgar dan fleksibel

Prinsipnya adalah: Orangtua bisa berencana, tapi anak yang menentukan. Kita bisa saja pengen mengunjungi semua objek wisata di kota itu, tapi jangan lupakan anak. Jangan samakan pergi sendirian dengan pergi bersama anak-anak. Kalau itinerary sangat padat, yang ada anak malah kecapekan, tidak menikmati, dan jadinya rewel. Boleh saja sih kita berharap mau pergi ke X, Y, Z tapi anak tidak mau karena kecapekan, lebih baik turuti saja.

Ibu harus siap menyuapi alias ndulang anaknya dimana aja..bawa cemilan bayi yang gampang dibawa-bawa bisa jadi alternatif..
Ibu harus siap menyuapi alias ndulang anaknya dimana aja..bawa cemilan bayi yang gampang dibawa-bawa bisa jadi alternatif..

Gaya wisata kami santai sekali. Bisa jadi berangkat jalan-jalan keluar dari hotel baru pukul 10.00. Atau, bisa juga jalan pagi, waktu makan siang kami balik ke hotel/apartemen untuk makan, sholat, dan bahkan tidur siang, sorenya baru mulai jalan lagi. Malam? Sangat jarang, kalaupun iya hanya ke tempat-tempat yang tidak jauh dari tempat kami menginap.

Jangan pedulikan kalau ada yang bilang, “Ke Singapore kok nggak ke USS sih? Kan sayang?” Jawab saja enteng, “Ah cuma Singapura, berapa duit sih, gampang tinggal balik ke sana lagi!” *kibasin dolar Zimbabwe* HAHAHA.

Intinya, jangan terlalu ambisius. Toh tujuan utama liburan keluarga itu bukan pergi ke tempat-tempat yang paling hip di sebuah kota. Tujuan utamanya adalah biar apa? KELUARGA HAPPY.

  1. Lakukan riset tentang segala hal

Riset ini sangat masuk di bagian persiapan. Sangat berhubungan juga dengan bagian itinerary. Lakukan riset tentang iklim dan tujuan wisata yang dituju, suhunya berapa, apakah harus sedia payung atau sunblock dll. Jadi, pakaian yang dibawa pun menyesuaikan. Tanpa riset sederhana seperti ini, bisa jadi malah salah kostum, anak kepanasan/kedinginan, jadi harus beli baju di sana yang artinya pengeluaran membengkak. Fatalnya, kalau anak jadi sakit gara-gara kurang riset suhu udara, misalnya.

Kebahagian terbesar saat travelling dengan anak-anak adalah melihat mereka bermain dan tetap ceria sepanjang perjalanan hingga ke tempat tujuan...
Kebahagian terbesar saat travelling dengan anak-anak adalah melihat mereka bermain dan tetap ceria sepanjang perjalanan hingga ke tempat tujuan…

Lakukan juga riset tentang transportasi umum dan lokasi wisata. Mana saja yang sesuai untuk anak, mana yang tidak perlu dikunjungi. Apa saja yang lokasinya berdekatan sehingga dapat dikunjungi dalam satu hari. Transportasi apa yang nyaman dan jenis tiket seperti apa yang harus dibeli, anak gratis atau bayar setengah. Kalau riset sudah mantap, di lokasi wisata pun tidak akan buang waktu banyak untuk cari informasi dan bertanya pada orang.

  1. Pilih akomodasi yang nyaman

Hemat tidak berarti kere. Hemat tidak berarti ngemper di bandara, stasiun kereta api, masjid dll. Eiiits, jangan salah Oliq juga pernah ngemper berjam-jam di LCCT, KLIA2  dan Abu Dhabi, tapi hanya karena menunggu transit. Selain itu, saya usahakan  untuk dapat akomodasi yang nyaman. Yang jelas, kami tidak akan mengorbankan kenyamanan anak demi isi dompet kami.

Yang nyaman untuk anak seperti apa? Kategori saya yang paling penting adalah lokasi dan kebersihan. Tidak harus hotel bintang empat, asal jangan sampai hotel bintang jatuh, deh *nyengir. Saya pilih lokasi biasanya yang dekat dengan stasiun/halte supaya anak juga tidak jalan terlalu jauh. Lebih hemat waktu juga kalau kita bepergian. Selain itu dekat dengan tempat makan (halal) dan minimarket. Namanya juga bawa anak, pasti ada keperluan dadakan macam beli cemilan, susu, popok sekali pakai, dan bedak buat emaknya. Wehehehe enggak dink.

Oh ya, pilih akomodasi apa? Untuk di Indonesia saya pilih hotel biasa. Selain karena bookingnya tidak ruwet, kebanyakan dapat makan pagi. Kan lumayan itu irit. Pilihannya juga macam-macam, sering ada bubur untuk balita kita. Untuk makan siang dan malam mudah saja ya cari warung.

Untuk luar negeri, kadang saya pilih apartemen. Kenapa? Alasan utamanya adalah karena bisa masak sendiri sehingga bisa menekan biaya makan di luar. Lagipula untuk banyak negara, sangat sulit menemukan restoran halal. Kalaupun ada bisa jadi jauh dari lokasi kita dan harganya pun mahal. Karena itu saya sering berbekal persenjataan seperti rice cooker, beras, bumbu instan, lauk kering. Di sana tinggal beli sayuran, telur, ayam, dan buah segar. Selain irit, juga terjaga kebersihannya dan dijamin halal.

  1. Bawa obat-obatan yang tepat

Karena pernah mengalami anak sakit saat liburan, disesuaikan dengan pengalaman sebelumnya, bawaan obat-obatan saya makin lengkap. Yang paling utama adalah paracetamol, karena gejala penyakit yang paling sering menyerang anak-anak adalah demam. Mungkin akibat suhu udara, akibat kecapekan, atau virus. Nah, Tempra menyediakan paracetamol dengan varian rasa yang disukai anak-anak, ada rasa anggur dan jeruk. Kan banyak tuh, anak yang susah minum obat apalagi yang rasa dan bau obatnya menyengat. Tempra ini sudah dimodifikasi sehingga lebih mudah diminumkan pada anak-anak. Bahkan, ada juga Tempra drop untuk bayi. Kenapa pakai Tempra? Karena Tempra cepat menurunkan demam, obatnya bekerja langsung di pusat panas namun aman dan tidak menimbulkan iritasi lambung. Alhamdulillah Oliq dan Ola termasuk mudah minum obat, tapi semoga deh jangan sering-sering. Sehat-sehat ya, Nak!

Oh ya, paracetamol tidak hanya untuk menurunkan demam, tapi juga untuk meredakan rasa sakit. Misalnya anak sedang tumbuh gigi dan gusinya bengkak, kalau menurut DSA anak saya, boleh diberi paracetamol untuk mengurangi nyeri.

Obat lain yang saya bawa adalah obat diare, obat sembelit yang bukan diminum, juga paracetamol untuk dewasa. Selain itu selalu sedia vitamin, minyak telon, minyak kayu putih, obat gatal, plester luka.

Beberapa anak teman saya menderita asma, nebulizer boleh kok dibawa ke kabin pesawat. Beberapa yang memiliki alergi tertentu pasti harus membawa obat masing-masing. Yang jelas siapkan dengan cermat dan rapi, sehingga ketika diperlukan kita tidak panik.

  1. Berdoa

Yang terakhir namun yang paling penting. Berdoa. Berdoalah semuanya berjalan lancar dan semuanya sehat hingga pulang ke rumah. Dan terus sehat.

Sebenarnya, yang paling penting dari liburan bersama anak adalah kekompakan orangtua. Ingat, saat liburan ini kan biasanya hanya keluarga inti, tanpa ART, tanpa eyang-eyang, tanpa tetangga. Jadi ayah ibu harus kompak dan tidak panik. Kalau orangtua sudah panik duluan, pasti anak-anaknya akan rewel di jalan karena mereka masih punya emotional bonding yang sangat kuat dengan orangtuanya.

Dengan persiapan yang baik, niscaya kadar kecemasan orangtua yang membawa anaknya liburan untuk pertama kali turun drastis. Setelah yang pertama sukses, untuk liburan-liburan berikutnya sudah lebih mudah. Makin sering lagi sudah otomatis tahu apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi adanya masalah. Insya Allah, liburan keluarga akan sukses, anak-anak senang, dan orangtuanya makin harmonis.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho.

Advertisements

40 thoughts on “Liburan Keluarga Sukses dan Ceria dengan 7 Tips Ini”

  1. Aih, aku salut banget sama si mbok yang satu ini. Dulu aku termasuk orang2 yg terheran2 liat bule bawa anaknya yang masih bayi traveling. Eh pas giliran sendiri bawa bayi 1 bulan ke luar kota jadi paham kenapa si bule itu nekad n ga takut anak2nya kenapa2. Kalo persiapannya lengkap, panikpun bisa reda. Itu kincinya

    Like

  2. Wuih, cetar banget tips-nya. Emang beda sih kalau nulisnya bener2 dari pengalaman pribadi, bener2 udah wira-wiri keliling dunia bawa anak-anak.

    Kalau duitnya lagi longgar, aku juga seneng nginep di hotel atau vila. Apalagi kalau bisa free upgrade ke suite, anak2 bisa dapat kamar terpisah. Kan ntar bisa nganu.

    Like

  3. Untung aku durung pernah sakit selama traveling mbok, ojo sampe
    😀
    Nabung suwe, golek cuti angel, pisan-pisan iso mlaku-mlaku, kok yo loro
    Enak sakit e dek omah ae 😛

    Like

  4. Bener juga ya orang dewasa aja bisa risiko sakit pas liburan, anak kecil pun sama. Yen terus ragu bawa anak kecil kapan iso piknik keluargane? Hahaha. Tips jitu buat keluarga yang sudah diberi momongan. Yang jomlo koyo aku cuma bisa berangan-angan sik. *nyicil tuku popok* 😛

    Like

    1. Aku menjunjung tinggi kearifan lokal. Biar kate jalan2 ke luar negeri terus, lendang jarik setia manemani *kibas emas batangan*

      Like

  5. kalo anaknya banyak gimana mbak?dulu waktu anak masih 2 saya masih semangat ngajak anak2 jalan2,sekarang buntutnya udah 3 kecil2 pulak..jangankan mau ngajak piknik,dirumah aja badan rasanya kayak digebukin.ini bulan dpn mau ada wisata sekolahnya anak,maju mundur pgn ikut apa enggak,naik bis,bawa bayi,gandeng kakaknya yg 3th dan 4th..oemji…

    Like

    1. Hahaha nunggu yang gede 4-5 tahun dulu. Pengalamanku 4 tahun ke atas udah enak. Klo umur 3 masih suka rewel terus jalan jauh juga masih capek.

      Like

  6. Jadi inget dulu pernah ngajak traveling debay, usia 8 bulan. Kerasa banget beda “ritme jalan2″nya dibandingkan klo sama yang seumuran. Tapi asyik juga sih, lebih bisa santai. Selain itu, di sepanjang perjalanan juga ada yang bisa dikudang 😆

    Dulu juga pernah jalan sama ponakan yang masih 2 tahun. Di tengah2 penerbangan dia rewel dan nangis2. Aku yo bingung to nenanginnya gimana, soalnya si bunda juga gendong adek bayi. Akhirnya dia baru tenang setelah dipinjemi mainan sama ibu2 sebelah. Ternyata bawa mainan itu penting ya #tepokjidat

    *maklumlah mbok, belum punya anak. Jadi gak pengalaman beginian*

    Like

    1. Cukup mbak. Aku kalau pergi berempat hanya 1 koper max. Plus 2 ransel. Mau pergi 2 minggu musim dingin bawaannya udah dipatok segitu.

      Like

  7. setuju mbakyuu… tambahi siji meneh harus tahu lokasi RS terdekat secara wes tau anakku lagi travelling malah kejeduk meja kursi, jontor getihen..IGD..

    trus obat yang dibawa kudu sesuai tujuan trip, ngetrip ke pantai trus nginjek bulu babi koyo bojoku yo lumayan deg-deg ser.. untung nggowo..

    Like

  8. Kebahagian terbesar saat travelling dengan anak-anak adalah melihat mereka bermain dan tetap ceria sepanjang perjalanan hingga ke tempat tujuan… <—- SETUJU!!

    Noted lah, OK semua tipsnya. Baru berani bawa 1 anak aja travel overseas, adiknya ditinggal di rumah. Next, cek ombak lagi bawa 2 anak deeeh… hehehe….

    Like

  9. Wah tipsnya bermanfaat banget mba. Point 3 terutama. Kadang suka bikin itinerary yg padat jd anak2 suka usa cape. Noted banget ini

    Like

  10. Jaga kesehatan sebelum berangkat itu bener banget, mba…
    Kalau aku biasanya jam tidur dan pola makannya benar-benar tak perhatiin.
    Trus itu…itinerary pasti manut kondisi anak, apalagi anakku kalau nggak tidur siang suka galaw gitu. Jadi biasanya jam 2an kita balik hotel dulu…atau dipasin pas jam tidur siangnya pas di bus yang perjalanannya agak lama…jadi paling nggak anak bisa tidur 1jam an lah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s