Air Terjun Bertingkat Tiu Kelep dan Sendang Gile


“Ke mana nih hari ini?” Puput dan saya menjembreng peta Lombok gratisan dari hotel. Setelah kemarin kami menyusuri pantai-pantai Lombok Selatan dan pulangnya cukup malam, rasanya hari ini pengen agak santai dikit. Oliq sudah mengultimatum agar jalan-jalannya nggak jauh-jauh. Delin apalagi. Melirik peta, kami sepakat bahwa rencana ke Sembalun harus dibatalkan. Terlalu jauh dari hotel kami di Senggigi. Lagipula, karena membawa anak, mustahil untuk berangkat pagi-pagi.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Tiu Kelep dan Sendang Gile di Lombok Utara. Dulu waktu masih tinggal di Jakarta, kami sering sekali wisata air terjun. Mulai dari berbagai curug di TN Gunung Salak hingga Curug Cikaso di dekat Ujung Genteng. Di Lombok, lokasi wisata tidak hanya pantai, bukan?

Simbok keren dan bayi keren
Simbok keren dan bayi keren

Dari Senggigi kami perkirakan akan tiba di lokasi dalam waktu 2 jam. Ternyata perjalanan ke utara menyusuri pantai barat Lombok sangat mengasyikkan. Sepanjang jalan berselang-seling antara pantai dan kota kecil. Jalannya mulus, berkelok, naik turun, just the way Puput likes it.

Pemandangan di jalanan dan bojoku dengan pose embuhlah
Pemandangan di jalanan dan bojoku dengan pose embuhlah

Tidak banyak yang terjadi hingga sebuah belokan tajam ke kanan. Puput mengandalkan aplikasi maps.me yang bisa offline. Irit batere dan irit data, katanya. Tapi boros waktu dan tenaga, wong kesasar akut.

Belokan ke kanan masih cukup meyakinkan karena masih berupa jalan raya besar. Namun ketika belok ke kiri, saya mulai ragu dan mempertanyakan. “Kamu yakin lewat sini?” Bla, bla, bla pokoke dudu Puput nek ora sabda pandhita GPS. Manut suarane mbak-mbake. Madep mantep. Keblasuk.

Jalan aspal mendadak hilang dan kami sampai di jalanan berdebu. Kanan kiri adalah rumah-rumah pemukiman Hindu. Sebuah pura lumayan besar Pura Penataran ada di kiri jalan. Babi-babi yang lebih besar dari Delin terlihat di pekarangan rumah. Puput yang tadinya sangat yakin mendadak goyah. Delin diutus bertanya pada penduduk.

Blah blah blah, nyeh nyeh nyeh. Katanya, bisa terus lewat jalan ini sampai ketemu jalan aspal baru belok kiri, agak memutar, sih. Tapi katanya Delin juga mendengar semacam “Mau ke Sendang Gile kok lewat sini sih” ketika bapaknya bicara dengan temannya di situ, menggunakan bahasa setempat.

Okelah perjalanan kami teruskan dan makin lama makin TETOT. Jalannya makin mleyok-mleyok nggak karuan. Kami tidak tahu ujungnya di mana dan Puput memutuskan untuk menyerah, balik lagi dan mencari jalan yang benar.

“Gara-gara Papa sih jadi kesasar,” kata Oliq. Entah dari siapa dapat turunan suka menyalahkan *smirk*

Kami balik lagi dan baliknya jauuuuuuuuuuh hingga sampai di jalan utama Bayan. Akhirnya berbekal (masih) maps.me sekarang ditambah dua biji Google Maps kami sampai di jalan yang benar. Ada petunjuk arah yang lumayan jelas hingga kami sampai di tujuan.

Mobil harus diparkir dan kami jalan kaki. Perjalanan ini dimulai dengan….Oliq beli es krim. Dan Puput iri minta beli juga.

Lalu, kami masuk gerbang dan membayar tiket masuk sebesar 30.000 untuk 3 dewasa. “Jalannya jauh nggak, Pak?” tanya saya ke penjaga. “Cuma 800 meter, paling seperempat jam sampai,” kata bapaknya. Saya pede dong. Delin yang nggak pede blas. Saya mulai turun dengan Ola. Delin menggandeng Oliq. Puput ceprat-cepret sana sini. Saya menggendong Ola pakai jarik batik yang oh sungguh enggak awesome rasanya. Berat di pundak kiri, sementara pundak kanan nyangklong tas isi pampers, tisu basah, minuman, jajanan, baju ganti, kenangan masa lalu dan kulkas.   Jalannya kebanyakan bertangga, sebagian besar menurun.

Wah iki mulihe bakal gempor,” kata Delin membayangkan masa depan yang suram untuk jalan pulang nanti. Bahkan turun pun kaki lumayan gemetaran karena menahan beban. Sampai di bawah saya duduk manis sementara Oliq dan Delin datang terengah-engah. Kaki Oliq gemetar.

Delin setelah mengumpulkan sisa-sisa tenaga
Delin setelah mengumpulkan sisa-sisa tenaga

Karena insiden sisa es krim Ola yang disambar monyet dan mendadak posisi kami dikerubungi monyet, kami pindah tempat di semacam pendopo panggung. Oliq, mengabaikan air terjun, langsung minta makan Pop Mie. Satu Pop Mie Mini habis, minta tambah lagi. Kayanya tenaganya cukup terkuras. Delin juga langsung mengganyang satu Pop Mie Kari.

Sumpah, ini postingan tidak diendorse Indofood.

Saya dan Puput masih kalem saja. Saya dan Ola dan Oliq duduk-duduk manis. Puput dan Delin sibuk jeprat-jepret.

Sendang Gile dan Tiu Kelep sebenarnya adalah dua air terjun. Tiu Kelep di atas dan Sendang Gile di bawahnya, berdua menjadi satu aliran yang deras, melahirkan sendang di bawahnya. Sama seperti Simbok dan Puput, dua hati menyatu dan lahirlah gentolet-gentolet cilik. Sebuah bahtera rumah tangga yang semoga sakinah mawaddah wa rahmah. Amin.

Mbok, kowe jane travel blogger opo konsultan pernikahan sih?

Karena hari Sabtu, cukup ramai juga air terjun ini. Banyak wisatawan asing, juga lokal. Beberapa sudah berbikini siap nyemplung padahal airnya sedingin es. Asyik juga sih tempatnya, walau mustahil melepaskan Ola di sini, sementara itu anaknya sudah heboh menunjuk-nunjuk air terjun. Ola memang gitu, ga kuat lihat air muncrat sedikit saja.

Ada beberapa warung di sini, biasanya jual minuman, cemilan, dan Pop Mie. Ada beberapa jual gorengan. Lalu ada sepasang bule dengan guide mau beli makanan. Sang guide menawarkan Pop Mie. Si bule menjawab, “But it’s made with water that is not drinking water.” And I was, like, dugh, kuwi deloken banyune sing mili, asli soko Gunung Rinjani, sueger, mbok tok ombe ra nganggo dimasak wae ora bakal mati sampeyan.*

*Airnya mengalir langsung dari Gunung Rinjani, seger, diminum langsung juga kamu ga bakal mati ( -red)

Dan bulenya malah beli pisang goreng. CEMEN! Wakakakkakak. Saya judgmental banget yah?

Kami sibuk berfoto, tapi memang nggak bisa pose aneh-aneh wong tempatnya juga terbatas dan berbatu dan licin. Oliq saja yang tidak ada fotonya wong dia sibuk makaaaan terus.

Bertemu Nadine di Sendang Gile

“Eh kae Nadine dudu, sih?” kata Puput pada kami. Nadine bukan, katanya.

“Koyone hooh. Aku mau wis mbatin,” ujar Delin. Simbok cuma manggut-manggut nggak terlalu mudeng mukanya Nadine Chandrawinata. Coba kalau yang datang Justin Trudeau, mungkin saya malah langsung mimisan. Dan pingsan. Terus pipinya dipukpuk JT sambil diolesi Minyak Angin Cap Kapak.

Puput langsung mendatangi kerumunan yang dijaga satu orang polisi itu. Iya, polisinya dewean saja. Rombongan ‘Nadine’ terdiri dari laki-laki dan beberapa ibu hijaber. Di ujung dekat air terjun sudah banyak wisatawan yang minta berfoto dengan Mbak Nadine. Puput bersiap dengan DSLR-nya, mungkin dalam benak sudah merancang caption Instagram apabila berhasil selfie dengan Nadine. Maklum, beliaunya lagi euforia seleb setelah sukses berfoto bersama Lewis Hamilton (asli) dan Chris John (asli). Bertemu Caisar YKS di masjid saja bangganya minta ampun.

Tak berapa lama Puput kembali, tanpa senyum sumringah.

“Jebul dudu Nadine. Putri Pariwisata Lombok.”

“Oh pantes, klambine terlalu wedok nggo Nadine. Raine yo terlalu putih bla bla bla,” Delin nggedabrus. Yekaliiii, tadi kalian berdua juga yang sok Nodane-Nadine.

Karena gagal bersua selebriti di Sendang Gile, artinya sudah saatnya kembali mendaki jalan terjal menuju ke atas. Saya menggendong Ola dengan jarik sambil menggandeng Oliq.

Strong Oliq pulang pergi sendiri
Strong Oliq pulang pergi sendiri

Sangar kan Simbok ini. Baru beberapa anak tangga kami disalip oleh rombongan Nadine KW. “Ya ampuuun berani bener bawa balita segala,” kata ibu-ibu hijaber.

Simbok cuma mrenges.

Tiba-tiba muncul sepasang bule yang mengenakan kaos singlet dan tank top. “Should I carry him?” katanya pada saya sambil menunjuk ke Oliq.

No, he’s okay,” kata saya (sok) pede. Padahal maksudnya, “Carry me aja, Maaaas, please carry meeee!”

Astagfirullah. KOWE KOK GATEL BANGET SIH MBOK?

Pelangi di Sendang Gile
Pelangi di Sendang Gile

Saya akui, saya pribadi sudah sangat yakin bahwa Oliq akan minta gendong. Karena itu saya bertahan pakai jarik untuk Ola, Ergobaby disiapkan untuk Oliq. Ketika Puput menyusul, dia mengambil alih menggandeng Oliq, menyesuaikan langkah kaki Oliq. Saya di depan dengan Ola dan Delin. Makin lama Delin makin tercecer. Mendaki dan Delin itu tidak bisa diletakkan bersisian dalam satu kalimat.

Di persimpangan pinggir sungai saya berhasil menyusul rombongan Nadine KW. Ternyata sedang berasyik masyuk diskusi mau lewat tangga terjal yang 10 menit sampai atau memutar pinggir sungai yang landai tapi bisa sampai setengah jam. “Kalau saya sih ikut aja,” kata Mbak Pariwisata. Ibu-ibu hijaber memenangkan debat dan mereka akan lewat pinggir sungai. CEMEN! Simbok dengan gagah berani melanjutkan jalan terjal. Tampak perkasa menggendong balita.

Padahal jan-jane sikile wis ndredeg.

Bagian tangga ini memang yang paling terjal. Tinggi menjulang meluluhlantakkan dengkul setengah baya saya. Delin makin tercecer. Puput dan Oliq di ujung belakang. Sebenarnya saya mau istirahat sejenak di sebuah spot peristirahatan, sayangnya ada yang lagi pacaran di situ. Takut pengen mengganggu, saya meneruskan langkah.

Klimaks pendakian sudah tercapai ketika saya tiba di sebuah spot peristirahatan yang lain. Ola sudah menangis minta menyusu. Akhirnya saya duduk, minum, menyusui Ola sambil menunggu yang di belakang. Delin datang melenguh-lenguh bak sapi mau dikurbankan. Lalu Puput dan Oliq datang. Bayangan saya Oliq pasti sudah cemanthol di punggung Puput. Nyatanya anaknya masih jalan sambil ngecipris.

Kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian hingga garis finish. Karena Ola masih menyusu dan tidur terpaksa saya tetap menggendongnya dalam keadaan menyusui. Tas selempang saya yang segede Bagong diambil alih Puput.

Kami sukses tiba di atas tanpa insiden. Langsung menuju ke tempat bakul mainan. Glukosa, kami dataaaang. Oliq, yang sukses turun naik sendiri tanpa digendong dapat hadiah es krim lagi.

Superb day!

 

Advertisements

14 thoughts on “Air Terjun Bertingkat Tiu Kelep dan Sendang Gile”

  1. Gara-gara Kaisar YKS, air yang aku minum langsung nyembur mbok. Mestinya ada peringatan di awal tulisan, jangan dibaca saat lagi minum, makan, galau dan butuh kasih sayang.

    Ih jadi kepo siapa itu putri pariwisata Lombok yang disangka Nadine KW. Mata yang ngeliat belekan kali ya? tapi ya mosok belekan berjamaah. #TeamOLAYangMauDigendongHulk

    Like

  2. Waaaaahh… SImbok setrong!
    Nggendong Ola sambil nyangklong gembolan ke air terjun.

    Kayaknya nasibku bakal sama kayak Delin. Menggeh2

    Like

  3. Carrry meee mbok, please carry me…. Maklum, Rodok gatel, soale kesambet “uler” bule….wkwkwk

    AKu duwe anak umur 9 tahun, sampek saiki ra isok nggendong nganggo sewek… salut, opo maneh adventure karo nggendong koyok ngunu. Disitu aku merasa dirimu Super Mom. Halah

    Like

    1. Koen dudu wong jowo tenanan. Kakehan dadi expat njuk so internesyenel ngono. Yo cobo menko nek duwe bayi neh nganggo sewet yo

      Like

  4. ya ampuuuunnn mbok, seru bangeeettt yaaahh…. bacanya sampe ketawa-ketiwi klo bahas Delin.

    btw, ku kmrn liat simbok ngisi seminar di JEC malem-malem, mau nyimak tp g bisa lama-lama krn nunggu pameran 😦

    Like

  5. mau salim tapi selak balik ke booth mbak… heuheuheu. next time insyaallah

    iya udah ku add fb-nya. seru juga baca statusnya simbok :))))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s