Berprasangka Baik Pada Suami


“Entar kamu ditindas lho sama suamimu!”
“Kalau ada apa-apa sama suamimu gimana?”

Ibu-ibu yang dulu bekerja dan kemudian memutuskan menjadi ibu rumah tangga seperti saya pasti pernah mendengar kalimat-kalimat di atas. Pernah, atau mungkin malah sering, bahkan dari keluarga dekat. Sebagian (kecil) mungkin peduli, sebagian lain hanya bilang demikian sebagai bentuk ketidaksetujuan atas pilihan kita. Padahal, makani wae ora ndadak melu protes barang gyaaa gyaaa…

“Apa-apa” di sini adalah eufemisme dari suamimu: di-PHK, sakit, meninggal, poligami sementara kamu ga rela berbagi suami karena imanmu ga sekuat istri Nabi dan Teh Ninih😇, dan selingkuh. Pokoke segala macam hal yang kalau orang Jawa jaman dulu bilang amit-amit jabang bayi.

Biasanya, muara pernyataan-pernyataan tersebut adalah uang. Nek ono opo-opo karo bojomu sopo sing arep makani anakmu? Pasti ada pertanyaan seperti itu. Kalau bingung, jawab saja, “Yo mbuh yo.” Nek isih bingung, ndodok karo cekelan cagak listrik wakakkakkaka.

Uang memang penting. Pentiiiiing buangettt, tapi hidup kan enggak segitu matematis ya? Uang bisa hilang begitu saja, misalnya gara-gara bad investment *senyum kecut*, tapi rejeki (berupa harta) juga bisa datang tiba-tiba.

Buka kartu dikit nih. Dulu waktu memutuskan jadi ibu rumah tangga, gaji saya waktu itu setara dengan Puput. Iya sih, gaji bulanannya doang yang setara, benefitnya njomplang wong saya sosialis, Puput kapitalis yang waktu itu masih jaya (sekarang sih ngenes 😭😭). Secara matematis pendapatan keluarga kami tinggal separo dari sebelumnya kan? Dari awalnya DINK (Double Income No Kids) berubah jadi SIOKRMK (Single Income One Kid Rumah Masih Kontrak). Kalau dilihat seperti itu nelongsone berlipat-lipat ganda to? Piye bisa beli pupur dan benges? Pampers dan minyak telon? Tiket liburan dan kutang berenda? Kenyataannya all was fine. Masih bisa survive, masih bisa nabung, masih bisa plesir. Masih bisa hahahihi nggak karuan walau nggak punya mobil mewah dan harta berlimpah.

Justru orang-orang lain yang waktu itu berprasangka buruk sama Puput, dikiranya dia yang maksa saya berhenti kerja. Justru dia sama kagetnya waktu saya bilang mau jadi ibu rumah tangga (sementara). Walaupun, ciiih, dalam hati pasti bersorak-sorai 😒. Tapi jujur saya aja kaget sendiri waktu itu, kok bisa ya mutusin ga kerja lagi wakakakak padahal sejak kecil saya bukan tipe ‘ibu-ibu’, let alone a kid person. Bukan saya banget, sumpah 😁. Sampai sekarang aja saya masih suka heran hahahhhhhaha. Aku curiga disebeh Puput iki!!!

Kembali pada pernyataan di atas. Kalau ada apa-apa dengan suami gimana. Nggak, saya yang ilmunya masik cekak ini ga bakal keluarin dalil apapun, itu tugasnya para ustadz dan ustadzah FB yang udah kebanyakan😜. Simbok hanya pengen keluarin pendapat awam saja. Berpikirlah positif. Berprasangkalah yang baik. Jangan mikir yang enggak-enggak kalau suami kenapa-napa. Alih-alih berpikir suami akan sakit atau selingkuh atau poligami (duuuh biyuuuuuung *ganti daster pakai kathok gemez*), mending kasih tuh suami makanan sehat, masakkan setiap hari biar lebih organik, irit, dan cintanya makin melekat (ciyeeeee).

Lagipula, perkataan adalah doa. Prasangka adalah doa. Mulai sekarang ayo berprasangka baik. Semoga suami naik jabatan dan gaji naik (sehingga bisa bersedekah lebih banyak). Semoga suami dapat kerja di luar negeri (sehingga bisa jalan-jalan sekalian). Semoga suami sehat selalu (nggak perlu six packs gapapa, toh ada MTMA yang bisa ditonton kalau nyari yg six packs 😝). Suami pasti tetap sayang sama istrinya walau gelambir udah ndlewer ke mana-mana 😙 toh mereka juga kan yang ngehamilin!!!

But in the end of the day, money is not everything. Shit happens, yup bener. Persiapan penting, jelas itu setuju. Tapi di atas itu semua ada Tuhan kok.

Jadi para ibu yang masih galau mau menjadi ibu rumah tangga, kegalauan itu lebih baik diubah jadi doa dan prasangka baik. Moso sama suami sendiri prasangkanya buruk enggak enak ah. Kalau memang udah niat baik untuk stay at home and take care of the kids, just do it. Ga perlu didengerin orang yg ngomong “Nanti kalau….nanti kalau…” Mostly they don’t really care.

Ibu-ibu pekerja jangan baper ya, saya ga underestimate working moms kok. Ini hanya satu point of view tentang ibu rumah tangga. Poin yang recehan banget hakakakk. Saya aja pengen kok suatu saat kerja formal lagi dan udah dapat approval dari suami walau pakai embel-embel, “Nanti ya kalau Aik sama Ola udah bla bla bla, kerjanya yang bla bla bla. Kamu ga mau ambil S3 aja?” Dulu pas mau jadi IRT unconditional, sekarang T&C-nya begono amat 😒. Pakai disuruh sekolah lagi pula 😒😒.

Intinya begitu sih. Saya (masih berusaha) terus berprasangka baik pada suami. Insya Allah berkah buat keluarga kecil kami.

Nah ibu-ibu, kalau misalnya sampai tanggal 26 ini jatah belanja bulanan belum ditransfer, jangan langsung berprasangka buruk. Tetap istiqomah berprasangka baik sama suami, siapa tahu molor satu dua hari, tapi nominalnya lebih besar. Mari kita aminkan bersama 😎.

Advertisements

19 thoughts on “Berprasangka Baik Pada Suami”

  1. suka banget dengan postingan ini kak olen, seakan menjawab kegalauanku selama ini. kemarin ada juga postingan dari emak2 blogger tentang prasangka baik, pokoknya entah kenapa belakangan ini semakin banyak tulisan yang membuatku harus segera mengambil keputusan

    Like

    1. Pikirkan baik-baik Kak, bicarain yang tuntas sama suami. Karena kalau gak ikhlas nanti jadinya nyesel sepanjang hayat. Suamiku juga dari keluarga dokter (kecuali dia doang) tau deh sekolahnya lama gitu. Makin susah emang kalau mau mengambil keputusan untuk berhenti total. istikharah ya Kak Liza, maaf nggak bisa bantu apa2

      Like

      1. bukan berhenti total sih kak, tapi berhenti bekerja di badan hukum eks BUMN yang ya tau sendiri kan kak sistem kerja di BUMN gimana. Dilempar-lempar sleuruh indonesia. 😦 jadi daripada STR dokterku mati dan berjauhan dari suami, mending sebaiknya aku istikharah lagi kak.

        Like

  2. Sebagai seorang yang dibesarkan oleh seorang single mother (bapak meninggal ketika saya kelas 6 SD) dengan adik 5 orang, berhenti bekerja adalah suatu hal yang “tidak” banget. Pengalaman hidup menentukan pilihan. Dan pilihan seseorang harus dihormati. Berdiskusi tuntas dengan suami sangat disarankan sebelum menentukan pilihan.
    Sangat repot bekerja lalu sekolah lagi (PPDS) sedangkan anak masih balita serta segudang permasalahan ART.
    Sekali lagi semua itu pilihan dan telah diperhitungkan segala konsekuensinya.

    Like

    1. Setuju kakak. Pilihan setiap orang memang harus dihargai. Berhenti bekerja bagi banyak ibu juga sering menjadi solusi untuk menghindari segudang permasalahan ART. Anak juga dididik ibu sesuai dengan pola pengasuhan yang disepakati keluarga.

      Like

  3. sepakatt banget ini sama kak Olen. ak mutusin buat resign dari rumah sakit yang mesti kerja lebih dari 40 jam seminggu. Sekarang buka praktek aja dirumah sama klinik2 kecil. suami kerja jauh juga. Kadi pilihan buat jadi SAHM tepat untuk sekarang. Nek mbesuk2 meh sekolah lagi yooo dipikir dhisik karo ndodok:)))) salam kenal ka Olen:D

    Like

  4. What a heart-warming article. Selalu suka sama tulisan mba Olen yg tidak menjudge salah satu sisi tapi lebih ke bebas menentukan pilihan hidup. Thanks mba, keep writing

    Like

  5. Oalaaaaa tak kiro aku tok.

    Jere sepupuku, Pikiran negatifmu akan menjadi ucapan yang Di Aminkan. Soooo mikir positif wae. Sing penting sik isok pelesiran. Nek duwek pas lagi cekak, yo pelesiran nang alun alun kuto. kulineran krupuk tutul. hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s