Si Tebing Breksi yang Makin Seksi


Bagaimana tidak makin seksi, dinding-dinding tebing kelabu pucat itu kini dipercantik dengan ukiran-ukiran. Relief-relief kisah pewayangan. Sementara itu, Sang Merah Putih berkibar di setiap sisi. Nasionalis tradisionalis. Modern dan masa lampu. Kekinian dan kekunoan.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih menulis untuk Yahoo Indonesia, saya pergi menyambangi Candi Ijo. Candi ini berada di Bukit Ijo, merupakan wilayah cagar budaya. Keberadaan Bukit Ijo, yang berada di ujung timur Kabupaten Sleman ini konon menjadi (salah satu) alasan mengapa landas pacu Bandara Adisutjipto tidak dapat diperpanjang. Hence, bandara pun menjadi tidak dapat diperbesar karena ada sungai di sisi barat.

Taman Tebing Breksi
Taman Tebing Breksi

Kala itu, dalam perjalanan saya melewati sebuah bukit batu besar. Truk-truk keluar masuk sekitar bukit membawa bongkahan-bongkahan batu besar. “Woh, ada tambang batu, pantes jalannya jelek. Nggak kaya jalan di Jogja,” kata Puput pada saya. Memang, bila dibandingkan jalan lain di sekitar Sleman — bahkan di sekitar Bukit Ijo sendiri — jalan menuju Candi Ijo terbilang buruk. Berlubang di sana-sini, walau mungkin hanya 1-2 kilometer saja.

Tidak, sayangnya kami tidak menghampiri bukit tambang batu. Siapa yang menyangka, lokasi tersebut akan menjadi salah satu lokasi wisata hits di DIY.

Beberapa tahun berlalu, saya tidak menemukan informasi sebenarnya mulai kapan Tebing Breksi menjadi lokasi wisata. Setahu saya, Tlatar Seneng, sebuah panggung pertunjukan yang ada di Taman Tebing Breksi diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X awal tahun lalu. Memang, baru setahun belakangan ini nama Tebing Breksi mencuat di kalangan pecinta jalan-jalan.

Setelah beberapa kali ditunda (kebanyakan karena sudah krunthelan di kasur dan malas gerak), akhirnya pekan lalu kami sukses juga mengunjungi Tebing Breksi. Bagi kami, yang merupakan orang Jogja, dan pernah mblusuk sekitar Candi Ijo-Barong-Sojiwan-Ratu Boko-Banyunibo-Sumberwatu, jalan menuju ke Tebing Breksi sangat mudah.

Begini penampilannya dari warung
Begini penampilannya dari warung

Kalau Anda dari arah Jogja, ambil jalan menuju ke Prambanan. Tepat di pertigaan Pasar Prambanan belok kanan dan susuri jalan Prambanan-Piyungan hingga menemukan plang menuju ke Candi Ijo. Belok kiri ikuti jalan desa terus, naik, naik. Sekarang sudah banyak sekali penanda arah menuju ke Tebing Breksi. Lokasinya di sebelah kiri jalan kira-kira 1 km sebelum sampai di Candi Ijo.

Saya dan Puput berpandangan ketika mas-mas penarik karcis mengatakan, “Lima ribu, Mas, parkir mobilnya. Buat tiket masuknya, seikhlasnya saja.” Hari gini masih ada yang seikhlasnya! Gimana saya nggak cinta sama Sleman?

Beberapa mobil sudah terparkir di sana. Bahkan ada yang membawa mobil hingga ke punggung bukit. Maklum, mobil sport, beda dengan sedan pinjaman yang kami pakai. Mbok yo podo urunan nggo nukokne kami mobil ora ketang ming Pajero Sport hekekekek… Motor sudah cukup banyak yang terparkir. Ada deretan warung di sisi timur kompleks Taman Tebing Breksi ini. Untuk ukuran wisata baru, lokasi cukup ramai oleh beberapa mobil yang bukan berplat AB.

Saya langsung suka dengan lokasi wisata ini. Tebing abu-abu menjulang tegak lurus. Tangga baru sudah ditatah demi kemudahan bagi pengunjung untuk menaiki puncak bukit. Tidak terlalu tinggi, bahkan Oliq pun mampu mendakinya tanpa sekalipun mengeluh.

Beberapa dinding tengah diukir, dilengkapi berbagai karakter pewayangan. Semuanya sedang dilakukan, niscaya akan menambah apik Tebing Breksi di masa depan. Tlatar Seneng pun sudah sering digunakan untuk berbagai acara kesenian, salah satunya dalam rangka Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 28 lalu.

Kami mulai mendaki ketika ada sekelompok turis Tionghoa tengah heboh berfoto. Semuanya perempuan dengan topi lebar — cocok sih untuk matahari yang sangat terik. Pemandu wisata mereka sibuk memotret dengan berbagai gaya, dengan arahan seorang cici berjins lebar. Ada yang berkelompok, ada yang sendiri. Mungkin dari Hong Kong, atau China Malaysia. Mbasan ngomong, mak pecothot, oalaaaah kera Ngalam. Benar tadi kelihatan minibus plat N di parkiran!

Puput menggendong Ola, sementara saya menggandeng Oliq. Ada bagian tangga yang lumayan curam, namun relatif aman untuk anak-anak. Di atas, berupa tanah yang berumput tidak rata. bangku-bangku darurat sudah disediakan, terbuat dari bongkahan batu ringan. Tentu saja, tempat-tempat strategis yang teduh di bawah pohon sudah terpakai semua. Kami akhirnya ndeprok di rumput yang agak ternaungi pohon. Oliq senang sekali karena dapat melihat landasan bandara dari atas. Beberapa kali dia teriak, “Wawa Garuda baru take off, kenapa langsung belok, Papa?” Soalnya kan mau ke Jakarta, kata bapaknya sibuk motret paka HP barunya yang murah meriah.

Lokasi tidak terlalu sulit untuk bawa anak
Lokasi tidak terlalu sulit untuk bawa anak

Di sini saya merasa sedih. Bagaimana tidak? Acara menyiapkan kamera Puput hampir tiga kali lebih lama daripada acara saya mandi, klamben, pupuran dan bengesan, plus menyiapkan anak-anak. Dan ternyata, kamera NX mini ada di Jakarta, DSLR 400D ketinggalan. Yang dibawa hanya S90 dan handycam, yang dua-duanya habis kedua-dua batrenya (jadi, masing-masing punya batere cadangan) tewas setelah dua jepretan. Sangat embuh, bukan?

Akhirnya saya cuma bisa mengandalkan hp Xiaomi Redmi 2 yang sebagian sudah mati layarnya karena sudah terlalu sering dikepruk-keprukke ning tembok karo Ola, bahkan pernah dimasukkan ke mangkok Indomie panas-panas.

Untungnya, langit sedang bersahabat dengan saya. Birunya cukup dramatis, walau masih tetap dihiasi awan putih. Namanya juga khatulistiwa.

Dari kejauhan kami dapat melihat Candi Prambanan, Sojiwan, (sepertinya) Barong, (sepertinya lagi) Banyunibo, dan Istana Ratu Boko. Candi Ijo kok rasanya malah tidak tampak. Di arah utara terlihat Gunung Merapi, tidak jauh di selatan Pegunungan Seribu. “Mama, itu menaranya kok banyak banget, kayanya deket.” Oliq mengomentari tower-tower BTS yang berjajar di atas perbukitan.

Aik, Aik harus tahu bahwa manusia modern sekarang ini harus stay connected, begitu. Iklim pertelekomunikasian Indonesia sangan mendukung kenarsisan warganegaranya. Walaupun 4G sendlap-sendlup bikin batere cepat habis, walaupun paket mahal tapi lemot, sinyal itu insya Allah selalu ada di manapun kamu berpijak di nusantara. Jadi mau live tweet oke, mau upload foto kaki di Instagram langsung bisa, mau check in di FB kaya Mama bisa juga, atau masih tetap mau rumpi di grup WA kaya Papa tetap bisa. Ini Indonesia, Aik! Beda dengan Malaysia yang kalah di jalan tol yang pinggirnya perkebunan sawit saja sinyal data sering nggak ada. Kita lebih maju dari Malaysia, Nak!

Abaikan ocehan di atas.

Foto keluarga dulu -- yang disabotase Ola
Foto keluarga dulu — yang disabotase Ola

Kembali ke Tebing Breksi. Sebenarnya lokasi wisata di sini lebih sederhana apabila dibandingkan dengan wisata bekas tambang lainnya, misalnya Danau Kaolin di Belitung. Yang membuatnya menjadi menarik adalah campur tangan warga setempat (dan juga pemerintah daerah??) untuk menjadikan yang biasa saja itu jadi makin apik. Tangga-tangga dibuat dengan rapi, bendera-bendera merah putih ditancapkan untuk meningkatkan efek instagrammable, dan relief-relief dibuat para pekerja seni. Bahkan hingga kini kawasan tersebut masih terus dibangun. Apalagi Tlatar Seneng makin sering digunakan untuk pementasan.

Selain itu pemandangan dari puncak memang picturesque, terus Puput langsung nyesel udah jual lensa panjangnya (Simbok enggak mudeng specsnya. Pokoke panjang dan mahal dan jan-jane iso nggo plesiran sekeluarga). Gimana enggak keren, ada gunung yang gagah di utara, ada perbukitan hijau di selatan, ada bandara di barat, dan ada beberapa candi di antaranya.

"Ih, Papa Cup narsis!" kata Oliq
“Ih, Papa Cup narsis!” kata Oliq

Simbok sukaaaaaa!

Kunjungan ke Tebing Breksi ini bisa dikombinasikan dengan kunjungan ke beberapa candi, yang paling dekat adalah Candi Ijo dan Situs Arca Gupolo yang masih berada di satu jalanan. Cuma sakplotrokan kathok. Kalau yang memang penyuka candi seperti kami, wah sehari saja rasanya nggak cukup di daerah situ.

Oh ya, kalau setelah ke Breksi mau langsung ke Gunungkidul, langsung saja ke arah selatan di Jalan Prambanan-Piyungan, jauh lebih dekat daripada harus memutar lewat kota.

Cuusss gih ke Tebing Breksi!

Advertisements

13 thoughts on “Si Tebing Breksi yang Makin Seksi”

  1. Wah menyesaaalll aku nggak mampir. 3 minggu lalu aku dimintai tlg kakakku ke daerah bokoharjo. pas liat petunjuk jalan “tebing breksi” itu, suamiku dah nawarin coba ke situ apa? Tapi karena aku blm pernah denger, aku jd ragu, tempat apa sih. Trs ngga jadi deh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s