Disiksa Puput di Banpo Bridge Seoul


Siapa sih yang kurang kerjaan banget musim dingin jalan kaki menyusuri Banpo Bridge bawa gembolan dua biji? Kami. Siapa sih dalang aktivitas sore yang sangat enggak banget ini? Puput. Pokoknya yang susah-susah, yang capek-capek, yang nelongso-nelongso itu pasti hasil daripada perbuatan Puput.

Masih inosens, belum tahu jalan panjang nan berliku di depan
Masih inosens, belum tahu jalan panjang nan berliku di depan

Percaya nggak kalau di sepanjang jembatan itu kami cuma papasan dengan dua jogger? Ya, karena kebanyakan orang waras males lah pokoknya jalan kaya gitu di suhu udara 3 derajat Celcius. Makanya, orang-orang dalam mobil semuanya menatap heran kami yang jalan kaki di pedestrian. Dalam hati mereka, “Iki wong gendeng soko endi nggowo anak, nggowo bayi mlaku nang jembatan. Iki mesti kere banget nganti raiso ngebis.”

So, ceritanya hari itu kami bingung mau ke mana. Itu adalah hari terakhir kami di Seoul. Mau ke Myeongdong jajan skincare, nggak boleh sama Puput. Mau ke Seoraksan,ora sanggup ngrekasane. Mau ketemu Oppa Jong Ki, dianya yang nggak mau ketemu sama kami. Mau ke Nami Island, kayanya mirip-mirip Hutan Pinus Imogiri deh wekekeke. Akhirnya diputuskan ke National Museum of Korea di Seobinggo. Bukan mau masuk museumnya, cuma mau lihat-lihat depannya aja. Nggak hanya karena kami pengen irit tiket masuk, tapi juga masih trauma masuk museum bawa anak-anak setelah kejadian di Rijksmuseum di Amsterdam yang ceritanya ada di sini.

Tapi, kok rasa-rasanya Puput sebenarnya ada modus lain. Dan Simbok baru sadar sekarang. Pertama, dia bukan penggemar museum (yang harus bayar). Ke dua, dia tahu anak-anak juga nggak bakal enjoy di museum, apalagi museum yang isinya artefak budaya. Beda kalau museum pesawat atau museum favorit Oliq yaitu Goreme Open Air Museum. Ke tiga, dia bola-bali bilang nyeberangin Hangang alias Sungai Han. Weelhadalaaah Paijo tenan, karena Mukidi sudah terlalu mainstream!

Ndorong anak dan nggendong anak pun happy selama fetish jembatan terpenuhi
Ndorong anak dan nggendong anak pun happy selama fetish jembatan terpenuhi

Kami turun di Stasiun Ichon berlanjut jalan ke Museum. Halaman museum dan exhibition center luas banget. Banyak bangku-bangku buat duduk manja, sayangnya angin dingin sungguh sembribit membuat kami terpuyuh-puyuh. Yang paling bikin Oliq hepi adalah Namsan Tower kelihatan dari sini. Ya memang sih, kayanya dari seantero Seoul juga kelihatan deh.

Dari sini kami lanjut menyusuri jalan yang agak slum. Maklum daerahnya terletak di pinggir rel kereta api (antarkota, bukan subway maksudnya). Sepi, padahal bukan hari kerja, mungkin karena bukan area perkantoran. Saya (berusaha) gagah memanggul ransel berisi enam gallon air. Kalau di perempatan Sarinah mungkin udah ada yang manggil, “Mbak, aquanya satu!” mengangsurkan botol aqua. “Tiga ribu, Om. Mijonnya nggak sekalian?”

Puput nggendong Ola, sementara Oliq di stroller. Jalan…jalan…terus sampai gempor. Terus Puput mengajukan ide gila yang Simbok yakin sudah dipikirkannya dengan matang. “Kita nyeberang jembatan yang rainbow itu lho. Kan seru, Cop, bisa nyeberang Kali Han!”

Gobloknya lagi Simbok ketipu – untuk yang kesekianratus kalinya. Kirain sungainya seberapa, jembatannya seberapa. Macam Jembatan Krasak lah. Nyatanya, kami harus jalan melingkar, kemudian naik tangga tinggi sekali. Oliq dipaksa turun dari stroller karena akan dicangking. Anaknya agak ribet naik tangga pakai celana dan baju lapis empat.

Sampai di atas jembatan ada billboard elektronik yang menunjukkan suhu. Puput berseru, “Agak anget kok, Cup, tiga derajat!” AGAK ANGET.

Panjang Banpo Bridge sebenarnya ‘hanya’ 1.495 meter. Enteng kan? Tapi total jarang yang kami lakoni dari Ichon, hingga turun jembatan ke halte bus adalah 3,5 km, itu belum kehitung naik-naik tangganya.

Banpo Bridge menghubungkan antara Distrik Yongsan dan Soecho. Banpo Bridge mulai dibangun pada tahun 1980 dan merupakan jembatan double decks pertama di Korea Selatan. Ketika debit air Sungai Han meninggi, Jamsu Bridge yang ada di bawah akan ditutup lalu lintasnya, sebelum terendam air. Banpo Bridge merupakan jembatan air mancur terpanjang di dunia. Jadi di jembatan ini ada yang disebut Moonlight Rainbow Fountain yang merupakan air mancur warna-warni karena disinari LED. Ya kalau malam. Kalau siang kaya gitu, aku nonton opo?

“Kan bagus, Cup, kita bisa lihat seluruh Seoul.” Heems, paling pinter cari sisi positif. Pokoknya sepanjang jalan kami Cuma dilihatin orang-orang di mobil. Tiga derajat yang dibilang Puput anget itu, masya Allah, dingin banget, ditambah dengan kenyataan kami berada di ketinggian 60 meter. Plus, di tempat terbuka, sisi kanan kiri sungai, nggak ada gedung-gedung yang sedikit menghalangi angin.

Sok cool, padahal gempor tur kademen
Sok cool, padahal gempor tur kademen

Saya jalan sambil nggerundel di belakang. Punggung saya sudah pegel pol nggendong botol-botol air, kamera, dan kenangan masa lalu. Jalannya nggak ikhlas banget. Ini jembatan mana sih ujungnya? Udah sampai di ujung sungai ternyata jembatannya melingkar-lingkar lagi. Lega ketika akhirnya menapaki tanah lagi.

Kok ya untungnya sepanjang jalan penyiksaan itu Ola dan Oliq blas nggak rewel. Oliq duduk anteng di stroller dan Ola tidur sepanjang perjalanan di gendongan Puput. Mungkin karena kedinginan. Sampai ujung jalan kami langsung cari halte bus, karena menurut peta stasiun kereta jauh. Posisi kami udah dekat banget dengan Gangnam. “Hey, sexy lady….” Dung crek crek dung crek….

Menuru primbon, kami seharusnya naik bus nomor 504 untuk bisa langsung turun di Itaewon. Menunggu dengan harap-harap cemas. Senyum sumringah keika melihat bus yang ditunggu di atas flyover yang ujungnya ternyata beberapa meter melewati halte bus dan si 504 bablas saja masuk ke flyover berikutnya yang menuju ke Banpo Bridge. Rasanya pengen garuk-garuk mukanya Oppa Jong Ki!!!

Menuju ke halte bus pengkhianat!
Menuju ke halte bus pengkhianat!

Karena untuk mencari bus yang direct ke Itaewon dari situ rasanya mustahil, akhirnya kami ngawur naik bus 501. Pokoknya nanti turun di stasiun mana aja. Busnya penuh sesak pol-polan karena rush hour pulang kantor. Untungnya stroller bisa dilipat dan ditaruh di tempat barang. Saya , Puput, Oliq berdiri berjejalan. Untungnya lagi, Ola tetap nggak bangun. Kan dia bisa rewel kalau tahu ngelihat muka-muka orang tak dikenal cuma 3-4 senti dari mukanya.

Kami turun di Euljiro 3-ga dan ganti subway ke Itaewon yang juga penuuuuuuh sesak. Sampai Itaewon masih harus mendaki bukit hingga sampai di apartemen sewaan.

Senja di atas bus 501 over Banpo Bridge
Senja di atas bus 501 over Banpo Bridge

Sisi negatifnya: kaki saya hampir prothol dengan pundak kan sudah perih.

Sisi postifnya: nggak ada, kecuali saya jadi punya bahan buat bikin tulisan ini.

Advertisements

12 thoughts on “Disiksa Puput di Banpo Bridge Seoul”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s