Istanbul Romansa Dua Benua


Angin dingin menampar pipi saya ketika keluar dari stasiun metro Aksaray di Istanbul, Turki. Jalanan basah diguyur hujan semalam, menyisakan rintik gerimis yang membuat pagi semakin sendu. Dengan berbekal peta gratis dari Bandara Ataturk, saya melangkahkan kaki menuju ke perhentian trem terdekat.

Pagi itu adalah hari pertama saya tiba di Turki. Lelah akibat kurang tidur dalam penerbangan antara Kuala Lumpur-Istanbul pupus begitu menyadari bahwa saya telah tiba di salah satu destinasi impian saya: Istanbul.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Hagia Sophia di Istanbul

Bagi saya, Istanbul menawarkan eksotisme yang tidak biasa. Dari letaknya saja, kita sudah dibuat terpana karena kota ini berada di dunia benua, yaitu Asia dan Eropa, dipisahkan oleh Selat Bosphorus. Penduduknya pun sama menariknya. Ada yang berwajah kearab-araban dan mengenakan kerudung, banyak pula yang berambut pirang terang dengan mata biru seperti kebanyakan orang Eropa.

Mari kita langkahkan kaki bersama menyusuri romansa dua benua.

Terpesona Hagia Sophia dan Blue Mosque

Saya sengaja memilih penginapan tidak jauh dari Sultanahmet, pusat peninggalan sejarah dan budaya di Istanbul. Satu hal yang saya sukai di kota ini adalah trotoar yang luas sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Saya tidak perlu mengeluarkan uang tiket transportasi untuk pergi ke beberapa lokasi wisata utama.

Langkah kaki membawa saya ke Blue Mosque atau Masjid Biru. Dari luar pemandangan masjid yang dibangun pada tahun 1609 hingga 1616 terlihat familiar, berkat situs-situs pariwisata yang sudah saya jelajahi sebelumnya. Wisatawan asing, baik dari Asia maupun Eropa, sudah menggerombol di halamannya padahal hari masih cukup pagi.

Masjid yang dalam Bahasa Turki disebut Sultan Ahmet Camii ini dibangun atas perintah Sultan Ahmed I setelah kekalahan besar melawan kekuasaan Persia. Maksud dibangunnya masjid kerajaan ini adalah untuk menegakkan kembali kekuatan Turki Utsmani pasca kalah perang. Arsitekturnya gaya Islam klasik dengan sedikit pengaruh arsitektur Kristen Byzantium — yang memang umum ditemukan pada bangunan-bangunan bersejarah di Turki.

Kubah Hagia Sophia
Kubah Hagia Sophia

Nama Masjid Biru diambil dari warna keramik yang menghiasi interior masjid, sementara dari luar didominasi warna putih kelabu. Dinding, bagian dalam kubah, dan pilar masjid dihiasi oleh kaligrafi ayat-ayat Quran. Penerangan dalam bangunan masjid berasal dari jendela-jendela kaca dibantu cahaya dari lampu-lampu kristal. Di dalam lampu kristal tersebut diletakkan telur burung unta yang berfungsi mengusir laba-laba sehingga bagian dalam masjid tidak dipenuhi sarang laba-laba.

Masjid Biru memiliki satu kubah utama, enam menara masjid, dan delapan kubah tambahan. Untuk masuk ke dalam, semua pengunjung wajib menggunakan pakaian syar’i. Pihak masjid menyediakan tutup kepala secara gratis bagi mereka yang membutuhkannya.

Tepat di hadapan Blue Mosque ada bangunan yang lebih bersejarah lagi. Usianya kini lebih dari 1500 tahun. Hagia Sophia dibangun pada tahun 537 pada masa Romawi Timur sebagai Gereja Yunani Ortodoks. Antara tahun 1204 hingga 1261 bangunan ini berubah menjadi Gereja Katolik Roma sebelum kemudian berubah lagi menjadi Gereja Yunani Ortodoks hingga tahun 1453. Pada tahun itu, di bawah kekuasaan Turki Utsmani, Hagia Sophia berubah menjadi masjid. Sejak tahun 1943 di di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, Hagia Sophia berubah menjadi museum.

Hagia Sophia atau dalam Bahasa Turki Ayasofya adalah alasan utama Istanbul masuk dalam destinasi impian saya.

Dari luar yang tampak adalah bangunan tua berwarna merah pudar. Dinding dan atapnya terkelupas di sana-sini. Saya harus membayar 30 lira Turki untuk masuk ke sini. Kira-kira setara dengan Rp 150 ribu. dari depan gerbang tampak bangunan sedang direnovasi. Maklum, usianya sudah ribuan tahun, bahkan lebih tua dari candi-candi di Indonesia.

Ruangan pertama berdinding dan berlantai batu, dipamerkan berbagai peninggalan zaman itu. Ruangan utama yang membuat tercengang. Dinding dan langit-langitnya tertutup marmer dan mozaik yang terbuat dari emas, perak, terakota, dan berbagai batu berwarna. Di dinding tertempel kaligrafi ayat-ayat Quran berdampingan dengan berbagai lukisan Bunda Maria dan Yesus Kristus. Ketika berubah menjadi museum, cat dinding dikelupas sehingga banyak lukisan-lukisan yang dibuat ketika Hagia Sophia masih berfungsi menjadi gereja ditemukan lagi.

Saya terpesona betapa bangunan yang usianya sudah lebih dari 1500 tahun masih tegak berdiri hingga kini, walau berulang mengalami renovasi. Saya terkagum-kagum dengan interiornya yang dibiarkan menyandingkan simbol-simbol dari dua agama besar. Hingga kini Hagia Sophia menjadi salah satu lokasi wisata terpopuler dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 3,3 juta per tahun.

Tidak salah memang berkunjung ke Turki. Terlalu banyak yang membuat kita terpesona.

Menjelajah Topkapi Sarayi

Topkapi Sarayi atau Istana Topkapi adalah kompleks istana Kekaisaran Turki Utsmani di Istanbul. Istana tersebut digunakan sekitar 400 tahun antara abad 15 hingga 19. Kompleks Topkapi Sarayi dibatasi oleh dinding tinggi dengan gerbang-gerbang megah. Sepertinya saya harus beberapa kali memasuki semacam gerbang hingga sampai di halaman utama istana.

Ada banyak yang bisa dilihat di Topkapi Sarayi. Mulai dari halamannya yang dipenuhi pepohonan tinggi, daunnya gugur di tanah yang dingin. Di tepi pagar saya dapat melihat melihat Laut Marmara dengan kapal-kapalnya dan daratan di seberang. Istana terbagi menjadi beberapa bagian. Di bagian luar ada Gereja Hagia Irene yang dibangun pada masa Byzantium dan dibiarkan tetap berdiri ketika Utsmani berkuasa di Turki.

Topkapi punya koleksi berbagai piring porselen, banyak di antaranya diangkut dari Tiongkok dengan onta. Porselen Cina di sini berasal dari beberapa dinasti. Berbeda dengan istana-istana lain — seperti Versailles, misalnya — yang memiliki cetak biru, Istana Topkapi berkembang seiring dengan zaman. Sultan menambahkan bangunan seiring dengan kebutuhan. Akibatnya bentuk istana menjadi tidak simetris.

Di halaman Topkapi Sarayi
Di halaman Topkapi Sarayi

Banyak bagian dari istana yang merupakan peninggalan masa Byzantium Acropolis. Selama ratusan tahun suplai air istana mengandalkan air dari Basilica Cistern yang berada di seberangnya.

Ada banyak ruangan yang dapat dilihat antara lain tempat sultan bertemu dengan menteri-menterinya. Salah satu yang paling menarik adalah Tower of Justice atau Menara Keadilan yang merupakan bangunan tertinggi di istana tersebut. Menara yang melambangkan penentangan para sultan terhadap ketidakadilan tersebut terlihat jelas dari Selat Bosphorus.

Koleksi istana ini luar biasa, antara lain berbagai permata dan berlian. Salah satunya bernama Spoonmaker’s Diamond, berlian yang sangat berharga. Berlian tersebut dibeli di pasar oleh salah satu petinggi kerajaan dari seseorang yang menyangka itu adalah potongan kristal biasa. Kabarnya, berlian tersebut pernah dimiliki ibu Napoleon Bonaparte.

Primadona Istana Topkapi adalah Privy Chambers yang menyimpan berbagai relik penting dalam sejarah Islam. Ada jubah, gigi, sehelai jenggot, tulisan tangan Nabi Muhammad SAW dan sebagainya. Tapi, tidak semuanya dipamerkan untuk umum.

Saya harus berdesak-desakan untuk menyaksikan sarung pedang Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Selain itu, pakaian Fatimah — putri Nabi Muhammad SAW — juga turut dipamerkan. Lalu ada pula tongkat Nabi Musa yang digunakan untuk membelah Sungai Merah. Di dalam ruang penyimpanan ini kamera tidak boleh digunakan untuk menjaga kelestarian relik di dalamnya.

Grand Bazaar

Kapalıçarşı atau Grand Bazaar adalah satu dari beberapa pasar paling sering dikunjungi di dunia, dengan rata-rata kunjungan antara 250 ribu hingga 400 ribu setiap hari. Grand Bazaar berada di tengah kota tua Istanbul, dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Sultanahmet. Ada lebih dari 3000 kios menjual berbagai dagangan.

Grand Bazaar, pasar yang tidak seperti pasar saking mewahnya
Grand Bazaar, pasar yang tidak seperti pasar saking mewahnya

Pasar ini dibangun pada tahun 1455 setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmet II, diperuntukkan sebagai tempat perdagangan tekstil. Kini telah berkembang menjadi pusat penjualan segala benda, mulai dari pakaian, karpet, barang-barang kulit, emas, perhiasan, pernak-pernik, suvenir, hingga rempah dan manisan khas Turki (Turkish Delights).

Yang menarik dari Grand Bazaar tidak hanya barang dagangannya melainkan juga interiornya. Seperti halnya bangunan-bangunan tua di Turki, dinding dan langit-langitnya dihiasi mosaik batu dan kaca berwarna-warni. Masuk ke Grand Bazaar tidak seperti masuk ke pasar biasa, melainkan seperti melangkah ke dalam galeri seni yang padat pengunjung.

Baru melangkah masuk para pedagang sudah berteriak-teriak menjajakan barang dagangannya kepada saya. Harga barang di sini tidak ditawar dan seringkali tawaran pertama dua hingga tiga kali lipat lebih mahal daripada harga sebenarnya. Lakukan prinsip tawar menawar seperti yang kita lakukan di Malioboro, yaitu tawar serendah mungkin. Bila hingga setengah harga yang ditawarkan, pedagang belum menyerah, kita bisa pura-pura pergi. Kalau memang harga tersebut pantas, pasti pedagang akan segera memanggil kembali.

Karena tidak membawa uang banyak dan kurang suka belanja, saya hanya pulang membawa manisan Turki, Ottoman spice yaitu rempah untuk membumbui daging kambing atau domba, dan beberapa lembar pashmina untuk oleh-oleh.

Suatu hari nanti, saya pasti kembali ke sini.

Bagi yang ingin tahu rincian biaya kami ke Istanbul dan Cappadocia bisa baca di sini, kisah wisata ke Turki membawa anak bisa baca di sini, dan kisah Puput safari masjid di Istanbul baca di sini, serta pengalaman bermobil sendiri keliling Cappadocia bisa melipir ke sini.

Advertisements

16 thoughts on “Istanbul Romansa Dua Benua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s