Review Panties Pizza Jogja


Waktu pertama kali dengan istilah panties pizza, wajar kan pikiran jadi ke mana-mana. Heeeh pizza ca**t? Apa ga ada istilah lain wekekek. Intinya pizza jenis ini berbeda dengan pizza biasanya yang dijembreng dengan topping di atasnya (jeeeh namanya juga topping). Nah pizza di Panties Pizza justru toppingnya berada di dalam dan rotinya di luar. Kalau dibayangkan semacam pastel dalam versi yang lebih Western-y dan cheesy haha.panties2

Minggu lalu saya dan Delin ke Panties Pizza Gejayan, biar tidak ketinggalan tren terkini remaja Jogja. Panties Pizza punya markas di Solo dan kini sudah menyebar di kota-kota besar di Indonesia. Sasarannya adalah remaja dan keluarga, makanya harga pizzanya pun relatif murah. Sebenarnya ini alasan kami ke Panties Pizza. Bokek.

Setelah dari Toga Mas kami meluncur ke Panties Pizza. Dari luar terlihat kecil ternyata dalamnya besar. Karena kami agak ndeso, jadi tidak tahu tata cara pemesanan. Kiran duduk terus disodori menu, ternyata harus pesan dan bayar dulu baru duduk.

Kami pesan yang berbeda karena memang mau icip-icip. Satu University Pizza, dan satu Say Cheese. Minumnya ice latte dan green tea apalah lupa namanya.

Kami duduk nunggu sambil diberi alat akan akan makding alias bunyi ((ding))) kalau pesanan sudah siap. Minuman sudah siap. Saya review minumannya dulu nih.

Ice latte saya, “Ndod, kok rasane koyo Coffeemix dikei es sih?” Iye, latte seharga 10 ribu itu rasanya kaya Coffeemix seribuan yang biasa saya siapin buat tukang-tukang yang lagi renovasi rumah hahahaha. “Ngertiyo gowo dewe.”

Green tea-nya Delin, “Green tea ne ra kroso blas. Malah koyo teh-teh murah sing gelasan kae lho.” kami kemekelen sendiri.

Bunyi (((diiiinggg))).

Pizza siap. Yang Say Cheese menurut kami enak, mozzarelanya meler-meler, dengan isian jamur. Rasa kejunya pas, tidak asin, juga tidak eneg. Untuk harga 23 ribu satu porsi worth it sih, karena satu porsi juga jadi 4 slices. Yang University Pizza seharga 29 ribu, isiannya sosis, smoked beef, juga capsicum. Buat lidah kami yang University Pizza ini terlalu manis. Mungkin lebih enak kalau minta extra cheese ya.

Rotinya saya rasa mirip dengan pita bread, namun tidak sealot roti pita.panties3

Tempatnya enak, dibagi jadi smoking dan non smoking room. Konsep kafenya seperti kafe-kafe kekinian lain dengan chalkboard besar bertulisan wejangan-wejangan yang keminggris. Sekilas pandang tidak cocok buat yang punya anak kecil. Ah, tapi tentu saja mereka punya baby chair.panties4

Saya dan Delin gagal menghabiskan pizza, hanya makan separonya. Sisanya kami bawa pulang dan harus bayar 1.000 untuk dapat paper bag. Kurang tahu juga apakah kalau take away juga harus bayar extra.

Overall, menurut saya untuk harga sekian Panties Pizza layak dikunjungi kembali. Kurang dari 30 ribu untuk satu porsi pizza yang dapat dimakan 2 orang untuk standar Jogja saja murah, bro! Mungkin mereka menghemat biaya produksi karena topping yang digunakan semuanya daging olahan. Selain itu, tentu banyak ambil untung dari minuman.panties1

Nah mungkin lain kali saya akan pesan pizza apapun yang penting pakai tambahan keju biar puas ngerasain mozzarelanya. Untuk minuman, mungkin bawa sendiri dicantol di motor. Entar minumnya pas mau pulang. Huahahaha Simbok kere banget yesss!

Advertisements

3 thoughts on “Review Panties Pizza Jogja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s