Menghidupkan Kenangan di Kota Kembang


Bandung. Satu kata yang mungkin tidak berarti apa-apa buat memori saya. Yang teringat adalah deretan factory outlet dengan jalanan penuh sesak kendaraan mayoritas berplat B di akhir pekan. Bandung buat saya adalah kota tempat kami sering menghabiskan akhir pekan, rela bermacet di Cipularang, demi semalam tidur di hotel di Kota Kembang.

Bandung adalah tempat makanan enak dengan kafe-kafe berjajar di sepanjang Dago. Bandung adalah fashion capital dengan toko-toko busana sepanjang Setiabudi. Bandung adalah banyak hal, terutama tempat melepas kejenuhan ibukota.

Jalan Braga, antara seni, sejarah, dan memori
Jalan Braga, antara seni, sejarah, dan memori

Buat suami saya, Puput, Bandung lebih dari itu. “Kota sejuta kenangan,” katanya. Aiiih, kenangan sama siapa, coba? Dia memang menghabiskan sekitar 4,5 tahun menuntut ilmu di Bandung. Makanya, Bandung bagi Puput bukan cuma belanja, makan, dan nongkrong. Bandung bukan cuma Cihampelas dan Cibaduyut, alih-alih Bandung juga berarti gang-gang yang menggurita di Coblong dan warung-warung sederhana di Cipaku.

Tapi sungguh, sebenarnya Bandung lebih dari belanja, makan, dan macet. Ada banyak hal lain yang menarik di Bandung.

Mendekati Alam Ke Selatan

Entah bagaimana Puput punya fetish terhadap kebun teh. Padahal, dia lebih suka minum kopi daripada teh. Tidak disangkal sih kebun teh memang fotogenik sekali. Jajaran daun teh rimbun pendek yang dipotong rapi menyelimuti punggung-punggung bukit kecil. Warnanya yang hijau cerah mudah sekali memukau mata.

Karena Puncak sudah terlalu ramai dan kebun tehnya pun kurang indah menurut kami, akhirnya kami meluncur ke Bandung Selatan. Ke Ciwidey kami berangkat!

Perhentian pertama tidak lain adalah: tukang cireng dan bandrek susu di pinggir jalan! Untuk yang satu ini saya dan Puput memang punya selera yang sama. Kalau ke Bandung kami selalu minum bandrek susu di mana pun. Lepas santai sejenak, kami berangkat lagi menuju ke Situ Patenggang.

Terletak di ketinggian sekitar 1600 m di atas permukaan laut, danau ini dikelilingi kebun teh Rancabali. Kami tidak hanya dapat menyaksikan danau yang tenang, tapi juga menikmati hijaunya kebun teh dengan topografi memesona. Hijau, rapi, cantik!

Situ Patenggang danau di tengah kebun teh
Situ Patenggang danau di tengah kebun teh

Nama danau ini berasal dari kata pateang-teangan yang berarti saling mencari. Alkisah, dahulu kala dua insan manusia bernama Ki Santang jatuh cinta kepada Dewi Rengganis yang sangat cantik. Setelah berpisah sekian lama, mereka bertemu kembali di daerah yang kini disebut Batu Cinta.

Ekspektasi saya Situ Patenggang hanyalah danau biasa dengan kebun teh di sekitarnya. Ternyata, tempat wisata itu justru jauh melebihi harapan saya. Saya tak menyangka Situ Patenggang ternyata seindah itu — sebab tempat ini tidaklah seterkenal objek wisata lain di sekitar Bandung.

Untuk memasuki lokasi danau, kami harus membayar tiket masuk Rp 20.500 per orang dan Rp 11.500 per mobil. Tidak terlalu mahal bukan? Kalau hari biasa, tarifnya lebih murah lagi.

Dari gerbang tiket menuju lokasi danau, kami menyusuri jalan yang membelah kebun teh. Pemandangannya sungguh luar biasa. Sebuah danau membentang di tengah hamparan kebun teh dan di tengah-tengah danau, terdapat sebuah pulau kecil.

Jika ingin mengunjungi Batu Cinta (tempat Ki Santang bertemu Dewi Rengganis), Anda dan rombongan bisa menggunakan perahu dayung dengan ongkos Rp 130 ribu pp — yang bisa ditawar hingga setengah harga.

Perahu-perahu Situ Patenggang
Perahu-perahu Situ Patenggang

Perjalanan ke lokasi Batu Cinta membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Di lokasi ini, wisatawan dapat mendaki bukit di belakangnya, memasuki kebun teh dan mengambil gambar di situ. Ada pula sebuah tempat yang lebih tinggi dari sekelilingnya, sehingga kami bisa leluasa mengambil gambar sekeliling danau.

Nah di sinilah saya hampir kena musibah. Waktu itu saya sedang hamil besar, sepertinya sudah hampir 9 bulan. Perut saya sudah bunciiiiit banget, seperti habis menelan gentong. Puput memaksa untuk naik ke bukit teh, katanya biar anaknya kelak kuat. Namanya ibu hamil dengan gembolan besar, sandal gunung yang paling tangguh pun gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Saya terpeleset hingga terduduk. “Hati-hati, Teh!” terdengar teriakan dari sana-sini. Duuuh, untung saja cuma kepleset sedikit dan nggak sampai ngglundung sampai kecemplung danau.

Setelah Situ Patenggang, ada tempat favorit kami lainnya, yaitu negeri di awan!

Yes, Kawah Putih.

Kawah ini adalah satu dari dua kawah Gunung Patuha. Menurut sejarah, Kawah Putih ditemukan oleh seorang botanis Jerman Franz Wilhelm Junghuhn pada tahun 1837. Kawah Putih menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Bandung pada tahun 1987. Dulu kawah tersebut merupakan tambang belerang, namun kini telah berhenti produksi.

Bagai negeri di awan
Bagai negeri di awan

Danau kawah ini cukup luas, dan letaknya yang berada di  2.430 meter di atas permukaan laut membuat temperatur di objek wisata ini sejuk. Bila musim penghujan atau menjelang sore udara dingin pun lebih mengigit.

Salah satu keistimewaan dari Kawah Putih adalah warna danaunya yang berubah-ubah sesuai temperatur dan kadar belerang. Terkadang warnanya kebiruan, kadang kehijauan, terkadang juga cokelat. Secara umum, apapun warna danaunya, lokasi ini didominasi warna putih. Bahkan batu-batu yang mengelilingi kawah pun telah berubah warna menjadi keputih-putihan. Oleh karena itu, sangat cocok dijuluki negeri di awan.
Lokasi kawah ini berada di tengah hutan lebat. Jarak antara gerbang utama ke danau adalah sekitar 5 km dengan jalanan yang cukup buruk. Begitu tiba di pinggir danau, wisatawan dapat berjalan ke arah kanan atau kiri. Bila datang setelah hujan — yang cukup sering terjadi di Bandung dan sekitarnya — hati-hati karena tanah dan batu bisa jadi sangat licin. Pohon-pohon yang mengelilingi danau kering tak berdaun, menambah efek magis Kawah Putih.

Karena tarif membawa mobil pribadi ke atas sangat mahal, kami memilih menggunakan angkutan yang tersedia di sana. Mungkin ini salah satu upaya pihak pengelola untuk memberikan insentif kepada masyarakat setempat. Ya jadi supir angkutan, jadi tukang parkir, atau jadi pedagang di kawasan wisata itu. Give back, gitu kali bahasa kerennya.

Tak habis kalau cerita tentang wisata alam di Bandung dan sekitarnya. Masih ada Ranca Upas yang merupakan bumi perkemahan. Di sini bisa lho memberi makan rusa-rusa.

Salah satu wisata yang agak mainstream adalah Tangkuban Perahu — kebetulan saya sudah beberapa kali ke sana. Sebenarnya pemandangannya bagus, tapi bagi kami terlalu ramai. Warung-warung di mana-mana dan wisatawan juga sangat banyak sehingga keindahan alamnya jadi tersamarkan. Menurut saya lho, ya, urang Bandung jangan pundung wekekek.

Ke Kota Kita Kembali

Omong-omong, kalau saya ada waktu ke Bandung lagi saya penasaran deh sama taman-taman baru yang ada di sana. Apalagi Taman Jomblo #eh.

Cantiknya taman-taman kota Bandung
Cantiknya taman-taman kota Bandung

Tapi, bener lho, Kota Bandung sendiri nggak cuma identik dengan belanja. Ada banyak hal yang bisa dilihat. Misalnya, nih, alun-alun kota Bandung yang belakangan memang sering muncul di media sosial. Penyuka astronomi pastilah tidak melewatkan kunjungan ke Observatorium Bosscha.

Puput mengusulkan Kebun Binatang Bandung, terus saya dengan skeptisnya bilang, “Kamu aja yang kuliah di sekitar situ hampir lima tahun aja nggak pernah ke sana kan?” Huahahaha, saya jahat ya… Eh tapi silakan coba lho ke Kebun Binatang Bandung siapa tahu kondisi sekarang sudah jauh lebih baik. Ngomong-ngomong soal kebun binatang, ternyata di atap Paris van Java ada kebun binatang mini. Cocok sih, ibunya belanja, bapaknya bisa bawa anak-anak ke atap. Dijamin si ibu bakal kalap. Saya sih terus terang belum pernah soalnya kalau ke Bandung memang jarang ke lingkungan mal. Biasa, jaga kondisi dompet demi hunting tiket pesawat promo.

Bandung pernah menjadi pusat perjuangan pada masa penjajahan. Karena itu, peninggalan sejarah di kota ini pun sangat banyak. Coba saja susuri Jalan Braga, Jalan Asia Afrika dan berbagai gedung di sepanjang jalan itu. Lalu, kalau main ke alun-alun jangan lewatkan kunjungan ke Masjid Agung Bandung. Salah satu gedung bersejarah yang masih dipakai hingga kini adalah Stasiun Kereta Api juga Kantor Pos. Di mana-mana kedua bangunan tersebut hampir selalu merupakan peninggalan masa lalu dengan arsitektur yang mempesona.

Fajar di Stasiun Bandung
Fajar di Stasiun Bandung

Menginap di mana?

Mencari penginapan di Bandung gampang-gampang susah. Gampangnya karena kota ini memiliki infrastruktur wisata yang bagus. Pilihan akomodasi beraneka ragam mulai dari hotel bintang lima sampai losmen bintang jatuh :D. Eh, maksudnya sampai hostel dengan kamar dormitory. Banyak juga hotel-hotel butik kecil yang cantik dengan tarif terjangkau. Nah, susahnya jadi bingung karena kebanyakan pilihan kan?

Gampangnya lagi karena pilihan lokasi pun beragam. Mau pilih di kota sekitar Cihampelas banyak pilihan. Di sepanjang Setiabudi hingga ke Lembang pun banyak penginapan. Mau vila dan hotel keren ada banyak di seantero Bandung, ada yang minimalis modern ada juga yang berkonsep alam.

Susahnya lagi nih, kalau akhir pekan atau hari libur, Bandung penuh sesak. Saya pribadi sih tidak berani cari hotel go show karena kebanyakan sudah full booked. Kalau tanpa persiapan seperti itu bisa-bisa malah dapat hotel kumuh dengan tarif tinggi. Emoh deh! Saya mending cari tempat nginep di Bandung pakai Wego.co.id, dijamin pilihannya banyak dan bisa milih yang sesuai kantong kita kan?

***

Ah kalau ngomongin Bandung memang nggak cukup 1-2 tulisan. Ini belum bahas masalah makanan di sana, lho. Next time deh.

Yang pasti nih, buat banyak orang, Bandung memang kental dengan suasana wisata. Mulai dari wisata alam, sejarah, belanja, hingga kuliner. Semua ada, lengkap, dari yang murah yang merakyat hingga yang membuat dompet menjerit.

Bagi Puput, dan juga mungkin bagi banyak orang lain yang hatinya pernah tertambat di Bandung (uhuks), mengunjungi kota ini kembali bagaikan usaha menghidupkan kenangan yang makin samar.

Advertisements

2 thoughts on “Menghidupkan Kenangan di Kota Kembang”

  1. Koment aah.. Suamiku gariiing orgnya, tapi di situ patenggang yg ketika itu blm jd suamiku, c ayah pernah petikin mawar yg tumbuh liar di pinggir danau.. mawar itu msh ada di dlm buku enid blyton ku. Seingetku. Dah lama ngga kliatan itu buku..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s