Ke Jakarta Untuk Papa


Pergi dengan anak kecil dianggap merepotkan. Apalagi tanpa suami, tanpa eyang, pokoknya tanpa bala bantuan. Apalagi anak kecilnya dua, yang satu belum bisa jalan, masih nyusu. Apalagi waktu Lebaran.

Modyaro kowe, Mbok!

Sebenarnya jalan sendiri tanpa suami saya sudah mengalami beberapa kali. Biasanya rute Kuala Lumpur – Yogyakarta bersama Oliq. Sudah biasa. Pernah juga liburan berdua dengan Oliq waktu dia umur 2 tahun ke Lombok selama 4 hari saat kami masih tinggal di Jakarta. No big deal.

Nah kali kemarin, karena Puput tidak bisa pulang saat Lebaran, terpaksa saya dan anak-anak yang ke Jakarta. Sebenarnya males sih, yakin, bawa anak dua gitu loh. Tapi, nggak tega juga kalau Puput ga ketemu anak-anak sampai sebulan. Akhirnya terpaksa berangkat.

Dengan. Langkah. Berat.

Iya, bro, berat. Wong saya harus nggandeng Oliq, nggendong Ola, nyangklek tas yang isinya beragam jajanan, susu, iPad, dan baju ganti, serta menggeret koper 15 kg. Berat, iya. Apalagi ketika harus ngangkat koper buat dimasukin ke mesin X-ray tanpa ada yang bantuin.

Bukankah sebaiknya ada mas-mas berdada bidang beraroma wangi yang muncul tiba-tiba dan tinggal mencuthik koper saya masuk ke mesin? Atau oppa-oppa berseragam loreng gurun pasir yang makjegagik selalu njedul untuk membantu wanita lemah teraniaya?

Yang ada petugas bandara doang, berwajah datar, jangankan membantu, melirik saja tidak.

Long story short, untungnya Lion Air saya tidak terlambat dan berangkat dari Adisutjipto yang penuh sesak tepat waktu. Di pesawat Ola sukses tidur sepanjang perjalanan dan baru bangun ketika pesawat mendarat. Oliq tidak tidur, sibuk melihat-lihat peta di dalam in-flight magazine — walau anaknya agak kurang puas karena biasa terbang dengan AirAsia yang petanya lebih banyak.

Alhamdulillah lancar sampai CGK. Lion Air dari Jogja sekarang mendarat di Terminal 3. Eh, koper saya mecungul pertama di conveyor belt.

Agak ribet sih kalau saya atau Oliq kebelet pipis dan saya mesti bawa dua anak plus tas masuk ke kubikel toilet. Koper ditinggal di luar. Saya harus taruh Ola di lantai toilet biar bisa pipis huahahahha. Pokoke ribet, coi!

Tapi, aku rapopo.

Dari bandara kami ambil taksi menuju ke Pasar Gembrong, tempat apartemen nunutan berada. Taksi sampai seperti terbang saking cepetnya. Kayanya ini rekor naik taksi terlancar saya di Jakarta.

Aman tentram sampai tujuan.

***

Waktu pulang adalah H+3. Hari Sabtu, jadi Puput bisa dan –kebetulan — mau mengantar sampai bandara. Karena harus check out hotel kami di Casablanca jam 12, sementara pesawat jam 6 sore, akhirnya kami glundang-glundung nggak jelas di bandara selama berjam-jam. Kami ngemper di dekat playground sambil nyuapin anak-anak nasi ayam.

Dua jam sebelum waktu terbang, saya check in dan gagal mendapatkan kursi di sebelah jendela buat Oliq. Padahal anaknya senang sekali karena naik Boeing 737 yang artinya jendelanya rendah dan dia gampang lihat-lihat luar. Setelah itu kami masih glundang-glundung tidak jelas lagi di Terminal 3 lantai atas. Ndeprok. Ngemper. Walau arus balik, tujuan penerbangan Jogja, Solo, Denpasar, dan Semarang penuh sesak.

Puput pulang ke kos-kosan yang sunyi naik Damri.

Saya, Oliq, dan Ola menuju ke ruang tunggu. Duduk manis. Oliq lari-larian main Ultraman, Ola merangkak ke sana ke mari. Dua anak ini dengan santainya gegulingan di karpet. Dilihatin orang-orang.

Satu jam berlalu, datanglah berita yang sudah saya duga. JT 564 ditunda 40 menit. Untungnya anak-anak saya tidak rewel. Oliq berkali-kali dikasih coklat oleh mbak-mbak sekitar kelas 4 SD. Pipi Ola dicuwil-cuwil banyak orang. Ola hanya sekali-sekali minta nyusu, dan saya dengan cueknya ngangkat kaos. Saya tipikal simbok yang nggak pernah pakai apron menyusui.

Untungnya delay yang seharusnya 40 menit ternyata lebih singkat, dalam 30 menit kami sudah disuruh masuk. Saya kembali melakukan rutinitas berikut: memakai Ergo Baby (asli ya bukan KW HAHAHAHAAAAAA), menggendong Ola, mengancingkan klip bagian belakang (untung tangan saya lentur jadi tidak perlu minta pertolongan orang lain), mengalungkan sling bag, dan menggandeng Oliq.

Nah, waktu ma masuk ke bus yang akan mengantar ke pesawat saya sebel banget. Anda ibu-ibu setengah tua pakai baju kuning dan anaknya yang menggendong bayi. Dua ibu ini tampaknya ribet banget dengan bayi dan tas bayinya. Duh. Nah pas ada ramp, ibu berbaju kuning ini tertatih-tatih dan dengan cueknya pegangan ke lengan saya. Helllooooo please yaaa….ini wanita lemah gembolannya udah depan belakang samping. Saya sampai hampir njungkel. Kalau beliaunya ini susah jalan karena sudah tua atau sakit, saya mungkin maklum. Lha ini susah jalan gara-gara pakai sandal wedges penyanyi dangdut!!!!

Mangkeliiiii temen!

Akhirnya kami sukses naik bus Lion dan berdiri di depan sendiri. Oliq juga berdiri. Sopirnya cuek saja. Nggap apa-apa sih. Saya cuma ingat dulu di Schiphol, ketika kami transit mau ke Norwegia, sopir bus bandaranya maksa saya yang gendong Oliq buat duduk. “This is a dangerous area!” katanya.

Alhamdulillah di pesawat semuanya lancar. Oliq nggak protes duduk di bangku tengah. Di bagian jendela ada mas-mas yang kerja di Astra Jogja. Ola tidur nyenyak. Oliq sibuk buka majalah pesawat lagi. Mas-mas Astra takjub banget waktu Oliq teriak, “Mama di luar ada wawa Turki!”

“Kok hapal ya, Bu!”

Anake Simbok wekekekek….

Jadi ini tips bepergian dengan anak-anak tanpa bala bantuan:

  1. Do bring their fav toys, cemilan, minuman, susu
  2. Bawa baju ganti juga popok sekali pakai
  3. Kalau bisa jadwal makan jangan terlewat walau harus kasih makan di bandara
  4. Bawa barang semampunya, jangan pernah mengandalkan bakal dibantu orang lain
  5. Anak, ibu, pakai baju yang nyaman buat nyusuin, buat ngejar-ngejar, buat jongkok-jongkok ngambilin mainan. Juga buat ngemper di lantai. Jangan pakai baju yang bikin kesrimpet-srimpet. Kerudung juga yang simple aja.
  6. Pakai sandal/sepatu yang nyaman
  7. Remain calm — although you may fly with one of the worst airlines in the world. Eh apaaaa???
  8. Berdoa
Advertisements

18 thoughts on “Ke Jakarta Untuk Papa”

  1. “Kok hapal ya bu?”

    Yalah, anaknya simbok Olen yang cap di paspornya ngalah-ngalahin tante Delin *mana nih orang, biar makin sirik.

    Dan itu, sepatu ulekan, harusnya mbak Olen juga pakai biar tulisan ini lebih cetar lagi. Bawa dua anak, koper, pake sepatu yang pletakkannya 18,5 cm, biar bisa pegangan ke mas-mas Astra. *ini komen apa ngelindur

    Like

    1. mamanya pergi sama wanita lain, saya ditinggal sendiri…kasihan anak-anak ini tidak punya mama….
      Lalu wanita sintal itu menepuk pundak om-om setengah baya yang berwajah sendu. “Aku rela jadi mamanya anak-anak”

      (((setengah baya)))

      Liked by 1 person

    1. iya aku sempat ke situ buat ganti pampers dan di sana isinya ada kakek, nenek, suami istri, anak-anak, tante, babysitter. pokoknya dikuasai satu keluarga yang lagi leyeh-leyeh *sigh

      Like

      1. Haaaah wah nggak bener tuuh, harusnya bs kita usir ya kl beneran mau menyusui, sesuai peruntukannya. Padahal sempat aq review bagus looh ternyata ada jebakan batman 😦

        Like

      2. Nah si kakek itu pakai seragam kaya petugas bandara. Entah pejabat situ entah apa. Emang aku niat ganti popok doang. Kalo nyusuin biasa keleleran di mana2

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s