Dari Seorang Istri Kepada Old Batavia Capsule Hotel


Suami saya hilang. Hilang tanpa kontak sekitar 15 jam tanggal 2 Juni lalu. Mau laporan orang hilang ke Polda Metro, kudu nunggu 2 x 24 jam. Waduh, keburu jadi bandeng. Sebenarnya misteri hilangnya Puput itu hal yang biasa. Dulu, jaman pacaran yang LDR dia hobi menghilang, biasanya kalau lagi marah sama saya. HP dimatiin, SMS ga dibales, WA belum njaman. Waktu sudah nikah pun sering menghilang, kalau pas di laut karena nggak ada sinyal. Kalau pas di kantor (sok-sokan) ada meeting. Lebih sering lagi karena batere tewas karena Puput orangnya embuh banget deh soal ngecharge HP atau beli yang baru karena HP hadiah lomba blog mobil nganu itu emang sudah wayahnya pensiun. Atau kadang menghilang saja begitu, telpon nyambung tapi ga diangkat, WA ga di-read, just because dia Puput. Puput yang Cucup.

image

Jadi seharusnya saya sebagai istri solehahnya sudah terbiasa. Percaya 100% pada suami. Tapi kejadian 2 Juni lalu agak berbeda. Hari itu Puput pertama kembali nguli di ibukota setelah sekian waktu di negeri jiran. Pagi-pagi sempat ber-WA dengan cukup sumringah. Saya di Jogja mengantar Oliq pentas tutup tahun sekolah. Saya kirim beberapa foto Oliq. Tidak dibaca. Ah mungkin, sibuk meeting atau apalah. Saya kan udah biasa dicuekin juga (walau sampai sekarang kok ya nggak kebal-kebal juga).

Jam 12-an baru membalas Whatsapp, katanya kepala sakit banget dan badan panas. “Aku khawatir DB apa tipes,” katanya. JREEEENGGG. Oh ya itu salah satu kelemahan Puput, pinter bikin khawatir — walau untuk kali ini dia benar. Saya berusaha untuk positif, saya bilang mungkin kecapekan dan kurang tidur karena baru sampai Jakarta malam sebelumnya dan langsung menuju ke hostel.

Iya hostel, bukan hotel. Namanya juga Puput. Eh tapi saya yang memilihkan hostelnya. Tadinya mau di Packer Lodge atau Teduh Hostel tapi keduanya udah pernah direview, makanya saya pilihkan yang belum pernah yaitu Old Batavia Capsule Hotel di Cikini, dengan pesan, “Kamu nanti ke kantornya pakai Gojek aja, biar catch up sama warga Jakarta kekinian. Jangan lupa foto-foto, nanti bisa buat review di blog.” #DasarBlogger

Jam 3 Puput ngabarin lagi bahwa dia mlethas dari kantor karena udah nggak kuat sama sakit kepalanya. Balik ke hotel dan ngembat Paracetamol. Jam 5 sore dia bilang mau shalat, agak baikan tapi masih pusing banget.

Setelah itu menghilang. Malam itu saya cuma kirim pesan WA saja, yang tidak dibaca sama sekali. Lagi tidur, pikir saya. Sudah agak kuatir sih, tapi berpikir positif suami tercinta pujaan jiwa lagi bobo syantiek.

Padahal bobonya ga ada syantiek-syantieknya.

Pagi saya kirim WA. Tanpa dibaca tanpa balasan. Padahal, Puput biasa bangun sebelum Subuh untuk shalat (berbagai macam Simbok tak paham), Subuhan, lalu ngaji. Kali ini tanpa balasan. Mulai tambah khawatir.

Mulai jam 6-an saya udah berusaha telpan-telpon, tidak diangkat. SMS tidak dibalas. WA tidak dibaca. Tinggal kirim isyarat asap saja yang belum saya lakukan.

Nihil.

Saya bilang sama ibu mertua dan beliau juga coba telpon anak lanang, tanpa sambutan. Tetap tidak diangkat. Jam 7-an saya makin khawatir. Saya sempat berpikir Puput mungkin sudah check out dari hostel dan langsung meeting. Tapi telpon tetap tak diangkat. Pesan WA saya sudah bertumpuk semuanya tidak kunjung bercentang biru. Jam 7.30 jebol pertahanan saya.

Nangis? Nggak dong. Nggak nyelesain masalah.

Saya telpon Capsule Hotel. Yang ngangkat telpon adalah seorang mas-mas ramah bernama…nnggg Iman? Imas? Dimas? Irman?…karena panik kuping saya mendadak budeg dikit. Saya tanya apa ada tamu bernama Puput, sudah check out atau belum karena seharusnya pukul sekian dia sudah berangkat meeting. Masnya ngecek catatan sebentar, katanya masih ada. Ini memvalidasi kekhawatiran saya, jam segitu belum berangkat berarti memang ada apa-apa. Saya minta masnya menengokkan Puput apa baik-baik saja karena kemarin mengeluh pusing. Suara saya masih kalem bak mbak-mbak yang menawarkan KTA lewat telpon, padahal sebenarnya udah deg-degan. Masnya minta saya meninggalkan no telpon untuk dihubungi kembali.

Lima menit kemudian WA saya bercentang biru semua. Masih pusing katanya. Telpon saya berdering, dari Mas Iman? Irman? Imas? (Maaf ya mas namanya istri lagi kuatir). Katanya, Pak Puput masih ada memang kurang sehat, mau diantar ke klinik.

Berdasarkan wawancara dengan korban, Puput diantar oleh staf (sama mas Iman? Irman? atau staf lain saya lupa tanya) ke RS Cikini. Karena badannya lemas, di RS Cikini dia sempat diinfus dan dikasih paracetamol lewat infus. Katanya kelak ketika sampai Jogja, “RS Cikini punya PGI, perawate ayu-ayu!” *Simbok ganti kostum slutty nurse*

Selama dirawat sebentar di RS Cikini, staf Capsul Hotel nungguin, dan kemudian bawa Puput balik lagi ke hostel. Memang suspek DBD. Lemasnya sedikit berkurang tapi masih pusing. Malam itu kondisi tidak juga membaik, Puput mutusin untuk pulang. Langsung cari tiket buat besok, kata saya. “Udah di atas sejuta semua, aku pulang Minggu aja ya!”

Ya ampun emang Dewa Irit level Sun Go Kong!!! Udah tau kondisi badan seperti itu, terkapar di hostel tanpa ada yang ngurusin, jalan aja sempoyongan, masih mau ditunda pulangnya.

Rasanya pengen saya kirim ambulans. Atau kirim helikopter kaya Kapten Yoo yang mau nyelamatin dr Kang *iiihh towel oppa ganteng*

Akhirnya saya cuma kirim pesan marah-marah yang intinya, booking tiket yang paling cepat, biaya bisa dipotong dari gaji bulanan saya. (Yang terakhir ini dia kayanya lupa, sssttt kalian jangan ingetin ya). Saya paniknya saat itu dobel karena Oliq juga lagi panas dan maunya nempel terus.

Namanya Puput, tetap cari yang murah. Akhirnya dapat Sabtu malam. Naik Citilink. Saya langsung koordinasi dengan Budhe 1 (Mbaknya Puput yang nomor 1), untuk mencarikan kamar di rumah sakit tempatnya praktek yang kebetulan juga cuma 100 meter dari rumah.

Pesawatnya delay sejam. Puput dijemput Budhe 1 dan langsung diantar ke IGD RSCC. Saya di rumah ngeloni anak-anak. Tes trombosit pertama masih 110.000, di bawah normal tapi masih lumayan tinggi. Tapi melihat kondisi Puput yang sempoyongan, langsung rawat inap. Di kamar pojokan yang kata para suster agak horor, suka ada yang ngetok-ngetok pintu. Kata Budhe 1, “Ah paling demite wedi karo adikku!”

Paginya saya baru ke RSCC, trombosit sudah turun lagi jadi 80.000. Muka Puput udah tak berbentuk. Ruwet bundet. Pating blasur. Semacam kabel-kabel listrik di Ho Chi Minh City dan New Delhi. Semacam rambut krewelnya Puput kalau habis naik motor.

Saya stok segala macam mulai dari jus jambu, air kelapa, Pocari Sweat, jus pepaya, jus susu kurma, buah jeruk. Sampai dibeliin angkak juga sama Uti. Pokoke diglonggong terus.

Trombosit makin turun di hari ke 3-6 menjadi 40.000 dan rekor terendahnya adalah 17.000. Untungnya hematokrit bagus. Sempat mengental di hari ke-7 ketika Puput stres karena trombosit stuck di 27.000 setelah 3 kali pemeriksaan darah padahal menurut teori seharusnya hari ke sekian sudah mulai naik. Sambil ngeluh, “Kayanya aku jadi pasien abadi RSCC.” Yo rapopomalah sisan ngilangi demite, kabeh kalah awu karo kowe. Saya pukpuk, mungkin ini agak lama soalnya kondisimu kemarin drop banget. Bintik-bintik di seluruh kaki dan tangan.

Pada masa kritis ini sudah tidak demam memang dan badan terlihat sehat, tapi sebenarnya masih bahaya. Akhirnya pada hari ke-9 (hari ke-7 opname) trombosit naik jadi 56.000 dan katadokternya kalau besok sudah di atas 70.000 boleh pulang.

Besoknya Puput langsung ngabarin tes terakhir sudah 98.000 dan boleh pulang setelah 8 hari di rumah sakit. Tiap malam nggak ada yang nemenin (saya kudu ngeloni anak-anak). Dia boleh pulang tapi tetap harus bed rest seminggu dan tidak boleh puasa dulu. Tangannya udah kaya junkies penuh luka suntikan.

Pulang dari RS badan masih lemes banget. Saya pun lemes harus bolak balik RS-rumah ngurusin suami dan anak. Ya alhamdulillah RSnya deket banget. Tapi tetep rempong.

Beberapa hari kemudian Puput makin membaik. Sekarang sudah puasa 3 hari, sudah balik lagi di Jakarta untuk menguli yang tertunda.

Jadi, saya sangat berterimakasih pada Old Batavia Capsule Hotel terutama mas Irman? Imas? Iman? (Mbooooook, kupingmu mbok ndang dipriksakke!!!) dan mas yang mengantar dan menungguiPuput di RS Cikini (ataukah itu mas yg sama? Lupa tanya Puput je hhhahahaaaa). This is beyond hospitality. Saya nggak yakin hotel berbintang akan sebegitu pedulinya.

Siapapun yang baca tulisan ini dan akan menginap di Old Batavia Capsule Hotel, tolong sampaikan terimakasih saya. Boleh juga ditunjukkan tulisan ini jadi saya tahu siapa nama masnya yang ngangkat telpon itu huuhhahhhaha.

PS: Review Old Batavia Capsule Hotel akan dimuat terpisah oleh Puput nanti kapan-kapan kalau orangnya udah selo.


PS2: Foto juga belakangan karena semua masih di kamera yang dibawa Puput


PS3: Fogging and more wolbachia pleaseeee

Advertisements

28 thoughts on “Dari Seorang Istri Kepada Old Batavia Capsule Hotel”

  1. Mbak Olen, berdasarkan indra ke-7 yang aku punya, nama pegawai hotelnya itu Maman.

    Cepet sembuh mas Puput, biar bisa kerja lagi dan menyegerakan bilang ke mbak Olen, “mbok, coba cari tiket ke mana gitu.”

    Like

  2. Untungggg ya mbak, mas Puput rung baca hal tiket mahal dipotong gaji bulananmu. Moga-moga komen ini dibaca mas Puput langsung #ehh. Hahaha. Syukurlah wes sembuh dan semangat nguli lagi. Yen dapet vocher Old Batavia Capsule setelah ngereview, aku diciprati ya, mbak O 😀

    Like

  3. Nggak bayangke wajah putput koyok kabel New Delhi sing sering konsleting iku. 😦

    Yo wis, Alhamdullilah. Mugo mugo tambah sehat sak keluarga kabeh mbok. bahagia lan (brangkat nang) sentosa ….( island) 🙂

    Liked by 1 person

  4. ya Allah mbak, aku moco iki kok kemekelen seeeh x))))
    semoga cepet sehat ya mas Puputnya, dan gaji bulanan gak jadi dipotong biar bisa traktir aku lotek 😀

    Like

    1. kata rumah sakit dan dokter-dokternya sih mbak sekarang banyak lho yang sampai 5000-an. katanya asal hematokrit bagus dan ga ada perdarahan ga masalah *kitanya tetep deg-degan

      Like

  5. pokoke diglonggong terus, wkwkwkwk mbok mboook… jd inget sapi pas baca kata2 yg itu ;p.. yg ptg udh sembuh ya mas puput :D.. takut bgt aku ama DBD ini, takut kena ke anak masalhnya..resikonya lbh tinggi kalo utk anak kecil 😦

    Like

  6. Whuaaa sama mbaaak, aku waktu kena DBD juga gitu. Lemesnya bukan main. Pas trombo 30rb, kirain besok bakal naik. Eh malah turun jg sekitar belasan ribu. Untungnya setelah di opnam bbrp mlm, naik sih. Waktu itu lagi musim DBD. RS penuuuuuh dg org DBD. Mau opnam aja waiting list. Gila. Mgkn harus sering2 fogging yah kl lagi musim. Sama ga boleh kecapekan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s