Semua (Perempuan) Pernah Mengalami Pelecehan Seksual


Faktanya, laki-laki pun banyak yang mengalami pelecehan seksual. Namun, tidak dapat dipungkiri di dunia kita yang patriarkal ini perempuan lebih rentan menjadi objek seksual. Pelecehan yang seperti apa? Banyak macamnya, mulai dari siulan atau catcalls, digrepe-grepe di angkutan umum yang penuh sesak, verbal harrassment, hingga benar-benar perkosaan dengan penetrasi dan (sayangnya) masih banyak ragam lain yang bahkan lebih beringas.

Solo traveler dan gajah
Solo traveler dan gajah

Percaya tidak, mengalami pelecehan seksual walau dalam kategori ringan sedihnya/marahnya sama dengan kehilangan barang kesayangan, seringkali bahkan lebih lama jengkelnya. Kenapa sih tadi harus lewat jalan situ? Kenapa tadi nggak naik taksi aja sih? Dan banyak lagi kenapa-kenapa yang lain. Penyesalan. Menyesali hal yang kita lakukan. Padahal, korban tidak pernah salah. Pelecehan seksual bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, kepada siapa saja.

Bisa terjadi di darat, laut, dan udara. Tahu kan kasus penumpang Garuda yang melecehkan pramugari secara verbal dalam penerbangan JOG-CGK baru-baru ini?

Saya pertama kali mengalami “yang aneh-aneh” pada waktu SD. Waktu itu jam istirahat. Di depan kompleks SD ada seorang laki-laki di atas motor, yang tidak tahunya sedang mengeluarkan penis sambil menggoyang-goyangkannya. Sontak, kami — murid-murid perempuan — langsung lari berhamburan. Dan aksi eksibisionisme ini sepertinya umum terjadi. Saya mengalaminya lagi waktu SMA, di depan Pasar Condong Catur. Saya pulang sekolah sore, agak sepi, dan ada lelaki mempertontonkan titit mungilnya. Ya sudah, saya nyengir aja dan jalan terus.

Sekitar dua tahun lalu pun mama saya dan sahabatnya mengalami. Dua simbah-simbah yang usianya sudah di atas 60 tahun ini sedang jogging di area perumahan saja. Tiba-tiba ada laki-laki datang menghampiri dan menunjukkan kemaluannya. Pada simbah-simbah. Tak ayal, kedua simbah langsung lari menjerit-jerit.

Pelecehan bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk simbah-simbah berjilbab.

Ya, memang kelainan.

Ada teman travel blogger laki-laki yang mengaku pernah mendapatkan pelecehan pada waktu kecil, namun dia tidak bersedia menceritakan secaralebih rinci.

Pelecehan bisa terjadi pada siapa saja, termasuk laki-laki.

Waktu SD saya juga pernah mengalami beberapa kali dicubit pantatnya oleh lelaki yang saya kenal tapi tidak kenal dekat. Sayangnya saya nggak mudeng kalau itu merupakan bentuk kejahatan. Baru ngeh setelah dewasa. Ooo, jebul yang dulu itu pelecehan seksual tho, sebuah kejahatan yang bahkan bisa sampai dipidanakan (apalagi saya sebagai korban waktu itu masih di bawah umur). Bejamu Su aku ra dong, nek ngerti wis tak tendang manukmu. Inilah yang harus kita ubah. Anak-anak kita harus sudah aware mana yang boleh dilakukan orang kepada mereka, mana yang tidak boleh. Mana yang harus dilaporkan pada orangtua dan guru.

Pernah di dalam angkotan umum sesak dan tiba-tiba ada yang njendol dari belakang dan digesek-gesek? Frotteurism ini juga tampaknya marak terjadi. Korban pun tidak perlu yang berpakaian terbuka, yang tertutup pun sering kena.

Salah satu yang paling menyebalkan adalah dicemol. Pengalaman saya kena korban pelecehan di Terminal Lebak Bulus. Ironisnya, insiden terjadi setelah saya wawancara dengan Kepala Terminal, niat hati mau muji-muji soalnya terminal lebih bersih (dibanding Kampung Rambutan, misalnya). Pas mau pulang, di gerbang kelihatan ada banyak laki-laki — kebanyakan adalah calo. Saya waspada dong, ransel langsung saya taruh bagian depan, maksudnya buat melindungi payudara. Tahu-tahu waktu lewat pantat yang dicemol. Langsung muntab, pakai gaya Rahwana. Si pelaku saya tampar pipinya beberapa kali. Saya ludahin mukanya. Saya ngamuk. Temen-temennya cuma ketawa-ketawa nggak jelas dan malah menikmati insiden itu. Saya sebenarnya mau melaporkan pada Kepala Terminal, tapi dikejar deadline. Maklum reporter magang. Dan redaktur saya yang inisialnya RHS galak, bro!

Nah, reaksi orang ketika mengalami pelecehan berbeda-beda. Ada yang langsung ngamuk seperti saya, ada yang lemas dan menangis, ada yang mungkin dipendam dalam hati dan suatu saat bisa meledak. Dan sangat traumatis. Sampai lama pun masih terbayang-bayang kejadiannya.Ya kalau pelecehannya tingkat parah — hingga pemerkosaan — bisa jadi suicidal atau homicidal.

Menghindari Pelecehan Seksual Saat Travelling

Pelecehan seksual terjadi pada saat traveling.

  1. Kita berada pada zona yang berbeda, jauh dari kotak aman kita. Daerah dengan budaya yang berbeda pula. Kita pun tidak tahu daerah mana yang berbahaya, daerah mana yang aman. Semuanya terasa asing, walau mungkin kita sudah waspada.
  2. Kita beda! Apalagi kalau ke luar negeri, nih. Tampang beda bisa jadi tontonan, menarik perhatian. Bagi para pelaku pelecehan seksual kambuhan, mungkin ini menarik bagi mereka, ingin ‘mencoba’ yang lain.
  3. Apalagi solo traveler, tentu lebih rentan. Kalau diapa-apain mau minta tolong siapa? Teman, saudara nggak ada, kantor polisi nggak tahu, ada kendala bahasa. Istilahnya: low risk victim lah!
  4. Kita sering memilih akomodasi di kawasan backpacker yang biasanya juga merupakan/dekat dengan kawasan red district. Dekat dengan dunia gemerlap, minuman keras, dan dunia prostitusi. Jadi ya, kalau misalnya ke Bangla Road dan dicolek ladyboy, bukan hal yang ‘mewah’ #halah.

Banyak orang yang mengaitkan pelecehan seksual dengan miras, ah kalau yang ini Simbok mlipir aja, takut dihujat, ini lapaknya Uni Fahira Idris. IMHO, miras bisa jadi faktor pemicu (yang kalau mabuk jadi lebih berani). Saya juga pernah menyaksikan kelakuan aneh-aneh orang mabuk kok di Korea, Perancis, dan Australia. Tapi hanya salah satu faktor. Satu dari banyak lainnya. Kalau minumnya cuma sesruput dua sruput kayanya ngga ngefek.

Makanya cewek harus tertutup rapat. Hmmmm nganu ya…..hmmmm….. Saya masih tetap berpendapat bahwa yang salah adalah pelaku, bukan korban. Misalnya nih, misal, ada Brad Pitt wudo blejet di depan saya, mosok njuk saya samul? Nggak to? Mending nyamul Puput yang masih sarungan pulang dari masjid.

Kalau dalam urusan per-traveling-an. Saya merasa sangat aman di Australia, pergi sendirian, bahkan sampai tengah malam, melewati beberapa daerah sepi jalan kaki (karena kehabisan bus terakhir) walau hanya pakai celana pendek, tank top, dan sandal jepit (saya belum kerudungan waktu itu). Di lain pihak, saya merasa rentan dan terintimidasi di India melihat tatapan para lelakinya kepada saya, yang tertutup rapat (karena winter) kepala pun ditutup, jaket tebal, dan ditemani mahram — Puput. India memang merupakan salah satu dari 10 negara dengan tingkat perkosaan tertinggi. Itu baru perkosaan, lho, belum berbagai jenis pelecehan seksual.

Saya pernah dihampiri lelaki di Vietnam, nggak ada cara lain saya buru-buru kabur.

Ketika beribadah haji/umrah pun pelecehan seksual terjadi kok, walau saya tidak mengalami sendiri. Ada bapak-bapak yang bercerita bahwa dia suka sekali umrah, karena berdesak-desakan jadi bisa nyenggoli payudara-payudara jamaah perempuan. Ya, ini cerita nyata, yang dia ceritakan dengan bangganya. Bapak-bapak itu sudah meninggal sekarang.

Bagaimana menghindari kemungkinan pelecehan seksual ketika traveling?

  1. Kata Delin, begitu malam ya udah ndekem aja di hostel. Kebetulan kami juga bukan pecinta kehidupan malam. Malam itu udah capek. Paling keluar buat makan malam dan foto-foto aja, nggak jauh-jauh dari hotel. Saya pernah sih jalan sendiri keliling Malate dan Mabini di Manila, tahu-tahu banyak rumah-rumah bordil. Untung nggak ditawar, eksotis begini.
  2. Menginap di kawasan red lights kadang tidak bisa dihindari karena biasanya berada dalam kawasan yang sama dengan hotel-hotel murah. Pilih tempat menginap yang reviewnya bagus, hostel cukup aman karena satu kamar berbanya. Atau pilih hotel yang family-friendly. Lebih bagus lagi pilih hotel syariah yang kalau menginap pasangan harus nunjukin surat nikah wekkeke
  3. Buat yang biasa pakai Couchsurfing, pilih-pilih dengan baik host-nya. Walau pelecehan sesama jenis bisa juga terjadi , tapi jauh lebih sedikit. Mungkin memilih host sejenis bisa lebih aman, walau tidak 100%
  4. Ramah dengan staf hotel boleh, tapi jaga jarak juga. Saya pernah beberapa kali melihat staf yang agak kurang ajar. Berlaku juga untuk tukang tuk tuk, ojek, taksi, mobil sewa. Ramah tapi profesional. Jangan mau di-sok-akrab-i.
  5. Percayai insting. Terutama dalam bertemu dengan orang baru. Saah satu seni solo traveling adalah berkenalan dengan orang asing dari berbagai belahan dunia. Kerasa kok kalau ada yang berniat jahat dengan kita. Jangan mau serta merta diajak minum-minum (minuman keras). Lihat-lihat dulu, kalau kelihatan tulus, traveler beneran (bukan sex traveller) ngopi-ngopi cantik nggak masalah, tentunya di tempat yang aman juga.
  6. Berdoa. Sebelum keluar hotel/hostel berdoalah. Kalau saya: bismillahi tawwakaltu alallahi la qawla wala quwwata illa billah. Simple. Won’t take you a minute. KIta tidak pernah tahu. Di luar sana, apalagi sendirian, yang paling bisa jaga kita ya Tuhan.

Go solo travelling now but stay safe!

Advertisements

20 thoughts on “Semua (Perempuan) Pernah Mengalami Pelecehan Seksual”

  1. Blogger laki2 yg kena sexual abuse waktu kecil siapa mbok? Duh awakku tak nyoh nyohno kok ga onok sing gudo haha.

    Waktu jalan ke India kita lagi jalan bareng dan temen cewekku pake hijab tertutup yo dicuwol susune karo kakek2 tuh. Sing salah ancene sing uteke ga beres.

    Dua kali dihost CS yang gay dan pernah sekamar. Aman gak digrepe grepe. Soale gawe sempak wesi wkakakaka.

    Like

  2. Alhamdulillah selama dulu travelling sendiri di western europe gak kena pelecehan seksual apapun. Malah kenanya dulu di Indonesia pas lagi naik busway. Hadeh..

    Like

  3. Kok jadi mengira-kira yen ono pelaku eksibisionisme zaman saiki mungkin wes do ora mlayu korbane, tapi bocahe buru-buru video trus diupload koyo tren video tetetoet sing viral kae hahaha

    Like

  4. wadoh serem juga yah. pantesan skrg makin banyak self defense class buat cewe.. untungnya gw cowok, jadi ga kena macem2 deh (walopun ga menjamin cowo pasti aman sih)

    Like

  5. zaman masih sekolah, saya sellau naik angkot. Pernah melihat orang eksibisionis di depan mata banget. Ugh! -_-

    Pernah juga ketika naik bis yang lagi penuh banget trus sengaja dipepetin sama aki-aki buat diraba-raba. Ketika saya coba tegur, dia malah bentak, “Gak usah sok kecakepan deh, Mbak!” Idiiihh! Mau saya cakep atau jelek, gak berarti saya bisa seenaknya digituin kalii…

    Like

  6. iya..setuju, peluang pelecehan ada dimana-mana..ke pasar aja kadang ada yang kayak cerita mba itu..untuk pencegahan memang kita yang harus mewanti-wanti terutama saat traveling..nice info mba..

    Like

  7. “Misalnya nih, misal, ada Brad Pitt wudo blejet di depan saya, mosok njuk saya samul? Nggak to? Mending nyamul Puput yang masih sarungan pulang dari masjid.”

    Penerjemah tolooong, terjemahin. Kayaknya ini bagian yang paling lucu hahaha.

    Nasip mbok, aku punya bodi semok mengemaskan sejak kecil. Dulu pantatku suka diremas-remas sama preman gak jelas penghuni lorong sekolah. Atau paling banter ditepok2 pantatku kalo lewat. Duh, kalo sekarang baru ngeh kalo dulu aku hampir dinodai -drama hwhwhw.

    Yang orang pamer batang, katanya sih kalo nemu yang kayak gitu mending dikomenin, “Yaelah segitu doang punya elo? pendek, item, jelek dan bentuknya kayak alien gitu dipamerin,” hwhwhw. Katanya pelaku bakalan ciut nyalinya hahaha

    Like

      1. Kayanya itu kata khas jogja periode 80-90an hahahaaha. Itu artinya nyolek tapi khusus organ2 tertentu wekekkkke

        Like

  8. PR sekarang adalah ngajarin anak-anak ya mbak Olen. Saya kadang juga suka hilaf karena saking gemesnya ke anak kecil suke uwel-uwel pipi juga pantatnya. Cuma ke anak di bawah usia lima sih karena kalo merek semok gitu lucu banget.

    Sampe suatu hari saya sadar kalo itu salah. Yang saya tahu ortu si anak pasti ngajarin soal jangan mau dipegang2 sama orang asing. Kelakuan saya bikin si anak bingung karena saya teman akrab orang tuanya dan enggak menganggap saya orang asing. Padahal kan orang yang dikenal belum tentu baik juga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s