Kisah Nenek-Nenek Plesiran Horor ke Phnom Penh


Andai saja Puput tahu bahwa ibu-ibu kami akan ikut serta, pastilah dengan akal sehat dan nurani yang jernih dia tidak akan memilih Phnom Penh (Kamboja) sebagai destinasi kami. Tentunya dia akan memilih kota tujuan yang lebih lansia-friendly, muslim-friendly, dan juga lebih touristy. Mungkin salah satu kota di Thailand. Atau sekadar ke Singapura.

Yang jelas bukan Phnom Penh.

Tuk tuk di Phnom Penh
Tuk tuk di Phnom Penh

Bukan kota yang atraksi wisata utamanya adalah penjara dan lokasi pembantaian ribuan nyawa tak berdosa.

Tapi nasi telah menjadi bubur. Tiket sudah di tangan dan simbok-simbok njaluk nginthil.

Sebenarnya ibu-ibu kami juga nggak gitu-gitu amat. Ini memang special case karena kami ke Kamboja serangkaian dengan pindahan dari KL ke Jogja. Jadi maksud ibu-ibu datang adalah untuk bantu-bantu pindahan (yang kenyataannya malah beli oleh-olehnya bikin bawaan makin tambah banyak hoahahahaha).

Jadi kami berangkat ke Phnom Penh naik pesawat yang seharusnya terbang jam 6.35 pagi. Berangkat dari rumah kontrakan naik taksi jam 3 pagi. Umun-umun sudah check in yang disambut dengan berita menyebalkan: pesawat delay 3 jam.

Jadilah kami glundang-glundung nggak jelas di ruang tunggu tepat di atas ruang imigrasi KLIA2. Ibu mertua (Ati) dan mama saya(Uti) asyik makan roti canai. Puput makan ketan. Oliq makan nasi lemak. Ola makan mangga mentah di lantai. Simbok? Diet dong.

Akhirnya penantian panjang berakhir dan kami terbang ke Phnom Penh. Tiba di sana disambut udara sangat panas dan debu. Bandaranya sudah lebih besar dari ketika pertama kali saya ke sana tahun 2008. Waktu itu masih harus bayar visa on arrival.

Di luar minivan jemputan sudah memampang nama saya. Olenka XXX XXX. Saya sengaja memesan minivan seharga USD 20 karena bawaan memang sangat banyak. Ada 2 koper besar (@20 kg), 1 koper kecil, 2 tas besar, 1 tas tenteng, stroller, 2 ransel berat, 1 tas kamera. Taksi sedan maupun tuk tuk jelas tidak muat, ditambah lagi ada 4 orang dewasa dan 2 anak.

Minivan membawa kami ke VMansion, hotel yang saya pesan melalui TripAdvisor (review menyusul) di Doun Penh — masih dalam radius 1 km dari Royal Palace dan National Museum. Demikian juga dengan riverside.

Mengobrollah ibu-ibu dalam bahasa Jawa — saya terjemahkan biar tidak ada yang roaming.

“Kok dari tadi nggak kelihatan ada masjid sih?”

“Kotanya kok semrawut banget.”

“Jalanannya kok kotor banget nggak ada yang nyapu.”

“Debunya banyak banget.”

“Kok pada nggak pakai helm?”

“Hih ada babi digantung.”

Modyaaaar kowe mbok modyaaaaaaar! Sebagai tour guide saya merasa harus memberi penjelasan. Yah, Kamboja ini harap maklum memang negara yang lebih tertinggal daripada Indonesia. Maka, bersyukurlah *kibas kerudung*.

Saya langsung ngejebres tentang sejarah Kamboja terutama bagian Perang Saudara di mana Khmer Rouge baru total menyerah pada tahun 1999. “Jadi maklum kalau negaranya masih awut-awutan kaya gini, lha wong perang aja belum lama selesai. Jangan bandingkan sama Indonesia yang sudah merdeka sejak tahun 1945. Enggak apple-to-apple itu! Tapi lihat di sana-sini ada pembangunan karena mereka sudah mulai membangun!”

Kalau saja Raja Norodom Sihamoni mendengar kata-kata saya niscaya saya akan diangkat menjadi Duta Pariwisata Kamboja.

Sejajar sama Zaskia Gotik.

Hari itu berlanjut dengan kami tepar di hotel karena semalam kurang tidur. Sekitar pukul 5 sore baru keluar lagi. Karena saya bingung mau ke mana jam nanggung seperti itu, akhirnya kami memutuskan untuk ke Night Market sekalian lihat riverside. Kami naik tuk tuk seharga USD 3.

“Walah pasar malam e kok ming koyo ngene.”

“Sampahnya di mana-mana.”

“Sungainya bau.”

“Haduh, anjing kok dilepasin!”

SIMBOK NJEBLUNG SUMUR.

Dan ketika kami mulai berjalan meninggalkan tepi sungai terdengarlah suara adzan dari seberang sungai. Hebohlah para ibu-ibu.

Adzan tersebut dikumandangkan dari masjid Al-Rahmah atau Mukdach Chroy Changva di Tonle Sap St. Salah satu dari beberapa masjid yang ada di Phnom Penh.

Lega rasanya hati Simbok ini.

Hari ke dua diawali dengan badan Ola yang hangat. Duuuh, masalah deh. Anaknya jadi rewel. Tapi the show must go on dan kami cuma punya satu hari itu untuk keliling Phnom Penh. Tuktuk sudah dipesan sehari USD 25. Kalau kalian ambil tuk tuk di jalan atau lewat hostel mungkin hanya USD 20.

Saya minta Mas-nya untuk ke Tuol Sleng Genocide Museum dulu, karena urutannya ke situ dulu baru ke Cheoung Ek Genocide Center.

Tuol Sleng hanya sekitar 1,5 km dari hotel. Penampakannya sudah jauh lebih bagus daripada pertama kali saya ke sana. Sudah dibuat taman-taman dengan bangku-bangku. Disediakan pula audio yang berisi informasi, sewa USD 3. Tiket masuk pun USD 3, anak-anak gratis. Puput langsung berangkat tour sendirian. Simbok manggrok di bangku nyusuin Ola yang memang rewel.

Kembali ke Tuol Sleng lagi
Kembali ke Tuol Sleng lagi

Oliq lari-larian dan guling-gulingan di rumput yang dulunya mungkin (bukan mungkin, kali, pasti) tempat penyiksaan, pembunuhan, atau bahkan kuburan karena pada awalnya sebelum Cheoung Ek dibangun tahanan banyak yang dikuburkan di kompleks Tuol Sleng.

Informasi sedikit saja ya, Tuol Sleng dulunya adalah sekolah menengah yang pada masa pemerintahan Khmer Merah 1975-1979 diubah menjadi penjara dengan nama S-21. Kepala penjaranya bernama Duch — sampai sekarang masih hidup dan dijatuhi hukuman seumur hidup. Ada sekitar 27.000 orang yang pernah ditahan di S-21 ini, bila tidak mati di sini saat disiksa, kemudian akan dibunuh di Cheoung Ek. Dari sekian puluh ribu orang yang ditahan, hanya 14 yang bisa selamat, salah satunya adalah Bou Meng yang akan saya tulis secara terpisah.

Tuol Sleng penuh dengan berbagai alat penyiksa. Ada rantai untuk mematahkan tulang-tulang. Kurungan tahanan yang kecilnya seperti kandang kucing. Sel-sel sangat sempit yang penuh dengan bercak darah dan masih bau anyir. Juga foto-foto tahanan, foto-foto pada saat mereka disiksa dan pada saat mereka telah meninggal.

Depressing.

Dulu saya pernah menulis bahwa kunjungan ke Tuol Sleng ini membuat seolah-olah saya bertemu Dementor yang dapat menyedot seluruh kebahagiaan dari diri saya. If you happen to read Harry Potter, you’d understand what I mean.

In short, Uti dan Ati sudah nggak tega duluan tapi akhirnya mereka memberanikan diri untuk masuk ke ruang-ruang kelas di lantai bawah. Keluar sambil bergidik. Sebenarnya kalau Uti sudah tahu karena pernah baca buku sejarah Kamboja 3 volume punya Delin, adik saya, tapi tetap saya bergidik apalagi ketika nguping guide yang berbahasa Inggris. Kalau Ati cuma masuk sekali dan langsung mengibarkan bendera putih, memilih untuk menunggu di bawah pohon sambil menggendong Ola.

Saya berkeliling sejenak. Kalau melihat foto-foto dan alat penyiksa memang hati rasanya mengerut. Tapi saat itu ramai hampir-hampir saya tidak pernah sendirian dalam ruangan. Jadi, tidak semengerikan dulu ketika saya datang menjelang gelap, sepi, dan bagian luar museum juga belum dipercantik seperti sekarang. Tambahan lagi hotel saya tepat di depan Tuol Sleng (yang kabarnya warga sekitar kadang masih mendengar jeritan di malam hari).

Oliq masih lagi dan guling-gulingan di rumput.

Dari Tuol Sleng kami ke Cheoung Ek yang jaraknya sekitar 15 km. Jalanan buruk dan berdebu, beberapa kali melewati rawa bau dan pemukiman kumuh. Bisa ditebak kan komentar ibu-ibu seperti apa?

pp3 pp7 pp6

Sampai di Killing Fields, Ati kembali memproklamirkan hanya mau duduk-duduk saja. Oliq excited melihat menara, namun langsung menciut ketika dibilang bahwa menara itu berisi tengkorak. “Aik nggak mau lihat tengkorak!” Akhirnya Ati bilang bahwaitu tengkorak palsu dan Oliq kembali semangat pengen masuk menara dan lihat “tengkorak palsu”.

Phnom Penh panasnya luar biasa, Ola pun masih rewel. Saya menepi di salah satu bangku di bawah pepohonan rimbun. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah pohon-pohon besar. Di bawahnya terdapat lubang-lubang yang merupakan kuburan massal. Sisa-sisa tulang masih bertebaran di kuburan tersebut.

Oliq muncul dari sebuah jalan setapak di antara dua buah kuburan massal tepat di belakang Magic Tree (pohon tempat loudspeaker digantung, mengumandangkan musik keras-keras untuk menyamarkan jeritan para tahanan yang disiksa). Saya hanya bisa menatap nanar dari jauh. Walaupun ada beberapa orang lokal yang dengan santainya jalan lewat jalan setapak — please, please, please buat kalian stay on the boardwalk. Tetaplah jalan di jalan setapak kayu yang telah dibuat. Jangan seperti Oliq. Delapan tahun yang lalu, memang belum ada walkway seperti itu, sekarang sudah lumayan mungkin juga untuk meminimalisasikan terinjaknya sisa-sisa jasad korban yang masih berserakan.

“Mama, di sana ada tulang sama gigi. Aik mau difotoin sama tulang sama gigi!” Anaknya ngibrit balik ke display tulang dan gigi korban sambil lari. “Aik, di sini nggak boleh teriak-teriak! Aik, jangan lari-lari! JANGAN LEWAT JUGANGAN!”

Simbokne setres.

(By the way, Oliq sekarang sudah tahu bahwa tengkorak yang dilihat itu asli. Dan tulang-tulang yang ia lihat juga asli. Pulang sekolah pertama langsung teriak, “Mama, Aik tadi bilang sama temen-temen Aik sama Bu Guru kalau Aik kemarin lihat tengkorak beneran.”)

Sementara Ati menyerah kalah dan hanya sempat melihat-lihat sedikit, Uti memutari seluruh kompleks ladang pembantaian sendirian. Uti ini di masa mudanya pemberani. Sudah biasa ketemu beraneka macam setan huhahahahah. Berhubung Mbah Kakung dulu wartawan yang biasa pulang dinihari, waktu belum punya anak suka ditinggal sendirian di kontrakan yang dikelilingi pohon bambu. Kata Uti, “Aku masih ketok-ketoken (lihat-lihaten — oposeeeh) pohon yang digantungi karet. Pohon yang dipakai untuk menghantamkan kepala anak-anak supaya mati. Sepanjang jalan tadi baca Surat Yaasin terus.”

Ya, be ready kalau kalian mau ke Tuol Sleng dan Cheoung Ek.

Turun dari menara tengkorak, saya lihat Puput langsung mengangkat tangan dan berdoa lama. Waktu ditanya tadi berdoa apa, cuma jawab, “Ya berdoa buat yang mati di sini.” Tipikal jawaban Puput.

Dari Killing Fields kami menuju ke Warung Bali. Alamatnya saya berikan ke Mas Tuk Tuk dan dia langsung menggoogle-maps alamatnya. Canggih ya.pp4

Kami makan di restoran kecil milik Pak Kasmin, asal Sidareja dekat Cilacap yang enak banget masakannya, harganya terjangkau, dijamin halal dan reviewnya menyusul.

Dari Warung Bali kami pulang ke hotel. Karena kondisi Ola yang badannya panas dan rewel saya memutuskan untuk tidak ikut melanjutkan trip, toh tujuan-tujuan berikutnya pun saya sudah pernah sambangi sewindu sebelumnya.

Puput, Oliq, Uti, Ati ke Royal Palace dan Central Market. Kebetulan kami sudah ke Wat Phnom semalam. Ati sudah heboh mau membelikan kaus kembaran untuk cucu-cucunya, kaus untuk menantunya, dan magnet kulkas untuk kelompok kasidah-nya.

Hari ke tiga kami check out pukul 12.00 dan langsung (kembali) ke Central Market karena Ati merasa oleh-olehnya masih kurang dan langsung ke bandara. Di bandara, Uti, Ati, Puput shalat di ruang tunggu. Uti komentar, “Bandara internasional kok ga ada tempat shalatnya.”

Simbok semaput.

Njuk tangi meneh mergo Puput teko nggowo burger iwak.

 

 

Advertisements

11 thoughts on “Kisah Nenek-Nenek Plesiran Horor ke Phnom Penh”

  1. Aku selalu ngakak baca tulisan2mu mbok 😀

    Tapi spt biaasa, tulisannya penuh janji2 manis (review menyusul, akan ditulis terpisah) tapi gak ada realisasi… PPFFFFFTTTT….

    Like

  2. Hooh ya bener kata Iqbal, “akan ditulis di artikel terpisah” e mbak Olen ki mengingatkanku pada seseorang yg tinggal di jalur pantura hahahaha.

    Baca tulisanmu iki malah fokus ke wajah tanpa ekspresimu ama mas Puput. Piyee ngunu. Mungkin niat menghayati Tuol Sleng tapi malah bikin ngikik hahaha. *mlipir kalem*

    Like

  3. ngguyu mbok nek moco tulisanmu. mesti! tapi ojo daftar dadi pelawak, ngko ndakne ra nulis meneh!

    ha kok tujuane medeni, kurang cocok pancen nggo wisata keluarga, wangune karo konco-konco sih iku mbak.

    oiya, sidane oliq ngerti nek tengkorak asli pas ning kono po wis balik? ekspresine piye?

    Like

    1. Lha wong aku wis tuku tiket sejak tahun lalu. Eh simbok2 njaaluk melu. Nek anak2ku sih emang sengojo digowo wisata ngono rapopo. Ngerti tengkorak tenan pas tekan omah njuk cerito karo sopo2

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s