Mbah Kakung Goes To Malacca


“Nok, kok ketoke Kuala Lumpur luwih maju timbang Jogja Jakarta, yo?”

“Jelas no. Opo meneh nek dibandingke Jombang.”

Setelah acara ketinggalan pesawat yang marai ati slenit-slenit dan sirah cekot-cekot, Mbah Kakung dan Uti sukses sampai di KLIA2 dua hari kemudian. Setelah itu kami pusing-pusing kat KL.

Tulisan ngehits di pinggir sungai itu
Tulisan ngehits di pinggir sungai itu

Nah, untuk akhir pekan kami memutuskan pergi ke Melaka. Kebetulan Ola juga belum pernah ke sana, sementara Oliq sudah dua kali dan tetap excited membayangkan mau naik Menara Taming Sari.

Mbah Kakung sebenarnya sudah cukup sering perga-pergi waktu beliau masih jadi wartawan. Tapi itu pada waktu Soeharto masih jaya. Waktu belum ada model low cost carriers. Waktu Simbok masih pakai miniset.

Kami berangkat naik mobil ke Melaka sekitar 2 jam perjalanan. Mbah Kakung gumun karena kok nggak nemu desa-desa di pinggir jalan. Terus saya bilang kalau di Indonesia kebanyakan orang, makane mbok yo ojo monak-manak wae (jangan pada beranak terus). Terus Simbok diploroki Puput dari depan. Ya kali Indonesia itu udah overpopulated. Ya karena semuanya ngumpul di kota besar, jadi daya dukungnya lemot.

Kapal besar
Kapal besar

Kembali ke Melaka, saya booking hotel via Agoda, yaitu Novotel Melaka. Entah gimana kok weekend bisa dapat harga murah Rp 650.000 sekamar. Yay bukan? Sayangnya, kami belum bisa check in karena tiba pada jam 11.00.

Tuh kan ada yang nebeng foto
Tuh kan ada yang nebeng foto

Kami langsung cusss ke River Cruise. Ya lumayang banget dapat diskon buat Uti dan Mbah Kakung yang termasuk warga emas. Kapalnya isinya rombongan turis dari Indonesia yang dresscodenya merah. Duduuuu, berasa menyusuri Kali Code wekekek.

Habis itu kami ke Menara Taming Sari yang tinggak duduk manis dan observation deck-nya naik sendiri. Oliq dan Mbah Kakung udah gaya banget pakai keker (teropong).

“Weh aku mau wedi nek mlorot dewe je,” kata Mbah Kakung.

Waktu di hotel ada kejadian lucu. Kamar kami berhadapan.

Uti: Iki piye lemarine malah ora iso dibuka. Klambine Papa ning kono. (Ini gimana, lemarinya nggak bisa dibuka, baju Papa di situ)

Mbah Kakung: Mau iso dibuka. Takdelehke kono. Saiki malah raiso dibuka. (Tadi bisa dibuka. Aku taruh di situ. Sekarang malah nggak bisa dibuka).

Uti: Iki aku narike nganti tanganku lara. (Ini nariknya sampai tanganku sakit)

Simbok: Endi? Yo ra mungkin ning kene. Wong iki dudu lemari. Iki dinding kayu. (Ya nggak mungkin di sini, Ini bukan lemari. Ini dinding kayu).

Mbok ditarik nganti taun dal yo ra bakal mbukak. Dan baju yang diari ditemukan di sebelahnya.

Wakakkaka, Simbok langsung ngerti soalnya di kamar tadi juga pernah kejebak. Lha dinding kayunya dikasih semacam pegangan buat buka, jadi dikira pintu lemari. Padahal, lemari yang ada di sebelahnya. Waktu cerita sama Puput, ternyata sama juga dia juga sempat kejebak.

Eaaaaaa.

Malamnya kami ke Jonker Walk, duduk-duduk manis di Taman Jonker sambil makan es cendul, ngemil kentang dan nastar. Mbah Kakung ketagihan cendul dan ice kacang.

Jonker Walk ramai banget malam itu. Berdesak-desakan pol.

Mbah Kakung: Iki sak dalan isine wong kabeh koyo ngene? (Ini satu jalan isinya orang semua kaya gini?)

Simbok: Yo iyo. Nek isine genderuwo kabeh teneh medeni. (Iya. Kalau isinya genderuwo semua seram dong)

Sekarang banyak tulisan dan street art yang narsisable
Sekarang banyak tulisan dan street art yang narsisable

Paginya kami foto-foto cantik di depan tulisan World Heritage, di pinggir sungai, di depan kincir angin, Christ Church dan sebagainya.

Mbah Kakung have been to Malacca, have you?

Advertisements

28 thoughts on “Mbah Kakung Goes To Malacca”

  1. mbak, aku ngguyu kemekelen meneh. cen ngejak wong sepuh ki kadang-kadang marai ngelus dodo yo. “ngeteniki lho mbah”. karepe muni ngono karo gemes. tapi dadi enek critane ding. 😆

    Like

    1. Banyak tulisannya. Di jembatan. Di casa del rio depan sungai ada tulisan @sungaimelaka. Terus ada motto baru don’t mess with melaka

      Like

  2. Baru sekali ke Malaka, tapi belum puas, soalnya datang pagi trus pulang sore, karena langsung ke Penang. Pengen nyobain kemeriahan Jonker Walk di malam hari.

    Di Jonker makanan halal gampang gak mbak?

    Like

      1. Pokoknya jgn di jonker dan kota tuanya. Paling di deretan depan dataran pahlawan itu halal semua yg deket pasar jual suvenir. Kalo pinggir sungai ya line clear kp jawa. Sebenarnya di kota tua ada beberapa nasi kandar juga tapi jarang kebanyakan makanan cina ga beraniaa

        Liked by 1 person

      2. Nah iya ya, waktu itu aku makan siang di daerah foodcourt di depan Menara Tamingsari itu. Pengen sih nyobain ke Malaka lagi mei ini, mumpung ada promo murah MH dari Jakarta ke KL nih. Btw dirimu tinggalnya dimana mbak? Kopdar ya kalau sempat mampir ke sana 😉

        Like

  3. Belum, saya belum pernah ke Melaka… *kemudian malu*. Insiden soal lemari itu kocak :haha, kemudian ditariknya itu dinding namun lemarinya tak mau membuka :hehe. Mungkin saya juga akan salah duga kalau menginap di hotel yang sama :)).
    Tapi betapa ya, Indonesia banyak banget punya desa-desa…

    Like

  4. Hahahaha,,,, Kakehan uwong yo mbak yo? dadi nggak maju – maju,,,
    tur selain itu yow juga wong – wongane sulit di atur – atur lho mbak, pada nggoleki jalan sendiri – sendiri,,,,
    Di larang untuk berbuat kejelekan kayak ngebuang sampah aja, ew lakok malah ngeyel tetep wae mbuang sapah sembarangan, nang sungai maneh,,,,
    Keren dah buat Malaka 🙂 suatu saat siapa tahu bisa kesana 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s