Liburan di Korea dengan Anak-Anak (Itinerary)


“Kayanya ini liburan kita yang paling menantang, Cop,” kata Puput suatu saat di apartemen mungil yang kami sewa di Itaewon, Seoul.

Kebetulan ini adalah trip ke dua kami dengan dua anak (Oliq 4,5 tahun dan Ola 9 bulan) setelah ke Boracay Filipina bulan lalu. Bukan hanya itu, awal Maret yang seharusnya mulai musim semi ternyata masih sangat dingin dengan suhu maksimal 5 derajat Celcius di tengah hari bolong dan selalu di bawah titik beku pada malam hari.gembok

Korea!
Korea!

Traveling dengan dua orang anak di musim dingin memang sangat menantang.

Saya ingat waktu kami di Stavanger, Norwegia, paling malas ajak Oliq keluar karena ritual setiap mau keluar apartemen itu sungguh melelahkan. Harus pakaian legging, celana rangkap, kaos, sweater rangkap, winter coat, kupluk, gloves. Itu anak satu. Sekarang dikali dua deh. Butuh setengah jam sendiri untuk rencana mau keluar rumah.

Flashback sedikit, Korea sebenarnya tidak berada dalam bucket list kami. Tapi berkat tiket promo Airasia akhirnya dapat juga tiket ke KUL-ICN pp untuk 3 orang dan 1 bayi dengan harga fantastis. Kira-kira Rp 6 juta sudah dengan bagasi 20 kg, pick a seat, dan makanan 2 porsi untuk masing-masing trip. Murih tenin to, masdab, mbaksis?

Kenapa kebanyakan trip medium-long haul kami selalu musim-musim dingin? Ya karena tiket pada saat itu yang paling murah. Kami harus berdamai dengan kenyataan plesiran lebih ribet demi menghemat anggaran dan juga agar liburan lebih berkesan.

Apa bayi nggak apa-apa dibawa ke negara dengan cuaca ekstrem yang jauh berbeda dengan cuaca asal? Buat kami, esensi dari travelling adalah keluar dari zona nyaman untuk mengalami (dan menikmati) berbagai hal yang berbeda dari yang kami alami sehari-hari. Untuk anak-anak pun demikian. Kalau mau anak nyaman, ya sudah di rumah saja. Namun, tentu kami tidak bisa mengesampingkan keamanan dan keselamatan anak-anak. Membuat anak nyaman seperti di rumah itu mustahil, tapi kami sebagai orangtua tentu berupaya meminimalisasi ketidaknyamanan anak-anak. Inilah seninya travelling dengan anak-anak, memberi kesempatan mereka mencecap rasa baru without risking their safety.

So, here is our Seoul adventure with two young children in two.

Day 1 Arrival – Itaewon

Oliq sudah tahu jauh-jauh hari sebelumnya bahwa kami akan ke Korea. Dia sudah paham betul bahwa penerbangan akan ditempuh selama 6-7 jam, yang artinya lebih lama daripada ketika terbang ke Kalibo, namun tidak selama terbang ke Istanbul.

Pesawat terbang pukul 01.00 dinihari, jadi kami sekitar jam 9 sudah berangkat dari rumah menuju ke KLIA2. Anak-anak tidak rewel selama di pesawat. Masalahnya mereka tidur dan milih nemplok dengan Simboknya. Jadi saya mangku sambil nyusuin Ola sementara di paha satunya ada kepala Oliq. Puput ayem tentrem tidur sambil mangap.

Simbok awake mrotholi. Enam jam menyangga dua anak.

Masalah kecil datang pada saat pesawat mulai turun dan bumpy. Oliq bolak-balik minum karena leher kering dan perubahan tekanan udara bikin dia susah menelan. Dia jadi sempat muntah air sedikit waktu pesawat sudah mendarat.

Kami tiba di Bandara Incheon sekitar pukul 08.30 waktu setempat. Turun dari pesawat A330-200, kami langsung menyaksikan bahwa bandara ini memang layak dinobatkan jadi salah satu yang terbaik di dunia. Bandaranya besar dengan berbagai maskapai (Oliq: Papa, ada wawa Garuda! Ada Boeng 747 KLM!). Jalan kaki ke imigrasi lumayan jauh, sekitar 15 menit. Nah di imigrasi ini antrian panjang mengular butuh waktu sekitar 40 menit sampai kami distempel. Sayangnya, tidak ada priority line untuk keluarga dengan bayi. Oh ya, di pesawat akan dibagikan kartu kedatangan dan form custom (tapi tidak ada form keberangkatan, ya!).

Dari area imigrasi kami harus naik shuttle train – seperti yang di Changi – hingga sampai di bagian arrival. Waktu nunggu kereta saya malah ketemu dengan teman SMA, Anita, yang sejak lulus SMA tidak pernah ketemu, kecuali empat tahun lalu di Masjid Nabawi. Nggaya to kami, rumah cuma Condong Catur – Purwomartani saja ketemunya di luar negeri terus.

Di Incheon, kami beli T-Money, kartu transportasi di 7 Eleven. Harganya KRW 4.000. Kartu ini bisa diisi ulang dan digunakan untuk naik kereta, bus, taksi, bahkan belanja di minimarket tertentu. Kami mengisi kartu di mesin, caranya gampang kok, mirip top up MyRapid kalau di KL atau Octopus di Hong Kong. Puput mengisi masing-masing kartu KRW 10.000 (setara 100 ribu rupiah). Anak di bawah 7 tahun gratis-tis *sujud syukur*

Kami naik A*REX (Airport Express) sampai ke Stasiun Gongdeok, kemudian ganti subway Line 6 untuk sampai di Itaewon. Keluar stasiun cuaca cerah.

“Wah, anget ya,” kata Puput. Iya anget, wong jalan kaki sambil ngeret-eret koper dan ndorong stroller.

Nah di sini saya salah memahami petunjuk dari host Airbnb, yang ada malah nyasar. Tanya ibu-ibu nggak mudeng. Akhirnya ada bapak-bapak yang terlihat terburu-buru tapi malah berseru, “You need help?” Saya tanya di mana mosque. Dia langsung menunjukkan dan menyuruh kami lewat jalan pintas bertangga karena lebih cepat. Atau naik taksi saja karena jalannya naik bukit, katanya. Tentu Puput keukeuh jalan kaki. Ola nyenyak di stroller, dan syukurlah Oliq rela jalan kaki padahal lumayan ngenthos.

Akhirnya kami lewat jalan pintas dan Oliq berseru, “Itu ada manana mesjid!” Yeay! We were finally on the right track! Ketika akhirnya sampai di penginapan, host nggak bisa dihubungi. Akhirnya saya telpon dan dia simpan kuncinya di kotak pos (yang ada dalam emailnya dan baru bisa saya buka saat itu). Alhamdulillah sampai sekitar tengah hari.

Sore itu kami tidak ke mana-mana lagi karena kami TEPAR. Saya sakit kepala karena kurang tidur semalam dan sembuh setelah minum Paracetamol dan dipijat-pijat Puput. And yes, he is that romantic all the time.

Kami makan malam nasi dan burger yang dibeli di resto Turki. Ini satu-satunya makan yang kami beli. Lainnya masak sendiri.

Day 2 Gyeongbokgung, Seoul Square, Namsan Tower

Hari ke dua rencananya memang ke istana. Seperti biasa, butuh waktu lama persiapan di pagi hari. Sarapan, pakein baju dsb, baru berangkat sekitar jam 10. Kami naik subway dengan transit satu kali hingga tiba di Gyeongbokgung (masing-masing lokasi akan dibuatkan posting sendiri-sendiri).

Gyeongbokgung dan kami
Gyeongbokgung dan kami

Di sini Oliq sudah sering mengeluh sakit perut. Saya sudah khawatir sih tapi Puput tetap lempeng. Istana ini luas halamannya. Ada tempat pinjam hanbok gratis tapi Simbok mah enggan berurusan sama jaket-jaket tebal ini kalau ganti baju. Salah satu atraksi utama di sini adalah para penjaganya. Dan kalau tepat jadwal perganian penjaga, lebih seru lagi.

Di halaman Gyeongbokgung ini Ola malah jadi sasaran foto sekelompok ibu-ibu Korea ber-DSLR dengan lensa yang bikin Puput cuma bisa ngiler karena nggak boleh beli. Kami foto-foto santai saja. Kebetulan hampir semua area istana (kecuali yang masuk ke dalam-dalam) ada ramp-nya jadi nyaman bawa anak pakai stroller. Saya sempat duduk untuk nyusuin Ola sementara Oliq ngeluh sakit perut lagi. Setelah ke toilet, membaik. Tapi satu jam kemudian sakit perut lagi. Kami muterin halaman istana dan foto-foto di danau. Karena Oliq semakin moody, kami memutuskan untuk pulang dan hanya lewat Seoul Square.

Seoul Square dari balik gerbang Gyeongbokgung
Seoul Square dari balik gerbang Gyeongbokgung

Di rumah sewa, Oliq positif diare. Dan Oliq pernah diare seperti ini beberapa bulan lalu di Jogja butuh waktu seminggu penuh dengan sekali kunjungan ke dokter dan 3 botol obat. Waktu itu interval ke toilet sampai per setengah jam. POSITIF NYARIS PANIK. Untungnya, interval sakit perut di Korea ini “hanya” 1-2 jam sekali.

Sorenya kami memberanikan diri berangkat ke Namsan Tower. Setelah browsing, bisa naik bus kuning (shuttle bus) No 3 dari Itaewon Fire House. Dan kami menerjang dingin menuju ke Fire House. Gobloknya, kami nunggunya di depan Fire House persis, nggak tahu ada halte berjudul Itaewon Fire House sekitar 50 meter dari situ. Dan pas ada sekelompok orang Indonesia di dekat situ. “Kayanya nunggu bis juga,” kata saya.

Tiba-tiba ada bus lewat dan kelompok Indonesia itu lari mengejar bus. Kirain itu busnya. Kami ikut lari. Ealah, jebule itu bus pariwisata rombongan BNI Syariah. Bajigur nyeblung sumur!!!!

Beberapa menit kemudian bus No 3 kelihatan, kami heboh melambai-lambai. Eh busnya lempeng dan berhenti sebentar 50 meter dari situ yang jebulnya adalah halte! Damn, damn, dingin kaya gini ketinggalan bus. Akhirnya kami nunggu di halte 20 menit untuk dapat bus berikutnya. Oliq udah cranky lagi.

Yang pasang gembok ini pasti cinta banget sama pacarnya
Yang pasang gembok ini pasti cinta banget sama pacarnya

Di bus, Ola asyik nyusu, Oliq udah happy karena dia paling suka lihat menara. Oliq lupa sama sakit perutnya dan ceria naik bukit dari halte bus ke yang lumayan nanjak. Saya yang dorong stroller Ola saja lumayan menggeh-menggeh.

Hari itu senang sekali. Oliq dan Ola ceria sampai kemudian kupluk Ola hilang. Dan waktu mau pulang Oliq kembali sakit perut dan harus ke toilet dulu. Kami sampai rumah sekitar pukul 11 malam. Dingin sih dingin, tapi nggak ekstrem banget.

Malam itu Oliq bangun sekali untuk ke toilet dan Subuh balik ke toilet. Khawatir? Banget.

Day 3 Itaewon

Karena frekuensi sakit perut Oliq makin sering kami memutuskan untuk tidak ke mana-mana pagi itu. Lagipula kata Puput dingin banget di luar. Jemuran kami semuanya berubah jadi es. “Nggak mau jalan-jalan,” kaya Oliq. Sorenya kami memutuskan untuk keliling Itaewon. Oliq, dengan ogah-ogahan, berubah semangat ketika kami bilang sekalian mau cari mainan Tayo The Little Bus kesenangannya. Di pojok dekat Fire House saya lihat ada drugstore. Saya udah googling bahasa Korea untuk diare adalah “seol sak”. Ternyata ibu apoteker bisa bahasa Inggris lancar jadi kami tinggal bilang “diarrhea” sambil nunjuk Oliq. Dia kasih obat dengan petunjuk pemakaian.

Yes, RUM folks, I know, kalau diare sebaiknya tidak diobati karena mengeluarkan racun. But, if you are on the run, what choice do you have? Saya yakin kok perusahaan farmasi juga nggak sembarangan bikin obat.

Dengan bakul suvenir
Dengan bakul suvenir

Dari apotek kami jalan sepanjang Itaewon. Ketemu mainan Tayo yang diidamkan Oliq tapi cek-cek harga dulu. Kami beli souvenir dan miniature Namsan Tower di tempatnya oppa-oppa (ih bener nggak sih) yang heboh banget. Dia kira kami dari Malaysia dan berkali-kali dia tunjukkan uang 1 ringgit yang ada tulisannya ‘Siti sayang kamu’. Pokoke kabeh wong Malaysia jenenge Siti. Memang sih di sini harganya lebih murah daripada di toko souvenir lain.

Menjelang malam, angin makin dingin dan kami pulang.

Oliq minum obat diarenya dam malam sempat ke toilet sekali.

Day 4 Namdaemun, Hyoehoen, Myeongdong, Dongdaemun DP, Seoul City Walls

Pagi ini mood Oliq berbalik 180 derajat. Katanya perut udah nggak sakit. Obat diare masih diminum. Dia juga nggak ke toilet sama sekali. Kami memberanikan diri pasang target tinggi untuk membayar hari kemarin. Pertama kami ke Namdaemun – pasar tradisional terbesar di Seoul – buat foto-foto doang. Lanjut ke City Hall dan Bankof Korea lalu jalan kaki sampai ke Myeongdong. Karena Oliq ngantuk, dia duduk di stroller sementara Ola saya gendong belakang pakai Ergobaby.

Myeongdong seru ternyata, ramai, asyik buat foto-foto. Di sini buanyaaaaaak banget toko skincare/kosmetik Korea kaya Etude House, Missha, Nature Republic, The Saem, Tony Moly, The Face Shop, Skin Food, entah apalagi Simbok nggak mudeng.

Namdaemun
Namdaemun

Pokoke foto-foto.

Di sini meriah juga ada para SPG/SPB berkostum, ada misionaris, ada bakul stroberi, ada bakul jajanan. Kita ga jajan apa-apa, cuma sempet makan roti nutella bekal dan kasih makan Ola di stasiun.

DDP
DDP

Kami lanjut ke Dongdaemun Design Plaza (Stasiun Dongdaemun History and Cultural Park) yang gedungnya lucu. Dari sini kami ke Gate dan Seoul City Wall yang ada di dekat Stasiun Dongdaemun. Asyik juga duduk di atas bukit pendek itu sambil melihat perempatan di bawahnya. Oliq-Ola tentrem. Oliq sehat dan ceria.

Habis itu kami pulang karena sudah menjelang sore dan belum shalat.

Day 5 Namsan Tower (again!), Myeongdong Cathedral, Namsangol Hanok Village, Chungmuro

Hari ke-6 Puput minta ke Namsan Tower lagi naik cable car. Puput dan Oliq sehati urusan ini: pecinta menara dan cable car. Rencananya mau turun di Namsan Tunnel 3, tapi ternyata bus No 3 stop di Namsan Tower, dan kalau mau turun harus tap tiket lagi. Of course Puput nggak rela. Akhirnya kami Cuma naik cable car turun saja dengan harga KRW 6.000 per orang hanya 3 menit wakakakkaka. Puput gonduk pol. Gondolanya pun hanya semacam kabin yang bisa diisi 20 orang, bukan gondola kecil-kecil. Dari stasiun bawah kami turun lagi dengan lift miring yang namanya Namsan Oreumi sepanjang 140 meter. Di sini ketemu mas mbak orang Indonesia yang milih pakai Bahasa Inggris sementara saya dan Puput setia pakai Boso Jowo wekekek.

Namsan Tower siang hari
Namsan Tower siang hari

Dari sini kami jalan-jalan geje (kata alay jaman sekarang) dan kedinginan. Akhirnya masuk kee Hyeohoen Underground Market. Di Seoul memang banyak banget pertokoan bawah tanah. Pokoknya kalau kedinginan, ya masuk aja. Kami ke Myeongdong lagi karena kemarin belum sempat ke katedral.

Hanok Village di Chungmuro masuk gratis
Hanok Village di Chungmuro masuk gratis

Dari Myeongdong ngenthos jalan kaki kea rah Chungmuro buat ke Namsangol Hanok Village. Smpah dingin banget. Untungnya anak-anak nggak rewel. Pokoknya kalau capek Oliq masuk stroller, Ola gendong. Seperti itu formasinya. Hanok Village ini lumayan lucu buat foto dengan berbagai rumah bergaya Korea. Dan masuknya gratis. Di dalam juga bersih banget.

Dan berakhirlah hari ke-5.

Day 6 Itaewon (Jumatan), Ichon, National Museum of Korea, Banpo Bridge (Puput edan!)

Hari ke-6 adalah Jumat dan salah satu alasan memilih penginapan di Itaewon adalah karena dekat masjid. Selama di Korea Puput Cuma shalat jamaah di masjid pas Subuh saja karena waktu solat lain biasanya dia beredar. Katanya khotbah dalam Bahasa Korea, Arab, dan Inggris. Cerita lengkap tentang Islam di Itaewon lain waktu, ya.

Sorenya Puput ngotot mau ke jembatan. Suami saya itu kayanya memang fetish jembatan deh. Jadilah kami jalan ke stasiun naik subway ke Ichon. Dari sana keluar ke national Museum dan tempatnya asyik buat foto juga. Yang Mulia ngotot ke jembatan walaupun udara dingin. “Anget kok 3 derajat,” katanya. Yee kali kami orang Siberia segitu dibilang anget.

Motif “kudu nyeberang jembatan” itu sangat absurd, tapi berhubung I’ve been with him for nearly 10 years, ya sudah pasrah. Istri solehah manut wae. Ola tidur digendong Puput, Oliq masuk stroller didorong Puput. Saya nggendong tas Puput yang beratnya kaya ngangkut kulkas.

Dari Ichon kami jalan ke Seobinggo sekitar 2km, terus naik ke jembatan Banpo. Di pinggir jembatan memang ada track untuk pejalan kaki. Sepanjang 1,5 km jembatan, hanya ketemu satu jogger saja. Kami jalan di situ dengan pipi seperti disampluk es batu. Sepanjang jalan dilihatin orang-orang di mobil.

“Iki wong-wong edyan nggowo bayi mlaku ning flyover.” Jembatan Banpo adalah jembatan bertingkat yang menyeberangi Hangang River, sungai yang membelah Seoul. Pokmen bojoku bangga banget wis iso mlaku nyeberang jembatan. Karepmu, Cup, karepmu *oles Counterpain*

Dari seberang jembatan, udah menjelang malam. Kami lihat ada bus 405 yang lewat ke Itaewon. Lumayanlah ga perlu jalan jauh. Pas sampai di halte ternyata bus 405 nggak berhenti di situ karena dia lewat fly over atasnya, pas banget turun di setelah halte *nangis gero-gero*. Di-PHP-in bus coba!!! Udah dingin dan capek banget kaya gitu. Akhirnya kami naik bus 401 dengan harapan turun di mana aja asal stasiun. Bus penuh sesak karena rush hour. Untungnya Oliq mau berdiri dan stroller dilipat. Kami turun di Stasiun Euljiro-ga, nggak jauh dari Myongdeong (Itaewon udah kelewatan jauh). Dari sana naik subway ke Hapjeong dan ganti ke Itaewon. Sampai ruma udah malem dan gempor habis, sampai paha kiri Simbok sukses keseleo dan nggak bisa diangkat.

Kecapekan, rencana makan samgyetang di resto gagal. Yang ada sampai rumah masak tuna kaleng.

Day 7 Pulang

Pesawat ICN-KUL jam 4.25 sore, kami check out jam 11 dan jam 13.00 udah sampai bandara. Check in, imigrasi, semuanya lancar jaya. Pulang sampai KL kam 11 malam.

Rencana ke Mt Sorak langsung dibatalkan di hari ke 2 karena melihat suhu yang super dingin, takutnya anak-anak malah rewel.

Budget, tips packing, tips bawa anak, tips pakaian anak musim dingin, cerita tentang Islam di Korea, dan sebagainya akan ditulis dalam postingan-postingan berikutnya.

Advertisements

58 thoughts on “Liburan di Korea dengan Anak-Anak (Itinerary)”

  1. kok malah ngguyu ya mbak baca ceritane, guayeng tenan.. :mrgreen:

    ditunggu ulasan lanjutannya mbak.. siapa tau besok dapat kesempatan jalan-jalan bersama keluarga ke korea.. 😀

    Like

  2. Namanya rencana tinggal rencana ya Mbok, pada akhirnya kudu banyak pengorbanan biar traveling bisa berjalan mulus. Tapi bagi saya mah enam hari itu sudah banyak banget tempat yang didatangi (meski dramanya juga banyak :haha). Dan kalau sudah niat mah, gunung minta diseberangi juga jadi deh ya. Ditunggu cerita-cerita selanjutnya!

    Like

    1. Iya. Nanti klo nulis bagian budget akan kelihatan bgt ngiritnya. Ntar aku tulis lagi. Di blog ini ada tips masak sendiri. Coba search “masak sendiri saat travelling”

      Liked by 1 person

  3. Iihh mbak seru sekali perjalanannyaa. Aku dulu pas ke bangkok si K juga diare. Dari rumah pula. Tapi memberanikan diri buat tetep jalan. Alhamdulillah lancar walau awal awal sempet muntah setiap malam. Hiks.

    Tahun depan rencananya pengen ke korea. Asyek neh itenerarynya mbak. Bisa jadi panduan buat tahun depan pas kesana 😁

    Like

  4. Beberapa tempat wisatanya aku tiru ya mbak. Feb 2017aku jg dpt tiket murah ke Korea ^o^. Tp berangkat Dr Osaka 😀 sekalian. Jepang soalnya.. Korea ini akhirnya kita masukin krn aku baca dr banyak blog Dan website kedutaan korsel kalo kita bisa bebas visa k korsel kalo punya visa jepang mbak. Aku pikir ya lumayan toh.. Ongkos Dr jepang k korsel juga GA semahal dari Indo kan.. Makanya , masukin deh 😀

    Like

  5. Astagfirullah, mbok… itu Oliq sama Ola diajak jalan di atas jembatan apa ya gak kasihan? Di Banpo kan anginnya kenceng, mbok. Apa gak masuk angin?

    Tapi keren sih perjuangannya traveling nyambi ngurus 4 kepala. Lanjutkan!!!!

    Like

    1. Oliq udah beberapa kali ketemu musim dingin waktu liburan. Rekornya -12. Ola baru pertama ini. Alhamdulillah ga masalah

      Like

  6. Waaah seruuu Len! Pancen kok Puput kiii…wkwk..tp apik ki nggo referensi,wis tau ngalami jg anakku keno flu singapore pas mlaku2 dadi ndekem hotel wae…
    Btw iki Ola pas lg mpAsi yo,ribet ora nyiapke maeme,ato nggowo sik instan wae?

    Like

    1. Ola ora seneng instan walau aku yo nggowo. Aku gawe dewe wong gowo rice cooker. asal masak nasine lembek, tinggal dipenyet sitik ra masalah huehe

      Like

  7. Mbaaak seru bacanya, dan informatif bgt,, bulan depan aku mau ke korea mba, ecxited dan deg2an juga jdnya,, makasiy ya mbaakk :):),, ditunggu cerita selanjtnyaa,,

    Like

  8. Hai mba…makasih banyak yah postingannya sangat bermanfaat, terutama detail public transportationnya. Mba mau tanya kemarin di Itaewon nginep nya dimana ya? kayaknya pengen pake tempat yang mba nginep aja deh aku. Oh iya ditunggu ya mba rincian budget nya hehehe… makasih.

    Like

    1. Aku kurang rekomendasiin mbak soalnya kemarin ada masalah air panas di kamar mandi jadi agak ribet. Coba lihat2 di airbnb aja. Hongdae lebih rame lho

      Like

  9. Mbak, saya juga ada rencana ke Seoul bawa anak saya (3 tahun), mau nanya dong mbak kalo berkenan share nama guesthouse di airbnb-nya apa? Sama satu lagi, pas suami Jumatan yang wanita nunggu di mana mbak? Duh maaf ya silly questions hehe. Thanks mbak sebelumnya 🙂

    Like

  10. Haha lucu bgt sih mbak part salah masuk bis BNI syariah, Bajigur nyeblung sumur!!!!😅😩😂😂 Btw keren banget survive di korea bawa anak2 di winter begitu. Thxx artikelnya ttg subway yg ribet di korea. It helps me so much!

    Like

  11. Hallo mbak salam kenal… Rencana saya bln nov ke korea. Katanya pas musim dingin ya?? N anak saya umur 4 th. Kl bawa stroller ngak masalah kan dr bandara n pas di korea n balik lagi?????…. Mohon tips nya mbak. Trims

    Like

    1. Ya sudah masuk musim dingin. Ga masalah bawa stroller. Dari bandara ke kota paling gampang naik arex. Saya biasanya kalau naik bis atau kereta yg penuh stroller saya lipat anak suruh jalan sendiri. 4 tahun udah besar.

      Like

      1. Ada dong mas. Justru luar kota kan orang sering bawa koper. Di bagasi bawah jendela itu lho yg dibuka dari luar. Kaya bis pariwisata

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s