Tentang Ibu Bahagia


Lama-lama Simbok gatel juga pengen komentar tentang isu yang kembali marak. Iya, isu abadi itu: ibu di rumah vs ibu bekerja vs ibu bekerja di rumah. Apa coba? Wekekeke.

Isu tersebut muncul lagi di permukaan ketika tweet seorang ustad yang dikicaukan pada tahun 2013 muncul lagi. Another proof that internet never forgets. So-called ustad tersebut sebenarnya memberikan kultwit cukup panjang, tapi yang sering muncul adalah tweet nomor 22 yang dianggap merendahkan kaum ibu pekerja. Responnya banyak deh. Salah satunya ini.

Seorang ibu yang (lumayan) bahagia wekeke
Seorang ibu yang (lumayan) bahagia wekeke

Belakangan muncul lagi argumen lain yang lebih pro pada Pak Ustad, dengan screenshot keseluruhan tweet berseri itu. Memang, kalau dibaca keseluruhan (bukan nomor 22 tok thil) jadi kurang kontroversial.

Tapi walau sudah membaca keseluruhan tweet, Simbok tetap tidak setuju wekekekekke.

It’s free to disagree, no? *glundangglundung di kasur*

Bagi saya, walau tidak pernah menjadi ibu bekerja (pernahnya menjadi istri bekerja karena resign tepat saat mau melahirkan Oliq), saya dibesarkan oleh ibu yang bekerja. Sampai saya kuliah pun ibu saya masih mengajar. Dan berdagang. Apa dia kurang menjadi ibu?

Apa menjadi ibu itu dihitung dengan jam? Nggak mau kalah sama hotel jam-jaman dong 😂😂.

Entar saya bisa jadi istri jam-jaman juga wong ketemu Puput cuma dari jam sekian sampai sekian. Selanjutnya ditinggal molor. #SimbokLelah:'(

Maksud saya, apa faedahnya merendahkan ibu bekerja (yang sebenarnya punya pilihan untuk tinggal di rumah). Memangnya peran ibu hanya dihitung dengan waktu bersama anaknya?

Banyak lho teman saya yang bekerja dan saya pikir lebih oke dalam mengasuh anak timbang saya. Misalnya nih: ASI eksklusif, pagi nyiapin mpasi homemade, dari kantor mantau anak pakai cctv, pulang ngantor masih bisa ngajar ngaji anaknya, weekend total sama anak-anak. Kurang apa coba? Dia mungkin tiap hari hanya 14 jam di rumah (8 jam kerja + 2 jam perjalanan) tapi bisa melaksanakan tugas sebagai ibu dan istri dengan baik. Bekerja pun dengan ridha suami.

Oh, OOT dikit nih, barusan saya baca di mana gitu ada yag bilang kalau istri bekerja di kantor punya kecenderungan selingkuh. NJALUK DISAMPLUK WUDUN KINGKONG!

Di sisi lain banyak ibu berhenti bekerja formal dan mulai berjualan online. Coba saja di FB banyak sponsored post tentang ibu dari rumah dapat gaji sekian juta sebulan blah blah blah. Sah-sah saja kan, di rumah bisa momong anak sambil bisnis online buat beli lipstik SKII sama tas Longchamps. Dengan ridho suami pula.

SAH.

Tapi rasanya ada juga yang kemudian menjadi terlalu sibuk dengan bisnisnya.
“Pakai clodi Bun, biar irit nggak beli diaper lagi lagi. Irit, ramah lingkungan lagi!”
“Jilbab Syria lagi diskon sista. Nggak diborong sekalian. Warnanya macem-macem lho.”
“Pokoknya tupo bulan ini harus naik jadi Diamond.”

Diamond ring wear it on your hand, gonna tell the world I’m your only man. Hahaha ada yang inget lagu itu? Berarti kamu seumuran saya. Buat yang nggak tahu, itu lagunya Bon Jovi sealbum sama Always. 😄😄

Yang jualan online jangan kepruki Simbok yaaaaa😅. Itu tadi cuma ilustrasi bahwa nggak semua juga yang berhenti bekerja kemudian di rumah saja PASTI akan jadi ibu yang lebih baik dari mereka yang bekerja. Ada yang sibuknya ngalah-ngalahin yang kerja karena ngejar tupo atau ngejar untung (kalau kerja kan biasanya gaji tetap) nggak cuma sampai COB tapi sampai tengah malam buta masih dagang. Nah, bisa jadi mereka ini raganya di rumah tapi jiwanya di rekening bank 😌.

Atau ada juga ibu tidak bekerja yang di rumah cuma nonton Drama Korea, main Candy Crush, atau chatting di grup WA yang jumlahnya puluhan (grup WA saya cuma 6 yang di-mute 3 😂).

Tapi ada juga ibu di rumah yang sebelum subuh sudah bangun, bikinin kopi buat suami, nyiapin sarapan, antar anak sekolah, ngerjain seluruh kerjaan rumah tangga, masak, bikin cemilan, bantuin anak belajar dan ngaji, menyambut suami pulang sudah mandi, wangi, dengan daster yang bakal robek sekali renggut.

Subhanallah sekali pokoknya.Istri shalihah dalam kehidupan pernikahan yang sakinah.

Sayang bukan Simbok <– tiap hari bangunnya kesiangan dan hobinya nyuruh suami bikinin kopi.

Buat saya menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga itu pilihan, dan saya bersyukur masih bisa memilih. Banyak orang yang tidak punya pilihan. Sebenarnya kalau bekerja dengan ridho suami kenapa harus memikirkan pendapat orang lain? Mau ustad mau kyai mau apa kek, wong enggak menafkahi saja, ga usah digatekno.

Lain di FB, lain di Twitter. Seorang perencana keuangan terkenal belakangan sering berkicau tentang ibu rumah tangga. Dia dulu pernah disuruh suaminya jadi IRT tapi nggak betah dan nggak bahagia. Akhir-akhir ini sering tweetnya mengenai “jangan menjadi IRT biasa.” In short, biar IRT kamu nggak boleh cuma mengandalkan pendapatan suami, harus punya penghasilan sendiri. Kalau kenapa-napa gimana?

Terus terang, saya punya mixed feeling tentang hal ini. Di satu pihak, kalau kenapa-napa gimana? Di pihak lain, saya tetap berprinsip bahwa saya nggak mau bisnis yang menghabiskan banyak waktu. Seperti yang saya tulis di atas, what’s the point of staying at home if all you do is making money (instead of taking care the kids). My idea of staying at home is to be with kids — body and soul — not to make a lot of money. Memangnya kalau bisa dapat jutaan dari rumah itu nggak ada yang dikorbankan? PASTI tetap ada waktu yang dikorbankan. Kalau tujuannya dapat uang banyak, ya sejak dulu-dulu saya nggak bakal berhenti kerja dan mengejar karir sampai langit ke-tujuh. Kalau kenapa-napa, masih ada Allah SWT.

Hahahaha feel free to disagree.

Emangnya nggak mau punya penghasilan dari rumah? MAU DONG! Asal nggak ngoyo. Asal nggak ninggalin anak. Asal nggak bikin suami kapiran. Asal dengan ridho suami *kibas buku nikah*

Walaupun kebanyakan glundang-glundung, saya adalah sedikit-sedikit penghasilan sendiri. Dari royalti buku, dari tulisan, dari investasi, dari blog juga. Saya ngetik cuma kalau anak tidur, pas tidur siang atau setelah jam 10 malam. Pokoknya setelah anak dan suami teropeni dengan baik. (((TEROPENI)))

Jadi harap maklum kalau waktu terbatas sehingga kurang produktif. #alesan

Banyak suami yang memang lebih memilih istrinya di rumah saja, termasuk Puput. Tapi, jangan salah, dulu keputusan resign datang dari saya. Dan dia sempat kaget dan beberapa kali mempertanyakan keputusan saya.

Baca: Tentang Berhenti Bekerja

But anyways, he’s happier if I stay at home.

Tapiiiii…….walau nggak pernah ngomong, saya tahu kok Puput dengan segala cara berusaha menyenangkan saya. Misalnya nih, dia suruh-suruh saya cari weekend getaway. Atau suruh saya rencanain liburan ke mana gitu. Saya yakin kok itu bukan hanya karena dia seneng jalan tapi juga sebagai kompensasi karena saya “di rumah saja”.

Eh, iya kan? *malah galau wekekekke

Era media sosial seperti ini memang ruwet. So many things happen in our timeline. Semua diperdebatkan.

Apalah pilihanmu, yang penting kamu bahagia. This is your life and YOLO.

Pokoknya kalau saya, semua pilihan sah asal dengan ridho Puput dan bukan ridho rhoma.

***

LIST yang butuh keridhoan:

  1. Cup, ridho ya kalau aku booking tiket pesawat buat nonton aurora borealis pakai kartu kreditmu?
  2. Nerusin S3
  3. Kerja lagi kalau anak-anak udah agak gede
  4. Solo backpacking in around the next decade (udah hampir nenek-nenek Simbok hahaha)

*terus nggak dikeloni Puput*

22 thoughts on “Tentang Ibu Bahagia”

  1. Apapun itu, selama mas Puput ridho dan simbok bahagia, aku mendukung (sebagai penggembira)

    PS : Aku hambok diajarin cara nulis yang efektif biar bs selesai dalam sekali ngadep leptop😦

    Like

    1. Caranya adalah punya anak. Klo udah gitu ada pikiran “kalo ga diselesain sekarang, besok belum tentu kelar”. Coba minta pak bambang bikinin anak

      Like

    1. Lambe opo? Jempoool. Tapi di sisi laim byk yg timpang menyoroti. Ga liat semua tweet. Aku baca semua tapi tetep byk yg ganjel nek buat aku

      Like

  2. Kalo dengerin omongan atau penilaian orang kayaknya gak ada yang bener deh Kak, semua di kritik, ini harus begitu, itu harus begini…
    Makasih lo Kak uda ngepost tulisan ini…
    Serasa emosi jiwa terlampiaskan😀

    Like

  3. Kalau biasanya makan ngga makan asal kumpul, ini kerja ngga kerja yang penting happy. Namanya pilihan biasanya ada sisi personal ya. Tulisanmu enak dibacanya mba. Ada pendapatnya tapi ngga ngajak perang. Thanks for sharing your thoughts.:)

    Like

  4. hai Olen…saya IRT udah 8 tahun terakhir ini, setelah sebelumnya bekerja full time selama hampir 17 tahun ( hehe iya saya udah 45 thn skrg). Sebenernya saya masih pengin kerja, sematamata karena masih pengin punya duit sendiri. Tapi kondisi saya sdikit sulit, anak kedua saya butuh perhatian ekstra jadi saya harus berhenti kerja. Agak sedih tapi setelah masa transisi 2 tahun pertama, saya mulai bisa accept.Mungkin jatah saya sekarang memang harus dirumah saja (dulu). Tapi saya selalu percaya dengan skill yg kita masing2 miliki,semua ada waktunya. Mungkin sekarang memang waktunya saya dirumah, dan jika suami saya meninggal tiba waktunya saya harus bekerja kembali. Itulah makanya saya nikmati betul masa masa IRT ini dengan berkarya di rumah saja ( masak nyapu ngepel hehe) soalnya saya takut rindu jika masa bekerja full time lagi itu sudah datang haha. Mungkin intinya begini, apapun kondisinya ( bukan pilihannya) kalau kita enjoy to the fullest, kita ngga sempet nengokin rumput tetangga. Wong gelundungan di rumput sendiri udah seneng hehe. Ya kadang kadang pengin juga beli lipstick mahal. Tapi lipstick murah apa mahal yo ra manglingi piye jal…? hihi… Kadangkadang pengin juga jalanjalan.jauh kayak kamu…tapi baca blog kamu aja udah serasa ikut jalan jalan dan feel content. Apalagi yang kurang ? hehe. Jika saja mereka yang berdebat sering sering buka blog ini dan ikut jalan.jalan sama kamu by reading ths blog, pasti ngga sempet berdebat soal ibu bekerja atau ibu stay at home ya hehe

    Salam kenal Olen..tulisan yg bagus seperti biasa…juga salam buat Oliq dan Ola ^^

    Like

    1. Halo Mbak Nala, salam kenal ya. Terimakasih udah mampir. Iya mbak ibu ada porsinya masing2. Sama2 baik selama semua dilakukan demi keluarga dan dapat ridho pasangan juga. Siapa tau suatu hari nanti saya mungkin memutuskan untuk kerja kantoran lagi juga asal keluarga dukung:). Salam buat keluarga Mbak

      Like

  5. hai Olen…saya IRT udah 8 tahun terakhir ini, setelah sebelumnya bekerja full time selama hampir 17 tahun ( hehe iya saya udah 45 thn skrg). Sebenernya saya masih pengin kerja, sematamata karena masih pengin punya duit sendiri. Tapi kondisi saya sedikit sulit, anak kedua saya butuh perhatian ekstra jadi saya harus berhenti kerja. Agak sedih sih tapi setelah masa transisi 2 tahun pertama, saya mulai bisa accept.Mungkin jatah saya sekarang memang harus dirumah saja (dulu). Tapi saya selalu percaya dengan skill yg kita masing2 miliki,semua ada waktunya. Mungkin sekarang memang waktunya saya dirumah, dan jika suami saya meninggal baru tiba waktunya saya harus bekerja kembali. Itulah makanya saya nikmati betul masa masa IRT ini dengan berkarya di rumah saja ( masak nyapu ngepel hehe) soalnya saya takut rindu jika masa bekerja full time lagi itu sudah datang haha. Mungkin intinya begini, apapun kondisinya ( bukan pilihannya) kalau kita enjoy to the fullest, kita ngga sempet nengokin rumput tetangga. Wong gelundungan di rumput sendiri udah seneng hehe. Ya kadang kadang pengin juga beli lipstick mahal. Tapi lipstick murah apa mahal yo ra manglingi piye jal…? hihi… Kadangkadang pengin juga jalanjalan.jauh kayak kamu…tapi baca blog kamu aja udah serasa ikut jalan jalan dan feel content. Apalagi yang kurang ? hehe. Jika saja mereka sering sering buka blog ini dan ikut jalan.jalan sama kamu by reading ths blog, pasti ngga sempet berdebat soal ibu bekerja atau ibu stay at home ya hehe

    Salam kenal Olen..tulisan yang bagus seperti biasa salam buat Oliq dan Ola ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s